Pendekar Tiga Dunia

Pendekar Tiga Dunia
048: Peta Dan Gadis Bawel


Guo Jin tentu saja terkejut saat mengetahui kebenaran tentang siapa sebenarnya Jendral Ma Yun.


Sebagai Gurunya, tentu saja Guo Jin bangga dengan apa yang dilakukan oleh Yu Ma dan beberapa tetua lainnya yang selama ini telah membantu melindungi keamanan rakyat kekaisaran Wu.


"Paman Yu Ma akan datang ke sini? Lian'er pasti sangat senang mengetahuinya. Kakek.. aku permisi dulu untuk menemui Lian''er" Ucap Yao Chan sembari memberi salam lalu membalikan badannya. Namun suara Guo Jin menahan langkahnya.


"Chan'er... sebentar nak" Guo Jin segera menghampiri Yao Chan.


"Chan' er ada sesuatu yang ingin kakek sampaikan. Hal ini berkaitan dengan kedatangan Zhu Yin di kekaisaran Wu."


Yao Chan mengerutkan dahinya, dirinya memang mengetahui Zhu Yin berasal dari Kekaisaran Ming. Namun tak mengetahui jika alasan kedatangannya berkaitan dengan dirinya.


"Kakek, mengapa hal ini berkaitan dengan diriku? Jangan-jangan kakek mau memaksaku untuk menikahinya ya? Aah aku belum mau men..aauugh" Kalimat Yao Chan tak sempat diselesaikannya karena jari tangan Guo Jin sudah berada di telinga kirinya.


"Dasar bocah tengil... " Guo Jin memelintir telinga Yao Chan dengan cukup kuat hingga membuat Yao Chan meringis dan tersenyum masam.


"Ikut Kakek menemui Yin'er sekarang!" perintah Guo Jin sambil menarik telinga Yao Chan untuk keluar ruangan. Tetua Ma Hua hanya tersenyum tipis melihat kekonyolan Yao Chan.


"Iya iya kek tapi lepaskan dulu telingaku." sahut Yao Chan sambil berusaha menarik tangan Guo Jin dari telinganya. Namun usahanya itu sia-sia saja.


Guo Jin melepaskan tangannya dari telinga Yao Chan saat mereka telah tiba di depan pintu kamar Zhu Yin. Yao Chan segera mengelus telinga kirinya yang kini telah memerah seperti kepiting rebus.


"Yin'er apakah kau ada di dalam?" Ucap Guo Jin sambil mengetuk pintu ruangan Zhu Yin.


"Iya kek.. sebentar." Zhu Yin menyahut dari dalam ruangan. Tak lama kemudian pintu terbuka, dan Zhu Yin mempersilakan mereka memasuki ruangannya.


Zhu Yin menatap Yao Chan dengan tatapan keheranan, hal itu karena Yao Chan selalu mengelus telinga kirinya dengan wajah yang terlihat kesal.


Beberapa saat kemudian barulah Zhu Yin sadari bahwa telinga kiri Yao Chan berwarna sedikit merah, berbeda dengan telinga kirinya.


Zhu Yin tersenyum geli saat menyadari kemungkinan yang terjadi pada Yao Chan.


"Kakek apakah kita akan membahas masalah peta itu?" Tebak Zhu Yin, saat mereka telah menduduki kursi masing-masing.


"Benar Yin'er, kakek ingin menjelaskan kepada kalian bahwa setelah masalah di kota Xinan selesai, kalian bertiga harus segera memulai perjalanan menuju tempat yang ada di peta tersebut."


Kata-kata Guo Jin membuat Yao Chan kebingungan. Ia menatap Zhu Yin dan Guo Jin bergantian dengan benak dipenuhi pertanyaan. Zhu Yin tersenyum tipis sambil sedikit mencibir kan bibirnya yang membuat Yao Chan menjadi kesal.


"Kakek, kenapa aku harus melakukan perjalanan dengan gadis bawel ini?" Yao Chan segera mempertanyakan kata-kata Guo Jin sekaligus membalas cibiran Zhu Yin dengan menyebutnya "Gadis Bawel".


Zhu Yin tercekat mendengar kata-kata Yao Chan, walau bibirnya mencibiri Yao Chan namun dalam hatinya Zhu Yin begitu senang karena bisa bersama dengan pemuda yang telah membuat hatinya bergetar saat pertama kali mereka bertemu.


"Gadis Bawel katamu! hei pendekar muda yang Naif, ketahuilah aku bukan gadis bawel, aku hanya sebal melihat kebodohan mu dengan melepaskan orang jahat seperti yang kau lakukan semalam."


Zhu Yin menanggapi kata-kata Yao Chan dengan keras, membuat Yao Chan terhenyak kebingungan. Dirinya bingung kenapa Zhu Yin tiba-tiba menjadi begitu marah.


Guo Jin tersenyum tipis melihat perdebatan dua remaja di hadapannya. Perdebatan Yao Chan dan Zhu Yin mengingatkannya pada seseorang yang pernah bertahta dan menjadi ratu di singgasana hatinya.


Namun takdir telah berbicara dengan bahasanya sendiri yang terkadang sulit untuk dimengerti. Mereka pun harus terpisah karena sebuah kesalahpahaman diantara keduanya. Dan jalinan asmara mereka berubah menjadi permusuhan yang entah kapan akan berakhir.


Guo Jin sebenarnya telah meminta maaf dan berusaha memperbaiki hubungan mereka, ia pun sudah menerima segala kekesalan dan amarah sang kekasih, namun hal itu tidak cukup untuk membuat mereka menjalani hari bersama lagi.


Guo Jin menghela nafas panjang lalu menghembuskannya dengan kuat sehingga terdengar seperti seseorang yang mendengus. Hal ini membuat Yao Chan dan Zhu Yin tersadar dan menghentikan perdebatannya.


"Sudah selesaikah kalian berdebat nya?"


"Maafkan kami Kek.." Keduanya berkata secara bersamaan seolah mereka sudah sepakat mengucapkannya.


Zhu Yin melotot kearah Yao Chan demikian pula dengan Yao Chan yang memelototi Zhu Yin karena mengucapkan kata-kata yang sama.


Guo Jin akhirnya menengahi keduanya yang hampir saja terlibat perdebatan lagi.


Guo Jin lalu menceritakan kepada Yao Chan tentang peta yang dimaksudnya. Juga alasan mengapa Zhu Yin terlibat didalamnya.


Guo Jin menyerahkan sebuah peta usang kepada Yao Chan setelah selesai menceritakan tentang peta yang menunjukan tempat beradanya dua kitab pusaka tersebut.


Yao Chan menerima peta tersebut dengan mata berbinar. Yao Chan telah mendengar perihal kedua kitab tersebut dari Zhu Long. Kitab yang akan membantunya untuk menembus tingkatan pendekar yang gagal ditembus oleh Zhu Long yaitu Tingkat Pendekar Langit.


"Terimakasih Kek.. aku akan segera mengambil kitab dengan petunjuk peta ini." Yao Chan menjawab dengan antusias.


"Hati-hatilah selama perjalanan kalian nanti, jangan sampai informasi keberadaan dua kitab tersebut tersebar, karena akan menimbulkan keributan di dunia persilatan." Guo Jin mengingatkan Yao Chan dan Zhu Yin.


"Baik Kek.. tapi kalo boleh aku tahu kenapa aku harus mengambil kitab bersama gadis bawel ini?" tanya Yao Chan sambil melirik ke arah Zhu Yin yang wajahnya kembali terlihat kesal.


"Chan'er berhentilah menggodanya, seperti yang ku ceritakan tadi, kedua kitab tersebut dilindungi oleh jebakan yang mematikan yang dibuat oleh leluhur Kita, saat ini hanya Zhu Yin yang memahami cara untuk menonaktifkan jebakan tersebut. Jadi berhentilah menggodanya, karena keberadaanya sangat penting dalam pencarian kitab ini."


Yao Chan tidak menjawab kata-kata Guo Jin dirinya hanya menganggukkan kepala sambil tersenyum, senyum yang membuat Zhu Yin melupakan kekesalannya pada Yao Chan.


Saat mereka sedang asik dengan pikiran masing-masing, terdengar suara seseorang di depan pintu.


"Ketua .. mohon untuk bertemu" Terdengar suara Tetua Ma Hua yang terdengar agak panik.


Guo Jin mengerutkan dahinya, lalu menyuruh Tetua Ma Hua masuk. Terlihat kepanikan di wajah Tetua Ma Hua sesaat setelah berada di dalam ruangan.


...*****...


Mohon Maaf, beberapa hari terakhir, Tidak bisa Update rutin seperti biasanya. Insya Allah kedepannya akan di usahakan untuk update secara Rutin lagi.