
“Bunda jangan bunuh Ayah, Biarkan ia hidup setahun lagi, Aku sendiri yang akan membunuhnya karena Aku malu memiliki Ayah yang lebih pengecut dari perempuan yang terlemah sekalipun, bahkan berniat membunuh ragaku yang baru saja akan terbentuk.”
Hati Peri Hitam bergetar dan merasakan bahagia setelah mendengar suara yanng menyebut dirnya sebagai Ibu.
Ia pun menyadari bahwa Sosok keji yang melegenda dan Rohnya yang dulu telah di segel oleh Dewa Naga, kini telah terbebas dan berada dalam tubuhnya.
Hal itu menjelaskan bagaimana sesosok makhluk yang bahkan janinnya saja baru akan terbentuk, dapat berbicara walau hanya sebatas dalam pikiran di kepalanya.
Sesaat setelah menyadari kebenaran tentang sosok Roh Keji itu, kekhawatiran bahwa dirinya akan dibunuh setelah melahirkan bayinya itu, kembali membersit dalam benaknya.
“Bunda jangan khawatir, aku tidak akan membunuh Bunda. Selama kehidupan pertamaku, aku tidak pernah merasakan kasih sayang seperti yang bunda berikan kepada ku tadi.”
Suara itu diam sejenak, mencoba meredam getaran suaranya yang terdengar jelas di kepala Peri Hitam.
“Saat Bunda membela ku tadi dan lalu memilih bertarung dengan Ayah yang akan membunuhku, aku sangat terharu karena kini memiliki seorang Ibu yang benar-benar menyayangiku hingga mempertaruhkan nyawanya sendiri demi hidupku. Tidak seperti Ibu di kehidupan pertamaku.”
Suara itu terdengar lebih bergetar dari sebelumnya, namun Peri Hitam merasakan ada kemarahan sangat besar terpancar dalam suara itu.
Rasa bahagia membuncah di hati Peri Hitam, Namun perkataan Roh Legendaris itu, mengingatkannya akan sosok Ibundanya yang telah tewas menggantikan dirinya yang akan dihukum mati oleh Ratu Bangsa Peri, Ratu Xian Xing.
Hal itu terjadi ratusan tahun lalu, yang berkaitan dengan kulit tubuhnya yang berbeda dari umumnya kulit tubuh Bangsa Peri di Dunia Moxian.
Itu terjadi karena dirinya terlahir dengan kulit tubuh yang berwarna hitam. Hal itu diyakini oleh Bangsa Peri sebagai pembawa sial bagi Bangsa mereka yang pada umumnya berkulit seputih Giok.
Apalagi saat dirinya berusia lima belas tahun, selalu terjadi musibah dan penyerangan terhadap bangsa Peri, baik serangan dari bangsa Iblis maupun dari berbagai jenis Siluman yang berada di sekitar Pohon Abadi Xian Fun Da Shi.
Karena hal itu, Ratu Peri Xian Xing menjatuhi dirinya dengan hukuman mati. Namun sang Ibunda memohon kepada Ratu Xian Xing agar putrinya yang saat itu masih anak-anak, dibiarkan hidup dan ia yang akan menggantikan hukuman mati itu.
Ratu Peri Xian Xing menyetujui hal tersebut, Ibu Peri Hitam pun dijatuhi Hukuman mati dengan cara dibakar setelah lehernya di penggal.
Jasad Ibu Peri Hitam dibakar karena mereka meyakini bahwa dangan melakukan hal itu, maka seluruh kesialan yang berasal darinya akan ikut musnah menjadi abu.
Sementara Ia dan Ayahnya di usir dari Pohon Xian Fun Da Shi. Dan Sepuluh tahun kemudian, Sang Ayah yang telah sakit-sakitan sejak kepergian Ibunya itu, meninggalkan Peri Hitam untuk selama-lamanya.
Sang Ayah mewariskan salinan Kitab-kitab Ilmu Sihir dan Beladiri yang berada di Perpustakaan Istana Peri, tempatnya bekerja sebagai penjaga Perpustakaan itu.
Seratus tahun kemudian Peri hitam berhasil menguasai seluruh kitab warisan sang Ayah, Ia pun kembali ke Pohon Xian Fun Da Shi.
Kedatanganya berniat untuk membalas dendam atas kematian kedua orang tuanya kepada Ratu Xian Xing.
Merasa telah berhasil menguasai seluruh kitab tingkat tinggi yang berada di perpustakaan Istana Peri, Peri Hitam menantang duel Ratu Peri Xian Xing.
Namun Ia kalah cukup telak saat berhadapan dengan Ratu Peri tersebut. Hal itu karena Teknik Sihir dan bertarung Ratu Xian Xing, jauh lebih tinggi dan kuat dari teknik yang telah ia miliki.
Beruntungnya dengan sisa kekuatan yang ada, Peri Hitam berhasil melarikan diri dari tempat tersbut dengan sihir Pemindah Ruangnya.
Sejak saat itulah, Peri Hitam menyadari bahwa masih banyak kitab-kitab tingkat tinggi dan kitab rahasia yang belum tersalin oleh Ayahnya.
Hidup sebatangkara dan terusir dari bangsanya sendiri, serta baru saja gagal membalas dendam, membuat Peri Hitam sempat berpikir untuk melakukan bunuh diri.
“Jangan Pernah memilih kematian sebagai jalan keluar dari permasalahanmu”
Teringat nasihat Ibundanya itu, Peri Hitam menggagalkan niatnya untuk bunuh diri yang entah sudah berapa puluh kali, niat seperti itu muncul dalam benaknya.
Di dalam rasa putus asanya itu, ia bertemu dengan sosok Iblis Hitam yang berhasil mengembalikan semangat hidupnya karena mereka memiliki niat yang sama yaitu membunuh Ratu Peri Xian Xing.
Kemudian Sosok Iblis itu menjadi kekasihnya, hingga kini akhirnya menjadi Ayah bagi Janin yang akan segera terbentuk di dalam rahimnya.
Namun harapan tinggal harapan, ia harus merasakan kegetiran mendapati kenyataan sikap Iblis Hitam yang akan membunuhnya demi buah hati mereka.
“Bunda … Bunda jangan sedih, aku akan membunuh Ratu Peri itu dan menghancurkan istana mereka. Akan kubalas kematian Nenek dan Kakek.”
Suara Roh Legendaris itu kembali terdengar di kepala Peri Hitam, membuatnya tersenyum bahagia, namun suara Iblis Hitam membuatnya sangat marah hingga ia mencengkram kembali leher kekasihnya itu dengan kuat.
Iblis Hitam yang tidak lagi merasakan sakit di lehernya bersuara karena heran melihat perubahan di wajah Peri Hitam.
Saat terlihat senyum di bibir kekasihnya itu, Iblis Hitam yang kini memiliki rasa takut kepada Peri Hitam, memberanikan diri menyuarakan apa yang ada di benaknya.
Dalam benaknya Iblis Hitam menduga kemarahan kekasihnya itu telah menghilang. Dan mungkin ia teringat hal sebelumnya dimana mereka melakukan “pertarungan” lain yang dahsyat dan ingin mengulanginya lagi.
Ia pun memberanikan diri menyuarakan apa yang ada dibenaknya dan bertanya dengan suara yang selembut-lembutnya, lalu memasang wajah merayu menggunakan Teknik Penakluk Wanita yaitu Jurus Tatapan Mata Memancarkan Rasa.
“Sayang … Apakah kau teringat “pertarungan” kita tadi dan ingin mengulanginya la … Hek? “
Suara Iblis Hitam terhenti karena lehernya yang masih berada dalam cengkraman Peri Hitam, kembali tercekik dengan kuat. Apa yang terjadi kemudian jauh berbeda dari dugaannya semula.
Dengan sangat geram dan marah, Peri Hitam melemparkan tubuh Iblis Hitam ke arah sebuah batu besar dengan sekuat tenaganya.
Tubuh Iblis Hitam berputar-putar di udara dengan sangat cepat akibat kuatnya lemparan dari energi yang setara dengan kekuatan Pendekar Roh Tahap Akhir itu.
Iblis Hitam tidak mampu menguasai dirinya akibat kekuatan lemparan yang dilakukan sekuat tenaga oleh kekasihnya itu.
Tubuhnya pun menghantam batu besar itu dengan posisi wajah yang menghadap kearah batu tersebut.
Krak!
AAAAARRRRGGGGGHHHH
Iblis Hitam meraung keras sesaat sebelum dirinya jatuh pingsan. Hal itu karena Tombak Pusakanya yang telah menantang langit dan siap untuk “pertarungan” lanjutan dengan Peri hitam, kini telah patah karena menghantam batu besar dengan menimbulkan suara yang sangat keras.
*****