
WARNING: Chapter ini mengandung unsur cerita dewasa 21+. Bagi yang berusia di bawah itu, harap tidak membacanya. Bijaklah dalam menyikapinya.
___________________________________
“Aaaarrrgggggh ….. Sakiiitt.”
Tubuh Xian Mey, tidak berhenti bergetar mendengar jeritan Gong Li yang entah untuk ke berapa kalinya.
Sudah sejak sepuluh menit yang lalu Ia mendengar jeritan dengan kata-kata yang sama itu, membuat wajahnya pun semakin terlihat pucat.
Seingatnya, saat para gadis peri bercerita tentang pengalaman mereka pertama kalinya melakukan hal itu, tidaklah selama ini mendera rasa sakitnya.
Namun yang terjadi dengan Gong Li saat ini, sangatlah berbeda. Xian Mey menutup telinganya ketika mendengar jeritan panjang dari Gong Li sesaat kemudian.
Ia pun segera menarik selimut menutupi tubuhnya yang kian gemetar. Ia pun memutuskan untuk pura-pura tidur saja.
Namun, suara jeritan tidak lagi terdengar setelah beberapa menit, membuatnya penasaran lalu bangun dari tidurnya.
Ia pun menajamkan pendengarannya. malam yang hening itu, kini menjadi bising oleh desahan dua orang yang sedang berpacu dalam rasa itu.
Semakin lama suara itu semakin keras terdengar, membuat tubuh Xian Mey menghangat dan bergetar kembali. Getaran yang bukan lagi karena ketakutan.
Getaran yang disebabkan oleh hal lain itu, membuatnya terpaksa harus merapatkan kedua kakinya satu sama lain.
Keheningan malam yang bising oleh suara desahan sejak satu jam lalu itu, kini kembali terusik oleh jeritan tertahan Gong Li dan Yao Chan yang menggeram bagai serigala.
Sesaat kemudian, suasana malam kembali menjadi hening, membuatnya bisa mendengar langkah kaki mendekati ruangannya.
Jantung Xian Mey berdegup keras saat mendengar suara pintu ruangan tempat tidurnya, terbuka secara perlahan. Ingin rasanya Ia bangun dan lari meninggalkan ruangan itu.
Sementara di ruangan sebelah, Gong Li sedang berusaha bangkit dari posisi rebahnya dengan tubuh yang masih dalam keadaan polos dan dipenuhi oleh keringat.
Rasa perih di bagian bawah tubuhnya, membuatnya harus tertatih-tatih, saat berjalan dalam kondisi polos, menuju ke sebuah meja rias di sudut ruangannya itu.
Ia terkejut mendapati kulit dadanya, kini memerah berbentuk seperti bibir di hampir seluruh bagiannya.
“Dia benar-benar menyukai bagian ini, pasti Mey’ér pun akan mengalami hal yang sama, apalagi miliknya kini lebih besar dariku.”
Gong Li segera menuju ke sebuah meja dimana terdapat sebuah Guci air, rasa haus membuatnya meminum air seperti telah lama tidak meminumnya.
Ia pun menatap pembaringan yang kini telah berantakan, lalu ia kembali berjalan ke tempat itu dan membereskan kain penutup pembaringan yang dipenuhi noda darahnya.
Ia pun mengganti kain penutup itu dengan yang baru. Masih dalam keadaan polos, Ia lalu kembali merebahkan tubuhnya.
“Aaaarrrggghhh …. Berhentiii … Sakiiiittt”
Suara Jeritan Xian Mey, membuat Gong Li tersenyum. Ia sangat tahu sakit karena apa yang kini sedang didera Isteri kedua Yao Chan itu.
“Chan Gege … Punya mu terlalu besar, kau membuat kami tersiksa oleh sakit luar biasa, Semoga Mey’er mampu bertahan dan tidak pingsan. Jadi dia bisa merasakan disiksa kenikmatan yang tiada tara setelahnya.”
Gong Li menghela nafas panjang, mencoba mengusir hawa aneh yang tiba-tiba saja merasuk kembali kedalam aliran darahnya.
“Sepertinya Chan Gege kesulitan memasuki Mey’er, sudah lima belas menit berlalu, tapi Mey’er masih saja menjerit kesakitan.”
Gong Li yang sedari tadi ingin memejamkan mata karena rasa lelahnya, kini kembali duduk dan tersenyum saat mendengar jeritan panjang Xian Mey.
“Akhirnya Chan Gege … berhasil memasuki Mey’er.”
Ia pun merapatkan kakinya untuk menahan
Rasa nikmat yang tiba-tiba saja mendera bagian bawah tubuhnya.
Ia pun memejamkan matanya, mengingat kembali bagaimana tubuhnya di pompa oleh suaminya itu dengan sangat kuat.
Setengah jam telah berlalu, Gong Li menggeliat-geliat merasakan sensasi di tubuhnya yang semakin kuat menuntut untuk di tuntaskan.
Sebuah pekikan tertahan dari Xian Mey terdengar keras ditelinga Gong Li. Ia pun tersenyum, karena Ia ingin melakukannya sekali lagi dengan suaminya itu.
Namun suara desahan kembali terdengar, Gong Li baru menyadari bahwa Ia tidak mendengar geraman Yao Chan saat Xian Mey tadi memekik.
Pertarungan mereka akhirnya berlanjut dengan suara desahan yang semakin keras. Gong Li semakin tersiksa karena telah lebih satu jam belum terdengar juga suara Yao Chan yang menggeram.
Sementara pekikan Xian Mey telah empat kali terdengar, membuat hatinya merasa iri atas kenikmatan yang Xian Mey Alami.
Suasana menjadi hening sebelum kembali bising oleh rintihan Xian Mey.
“Chan Gege … sudah … Aku lelah…”
Setelah suara Xian Mey itu, suasana pun kembali hening. Beberapa saat kemudian terdengar langkah kaki Yao Chan kembali memasuki ruangan Gong Li.
Tubuh Gong Li yang terbaring polos tanpa sehelai kain pun segera diterkam kembali oleh Yao Chan, setibanya Ia di ruangan isteri pertamanya itu.
Xian Mey yang masih tergeletak lemas di ruangannya, tersenyum saat mendengar suara desahan Gong Li yang terdengar lebih keras dari sebelumnya.
Xian Mey segera bangkit menahan perih di bagian bawah tubuhnya, Ia pun meminum sebanyak-banyaknya air yang berada dalam guci yang terletak diatas meja.
Xian Mey kembali merebahkan dirinya yang masih tanpa sehelai benang pun. Karena rasa lelahnya, Ia pun berniat untuk tidur.
Namun suara desahan yang semakin liar dan keras dari ruangan samping, membuatnya membayangkan apa yang sedang terjadi dengan mereka berdua.
Karena mendengar suara-suara itu, akhirnya Xian Mey merasakan sensasi yang kuat kembali mendera tubuhnya.
Tidak ada dari keduanya yang menyadari bahwa suami mereka, telah memasukan bubuk obat kuat kedalam air guci yang terletak diatas meja di setiap ruangan mereka.
Itulah sebabnya setelah hampir satu jam kemudian, Xian Mey menggeliat-geliat bagai cacing kepanasan.
Setidaknya enam kali ia mendengar pekikan panjang dari Gong Li. Pekikan yang sama yang Ia lakukan saat mencapai puncak yang tiada taranya.
Mengingat kembali rasa itu, membuatnya tak tahan lagi. Ia pun bangkit dalam keadaan polos lalu keluar dari ruangannya dan berjalan ke arah ruangan Gong Li.
Saat itu lah terdengar pekikan keras Gong Li dan suaranya yang meminta Yao Chan untuk menghentikan aksinya, karena dirinya sudah sangat lelah sekali.
Yao Chan yang masih merasa kena tanggung, segera keluar dan kembali ke ruangan Xian Mey yang baru saja kemabli memasuki ruangannya.
Seperti dugaan Xian Mey, Yao Chan kembali ke ruangan dan Ia pun segera menerkam tubuh suaminya yang baru saja menutup pintu ruangannya itu.
Gong Li yang sedang terkulai lemas di pembaringannya, segera bangkit merasakan haus yang luar biasa. Ia pun menenggak habis air di dalam guci itu.
Fajar pun menyingsing Di Alam Kristal dewa, menyinari Istana kecil di mana tiga sosok manusia baru saja selesai dengan olah raga malam di malam pengantin mereka.
****