Pendekar Tiga Dunia

Pendekar Tiga Dunia
116: Si Putih Penghuni Goa II


Roh Naga Emas termenung beberapa saat. Ia pun menatap Mang Shee dengan tatapan yang dipenuhi keraguan, mengingat kekuatan yang dimiliki Mang Shee sangat tinggi.


Seribu tahun lalu, Mang Shee adalah Rajanya para siluman di dunia manusia. Dengan kemampuannya yang tinggi, Mang Shee membuat kekacauan dengan memakan puluhan ribu manusia.


Dengan menjadikan manusia sebagai makanannya, kekuatan Mang Shee terus meningkat setiap harinya. Hingga akhirnya Dewa Naga sang Penjaga Kehidupan Alam, mengutus dirinya untuk menyegel kekuatan Mang Shee.


Salah satu kekuatan yang ia segel adalah kemampuan mengubah dirinya menjadi sepuluh kali lipat dari yang terlihat sekarang ini. Selain mampu terbang seperti para Dewa dari Ras Naga, kekuatan tubuh Mang Shee hanya bisa di tembus oleh dua Senjata Dewa saja.


Senjata para Dewa selain kedua senjata tersebut tidak akan bisa melukai tubuh Mang Shee. Mengingat kedua senjata tersebut kini berada di tangan Yao Chan dan Yu Lian, Roh Naga Emas memutuskan untuk membuka segel di tubuh Mang Shee.


"Mang Shee sekarang serahkan kedua kitab tersebut kepada ku, lalu setelah itu akan ku buka segel mu!"


Mendengar segel dalam tubuhnya akan dibuka Mang Shee tersenyum senang. Ia pun segera mendesis beberapa kali, lalu memuntahkan sebuah peti kecil dan meletakan di lidahnya. Mang Shee segera menjulurkan lidahnya ke pada Roh Naga Emas.


Setelah memasukan Dua Peti berisi Kitab tersebut ke dalam Gelang Ruang Dimensi Yao Chan, Roh Naga Emas merasa yakin bahwa Mang Shee memang benar-benar telah bertobat.


Roh Naga Emas pun segera merapalkan Mantera pembuka segel di tubuh Mang Shee. Perlahan-lahan tubuh Mang Shee di selimuti oleh cahaya keemasan. Setelah cahaya Emas itu menghilang, Tubuh Mang Shee membesar hingga sepuluh kali lipat dari sebelumnya.


"Hahahaha akhirnya aku bebas, kekuatan ku pulih kembali. Naga bodoh!! jangan kau kira aku tidak tahu bahwa kau saat ini hanya berbentuk Roh dan kekuatanmu kini bukan lawan ku lagi Hahahaha"


Wajah Yu Lian dan Zhu Yin terkejut bukan hanya tubuhnya yang berubah, namun sikapnya yang semula terlihat tunduk dan patuh, kini menjadi sombong dan bahkan menghina Roh Naga Emas.


"Dulu aku tidak membunuh mu karena Tuanku Dewa Naga memberi kesempatan untuk berubah menjadi baik, ternyata kau bodoh tidak dengan tetap pada jalan sesat mu. Sekarang Aku memiliki alasan untuk membunuh mu!"


Roh Naga Emas tersenyum tipis, ia sudah kemungkinan hal ini terjadi. Ia pun mengirim pesan telepati kepada Roh Naga Api yang berada di dalam Cambuk Naga Api Yu Lian.


"Hahahaha kau masih saja Arogan Naga kuning, apa kau pikir kau bisa mengalahkan ..."


Suara Mang Shee terputus saat menyadari Aura Dewa lain memenuhi udara sehingga berubah menjadi panas. Mata Mang Shee melotot lebar saat mendapati dua benda yang sangat ditakuti olehnya kini berada di tangan dua dari tiga Dewa yang ia takuti.


"Naga Emas, kau ini mengganggu meditasi ku saja, menghadapi siluman kacangan begini kau meminta bantuan ku, dasar payah!"


Suara Yu Lian yang tiba-tiba berubah menjadi suara seorang laki-laki membuat Zhu Yin terkejut, walau ia pernah melihat Yu Lian seperti dalam seperti ini, keadaan dimana tubuhnya dirasuki oleh Roh Naga Api.


Menyadari situasi yang berbahaya, Zhu Yin pun segera mengeluarkan Pedang Gadis Suci dari Gelang Ruang Dimensinya. Lalu mengalirkan tidak kurang dari seribu simpul tenaga dalamnya.


Roh Naga Emas yang berada dalam tubuh Yao Chan tersenyum kecut. Sudah sejak lama ia tidak berbincang dengan Naga Api yang selalu meledeknya dengan kata payah.


"Kau masih saja belum berubah Naga Api, bagaimana apakah kau ingin menghabisinya sendiri atau kita lakukan berdua?"


Mendengar ucapan itu Roh Naga Api mendengus kesal, ia menyadari bahwa kekuatan Cambuk ditanganya belum bisa ia gunakan secara penuh karena tidak adanya Mutiara Jiwa Api di dalam Cambuk tersebut.


Perkataan Roh Naga Api, membuat Roh Naga Emas di tubuh Yao Chan tersedak, ia tak menyadari jika Yao Chan telah memiliki energi qi.


"Benar katamu Naga Api, tubuh pemuda ini memiliki setidaknya lima ratus kristal energi. Tapi sebaiknya kita saja yang menghabisi Mang Shee, itung-itung mengolahragakan roh kita biar sedikit lebih sehat hahahaha."


Naga Api mendengus kesal mendengar perkataan Roh Naga Emas.


"Dasar Naga letoy, kau pikir di dalam roh yang sehat ada jiwa yang kuat, sembarangan kau ini."


Zhu Yin yang sedari tadi menahan geli, kini tak dapat lagi menahan tawanya. Sungguh ia tidak menyangka jika para dewa sedang berbincang mereka tak berbeda dengan manusia.


Lain yang dirasakan oleh Zhu Yin, lain pula yang dirasakan oleh Mang Shee. Siluman Ular Piton putih itu wajahnya kian memucat. Kini ia tidak percaya diri lagi bisa mempertahankan nyawanya.


"Naga Api bagaimana kalo kita berlomba, serangan siapa yang akan membunuhnya terlebih dahulu."


"Baik, siapa takut. Jika aku menang kau harus memanggilku "Tuan Muda" setiap kita bertemu, begitupun jika aku kalah. Bagaimana?"


"Baiklah aku setuju ide brilian mu itu Naga api."


Jawaban Naga Emas itu mengakhiri perbincangan mereka berdua. Perbincangan yang membuat Mang Shee menelan ludahnya, karena rasa gentar dan marah dijadikan obyek perlombaan oleh kedua Roh Naga itu.


Kemarahan Mang Shee yang lebih besar, membuatnya memutuskan menghadapi kedua Roh Naga itu. Ia pun segera melapisi tubuh besar nya dengan energi yang kuat, membuat tubuh putihnya itu kini bercahaya terang.


"Manusia gadis, masuklah ke dalam Kubah Gelang Giok Hijau, lindungi dirimu dari imbas kekuatan kami."


Roh Naga Emas berteriak kepada Zhu Yin yang segera melesat ke dalam Kubah, karena menyadari betapa berbahayanya pertarungan tersebut.


Setelah melihat Zhu Yin berada dalam Kubah Gelang Giok Hijau, Roh Naga Emas segera menyalurkan qi ke dalam Pedang Dewa Perang, membuat udara dalam radius seratus meter menjadi dua puluh kali lebih berat dari sebelumnya.


Mang Shee tak menduga hal tersebut, ia belum siap untuk menahan gravitasi yang membuat tubuhnya meluncur jatuh ke tanah menimpa pohon besar yang dibawahnya.


Roh Naga Api segera mengerahkan sejumlah besar qi ke dalam Cambuk Naga Api, membuat cambuk itu memanjang seratus meter dan menyalakan api yang berkobar membentuk seekor ular naga.


Kedua Roh Naga itu, secara bersamaan melepaskan serangan kuat kepada Mang Shee yang sedang meluncur jatuh.


Mang Shee yang yang bertubuh ular raksasa itu, mendesis marah lalu mendongakkan kepalanya melihat ke atas tepat saat kedua Roh Naga itu melepaskan serangan mereka.


****"