Kultivasi Cahaya

Kultivasi Cahaya
Eps. 204 — Peningkatan Kekuatan II


"Chen'er, kolam ini yang kumaksud... Chen'er, kau mendengarku?" Guru Jian Chen menaikan alisnya saat muridnya itu terus menoleh ke belakang dan tidak memperhatikan ucapannya.


"Ah, maaf Guru, aku hanya belum terbiasa melihat pemandangan barusan." Jian Chen tersenyum canggung.


Saat Jian Chen menuju kolam yang ada di dalam gua, ia berpapasan dengan gunungan batu roh yang melimpah ruah.


Satu batu roh saja sudah sangat langka di Kekaisaran Naga, bisa membuat para pendekar saling berperang hanya karena sebuah batu namun di depannya tadi adalah gunungan batu roh yang sudah menumpuk.


Saat Jian Chen ingin mengambil beberapa saja untuk disimpan, gurunya langsung melarangnya. Jian Chen terlambat menyadari bahwa keduanya tidak sendiri disini.


Di dekat gunungan batu roh, ada seekor serigala besar yang memiliki kepala tiga sedang tidur di atas pilar, menurut gurunya serigala besar itu adalah penjaga makam kuno ini.


Tidak sulit bagi Guru Jian Chen mengalahkan siluman itu hanya saja ia tidak punya alasan untuk membunuhnya.


Jian Chen ataupun gurunya memakai Kultivasi Dewa Cahaya sehingga batu roh tidak terlalu berharga bagi mereka.


Kini Jian Chen menyadari alasan gurunya melarang memecahkan formasi di mulut gua, andai ada orang lain yang datang kesini kemungkinan mereka akan terbunuh oleh mahluk itu.


"Aku mengerti Chen'er, batu roh sangat jarang di temui di Kekaisaran ini, jika kau mau tumpukan batu roh itu kau harus mengambilnya dengan kekuatanmu.."


Jian Chen mengangguk, "Baik guru, murid mengerti."


Serigala berkepala tiga tersebut merupakan siluman yang sudah mendekati raja siluman atau umurnya sudah mencapai sepuluh ribu tahun lebih.


Dengan kekuatan serta kultivasinya yang sekarang Jian Chen tidak bisa melawannya.


Pandangan Jian Chen kemudian teralih ke kolam yang dibicarakan gurunya, sebuah kolam air panas yang terbentuk di dalam gua.


Air kolam itu berwarna kehijauan serta sedikit bercahaya, terbentuk dari batu-batuan yang mengelilingi kolam tersebut.


"Chen'er, cobalah berendam di sini, kau akan merasakan khasiat dari kolam permata siluman..."


"Guru, sebenarnya kolam jenis apa ini?"


"Bukan jenis apa-apa, kolam ya kolam, hanya saja kolam ini sangat bagus bagi para pendekar sepertimu. Cobalah masuk ke sana."


Jian Chen menggaruk kepala, tidak membantahnya dan langsung turun ke kolam air hangat itu, ia bisa merasakan ketika tubuhnya masuk ke air, secara perlahan tenaga dalamnya mulai terisi kembali.


Mata Jian melebar meski sudah mendengar khasiat kolamnya, ia bisa membayangkan jika mengisi tenaga dalam disini maka ia bisa pulih lebih cepat.


"Guru ini..." Jian Chen sampai sulit berkata-kata.


"Hm, aku secara tidak sengaja menemukan gua ini, untuk sementara waktu kau sebaiknya berlatih sendiri di gua ini Chen'er."


"Tapi Guru, bagaimana dengan siluman serigala itu?"


"Dia tidak akan menyerangmu selama kau tidak mengambil batu roh miliknya. Selain itu dia sedang tertidur panjang dan hanya terbangun jika formasinya rusak, jadi meski kau berteriak padanya dia tidak akan terbangun."


Mendengar itu Jian Chen bernafas lega, setidaknya dia aman disini meski harus bersama mahluk menyeramkan.


Guru Jian Chen kemudian pergi dari gua, ia tak bisa menemani muridnya terus menerus atau Jian Chen tidak akan berkembang secara maksimal.


Sementara itu untuk belajar Teknik Pedang Matahari, Jian Chen sudah menghafal semua gerakannya, ia tinggal menyempurnakan teknik-teknik yang sudah ia ingat.


"Hm, selain mengisi tenaga dalamku lebih cepat ternyata kolam ini bisa meningkatkan jumlah tenaga dalam di tubuhku..." Gumam Jian Chen pelan.


Selepas Jian Chen berendam satu jam di sana, ia bisa merasakan satu lingkaran tenaga dalam terbentuk seperti saat ia menyerap permata siluman.


Dia adalah pendekar ahli tenaga dalam jadi tenaga dalam adalah hal yang terpenting untuk perkembangan dirinya.


***


"Kurasa ini sudah cukup..." Sudah tiga minggu semenjak Jian Chen berada di gua, ia telah berlatih di sana untuk menguasai teknik pedang matahari.


Ketika Jian Chen kehabisan tenaga dalam ia akan berendam di kolam, hal ini terus menerus ia ulang sehari-hari.


Guru Jian Chen akan datang sesekali ketika membawakan makanan untuknya, Jian Chen merasa tidak enak di perlakukan seperti itu namun gurunya mengatakan bahwa itu bukanlah masalah.


Berminggu-minggu terlewati, selain kemampuan pedang Jian Chen meningkat pesat tenaga dalamnya juga telah terbentuk banyak.


"Chen'er, tidak masalah jika kau mau memfokuskan memperbanyak tenaga dalam terlebih dahulu namun kau harus ingat, banyaknya tenaga dalam bukan penentu kekuatan seorang pendekar."


Dalam dunia persilatan ada berbagai faktor untuk memenangkan suatu pertarungan seperti banyaknya pengalaman bertarung, teknik beladiri, senjata, dan juga strategi.


Meski Jian Chen dapat mempunyai tenaga dalam yang super banyak, itu tak akan berguna jika kemampuan lainnya tidak di asah.


"Aku mengerti Guru, terimakasih atas pencerahannya."


Jian Chen memang terlalu bersemangat untuk memperbanyak jumlah tenaga dalam karena menurutnya itu adalah hal terpenting sehingga ia lupa untuk meningkatkan kultivasinya juga.


"Chen'er, apa kau tau cara naik ke alam selanjutnya?"


Jian Chen mengangguk, setelah Alam Dewa Cahaya Semi Kristal adalah Dewa Cahaya Samudera, lalu kemudian Dewa Cahaya Bumi, Dewa Cahaya Matahari, dan Dewa Cahaya Bintang.


Kekuatan Jian Chen di kehidupan pertama berada di Alam Dewa Cahaya Matahari, kekuatannya setara dengan pendekar Alam Langit.


Jian Chen sebenarnya hendak menerobos ke Alam Bintang waktu itu namun ia keburu mati.


"Ah, kalau kau menerobos ke Dewa Cahaya Bintang mungkin kekuatanmu sudah menyamai pendekar Alam Raja, kau tidak akan mati saat itu..."


"Alam Raja, Alam apa itu Guru?"


"Hm, kau tak tahu, apa diriku di kehidupan lalu tidak menjelaskan hal ini?"


Jian Chen menggeleng.


"Kalau dipikir kembali kau memang sewajarnya tidak tahu..." Guru Jian Chen mengelus janggutnya. "Di kekaisaran kecil ini seharusnya tidak ada yang berada di atas Alam Langit, Alam Raja adalah tingkatan kultivasi setelah Alam Langit."


Jian Chen terdiam beberapa saat setelah mendengar itu, sejujurnya ia pernah mendengar kultivasi setelah Alam Langit namun baru kali ini ia mendengar namanya.


Memang apa yang gurunya katakan benar, sampai akhir hayatnya Jian Chen belum pernah menemui seseorang yang berada di atas Alam Langit. Kaisar dari Kekaisaran Naga saja diketahui berada di puncak Alam Langit.


"Chen'er, sebaiknya kau fokuskan terlebih dulu pada kemampuan pedangmu, kultivasi bisa di kejar selama kau mempunyai cukup cahaya di 8 meridianmu."


Jian Chen mengangguk mengerti, dengan Kultivasi Dewa Cahaya, ia dapat menerobos ke alam selanjutnya dalam waktu singkat apalagi ia mempunyai pengalaman di masa lalu.


Jian Chen kemudian berlatih Teknik Pedang Matahari lebih dalam sementara gurunya memperhatikan permainan pedang Jian Chen sambil sesekali berdecak kagum.


"Sepertinya ini sudah cukup, meski kau masih harus menguasainya lebih lagi tapi itu bisa diundur lain kali, kita belajar Teknik Pedang Gerhana mulai sekarang."


Teknik Pedang Matahari Jian Chen bisa dibilang sudah di tahap memahaminya, hal ini tidak perlu di perdalam lagi sehingga gurunya memilih ke Teknik Pedang Gerhana.