Kultivasi Cahaya

Kultivasi Cahaya
Eps. 158 — Kekuatan Lily


"Aku akan sedikit memberi saran padamu, berhati-hatilah dengan pedang itu. Pedang Dewa Asura bisa membuatmu menjadi sosok yang gila akan pembunuhan..."


Lily memberitahukan agar Jian Chen tidak terlalu menikmati sensasi panas yang bergairah tersebut, karena setiap kali pedang Dewa Asura mencabut nyawa seseorang, ia akan memberikan sensasi yang menyenangkan untuk terus membunuh lebih banyak lagi.


Jian Chen mengangguk mengerti, ia akan ingat saran dari Lily tersebut.


Jian Chen memang mengakuinya bahwa dengan menggunakan Pedang Dewa Asura kekuatan tempurnya jadi bertambah, setidaknya Jian Chen bisa melawan mereka yang ada di ranah Alam Hampa Tahap 4.


Tentu saja pedang yang sekuat seperti Pedang Dewa Asura tidak bekerja gratis untuknya.


Jian Chen bisa merasakan secara terus menerus tenaga dalamnya di ambil paksa oleh pedang itu. Sensasi tersebut terasa tidak nyaman bagi Jian Chen sebagai pemakainya.


Satu hal yang di syukuri, jumlah lingkaran tenaga dalam Jian Chen sudah banyak ditubuhnya sehingga bisa menggunakan pedang itu lebih lama.


"Apa yang kalian tonton, serang dia bersamaan!" Longxia berteriak geram pada pengawal pribadinya maupun prajurit yang mengepungnya.


Para prajurit itu terlihat ragu bercampur takut, rasa takut mereka bahkan lebih besar di banding harus mendengar perintah Longxia.


Mereka yakin, andai mereka semua bergerak Jian Chen bisa mengalahkannya dengan mudah.


Sementara untuk para pengawal pribadi Longxia langsung bergerak maju ketika ucapan perintah di lontarkan Pangeran tersebut.


Walau terkesan pemberani nyatanya nyali mereka sudah menciut, hanya saja mereka lebih mengetahui hukuman apa jika menolak perintah Longxia.


Jian Chen menyadari kondisi pengawal itu yang harus terpaksa melawannya. Ia menghela nafas, pangeran itu jelas mengetahui posisi kekuatan lawannya.


"Dibanding memaksa orang lain maju, bagaimana kalau kau bergerak sendiri ke arahku..." Jian Chen mengalirkan tenaga dalam pada pedangnya lalu mengayunkannya ke arah Longxia seorang. "Cakrawala Langit!"


Ayunan pedang Jian Chen seketika memunculkan energi pedang keperakan yang bersinar.


Energi pedang itu melesat cepat menuju Longxia, membuat pangeran itu langsung panik ketika mengetahui Jian Chen bisa menggunakan teknik jarak jauh.


Sebelum energi pedang menghantamnya, Pedang Setan sudah berada di depannya lalu mengeluarkan energi pedang lagi hingga kedua energi itu beradu, menciptakan daya ledak yang lebih hebat.


"Pangeran, sebaiknya anda sedikit menjauh dari sini, suruh juga yang lain untuk tidak melawannya karena mereka bukan tandingan pemuda itu."


Pedang Setan akhirnya membuka tudung yang selama ini menutupi wajahnya, terlihat laki-laki itu sudah berusia sepuh.


Pedang Setan menggenggam pedangnya lebih erat lalu menatap Jian Chen sambil tersenyum sinis. "Biar aku yang turun tangan Pangeran, sudah lama sekali aku tidak menggerakkan tubuhku."


Longxia mengangguk, mengizinkan Pedang Setan untuk ikut menyerang kali ini.


Pedang Setan tanpa aba-aba langsung bergerak ke arah Jian Chen dengan cepat, dalam satu kedipan mata ia sudah ada didekatnya sambil mengayunkan pedangannya.


Jian Chen dengan cepat menangkis dua ayunan pedang itu sebelum balas menyerang balik, kini keduanya bertukar serangan menggunakan teknik pedang masing-masing.


"Oh, kemampuan berpedangmu tidak buruk tapi aku bisa melihat bahwa kau bukan seorang pendekar pedang." Pedang Setan tertawa sembari terus mengayunkan pedangannya.


"Apakah itu penting, kita tidak akan tahu jawabannya sampai siapa diantara kita yang menang..."


Jian Chen bisa dibilang sudah mengetahui Pedang Setan di kehidupan sebelumnya, di masa depan pria sepuh tersebut akan lebih terkenal di Kekaisaran Naga setelah dirinya mencapai Alam Langit.


Jian Chen belum pernah berhadapan seperti ini namun ia sudah mendengar gambaran serangan pedangnya yang cukup terkenal.


"Aku belum pernah melihat pedang seperti itu sepanjang hidupku, aku sungguh harus memilikinya. Pedang itu akan jadi milikku sekarang!"


"Kau boleh mendapatkannya tapi kuyakin bayarannya adalah nyawamu..."


"Menarik, kau sepertinya percaya diri dengan kemampuanmu..." Pedang Setan tertawa cekikikan. "Aku belum melukaimu karena aku belum menggunakan teknik pembunuhku, apa kau yakin bisa menang melawanku?"


Jian Chen tersenyum tipis, ia bisa melihat kepercayaan diri pria sepuh tersebut.


Keduanya terus mengayunkan pedang namun tidak ada yang unggul atau di tekan, sementara yang lain terpana dengan pertarungan tersebut.


Jian Chen tersenyum sinis. "Kau hanya belum pernah berlawanan dengan pendekar klan Niu tingkat tinggi. Cukup basa-basinya, bagaimana kalau kita akhiri semua ini disini..."


Jian Chen tidak menunggu jawaban dari Pedang Setan melainkan langsung menggunakan Teknik Pedang Rembulan.


"Teknik Pedang Bulan Sirna — Bayangan Hantu Kegelapan!"


Jian Chen mempercepat gerakan pedangnya namun kali ini setiap pedangnya berayun ada kilasan bayangan pedang yang tercipta.


Ketika Pedang Setan mencoba menangkis ayunan pedang Jian Chen seperti biasa maka akan timbul goresan luka di tubuhnya.


Pedang Setan terkejut, ia sudah yakin semua serangan Jian Chen di tahan oleh pedangnya namun sayatan pedang terus terukir di sekujur tubuhnya.


"Kau?! Bagaimana bisa?!"


Pedang Setan kehilangan ketenangannya, kini posisinya menjadi tersudut belum lagi Jian Chen terus mengayunkan pedangnya secara terus menerus.


Setiap tebasannya selalu lebih kuat dari tebasan sebelumnya, Pedang Asura memiliki ketajaman yang meningkat setiap kali mengenai lawan.


Pedang Setan berusaha menangkis pedang Jian Chen di ayunan selanjutnya, alhasil bukan hanya tangannya merasakan sakit yang hebat, pusaka yang dibanggakannya mengalami retakan halus.


Jian Chen mengalirkan tenaga dalamnya pada Pedang Dewa Asura, membuat mata pedangnya jadi lebih bersinar.


Jian Chen ingin mengakhiri pria sepuh itu tapi tiba-tiba ada dua orang muncul di dekatnya dan langsung menyerangnya.


Ia mengangkat pedang untuk menahan serangan itu namun Jian Chen harus terpukul mundur hingga belasan meter. Jian Chen buru-buru mengambil keseimbangannya sebelum mendarat di tanah.


Kedua orang yang menyerang Jian Chen kemudian terlihat, ia adalah dua pendekar Alam Hampa yang berasal dari Kota Daiji.


Melihat situasi Pedang Setan yang kewalahan keduanya langsung bergerak membantu dengan menggunakan serangan diam-diam namun tidak menyangka Jian Chen masih berhasil menangkisnya.


Pedang Setan mengambil kesempatan tersebut untuk menyembuhkan luka di tubuhnya, sementara keduanya berjaga di depannya.


"Ini benar-benar gawat Jian Chen, kau mungkin bisa melawan satu orang yang ada di Alam Hampa namun melawan tiga sekaligus jelas berbeda..."


Lily mengetahui jelas kemampuan Jian Chen walaupun sebenarnya ia juga berdecak kagum karena Jian Chen hampir berhasil mengalahkan Pedang Setan yang di luar kemampuan kultivasinya.


Jian Chen mungkin bisa mengalahkan ketiganya disini tetapi itu membutuhkan waktu yang tidak sedikit, Lily yakin andai Jian Chen berhasil membunuh semua pun tenaga dalamnya pasti akan terkuras tak tersisa.


"Berikan aku tubuhmu, biar aku yang menghadapi mereka..."


"Hah? Apa maksudmu?"


Lily berdecak kesal, "Kau jelas mengetahui situasinya, biarkan aku mengambil alih sampai sini, akan kuperlihatkan kekuatan Tuan Puteri yang cantik ini pada mereka!"


"Apa kau yakin bisa mengalahkannya?" Jian Chen mengangkat alisnya.


"Hmph! Kau tidak tahu apa-apa tentang siapa Tuan Puteri ini..."


Jian Chen tersenyum tipis, sebenarnya ia juga tidak dalam memilih sekarang.


Seperti apa yang dikatakan Lily sebelumnya, untuk mengalahkan ketiga lawannya setidaknya Jian Chen harus menggunakan seluruh teknik bertarungnya.


Jian Chen akhirnya membiarkan Lily mengambil alih tubuhnya, dalam waktu seketika tubuh Jian Chen terselimuti kabut hitam yang pekat.


Kabut hitam itu mengejutkan Pedang Setan dan dua pendekar Alam Hampa di dekatnya, ketika kabut itu sempurna menyelimuti tubuh Jian Chen, kekuatan serta hawa pemuda itu berbeda.


Mata emas Jian Chen berubah menjadi merah yang indah bagai perhiasan ruby.


Belum keterkejutan lawannya pulih, tubuh Jian Chen perlahan-lahan melayang di udara, tak lama kemudian dua sayap kegelapan muncul di punggung Jian Chen, terbentang dengan bulu-bulu hitamnya.