
"Bibi, sepertinya Alun-alun Istana sedang di serang."
Zhu Yin berkata kepada Lin Hua setelah ia dengan langkah tergesa-gesa memasuki ruangan ibu Yao Chan itu. Ia sudah beberapa kali keluar masuk ruangan sejak pagi tadi.
Terlihat kegelisahan di wajah Lin Hua mendengar hal tersebut. Ia diam dan menyesali dirinya tidak bisa berbuat apapun dalam situasi seperti ini.Lin Hua menatap Zhu Yin yang terlihat begitu ingin pergi ke alun-alun dari sejak tadi pagi.
"Yin'er pergilah ke alun-alun dan bantu mereka mengatasi kekacauan itu.!"
Lin Hua akhirnya menyuruh Zhu Yin untuk membantu mereka. Zhu Yin seketika terdiam dan beranjak mendekati Lin Hua lalu duduknya di sampingnya.
"Bibi, aku memang ingin sekali ke sana, tetapi aku tak ingin melanggar janjiku kepada Saudara Chan untuk menjaga bibi di sini."
Zhu Yin berkata sambil tersenyum semanis mungkin dihadapan Lin Hua. Ia mengetahui bahwa sikapnya yang mencemaskan situasi disana membuat Ibu Yao Chan itu merasa tidak enak hati.
"Sebegitu pentingkah kau memegang janjimu itu?"
Lin Hua menatap Zhu Yin yang dalam beberapa waktu terakhir ini menjadi lebih dekat dengannya.
Ia bisa melihat bahwa gadis cantik dihadapannya ini, memiliki perasaan terhadap puteranya, namun karena kecerdasannya ia bisa menyembunyikan hal tersebut di hadapan banyak orang.
"Tentu saja Bibi, jika aku melanggar janji ku, Saudara Chan mungkin tidak akan pernah mempercayaiku lagi. Dan hal itu pun akan menjadi hal buruk untukku ke depannya nanti."
Zhu Yin menjelaskan dengan penuh antusiasme.
"Kenapa kepercayaan Chan'er begitu penting bagimu nak?"
Lin Hua memegang tangan Zhu Yin yang terkejut mendengar pertanyaan tersebut.
"Itu.. itu karena.."
Zhu Yin tergagap, ia bingung bagaimana harus menjelaskan, lebih tepatnya ia malu menjelaskannya.
Lin Hua tersenyum mendapati kegugupan Zhu Yin yang wajahnya seketika berubah menjadi merah. Ia pun memaklumi bahwa gadis yang tak kalah cantiknya dengan Puteri Wu Mei itu menyukai Yao Chan, putera semata wayangnya. Dan ia pun menyukai mereka berdua.
**
Yao Chan memasukan Pedangnya kembali ke dalam Gelang Ruang Dimensi. Hal itu membuat Lawannya, Iblis Gunung Cangyan terkejut.
"Bocah... apa maksudmu? apa kau ingin menghadapi ku dengan tangan kosong?"
"Kakek Iblis..aku tidak ingin menyerang orang yang tidak bersenjata, apalagi seorang kakek ompong sepertimu. Aku pun punya teknik tangan kosong untuk menghadapi jurus tangan kosong mu itu."
Yao Chan menjawab dengan santai lalu mengerahkan tujuh puluh persen tenaga dalam ke tubuh dan kakinya. Yao Chan berencana menggunakan Teknik Tangan Naga dari kitab Dewa Naga yang ia pelajari di Alam Kultiva Naga.
"Baiklah jangan salahkan aku jika kau mati karena kesombongan mu itu."
Iblis Gunung Cangyan yang bernama Lu Yan itu terlihat kesal. Ia mengerahkan delapan puluh persen tenaga dalamnya, melihat anak muda ini mampu melayang di udara dengan stabil, ia pun tak ingin gegabah.
"Tapak penghancur Gunung Level 3"
Sedetik berikutnya Lu Yan menerjang Yao Chan dan memberikan serangan tapaknya . Yao Chan menangkis serangan itu dengan jurus Tapak Naga dari Kitab Dewa Naga.
Benturan kedua tapak itu menimbulkan gelombang kejut, hingga udara di sekitarnya berfluktuasi. Yao Chan tersenyum tipis menyadari pertarungan dengan dengan Lu Yan tidak akan mudah.
Serangan demi serangan datang silih berganti, keduanya tampak imbang dalam hal tenaga dalam, namun jurus yang Yao Chan gunakan lebih unggul satu tingkat diatas jurus Lu Yan.
"Tapak Penghancur Gunung Level 4."
Lu Yan mengubah pola serangannya menjadi lebih cepat dan lebih bervariasi. Tipuan gerakan Yu Lan, membuat Yao Chan sedikit terkejut. Beberapa kali tapak Lu Yan nyaris menghajar wajahnya.
Tak ingin gegabah, Yao Chan pun mengganti jurusnya dengan Jurus Tinju Naga. Jurus Tapak Lu Yan yang memiliki banyak gerakan tipuan itu, kini seolah tak berfungsi mengahadapi jurus Tinju Naga Yao Chan.
"Anak muda yang luar biasa, jurusnya tinjunya belum pernah aku lihat, begitu cepat dan kuat."
Lu Yan berkata dalam benaknya melihat jurus Tinju Yao Chan yang dengan mudah mematahkan jurus Tapak penghancur gunung di level ke empat.
Dalam satu kesempatan,Yao Chan melihat celah, ia.pun memasukan Tinjunya dengan telak ke dada Lu Yan yang membuatnya terpental beberapa meter dan menyemburkan darah segar.
Lu Yan segera mengeluarkan beberapa pil dari dalam jubahnya untuk mengobati luka dalamnya tersebut. Wajahnya kembali terlihat cerah setelah sepuluh detik.
Yao Chan sedikit terkejut, melihat khasiat pil yang digunakan oleh Lu Yan. Jika ia mengetahui lawannya memiliki pil sehebat itu, mungkin ia tadi tidak akan menjeda serangannya. Yao Chan tersenyum tipis menyadari kenaifannya tadi.
Pil yang Lu Yan gunakan bukanlah sembarang pil. Dengan sangat terpaksa Lu Yan menggunakan pil tersebut agar dapat menggunakan jurus Tapak Penghancur Gunung Level terakhir.
Namun menyadari efek samping dari Pil yang ia gunakan, Lu Yan berniat pergi melarikan diri dan mencari sungai untuk merendam tubuhnya.
Beberapa detik kemudian Lu Yan mulai merasakan khasiat yang sebenarnya dari Pil yang ia telan Tubuhnya mulai terasa memanas seiring bertambah besar tenaga dalamnya.
Sesaat kemudian Yao Chan merasakan Aura tenaga dalam Lu Yan meningkat dengan cepat. Tubuh Ku Yan perlahan memancarkan cahaya merah kehitaman.
Yao Chan yang menyadari hal tersebut menjadi waspada, perlahan ia pun mengerahkan tenaga dalamnya ke Sisik Zirah Naga. Kulit Yao Chan perlahan-lahan mulai berubah menjadi bersisik kuning keemasan.
Lu Yan yang melihat hal tersebut mengerutkan dahinya. Selama puluhan tahun malang melintang di dunia persilatan di tiga Kekaisaran, belum pernah ia melihat teknik yang Yao Chan gunakan saat ini.
Selain memiliki Tubuh bersisik seperti ular, tubuh Yao Chan juga memancarkan Aura yang sangat mengintimidasi dirinya.
"Anak muda, siapa sebenarnya dirimu? Sepengatahuan ku tidak ada seorang pun Jagoan di dunia persilatan Wu yang memiliki teknik seperti dirimu."
Lu Yan tak bisa lagi menahan rasa penasarannya, ia pun bertanya kepada Yao Chan yang tersenyum tipis mendengar pertanyaannya.
"Kakek Iblis bau tanah, aku tak ingin kau kencing di celana karena mendengar siapa guruku selain Kakek Guo Jin hahahaha"
Lu Yan terlihat geram mendengar jawaban Yao Chan yang merendahkan dirinya.
"Bocah kurang Ajar, jangan salahkan aku jika nanti tidak mengampuni nyawamu!"
"Tapak Penghancur Gunung Level terakhir"
Lu Yan berteriak dengan kuat dan mengerahkan seluruh tenaga yang ia miliki. Kini kulit tubuh Lu Yan terlihat seperti arang yang membara. Yao Chan hanya tersenyum tipis melihat hal itu.
Ia pun mengerahkan tenaga dalam ke arah kedua tangannya. Bersiap dengan Teknik Elemen Naga, jurus Naga Es. Sesaat kemudian Tubuh Yao Chan diselimuti aura berwarna kebiruan yang membuat udara dalam radius belasan meter seketika menjadi dingin.
Saat mereka hendak bergerak memulai pertarungan, jerit kematian terdengar silih berganti dari bawah mereka berdua. Lu Yan tercengang melihat kejadian itu. Sementara Yao Chan hanya tersenyum tipis melihatnya.
*****
Arc. 1 Akan berakhir dalam beberapa Chapter ke depan.