
Di dalam goa di sebuah lembah yang jarang di kunjungi oleh Bangsa peri maupun oleh bangsa Iblis, Peri Hitam terlihat tengah mengerang kesakitan.
Telah Dua bulan lebih sejak terakhir kali Ia mendatangi Pohon Abadi Xian Fun Da Shi.
Kini Perutnya yang sudah sangat besar itu, dirasakan olehnya sedang bergerak-gerak dengan sangat hebat.
Peri Hitam merasakan dirinya akan melahirkan, hatinya berdebar dengan sangat kencang.
Ia tidak mengetahui dengan pasti tentang bagaimana proses melahirkan. Ia hanya sempat melihatnya, saat dirinya masih berada dalam Pedang Tengkorak.
Dengan pengetahuan yang bisa dibilang seadanya itu, Peri Hitam berhasil melahirkan Han Mo, setelah hampir semalam suntuk Ia menahan rasa sakit.
Sosok bayi dengan panjang hampir satu meter itu terlihat sangat sehat. Ia bahkan memancarkan Aura yang sangat kuat, saat pertama kalinya menangis.
Tangisannya itu membuat udara di dalam goa berfluktuasi, hingga menimbulkan getaran pada dinding goa yang membuat beberapa bebatuan jatuh ke lantai.
Peri Hitam terkulai lemah, namun dengan semangat keibuannya, Ia pun bangkit dan menggapai bayi Han Mo.
Tidak perduli dengan darahnya yang sangat banyak keluar, Peri Hitam segera melakukan proses pemotongan pusar Bayi Han Mo.
Setelah dengan bersusah payah, Ia pun berhasil membersihkan tubuh bayi Han Mo yang berlumuran darah berwarna Biru itu.
Ia pun segera memberikan air asi kepada bayi tersebut. Peri hitam terkejut saat merasakan hisapan sangat kuat pada bagian dadanya.
Dalam sekejap saja Air Asi di dada kirinya telah habis, namun bayi tersebut masih saja menangis keras dan mengguncang seluruh dinding goa tempat mereka berada.
Tak Ingin goa itu runtuh, dengan sisa tenaga yang ada, Peri Hitam kembali menyusui bayi Han Mo itu.
Peri Hitam memandangi Bayi Han Mo yang memiliki sayap di bagian punggungnya, namun wajah dan bentuk tubuhnya yang lain memiliki penampilan seperti Bangsa Iblis pada umumnya.
Tepat saat bayi Han Mo melepaskan ujung dadanya yang terasa sangat perih, Peri Hitam pun kehilangan kesadarannya.
Bayi Han Mo terlihat sangat puas, dan lalu tertidur di dada Peri Hitam yang sudah jatuh pingsan terlebih dahulu.
Satu minggu kemudian, Peri Hitam telah pulih seluruh tenaganya, hanya saja saat ini, kemampuan bela dirinya menurun jauh ke tingkat pendekar Langit Tahap Awal.
Yang membuat Peri Hitam terkejut adalah cepatnya pertumbuhan Bayi Han Mo.
Mungkin Ia adalah bayi ter-ajaib yang pernah dilahirkan di Dunia Moxian maupun dua dunia lainnya.
Setelah berusia satu minggu, tubuh Bayi Han Mo telah memilki tinggi anak berumur sepuluh tahun pada umumnya.
Tinggi tubuhnya, kini setengah dari tinggi tubuh Peri Hitam. Hal yang membuat Peri Hitam takjub adalah kekuatan yang dimiliki oleh Han Mo.
Kekuatannya sangatlah besar, membuat Peri Hitam tidak bisa mengetahui di tingkat apa kekuatan puteranya tersebut.
Yang Ia ketahui, Bayi Han Mo mampu menghancurkan sebuah batu sebesar rumah, hanya dengan memukulnya tanpa terlihat mengeluarkan banyak tenaga.
Peri Hitam sudah mendengar tentang kekuatan besar Han Mo, saat Ia masih Hidup di kehidupan pertamanya dulu.
Namun Ia tidak menduga, bahwa di usianya yang masih bisa dibilang Bayi Merah itu, kekuatan Han Mo sudah sedemikian besarnya.
Selain telah dapat berbicara layaknya orang dewasa, pemikiran Bayi Han Mo itu tidaklah seperti anak-anak.
“Bunda … Di manakah Bunda menyimpan Mutiara Hati Iblis itu?”
Han Mo bertanya kepada Peri Hitam saat pagi baru saja memunculkan sinar matahari yang menghangatkan Dunia Moxian.
“Mo’er … Ini ambillah.”
Peri Hitam segera mengeluarkan sebuah batu sebesar kepalan tangannya. Han Mo menerimanya dengan wajah sangat ceria.
Ia pun segera menggenggam Mustika hati Iblis seraya melesat ke sebuah batu besar untuk bermeditasi.
Tekanan udara seketika berubah saat Aura yang sangat besar memancar dari Mustika Hati Iblis.
Peri Hitam terkejut saat mendapati Energi yang terkandung dalam Mustika Hati Iblis, ternyata begitu besar.
Ia pun sempat merasa gentar akan Aura yang keluar dari Batu Mustika itu.
Matanya menatap takjub saat melihat tubuh Han Mo perlahan menjadi semakin besar dan memancarkan Aura Hitam yang sangat pekat.
Tubuh Peri Hitam terpental hingga puluha meter di udara, saat tubuhnya itu hampir saja membentur sebuah dinding batu cadas, Peri Hitam merasakan sesuatu menahannya.
Ia sangat terkejut mendapati Tubuh Han Mo yang kini lebih tinggi darinya, telah berada di belakang tubuhnya tanpa bisa Ia lihat kapan Han Mo bergerak melewati dirinya.
Sesaat kemudian, Keduanya telah tiba kembali di depan goa, dimana kini pintu Goa itu nyaris tertutup oleh bebatuan yang runtuh akibat pancaran energi Han Mo tadi.
“Terimakasih Mo’er … Kau telah menyelamatkan Bunda.”
Peri Hitam berkata dengan suara yang canggung.
Hal itu karena Ia mendapati bayinya yang baru berusia satu minggu itu, kini telah menjelma menjadi seorang pemuda Iblis yang gagah.
Yang lebih mengejutkan Peri Hitam, kini tidak ada lagi sayap di punggung puteranya tersebut.
“Apa yang kau cari Peri Hitam?”
Bagai di sambar petir, Peri Hitam terkejut mendengar perkataan Han Mo yang terdengar sangat kurang ajar padanya dengan memanggil namanya tanpa kata Bunda didepannya.
“Kau … Kenapa Kau Kurang Ajar sekali pada Bunda mu Hah!”
Peri Hitam membentak Han Mo seraya menunjuk wajahnya. Hal Itu membuat Han Mo menjadi marah.
Ia segera meraih tangan Peri Hitam yang menunjuk kearah wajahnya itu dan mencengkramnya dengan cukup kuat.
“Dengar baik-baik Peri Hitam! Tubuh Anak yang kau lahirkan telah hancur menjadi debu. Anak mu yang sebenarnya telah mati. Ia hanya wadah sementara bagi ku Roh Ku sebelum aku membuat sendiri tubuhku dari kekuatan Mustika Hati Iblis ini!”
Han Mo menyeringai setelah berkata demikian. Ia pun segera melepaskan cengkraman pada tangan Peri Hitam dengan cara sedikit mengibaskannya.
Tubuh Peri Hitam terpelanting dan terduduk beberapa meter dari tempatnya berdiri.
Saat itulah tanpa sengaja Peri Hitam menyentuh sesuatu yang terlihat seperti sayap yang berada di punggungnya.
Ia pun menangis sejadi-jadinya saat menemukan, bahwa sayap itu adalah bagian dari tubuh Puteranya yang telah Ia lahirkan seminggu yang lalu.
Ia menatap tajam kearah Han Mo yang tengah memandangi dirinya dengan tatapan berbeda.
Rasa marah akan kematian bayinya, membuat Peri Hitam, segera melesat kearah Han Mo seraya mengeluarkan belati dari balik pakaiannya.
Ia pun menyerang Han Mo dengan kalap. Namun Ia terkejut saat mendapati belatinya patah menjadi dua ketika membentur tubuh Han Mo.
Peri Hitam kembali terkejut saat mendapati kedua tangannya telah berada dalam cengkraman tangan Han Mo.
“Dengar baik-baik Peri Hitam! … Aku yang sekarang ini, bukanlah anak mu.!”
Han Mo pun lalu mengingatkan Peri Hitam, menurut aturan Dewa Naga, kedua orang tua bayi yang dirasuki Rohnya, akan tewas terbunuh oleh anaknya tersebut.
Hal itu karena Han Mo ingin menciptakan tubuhnya sendiri dari seluruh kulit dan daging, tubuh kedua orang tua dan bayi yang Ia rasuki itu.
Namun karena bayi itu terlahir dari perpaduan dua bangsa yang berbeda.
Tubuhnya memiliki kekuatan yang sangat besar, sehingga kulit dan daging tubuhnya itu, cukup untuk membentuk wujudnya yang sekarang ini.
“Itulah alasan kenapa Kau masih hidup saat ini, jadi jangan membuatku marah dan ingin membunuhmu. Patuhlah terhadap perintah ku. Apakah kau kini mengerti?”
Peri Hitam hanya bisa terdiam mendengar penjelasan Han Mo. Satu-satunya keinginannya saat ini adalah tetap hidup, agar bisa membalas dendam atas kematian kedua orang tuanya.
Peri Hitam menganggukkan kepala sebagai tanda Ia mengerti akan keinginan Han Mo yang ingin menjadikannya sebagi budaknya.
Han Mo menyeringai, Ia pun segera memeluk tubuh Peri Hitam dan membawanya melesat kedalam goa, setelah mengibaskan tangannya membuang bebatuan yang menutupi pintu goa itu.
*****
Jangan lupa jam 12 Siang Ya..
Di grup Auraga.
Eh Zhu San juga rilis tuh..