
Pasukan aliansi musuh dan para pendekar klan Jian akhirnya beradu kekuatan dan saling menyerang, karena jumlah pendekar klan Jian lebih sedikit maka hampir tiga ribu pasukan musuhnya lolos dan menuju pemukiman klan Jian.
Sejak awal mereka berniat untuk memusnahkan klan Jian dari dalam, pasukan aliansi musuh yakin peperangan di luar tembok akan di menangkan oleh pihaknya mengingat ada 4 pemimpin mereka yang berada di Alam Hampa.
Tiga ribu pasukan itu menyerbu menuju gerbang tembok, para pendekar klan Jian sendiri tidak ada yang menahan karena masing-masing fokus pada lawannya.
“Bukankah pertahanan klanmu terlalu mudah? Belum beberapa menit pasukanku menyerang mereka sudah ada yang lolos dan memasuki gerbang klanmu?” Dong Xu tersenyum mengejek saat berhadapan dengan Jian Mo.
Jian Mo mendengus, “Jangan remehkan klan Jian, mengingatmu menyerang klanku maka tidak ada tempat untuk kalian kembali.”
“Oh, aku penasaran, melihat dari jumlah dan kekuatan pasukanku saja kau seharusnya sudah mengatahui akhir dari peperangan ini.”
“Di dunia persilatan jumlah bukanlah penentu kemenangan, melihat usiamu seharusnya kau sudah mengerti hal tersebut…” Jian Mo tersenyum sinis.
“Kau juga sama, alih-alih membawa klanmu pergi jauh kau malah melawan kami yang sudah tentu akan menang!”
Jian Mo mengeluarkan pedang dari cincin ruangnya, sebuah pusaka kelas langit yang kuat. Disisi lain Dong Xu melakukan yang sama, dua pedang pendek di keluarkan dari dalam jubahnya.
Jian Mo mengalirkan tenaga dalam pada pedangnya seketika mata pedang itu memunculkan aliran petir yang kuat.
Sebaliknya pedang pendek Dong Xu mengeluarkan pusaran angin yang tajam dari senjatanya. Dong Xu memilih menyerang terlebih dahulu, kecepatan tubuhnya sangat gesit sampai tak bisa dilihat mata telanjang tetapi Jian Mo nyatanya bisa melihat pergerakan itu.
Pertarungan keduanya berlangsung sengit, para pendekar yang ada di dekatnya memilih untuk menjauh. Mereka tidak bodoh, pertarungan pendekar Alam Hampa bukanlah sesuatu yang bisa di ikut campuri.
Kekuatan Alam Hampa akan menimbulkan banyak kerusakan bagi sekitarnya dan para pendekar takut akan terkena serangan sasaran yang timbul.
Tak jauh dari pertarungan Jian Mo dan Dong Xu, Ketua klan Jian yaitu Jian Fengxa sedang melawan orang yang sepadan dengannya yaitu 3 pendekar Alam Bumi.
Kekuatan kultivasi lawannya berada di bawahnya tetapi karena bertiga membuat keadaan pertarungan Jian Fengxa jadi seimbang.
“Ini lebih sulit dari dugaanku…” Jian Fengxa memegang pedangnya lebih erat.
Ketiga lawan Jian Fengxa menyerang secara bersamaan tidak membiarkan Jian Fengxa mengambil nafas namun ternyata teknik pedang Jiang Fengxa tak kalah lincah.
Bukan hanya menangkis dan menghindar serangan yang ada Jian Fengxa bahkan mengunggulinya, tentu saja hal ini membutuhkan tenaga dalam yang besar baginya.
Keriuhan terjadi dimana-mana, suara senjata berbenturan berdentang saling sahut menyahut sementara ketiga pemimpin organisasi yang berada jauh dibelakang masih berdiam memantau situasi peperangan.
“Bukankah seharusnya kita langsung bergerak saja?” Tanya Gu Bu mengelus dagunya. Pria gemuk itu bisa melihat situasinya berimbang setelah tiga ribu pasukannya berpencar arah dan memasuki pemukiman klan Jian.
Selain itu Jian Mo terlihat lebih kuat di banding Dong Xu meski kultivasi mereka berimbang, Jian Mo jelas lebih tua dari Dong Xu sehingga pengalaman bertarungnya ada di bawahnya.
Hong Gao menatap sekitar sebelum akhirnya mengangguk, “Kita akan bantu membantai ikan teri klan Jian untuk meminimal jumlah korban di pasukan kita…”
“Hm, Kakak Gao, bukankah seharusnya kita membantu Kakak Dong Xu dulu?” Yue Xia memiringkan kepalanya bingung.
“Nona Xia, Dong Xu melawan Jian Mo bukan karena ingin menang melainkan untuk belajar, dia tidak akan suka jika kita mengganggu pertarungannya…” Hong Gao menjelaskan bahwa nanti ketiganya akan melawan Jian Mo bersamaan, karena hanya itulah yang bisa membunuhnya.
Tiga Ketua itu terbatuk-batuk akibat debu yang di timbulkan, ketika perlahan debu itu menghilang barulah mereka bisa melihat siapa yang menghadangnya.
“Kau! Bagaimana kau bisa disini?”
Hong Gao mengenali orang itu, seorang pria yang jauh lebih sepuh darinya dan memiliki kekuatan hebat yang terpancar dari tubuhnya. Dia adalah Niu Qisha.
“Hong Gao, kau mengenalnya?” Yue Xia menjadi waspada, gadis itu tidak lagi berpura-pura manis saat menyadari ada lawan kuat di hadapannya.
Gu Bu yang selalu terlihat malas dalam penyerangan ini meningkatkan kewaspadaannya saat pria sepuh itu muncul, pasalnya dia tidak menyadari hawa keberadaan orang itu saat tiba-tiba dia datang di depannya.
“Oh kau mengenaliku? Jujur saja aku sedikit tersanjung mendengarnya…” Pria sepuh itu tertawa kecil.
“Kau, ada urusan apa kau disini?” Hong Gao menatap pria sepuh itu dengan tatapan tajam.
“Tidak ada, aku hanya ingin membalas budi kebaikan seseorang untuk melindungi klan ini jadi…aku adalah lawan kalian bertiga.”
“Kau pikir kami takut padamu hanya karena kau 10 jagoan terkuat!”
Pria sepuh itu tertawa, “Kau boleh merasakan ketakutan itu, aku tidak memaksa…”
Hong Gao, Yue Xia, dan Gu Bu melepaskan gelombang kekuatannya pada pria sepuh tersebut, menunjukkan bahwa ketiganya tidak takut andai terjadi pertarungan.
“Bagus, akan tidak seru kalau kalian tidak melawan…” Pria sepuh itu mengangkat jarinya, memberikan instruksi bagi ketiganya untuk menyerang duluan.
Hong Gao mendengus sebelum bergerak maju, Yue Xia dan Gu Bu membantunya dari dua sisi yang berbeda, mengepung Niu Qisha dari berbagai arah dan menyerang secara bersamaan.
***
Tiga ribu pasukan aliansi musuh sudah memasuki kawasan klan Jian usai menjebol pintu gerbang. Mereka bersiap untuk membabat habis penduduk klan Jian yang ada namun ekspektasi tak sesuai realita.
Di pemukiman klan Jian ternyata mereka melihat sesuatu yang tak biasa yaitu desa tersebut sudah kosong tanpa siapapun.
Hanya ada rumah-rumah yang kosong dan gelap, dagangan di biarkan di tempat, serta suasana hening yang mendominasi.
Pasukan aliansi musuh sudah merasa heran sebelumnya karena rasa-rasanya mereka begitu mudah menerobos masuk, tapi mereka tidak menyangka penduduk klan Jian sudah tidak ada.
Tangan Besi selaku pemimpin dari pasukan penerobosan tersebut mengerutkan dahinya, dia merasa ganjil dengan situasi ini.
‘Apa penduduk klan Jian sudah mengungsi dan melarikan diri? Lalu apa gunanya pendekar klan Jian bertarung di luar melawan pasukan kita…” Tangan Besi berpikir keras. ‘Jangan-jangan…’
Tangan Besi kemudian menyuruh pasukannya untuk berpencar dan melihat situasi yang terjadi, siapa tahu penduduk klan Jian masih ada dan bersembunyi di setiap rumah.
“Kuharap ini bukanlah tanda yang buruk…” Tangan Besi menatap wilayah klan Jian yang kosong, firasatnya mengatakan akan ada sesuatu yang akan terjadi.
Tangan Besi dan lainnya mulai menulusuri setiap inci klan Jian, berharap ada penduduk atau setidaknya petunjuk untuk menjawab suasana ini.