
Enam bulan yang lalu Guo Jin telah keluar dari Alam Kultiva Naga. Hal yang pertama dilihat olehnya adalah pemandangan yang menyesakkan dada.
Tempat di mana dulu dipenuhi oleh berbagai bangunan, kini telah rata dengan tanah dan hancur menjadi puing-puing.
Ilalang tumbuh dengan subur, terpupuk oleh jasad ribuan manusia yang mati dalam pertempuran sepuluh tahun lalu.
Guo Jin menghela nafas panjang, karena kelemahannya sebagai ketua, membuat Sekte Lembah Dewa harus mengalami kehancuran. Penyesalan yang teramat dalam memeluk erat hati Guo Jin saat ini.
Seandainya dulu dirinya lebih giat berlatih dan sekuat sekarang, mungkin Sekte Lembah Dewa masih berjaya hingga hari ini.
Namun semua telah terjadi, penyesalan tak akan memperbaiki dan mengembalikan apa yang telah tiada.
Hati Guo Jin menjadi sedikit tenang setelah dirinya teringat bahwa Zhu Long, Sang Pendiri Sekte Lembah Dewa tidak menyalahkan Guo Jin atas kehancuran Sekte yang didirikan olehnya lima ratus tahun lalu.
Bukan hanya itu saja, Zhu Long mempercayai Guo Jin untuk melaksanakan dua tugas. Selain tugas untuk membangun kembali Sekte Lembah Dewa, Zhu Long juga memberi tugas yang jauh lebih penting.
Zhu Long memerintahkan Guo Jin untuk mengambil Peta yang dititipkannya pada keturunan dari adik Zhu Long.
Zhu Long memiliki seorang adik lelaki yang juga merupakan pendekar terhebat di jamannya dulu. Hanya saja Zhu Mao, adik lelaki Zhu Long ini, memilih menikahi gadis yang dicintainya dan hidup menyepi di wilayah kekaisaran Ming.
Zhu Long lalu membuat surat dan menyerahkan sebuah lencana keluarga Zhu kepada Guo Jin agar dapat mengambil Peta itu.
Peta yang dimaksud oleh Zhu Long adalah peta yang berisi petunjuk tentang tempat dimana disimpannya Dua Kitab Pusaka yang menjadi perebutan dua ratus tahun lalu.
Kitab itu disimpan Zhu Long hampir seratus tahun lalu di sebuah tempat rahasia dan dipenuhi dengan jebakan yang mematikan. Hanya keturunan Zhu Mao saja yang mampu mengatasi jebakan itu.
Setelah mengambil Peta tersebut, Guo Jin diperintahkan untuk menyerahkannya kepada Yao Chan saat nanti sudah keluar dari Alam Kultiva Naga.
Guo Jin akhirnya pergi menuju kekaisaran Ming. Butuh waktu hingga berbulan-bulan bagi Guo Jin untuk menemukan keturunan terakhir dari Zhu Mao.
Dari tiga keturunan terakhir itu, dua diantaranya adalah lelaki yang mempunyai kemampuan beladiri setara dengan Guo Jin, Pendekar Suci Tahap menengah.
Sementara yang termuda adalah seorang gadis yang sebaya dengan Yao Chan, Gadis tersebut bernama Zhu Yin. Kemampuan Zhu Yin yang terlemah diantara kedua kakaknya. yaitu Pendekar Pertapa tahap Akhir.
Walau kemampuannya yang terlemah, Zhu Yin memiliki kecerdasan yang sangat tinggi, dirinya mampu mengingat sesuatu dengan baik hanya dalam sekali lihat.
Dengan kelebihannya itu, Zhu Yin memahami dan menghapal semua jebakan yang dibuat Zhu Long jauh lebih baik dari kedua kakak laki-lakinya.
Akhirnya Guo Jin kembali kekaisaran Wu bersama Zhu Yin. Perjalanan kembali kekaisaran Wu memerlukan waktu satu bulan ditempuh dengan kereta kuda.
Karena Zhu Yin belum memiliki kemampuan melayang di udara, perjalanan ditempuh berjalan kaki dan berlari dengan ilmu peringan tubuh.
Selama perjalanan, saat istirahat di malam hari, Guo Jin membantu proses peningkatan kekuatan Zhu Yin dengan memberinya sumber daya yang berasal dari Alam Kultiva Naga dalam jumlah yang banyak.
Selain Yao Chan dan Yu Lian, Zhu Long juga memberi Guo Jin dua Gelang Ruang Dimensi. Satu gelang untuk Zhu Long dan satu lagi untuk keturunan Zhu Mao.
Saat Guo Jin menyerahkan Gelang Ruang Dimensi kepada keturunan Zhu Mao, kedua kakak laki-lakinya sepakat memberikan Gelang itu kepada Zhu Yin.
Zhu Yin tentu saja sangat gembira setelah memahami cara kerja gelang tersebut. Zhu Yin yang gemar memasak, memasukan semua peralatan memasaknya ke dalam gelang beserta semua bahan dan bumbu dalam jumlah yang sangat banyak.
Masakan Zhu Yin mungkin adalah makanan terlezat yang pernah dinikmati oleh Guo Jin selama puluhan tahun terakhir.
Guo Jin yang mulanya mentertawakan tindakan Zhu Yin yang memasukan peralatan memasaknya, kini merasa bersyukur dapat menikmati makanan selezat ini setiap hari.
Seandainya Guo Jin memiliki seorang Cucu laki-laki, mungkin Guo Jin akan meminta Zhu Yin menjadi isteri cucunya itu.
Selain memiliki paras yang tak kalah cantiknya dari Yu Lian, kecerdasan yang tinggi dari Zhu Yin, membuat pesona tersendiri bagi setiap lelaki yang melihatnya.
Setelah makan malam, Zhu Yin memulai meditasinya untuk menyerap khasiat sumber daya langka yang diberikan Guo Jin.
Setelah satu bulan lebih menempuh perjalanan, akhirnya Guo Jin tiba di kota Xinan. Kota Xinan sore itu terlihat begitu ramai dengan kehadiran beberapa sekte dari Aliran Hitam dan Netral.
Guo Jin mengerutkan dahinya saat menyadari situasi kota Xinan. Banyaknya pendekar aliran hitam di kota ini, tentu bukan tanpa alasan, hanya saja Guo Jin belum mengetahui alasan tersebut.
Setelah mendapatkan penginapan untuk mereka berdua, Guo Jin dan Zhu Yin beristirahat di ruang masing-masing.
Zhu Yin melakukan meditasi untuk menstabilkan pondasi beladirinya yang baru saja menembus Tingkat Pendekar Suci tahap Awal berkat sumberdaya langka pemberian Guo Jin.
Walau sudah mencapai tingkat Pendekar Suci, namun Zhu Yin belum mampu melayang di udara. karena dirinya belum pernah membaca teknik melayang di udara dengan menggunakan tenaga dalam.
Jumlah tenaga dalam yang dimiliki oleh Zhu Yin meningkat pesat hingga ribuan simpul. Zhu Yin merasakan kekuatan sangat besar tersimpan di tubuhnya setelah mencapai tingkat Pendekar Suci.
Pelatihan tak wajar dan sangat keras yang diberikan Ayahnya saat Zhu Yin masih kecil, membuat tubuh Zhu Yin memiliki pondasi yang kuat sebagai seorang pendekar.
Saat tengah melakukan meditasinya, tiba-tiba Zhu Yin mendengar suara tertawa yang dialiri tenaga dalam yang menunjukan pemilik suara tersebut memiliki kemampuan yang tinggi.
"Chan'er... ini suara tertawa Chan'er. Rupanya mereka sudah keluar dari Alam Kultiva Naga, tapi apa yang terjadi sehingga ia tertawa sekeras ini?"
Guo Jin segera menghentikan meditasinya, lalu beranjak keluar dari ruangnya dan bertemu Zhu Yin yang juga sudah keluar dari ruangannya.
"Kakek.. suara siapa ini? dan apa yang terjadi di luar sana?" Tanya Zhu Yin yang terlihat kesal karena terganggu meditasinya di saat yang penting.
"Jika aku tak salah, suara tawa ini adalah suara tawa bocah tengil itu...sepertinya dia sedang bersenang-senang entah dengan siapa?" Jawab Guo Jin tersenyum kecut, mengingat dirinya beberapa kali di kerjai oleh Yao Chan saat berada di Alam Kultiva Naga.
Zhu Yin tersedak nafasnya sendiri, kekesalan dihatinya mendadak hilang berganti dengan rasa penasaran yang amat sangat.
Zhu Yin paham benar siapa yang disebut bocah tengil oleh Guo Jin. Karena Guo Jin sering menceritakan Yu Lian dan menyebut Yao Chan sebagai bocah tengil.
Zhu Yin sangat penasaran dengan kecantikan Yu Lian yang dikatakan Guo Jin, setara dengan kecantikan yang dimilikinya.
Tentu saja bukan hanya itu, Zhu Yin juga sangat penasaran terhadap wajah Yao Chan yang dikatakan memiliki ketampanan bagai seorang Dewa.
Guo Jin dan Zhu Yin segera beranjak dari penginapan untuk mencari keberadaan Yao Chan.
Tak sulit bagi mereka untuk menemukan Yao Chan yang sedang menghunuskan pedang ke arah empat orang laki-laki yang dikenali oleh Guo Jin sebagai Enam Hantu Lembah Neraka.
...****...