Kultivasi Cahaya

Kultivasi Cahaya
Eps. 328 — Gua Padang Gurun


Alasan Jian Chen membutuhkan Lily selain karena kekuatannya, gadis itu juga mempunyai kemampuan mendeteksi kekuatan lawan-lawannya.


Jian Chen bergerak cepat di malam tersebut, yang paling pertama ia incar adalah menghancurkan kedai para budak.


Bukan hanya menghabisi dalang dari perbudakan tersebut tetapi Jian Chen juga membakar bangunan-bangunan mereka.


Para budak yang sempat di tawan di kedai tersebut Jian Chen bebaskan dan diarahkan menuju tempat Walikota untuk mendapatkan perlindungan, sementara sisanya ia tidak bisa memaafkan mereka, baik itu pengawal pedagang budak atau pedagangnya ia habisi semuanya di sana.


Setelah membakar bangunan kedai budak tersebut, Jian Chen pergi ke bangunan budak yang lain dan melakukan hal serupa.


Aksi pembakaran tersebut segera menarik perhatian warga, karena bukan hanya satu titik saja kebakaran terjadi tetapi di berbagai titik yang lain juga terjadi kebakaran yang sama.


Perlahan-lahan kasus kebakaran malam itu semakin bertambah, tidak ada yang mengetahui sebab kebakaran tersebut karena secara tiba-tiba api itu muncul dan membakar semuanya.


Api yang Jian Chen lepaskan sangat panas, meski bangunan kedai tersebut ada yang bertingkat dan memiliki ukuran luas, dalam hitungan menit, Jian Chen mampu menghanguskan bangunan mereka.


Nyala api bersinar terang di Ibukota, membuat malam terlihat bercahaya di kota tersebut. Warga kebanyakan panik dan langsung mencoba memadamkan api di sekitarnya.


Jian Chen memastikan api yang ia keluarkan tidak merambat ke bangunan lain, ia hanya ingin bangunan kedai budak itu saja yang hangus.


Jian Chen kembali memeriksa daftar kedai budak yang sudah ia hancurkan, setelah semuanya berhasil di bakar Jian Chen mulai memburu markas kriminal di kota ini.


"Jumlahnya tidak banyak tetapi jelas lebih merepotkan..." Lily melirik Jian Chen "sepertinya ia bukan berasal dari kekaisaranmu?"


Jian Chen mengangguk, ia menyadari sejak awal para pendekar yang ada di kota ini bukan berasal dari Kekaisaran Naga. Tidak mengherankan para kriminal juga berasal dari kekaisaran lain.


Lily menambahkan rata-rata kekuatan mereka berada di Alam Hampa dan Alam Langit, meski merepotkan tetapi bukan hal yang sulit bagi Jian Chen.


Keduanya kemudian mendarat di bangunan yang di maksud Lily. Jian Chen ingin melepaskan pedang asura saat Lily mengatakan sesuatu yang membuat gerakan lengannya terhenti.


"Aku yakin kau sangat ketagihan memakai pedang itu, bukannya aku peduli atau memperhatikanmu tetapi belakangan ini kau sedikit lebih dingin dari biasanya."


Jian Chen menatap pedang asura yang tersarung rapih di pinggangnya. Setelah Lily mengucapkan demikian ia jadi tersadar bahwa semenjak dirinya masuk ke Provinsi Naga Pasir, ia tidak lepas dari pedang tersebut.


Mata emas Jian Chen yang selalu tampak indah dilihat orang lain berubah menjadi sorot mata yang dingin.


Kepribadian Jian Chen juga sedikit bergeser, ia melakukan semua cara dengan membunuh walaupun pembunuhan bukan solusi dari setiap masalahnya. Mungkin karena kemarahannya terhadap kejahatan disini atau mungkin karena pedang asura yang membuatnya menjadi sosok yang haus akan pembunuhan.


Jian Chen akhirnya urung mencabut pedang itu, ia menghela nafas sebelum masuk ke dalam markas kriminal tersebut tanpa memakai senjata.


Sama seperti sebelumnya, Jian Chen mulai menghabisi para kriminal itu dengan tangannya sementara Lily menghisap semua kultivasi mereka yang membuat lawan-lawannya jadi kehilangan kemampuan beladiri.


"Elemental Api — Hembusan Nafas Api."


Jian Chen mengeluarkan api di mulutnya yang membuat markas kriminal itu segera terbakar hebat.


Setelahnya ia langsung pindah ke lokasi lain, Jian Chen mulai membakar markas-markas kriminal itu termasuk juga tempat para pembunuh bayaran berada.


Para warga pribumi awalnya menganggap bahwa kota mereka sedang di serang oleh sebuah kelompok, sampai mereka sadar bahwa bangunan-bangunan yang terbakar itu berasal dari pemilik kekaisaran lain atau bangunan yang selama ini mereka takuti.


"Kurasa ini sudah cukup..."


Jian Chen melayang di atas langit ibukota, matahari sebentar lagi akan terbit. Jian Chen akhirnya telah berhasil membakar lokasi-lokasi bangunan yang tertulis di daftar kertasnya.


"Apa kau sadar yang kau lakukan ini akan sia-sia kembali, biarpun kejahatan berhasil dihentikan tetapi kejadian yang sama akan terulang kembali." Lily melayang di sampingnya.


Lily menghela nafas. "Selama mereka masih diam saja ketika sesama warganya dijadikan budak, maka semua yang kau lakukan sekarang menjadi tidak ada harganya."


Jian Chen tersenyum tipis, ia tentu mengerti maksud Lily. "Aku mengerti tapi setidaknya aku telah melakukan apa yang harus kulakukan, jika kejadian ini terulang lagi maka sudah selayaknya itu adalah masalah mereka..."


Jian Chen kemudian menciptakan selaput cahaya yang berbentuk seperti gelembung. Perlahan tapi pasti gelembung cahaya itu membesar dan meluas hingga akhirnya menutupi seluruh Ibukota.


"Apa yang kau lakukan?" Tanya Lily heran dengan tindakan Jian Chen barusan.


"Tidak ada, aku hanya menurunkan suhu panas di kota ini, pelindung cahayaku tadi berguna untuk menyerap panas di sekelilingnya."


Lily mengangkat bahu, tidak terlalu peduli. Ia menatap kota yang berada di bawahnya. "Jadi apa yang kau lakukan terhadap kota ini sekarang? Membantu pemerintahan?"


"Kita sudah melakukan tugas kita, sisanya Walikota dan pihak lain yang mengembalikan situasi ini..." Jian Chen tidak berniat terlalu lama di kota ini, ia langsung terbang meninggalkan wilayah ibukota, tujuan selanjutnya adalah Istana gurun.


Lagi pula semua kriminal dan pedagang budak disini sudah Jian Chen habisi, pasukan walikota lebih dari cukup untuk menyelesaikan masalahnya sendiri.


***


Dari tempat yang lain, tepat di sebuah gua yang terbentuk di tengah padang gurun. Sebuah pertemuan rahasia sedang terjadi di dalamnya.


Shio Naga, telah mendapatkan informasi yang mengejutkan mengenai terbunuhnya Shio Ular dan Shio Babi di Provinsi Naga Petir, yang berarti sudah 5 diantara anggotanya yang sudah terbunuh.


Tanpa pikir panjang, Shio Naga mengumpulkan enam Shio yang tersisa untuk melakukan pertemuan darurat di markasnya.


Meski mendadak kenyataannya mereka lebih cepat berkumpul, namun saat ini hanya baru 6 Shio yang hadir dalam rapat, sisa satu Shio lagi yang masih dalam perjalanan.


"Untuk Shio Tikus kita bisa sampaikan nanti, yang terpenting kita membahas masalah ini terlebih dahulu..." Shio Naga, selaku pemimpin para Shio tidak menunggu terlalu lama menangani kasus tersebut.


Shio Naga mulai menceritakan kasus pendekar misterius yang telah membunuh 5 Shio rekan mereka, ia menduga bahwa organisasinya saat ini sedang diincar oleh seseorang yang amat kuat.


Jika terus seperti ini hanya soal waktu semuanya akan terbunuh juga andai mereka mendiamkan pendekar misterius terlalu lama.


Shio Naga jelas tidak menduga organisasinya yang sangat di segani di seluruh Kekaisaran Naga akan berakhir jadi pelarian seperti ini namun bukan saatnya ia memikirkan itu terlebih dulu.


Mereka semua harus memikirkan jalan keluar bagaimana menyingkirkan pendekar misterius tersebut, karena jika digali lebih dalam, Shio Naga jelas bukan tandingan pendekar misterius itu.