Kultivasi Cahaya

Kultivasi Cahaya
Eps. 87 — Dewa Cahaya Emas


Jian Chen berada di klan Jian sebenarnya tidak lama, hanya dua minggu sebelum akhirnya balik ke akademi.


Selama itu juga Jian Chen menghabiskan waktunya bersama keluarga di siang hari dan ketika malam ia menggunakannya untuk berkultivasi.


Dua minggu berlalu yang begitu singkat, Jian Chen dan murid akademi lainnya akhirnya bersiap untuk kembali ke akademi. Orang tua Jian Chen menemani di akhir sama dengan orang tua murid lainnya.


Jian Ran mengecup kening Jian Chen sedangkan Jian Wu tersenyum sambil mengelus pucuk kepala anaknya, keduanya hanya memberi pesan agar Jian Chen menjadi murid yang baik disana.


“Ibu, Ayah, aku akan melindungi kalian dan desa kita, selama ada aku tak akan kubiarkan siapapun menghancurkannya…’ Jian Chen mendapatkan motivasi tambahan mengingat ibunya kini tengah mengandung.


Dengan menaiki elang emas Jian Ya, Jian Chen dan murid akademi lainnya kembali melesat ke Akademi.


***


Sembilan bulan berlalu, Jian Chen memusatkan pelatihannya pada kultivasi Dewa Cahaya, alhasil dia sekarang hampir meningkatkan 8 meridiannya dan hanya soal waktu Jian Chen menerobos ke alam selanjutnya yaitu Dewa Cahaya Emas.


Dia ingin sekali melanjutkan kultivasinya saat tiba-tiba Zhou Mei datang dengan membawakan sebuah surat yang ditulis Miou Lin. Dalam surat tersebut tertulis kalau Jian Ran telah melahirkan seorang bayi wanita.


Kebahagiaan terpancar jelas di wajah Jian Chen saat membaca surat tersebut, bahkan air mata keluar dari sudut matanya. Meski dirinya tidak di sana Jian Chen bisa membayangkan wajah kebahagiaan kedua orang tuanya.


Belakangan Jian Chen mengetahui nama adiknya itu bernama Jian Rou. Dirinya jadi penasaran ingin segera bertemu adiknya itu andai saja sekarang dia tidak melakukan pelatihan tertutup.


Jian Chen bisa saja bertemu orang tuanya saat hari melahirkan lewat bantuan asosiasi tetapi ia sadar ada prioritas yang penting yaitu meningkat kultivasinya secepatnya.


“Tuan Muda, makan malam sudah siap…” suara Zhou Mei yang mengetuk pintu memecah keheningan di kamar Jian Chen.


Zhou Mei telah diberi pesan oleh majikannya untuk tidak mengetuk kamar Jian Chen saat pelatihan tertutupnya berlangsung kecuali di jam makan atau ada sesuatu yang penting untuk disampaikan.


Jian Chen membuka pintu kamarnya dengan tubuh bertelanjang dada, mengatakan dia akan kesana.


Wajah Zhou Mei memerah seketika sambil berusaha menunduk, perhatiannya tertuju pada tubuh Jian Chen yang terbentuk dengan sempurna, dadanya bidang serta berotot keras membuat pemuda itu terlihat gagah dan mengagumkan.


“Kau tidak apa-apa?” Jian Chen memegang tangan Zhou Mei yang terlihat gugup dan gemetaran.


“A-aku tidak apa-apa, Tuan Muda, permisi aku harus pergi dulu.” Zhou Mei buru-buru berpamitan, tidak bisakah majikannya itu mengerti bagaimana malunya dirinya.


Jian Chen memperhatikan gelagat Zhou Mei dengan tanda tanya, tidak mengerti kenapa gadis itu bertingkah aneh.


Selama Jian Chen berlatih Kultivasi Dewa Cahaya, memang dirinya bertelanjang dada dikarenakan setiap butiran cahaya yang diserap tubuhnya membuatnya merasakan sensasi hangat.


Sensasi hangat ini lama-lama membuat tubuh Jian Chen berkeringat jika berkultivasi secara terus menerus apalagi seharian, jubah yang dipakainya sering kali basah oleh keringat sebab itulah Jian Chen membuka bagian atas pakaiannya.


Jian Chen langsung pergi ke dapur setelah menggunakan jubahnya, disana Zhou Mei telah memasak berbagai hidangan untuknya.


“Silahkan Tuan Muda…” Zhou Mei berdiri di samping meja makan, wajahnya sudah kembali semula, tidak memerah atau gugup seperti sebelumnya.


“Anda memasak banyak makanan laut lagi?” Jian Chen tersenyum canggung.


“Ah, apakah Tuan muda sudah bosan, kalau begitu aku akan memasak lagi yang lain.”


“Tidak, tidak, bukan begitu maksudku…” Jian Chen menatap hidangan di meja makan yang terkesan berlebihan. “Kau bantu aku habiskan ini, aku tak akan habis memakannya sendiri.”


“Tapi tuan muda, aku…”


Zhou Mei tidak mengangguk ataupun menggeleng, sebagai pelayan dia memang akan mulai makan setelah majikannya selesai.


“Kalau begitu makanlah, kebetulan hari ini aku sedang butuh teman untuk berbicara…”


Zhou Mei akhirnya tidak bisa menolak jika ini perintah majikannya, sebagai formalitas Zhou Mei hanya mengambil makanan secukupnya.


“Tadi pagi orang tuaku melahirkan, aku turut senang ketika ibuku melahirkan dengan selamat.” Tanpa harus ditanya Jian Chen mulai menceritakan kebahagiaannya.


Zhou Mei menghentikan gerakan sumpitnya, memilih mendengar cerita Jian Chen yang lebih penting dari makan. Zhou Mei mengerti, Jian Chen butuh seseorang untuk mendengarnya.


“Tuan muda aku turut bahagia mendengarnya…” ucap Zhou Mei dengan perasaan tulus.


Jian Chen mengangguk, tapi ia juga tahu bahwa kebahagiaan ini hanya sementara, beberapa bulan lagi ada situasi yang berat di klan Jian, mempertaruhkan kedamaian klan serta keluarganya.


Memikirkan itu Jian Chen tidak berminat untuk bercerita lagi, ia menghabiskan makan malamnya lalu pergi ke kamar untuk berkultivasi.


Zhou Mei melihat punggung majikannya dengan sedikit tidak mengerti, beberapa bulan ini bisa dibilang majikannya itu menghabiskan waktunya di kamar. Setiap kali Jian Chen keluar, wajahnya selalu diikuti rasa gelisah seolah ada ketakutan.


Zhou Mei memang tidak memahami dan mungkin tak akan memahami perasaan Jian Chen.


Pikiran Jian Chen masih diikuti rasa cemas terhadap penyerangan klan Jian yang kian semakin dekat, masalahnya ia tidak mengetahui seberapa besar kekuatan di pihak lawannya.


Yang pasti kekuatan dan skala mereka jauh lebih kuat dibanding kudeta Niu Zuan beberapa bulan lalu. Jian Chen hanya berharap diantara lawannya itu tidak ada pendekar yang berada di ranah Alam Langit.


Jian Chen kembali duduk bersila dan menyerap cahaya di sekelilingnya ke meridian terakhir, dia tak bisa menunda lagi waktu untuk menyelesaikan penerobosannya.


Di awal malam hingga matahari akan terbit Jian Chen masih berkultivasi hingga saat cahaya matahari membasuh wajahnya, ditubuh Jian Chen tiba-tiba tercipta petir emas.


Petir tersebut awalnya hanya secercah kilatan cahaya saja tetapi seiring berjalannya waktu petir emas itu semakin banyak dan kuat hingga menyambar sesuatu disekitarnya.


Petir yang sama menjadi lebih ganas membuat suara guntur yang keras. Petir itu mengelilingi tubuh Jian Chen dan membentuk sebuah pelindung namun diluar pelindung tersebut, kamar Jian Chen menjadi hancur dan rusak.


Zhou Mei tak lama datang setelah mendengar suara keras itu, alangkah terkejutnya saat gadis itu tiba dan menyaksikan fenomena di kamar majikannya.


Dia bisa menyaksikan tubuh Jian Chen yang bersila sudah melayang di udara dengan terselimuti halilintar, yang membuat Zhou Mei terkejut adalah ada salah satu satu dari halilintar itu yang membentuk kepala seekor naga berukuran pilar besar yang terbang di sekitar Jian Chen.


“Rrroooaaarrr…”


Kepala naga petir itu meraung keras bagai suara guntur yang membahana, tiba-tiba naga itu berbelok arah dan masuk ke tubuh Jian Chen sebelum akhirnya tubuhnya menghilang. Bersamaan dengan itu petir di sekitarnya meredup dan tubuh Jian Chen yang melayang turun perlahan.


Jian Chen akhirnya membuka mata perlahan, raut wajahnya merasakan sedikit kesakitan walaupun bibirnya tersenyum bahagia.


Jian Chen secara jelas telah menerobos ke alam selanjutnya yaitu Dewa Cahaya Emas, kekuatannya melonjak cukup kuat dan jika dirasakannya tidak ada yang bisa mengalahkan Jian Chen di ranah yang sama meski orang itu diranah puncak Alam Kehidupan.


Jian Chen terlalu puas merasakan kekuatan barunya itu sampai terlambat menyadari kondisi kamarnya. Ia bahkan hampir tidak mengenali tempat itu.


“Eh? Dimana aku?”


Jian Chen tersenyum canggung sambil menggaruk kepala sebelum melihat ke sekeliling dan kebetulan menemukan Zhou Mei yang menatapnya tanpa berkedip. Zhou Mei terlihat ketakutan seolah telah melihat hantu yang akan menerkamnya.