
Jian Chen tidak menjelaskan lebih jauh sementara Ziyun dan Meily juga tidak mempertanyakan apa yang dilakukannya, Jian Chen lebih memfokuskan makan ketika masakan Meily dan Ziyun sudah matang.
Ketiganya makan malam bersama dengan menu masakan bertema makanan laut, Ziyun dan Meily memang sengaja memasaknya karena mengetahui Jian Chen menyukai masakan laut.
Kedua gadis itu amat senang ketika Jian Chen menyukai masakannya bahkan memujinya.
Sesudah makan Jian Chen memilih berjaga dan membiarkan Meily dan Ziyun untuk istirahat di dalam kereta.
Jian Chen duduk dan menyandarkan tubuhnya di batang pohon, ia akan mencoba melatih teknik Sisik Naga Langit lebih jauh.
Malam semakin larut, terdengar burung hantu yang bersuara tak jauh darinya berlatih. Jian Chen ingin cepat menguasai teknik Sisik Naga Langit secepat mungkin karena menurutnya teknik itu sangat berguna bagi gaya bertarungnya.
Jian Chen amat berkosentrasi dengan teknik tersebut sampai terlambat menyadari Ziyun keluar dari keretanya dan sudah berada di sampingnya.
"Belum tidur?" Jian Chen menyudahi latihannya setelah melihat Ziyun.
"Aku tak bisa tidur Saudara Jian, mungkin suasana langit malam bisa membuatku mengantuk." Ziyun tersenyum sebelum kemudian duduk di samping Jian Chen.
Jian Chen tidak menolaknya, ia menggeser sedikit tubuhnya agar Ziyun dapat dengan nyaman duduk di sampingnya.
"Tubuhmu sangat hangat, Saudara Jian, aku menyukainya..." Ziyun menaruh kepalanya di bahu Jian Chen, wajahnya terlihat memerah.
"Bulan sangat indah bukan?" Jian Chen menatap ke atas langit.
Ziyun melihat ke arah yang sama sebelum tersenyum dan mengangguk pelan. Ia sebenarnya lebih menikmati saat bersama Jian Chen, dengan dekat berada di sampingnya, jantungnya berdetak lebih cepat dan ia merasa nyaman dengan perasaan tersebut.
Ziyun kemudian teringat tentang sikap Meily yang berbeda beberapa hari ini dan menanyakan pada Jian Chen. Pemuda itu batuk pelan, sulit menjawabnya tetapi Ziyun langsung memahami ada yang terjadi antara Meily dan Jian Chen yang ia tidak ketahui.
"Tidak apa Saudara Jian, aku senang jika hubungan kalian berdua sangat bahagia. Kuharap anda dapat melindungi Mei'er, dia sangat mempunyai perasaan besar padamu, termasuk aku juga..."
"Aku akan menjaga kalian dengan sepenuh nyawaku, tidak ada yang bisa membuat kalian berdua seperti ini..."
Ziyun sangat senang dengan perkataan tersebut, ia memejamkan matanya dan lebih menikmati kebersamaan dengan Jian Chen setiap detiknya.
Tanpa sadar Ziyun perlahan tertidur di bahu Jian Chen, pemuda itu mengelus rambut gadisnya pelan hingga membuatnya terlelap.
Jian Chen menguap tak lama kemudian, setelah memastikan tidak ada hewan buas atau keberadaan seseorang di sekitarnya ia ikut menyandarkan kepalanya di batang pohon lalu memejamkan matanya.
Setidaknya ia terbangun ketika cahaya matahari membasuh wajahnya dengan lembut. Hal pertama yang ia temukan adalah Meily yang sedang membuat masakan untuk sarapan pagi mereka.
Jian Chen juga menemukan Ziyun masih tertidur di bahunya, sepertinya Meily memang sengaja tidak membangunkan keduanya.
Ziyun bangun saat aroma masakan Meily sudah matang, wajah gadis itu sedikit memerah saat menyadari dirinya tanpa sengaja tertidur di bahu Jian Chen.
Usai sarapan, ketiganya mulai melanjutkan ke Ibukota Kekaisaran, setidaknya dengan kereta tersebut mereka bisa sampai sekitar tiga sampai empat harian.
***
Di Provinsi Naga Api, Klan Wuming merupakan salah satu dari dua puluh klan terbesar di Kekaisaran, kekuatan mereka cukup ternama apalagi soal teknik mata mereka yang cukup populer.
Belakangan ini Wuming Sha telah mendengar berita dari bawahannya tentang sebuah pusaka tingkat tinggi dari seorang gadis.
Pusaka yang berwarna biru itu cukup membuat Wuming Sha terkejut setelah melihatnya secara langsung, karena berbeda dengan mata orang lain, ia bisa melihat kekuatan di balik pusaka itu.
Pusaka yang dimaksud adalah pusaka pedang dari Ye Ziyun, kelompok mereka lah yang selama beberapa hari ini telah mengejar Ziyun dan Meily hingga ke perbatasan provinsi.
Awalnya Wuming Sha menawarkan secara baik pada Ziyun agar dapat membelinya dengan harga yang dia mau tetapi gadis itu tetap menolaknya dan beralasan bahwa pedang tersebut adalah harta berharga yang tak bisa dibeli.
Wuming Sha yang sudah bulat ingin memiliki pedang pusaka itu akhirnya menyuruh bawahannya agar merebut paksa dari Ziyun dengan cara menjebak mereka keluar akademi.
Yang tak diduga, Ziyun dan Meily bisa lolos dari kepungan bawahannya dan berlari meninggalkan kota.
Wuming Sha tidak bisa mengejar keduanya karena harus mengurusi klan Wuming di dalam kota, sehingga menyuruh beberapa pendekar klan Wuming untuk misi pengejaran sampai dapat pusaka dari gadis itu.
Beberapa minggu setelah pengejaran tersebut masih tidak ada kabar dari bawahannya hingga akhirnya ia harus mengutus pendekar lain.
Utusan pendekar itu tidak terlalu lama pergi, saat ia kembali utusan pendekar mengabari bahwa pendekar-pendekar yang mengejar Ziyun dan Meily telah di bunuh.
"Apa kau bilang?!" Wuming Sha memukul lengan kursinya dengan kuat, tidak percaya dengan laporan tersebut.
"Benar Ketua, saat aku mengikuti jejak pendekar yang melakukan misi pengejaran itu aku mendapati mereka sudah tewas di dekat sebuah penginapan dengan dahi yang berlubang..."
"Bagaimana bisa? Aku mengutus belasan pendekar dan semuanya berada di puncak Alam Bumi, bagaimana kedua gadis itu dapat membunuhnya!"
Wuming Sha mengetahui benar kekuatan Ziyun dan Meily yang berada di ranah Alam Kehidupan, seharusnya mereka tak bisa membunuh bawahannya sekaligus.
"Ketua, aku juga tidak yakin dengan hal itu namun sepertinya mereka telah mendapatkan sebuah bantuan dari seseorang hingga bisa membunuh pendekar kita."
Wuming Sha mengepalkan tangannya keras, ia juga menduga demikian namun menolak menerimanya.
Wuming Sha mengetahui resiko besar jika mengincar Ziyun dan Meily yang merupakan jenius murid akademi Kekaisaran, andai laporan ini diketahui pemerintah maka klan Wuming bisa dalam masalah.
Sebab itu Wuming Sha selalu cemas ketika Ziyun masih belum di tangkap, yang ditakutkannya adalah gadis itu sudah melaporkan kejadian ini pada Akademi.
Utusan itu kemudian menjelaskan lagi bahwa ia telah mendapatkan petunjuk dari pelayan penginapan yang ada didekat terbunuhnya pendekar klan Wuming.
Ada yang mengatakan bahwa Ziyun dan Meily bergerak ke sebelah timur dimana Ibukota berada, meski belum yakin tetapi ia memastikan bahwa Ziyun sepertinya akan kembali ke akademi.
Wajah Wuming Sha tersenyum mendengar berita terakhir itu.
"Kalau begitu kita akan hadang mereka, panggil dua Tetua untuk menangani misi ini. Kita tidak boleh gagal mendapatkan pusaka itu untuk kedua kalinya..."
Tentu saja Wuming Sha menyadari bahwa merebut pusaka Ziyun saja tidaklah cukup, ia sepertinya harus menculik kedua gadis itu sebelum memberitahukan pada yang lain.
Wuming Sha lalu menjelaskan pada dua Tetuanya yang baru mencapai Alam Langit itu dan memerintahkannya andai situasi tidak memungkinkan mereka untuk menculik Ziyun dan Meily maka mereka boleh membunuh keduanya.