
Setelah tujuh hari tujuh malam berduka, kini Istana Kekaisaran Wu terlihat ramai. Hal ini karena besok adalah hari penobatan kaisar baru. Wu Jian sang Putera Mahkota akan dinobatkan menjadi Kaisar Wu ke 8.
Selain penobatan Kaisar baru, akan dilakukan juga pengangkatan Lin Yung sebagai Perdana Menteri yang baru menggantikan sah Ayah. Sementara itu salah seorang Tetua yang selama ini mengikuti Yu Ma dan juga anggota Pasukan Bayangan Malam, diangkat menjadi Menteri Pertahanan.
Tetua tersebut bernama Liang Hu yang memiliki kemampuan di tingkat Pendekar Pertapa tahap Menengah dan mendapat pangkat Kolonel dalam kemiliteran.
Disela-sela kesibukan para pelayan istana menyiapkan segala sesuatunya, tampak Yu Ma sedang mengawasi mereka bersama Lin Yung dan Guo Jin yang kemarin sore baru tiba di kota Wu Chang An.
Guo Jin tiba di kota Wu Chang An untuk menyatakan dukacita kepada keluarga Lin Hua. Selain itu kedatangan Guo Jin ke kota Wu Chang An untuk memastikan berjalannya acara penobatan kaisar baru dengan aman.
"Guru apakah informasi itu bisa kita percayai? sepertinya mereka terlalu percaya diri jika berani menyerang di saat penobatan Kaisar."
Yu Ma mengutarakan pendapatnya. Mengingat setidaknya ada lima puluh ribu prajurit yang berada di ibukota Wu Chang An. Sementara puluhan ribu lainnya, tersebar di puluhan kota dan desa yang berada di wilayah Kekaisaran Wu.
"Ma'er aku pun berpikir demikian, namun kita juga harus mengakui bahwa kekuatan tempur prajurit kekaisaran hanyalah di tingkat pendekar kelas tiga dan kelas dua. Jika mereka bergerak dengan ribuan orang di tingkat pendekar ahli dan bergelar, maka akan banyak jatuh korban di pihak prajurit."
Guo Jin kemudian menjelaskan lebih lanjut bahwa informasi yang ia peroleh dari para anggota Sekte Lembah Dewa itu bukan berdasarkan asumsi semata, melainkan berdasarkan pengamatan yang teliti.
"Guru Guo.... jika memang benar mereka hendak menyerang di acara tersebut, keuntungan apa yang akan mereka dapatkan? dan apa tujuan mereka sebenarnya dengan menyerang istana?"
Lin Yung menyampaikan pendapatnya, ia masih mempertanyakan informasi yang Guo Jin berikan, pasalnya dari bagian mata-mata dan intelejen istana, tidak ada yang memberikan laporan kepadanya tentang informasi itu.
"Itulah yang sedang menjadi pertanyaan ku Jendral Yung. Aku pun Belum mempercayai informasi itu sepenuhnya namun mengabaikannya juga bukan hal yang baik."
Untuk beberapa saat mereka bertiga terdiam, Saat Yu Ma hendak menanggapi ucapan sang Guru, ia melihat seorang perwira berpangkat Kolonel datang dengan tergesa-gesa. Perwira itu ia kenali sebagai pimpinan bagian intelejen istana.
Setelah memberi hormat kepada Yu Ma dan Jendral Lin Yung, Perwira tersebut berkata bahwa ada informasi rahasia yang akan ia sampaikan. Sambil berkata ia pun melirik kearah Guo Jin.
"Katakanlah informasi apa yang hendak kau sampaikan, jangan khawatir beliau adalah Guruku."
Yu Ma memahami sikap yang ditunjukan oleh perwira itu yang menganggap Guo Jin sebagai orang luar. Perwira tersebut tertegun setelah mendengar perkataan Yu Ma. Ia pun lalu memberi hormat kepada Guo Jin.
"Jendral, mata-mata dan para intelejen kita melaporkan bahwa sejak tadi pagi hingga sore ini, mereka menemukan banyak pedagang yang membawa pendekar sebagai pengawal mereka melebihi jumlah yang biasa mereka bawa. Bahkan banyak diantaranya membawa dua kali lipat dari biasanya."
Yu Ma dan Jendral Lin Yung terkejut mendapati laporan yang hampir sama dengan apa yang kemarin disampaikan oleh Guo Jin.
Semenjak Peristiwa pembunuhan delapan hari lalu, Yu Ma telah memerintahkan untuk meningkatkan penjagaan di setiap gerbang. Dan juga mencatat lebih detail yang keluar dan memasuki Ibukota Kekaisaran.
Perwira tersebut kemudian menjelaskan lebih lanjut bahwa berdasarkan catatan dari petugas yang menjaga empat gerbang Kota Wu Chang An, mereka mendapatkan catatan bahwa jumlah para pengawal yang memasuki kota mencapai tiga ribu orang lebih dan masih terus bertambah.
Hal ini menjadi sesuatu yang wajar karena setiap diadakannya penobatan Kaisar baru, akan diadakan perayaan selama tiga hari tiga malam.
Dalam perayaan tersebut, segala jenis hiburan akan digelar dan pesta kembang api akan berlangsung semenjak awal hingga tengah malam.
Berbeda dengan kali ini, Kaisar yang baru akan dinobatkan karena kaisar yang lama tewas terbunuh oleh pembunuh misterius.
Sehingga kehadiran para pedagang dengan membawa pengawal dalam jumlah yang jauh lebih banyak, menjadi perhatian dan kecurigaan pihak istana.
Perwira tersebut juga menambahkan bahwa mereka menemukan banyak pedagang dari kekaisaran Song yang datang kali ini. Dan mereka adalah para pedagang yang membawa dua kali lipat pengawal dari jumlah biasanya.
Lin Yung dan Yu Ma tercekat mendengar laporan pimpinan mata-mata dan intelejen itu. Mereka yang mulanya menganggap informasi dari Guo Jin hanyalah kekhawatiran, kini meyakini kebenaran informasi itu.
Setelah tidak adalagi laporan yang disampaikan, perwira tersebut segera kembali ke tempat dimana ia bertugas. Meninggalkan Yu Ma dan Lin Yung yang kini dipenuhi kekhawatiran besar akan keselamatan Wu Jian, Sang Kaisar baru.
"Ma'er, Jendral Yung, saat ini keselamatan putera Mahkota harus menjadi prioritas utama kita. Kemarilah aku memiliki rencana untuk menyelamatkannya."
Keduanya segera mendekati Guo Jin yang kemudian menjelaskan rencananya. Lin Yung dan Yu Ma terbelalak sesaat namun kemudian mengangguk-anggukan kepala seraya tersenyum tipis sambil saling berpandangan.
Mereka bertiga segera menuju ruangan Putera Mahkota yang wajahnya terlihat masih menyisakan kesedihan. Tak ada Raut kegembiraan di wajah tampannya itu bahwa sebentar lagi ia akan menjadi orang yang paling berkuasa di seluruh wilayah Kekaisaran Wu.
**
Sementara itu di kediaman Perdana Menteri Lin Bao, sedang terjadi keharuan dan kegembiraan secara bersamaan. Hal itu terjadi karena kedatangan seorang Nenek yang berusia hampir seratus tahun.
Nenek yang dikenali oleh Lin Hua sebagai Guru dan malaikat penyelamatnya itu, datang di saat Lin Hua sedang tergoncang dengan peristiwa kematian sang Ayah.
Kedatangan Nenek yang tak lain adalah Xie Jia itu membuat Lin Hua menjadi sedikit ceria.
"Guru bagaimana kabar Guru? mengapa Guru meninggalkan kami tanpa pamit? kemana guru selama ini?"
Lin Hua memberondong Xie Jia dengan beberapa pertanyaan dengan suara manja yang terdengar seperti seorang anak gadis kepada ibunya.
"Kau ini belum berubah juga Hua'er." Xie Jie menjitak kepala Lin Hua yang seketika itu langsung menjerit kesakitan. Bahkan airmatanya sampai menetes menahan sakit.
Mata Xie Jia hampir saja meloncat keluar dari kelopaknya karena tak menyangka jitakannya akan membuat Lin Hua menjerit hingga menangis menahan sakit.
Saat menyentuh lengan kanan Lin Hua, Xie Jia tercekat menyadari muridnya kini tak memiliki tenaga dalam lagi.
...*****...
...Like dan Vote adalah VITAMIN bagi Author agar selalu sehat jiwa dan jarinya sehingga terus bersemangat dalam menata kata😁....
...Jangan Lupa Like dan Votenya ya....
...Terimakasih...