Pendekar Tiga Dunia

Pendekar Tiga Dunia
124: Raja Singa Gurun


Para penduduk Desa Lei Kong yang rata-rata berusia diatas tujuh puluh tahun dan sedang berkumpul di ujung desa yang lain, terkejut saat mendengar ledakan yang sangat keras itu.


Mereka melihat kearah ledakan di mana bangunan terbesar di desa mereka, kini telah rata dengan tanah.


Beberapa rumah yang berdekatan dengan bangunan terbesar itu, terlihat ikut hancur akibat diterpa gelombang kejut dari ledakan tersebut.


Sesaat kemudian seorang pemuda terlihat keluar dari balik sebuah rumah yang lain, ia berhenti beberapa saat lalu menatap tujuh buah rumah yang hancur sebelum kemudian berjalan ke arah dimana mereka berada.


Tiga orang kakek yang sebelumnya sempat berbicara dengan Yao Chan, tubuhnya kembali gemetar. Saat ketiganya akan beranjak pergi bersembunyi, sebuah suara yang dipenuhi kemarahan terdengar membahana di tengah malam yang perlahan beranjak pagi di desa Itu.


Suara tersebut dikenali oleh warga sebagai suara Raja Singa Gurun yang merupakan pemimpin kelompok perampok yang bermarkas di desanya.


"AAARRGGGGH, Kurang Ajar ... siapa monyet yang berani menghancurkan rumah ku!"


Yao Chan yang sedang berjalan kearah para penduduk desa terkesiap merasakan pancaran energi dari belakangnya. Sontak ia pun berbalik dan menemukan seorang lelaki bertubuh tegap dengan kulit berwarna Hitam gosong, sedang melayang di udara.


Lelaki yang berusia setidaknya enam puluh tahun itu, memiliki rambut yang berbeda dengan umumnya rakyat kekaisaran Wu.


Rambutnya keriting dan membentuk sebuah bola besar di kepalanya. Sebuah anting perak menggantung di telinga kanan membuat wajahnya yang berhidung pesek itu bertambah seram ketika ia sedang marah.


Yao Chan pun menjadi waspada saat merasakan Aura qi merembes dari tubuh lelaki tersebut. Lelaki yang diketahui olehnya sebagai Raja Singa Gurun, Ketua Perampok Singa Gurun.


"Jadi yang ku hancurkan tadi ternyata adalah rumah monyet? Pantas saja monyetnya marah!"


Yao Chan sengaja menggunakan kata monyet saat menjawab perkataan lelaki paruh baya tersebut. Ia berharap lelaki tersebut marah dan segera menyerang dirinya. Namun Yang Yao Chan dapati justru sebaliknya.


Melihat seorang pemuda berwajah sangat tampan, kemarahan Raja Singa Gurun itu perlahan memudar, tatapan genit ia arahkan ke pemuda itu.


"Aiiih ... Tampan sekali wajahmu ... Aku tidak tega untuk membunuhmu manis ... biarlah rumahku hancur asal kau mau hidup bersamaku hehehe."


Wajah Yao Chan berubah kelam, alih-alih membuat lawannya marah, justru dirinya harus mendengar perkataan tak senonoh dari lelaki tersebut.


Tanpa berbicara lagi Yao Chan melesat dengan cepat bermaksud menampar mulut Raja Singa Gurun itu, Namun di luar dugaan Yao Chan, serangannya menemui ruang kosong.


Yao Chan terbelalak saat mendapati Raja Singa Gurun itu tidak lagi berada ditempatnya. Yao Chan segera membungkuk saat menyadari dua buah tangan hendak memeluknya dari belakang. Yao Chan segera melesat dengan Langkah Dewasa Angin menjauhi Raja Singa Gurun.


"Aiih ... Dua ratus tahun aku hidup baru kali ini bertemu seorang yang bisa lolos dari dekapan maut ku ... menarik ... menarik ... hehehehe."


Yao Chan terkesiap saat mendengar ucapan Raja Singa Gurun. Ingatannya pun melayang pada kata-kata Kakek Zhu Long, tentang sebuah ilmu kuno yang bisa membuat seseorang terlihat tetap muda.


Ilmu kuno itu bekerja dengan menyerap energi kehidupan seorang manusia dengan cara menggaulinya. Yao Chan tak tahu pasti berapa jumlah lelaki yang telah di hisap energi kehidupannya oleh Raja Singa Gurun ini.


Mendapati lawannya bukan lawan biasa, Yao Chan pun segera mengerahkan seribu Kristal qi lalu melesat ke udara setinggi lima puluh meter, Raja Singa Gurun mengikuti kemana Yao Chan pergi dengan kecepatan yang hampir sama.


Yao Chan sedang berpikir keras bagaimana caranya agar dapat mengalahkan sosok berumur dua ratus tahun yang tentunya memiliki pengalaman bertarung jauh diatasnya itu.


Yao Chan benar-benar merasa kesal dengan ucapan kegenitan Raja Singa Gurun yang terlihat sesekali mengusap bibir dengan lidahnya.


"Tua Bangka mesum sepertinya aku harus mengirim mu ke neraka."


Yao Chan yang sudah sangat kesal segera menjentikan jarinya, Jurus Sentilan Jari naga ia gunakan untuk mengalihkan perhatian Raja Singa Gurun.


Sebuah bola cahaya kecil melesat dengan cepat kearah Raja Singa Gurun yang membuat lelaki sangat tua itu terkesiap saat mengenali jurus tersebut.


Suara ledakan terdengar dari jarak dia ratus meter dibelakang mereka. Bola energi cahaya itu meledak saat membentur sebuah bukit.


Setelah berhasil menghindari serangan bola cahaya itu, Raja Singa Gunung mendengus kesal.


"Apa hubunganmu dengan Si tua bau pesing Zhu Long itu. Dimana ia sekarang berada!"


Suara Raja Singa Gunung terdengar seperti lelaki normal pada umumnya, menunjukan bahwa dirinya mulai serius setelah melihat bola energi. Bola yang sama yang membuatnya terluka seratus tahun lalu.


"Jadi kau masih mengingat ketika kau dikalahkan oleh kakek leluhurku. Kali ini aku tak akan membiarkan kau lolos dalam keadaan bernyawa lagi."


Yao Chan segera melesat dengan langkah Dewa Angin, menggunakan jurus Tendangan Kuda Liar yang baru saja selesai ia pelajari.


Raja Singa Gurun terkejut dengan tendangan yang mengarah ke dadanya tersebut, ia segera menangkis tendangan itu dengan kedua tangannya. Pertukaran serangan pun terjadi.


Suara pertarungan di udara itu terdengar cukup keras, keduanya terus meningkatkan energi mereka untuk dapat saling menjatuhkan lawannya.


Sepuluh menit telah berlalu, wajah Raja Singa Gurun terlihat kesal, dua kali tendangan Yao Chan mengenai pinggul dan punggungnya. Sedangkan dirinya belum berhasil mendaratkan satu serangan pun ke tubuh pemuda itu.


Jurus Yang Yao Chan gunakan bervariasi hingga membuat Raja Singa Gurun mulai terdesak saat pertarungan memasuki seratus jurus.


Tendangan Yao Chan sudah berkali-kali mengenai pinggul lawannya, membuat Raja Singa Gurun mulai merasakan sakit di bagian tersebut.


Tidak ia bayangkan sebelumnya bahwa ia akan kerepotan berhadapan dengan seorang pemuda yang masih berusia belasan tahun.


Menyadari teknik bertarungnya satu tingkat dibawah pemuda itu, Raja Singa Gurun mulai mengubah serangannya.


Ia mengeluarkan sebuah pisau kecil sepanjang satu jengkal. Pisau yang memiliki racun mematikan tersebut segera mengeluarkan hawa kematian yang pekat saat di keluarkan dari sarungnya.


Yao Chan tak ingin gegabah, walau ia memiliki energi penyembuhan Mutiara Jiwa Naga, namun ia tetap menggunakan Zirah Sisik Naga untuk melindungi tubuhnya.


Raja Singa Guru menyipitkan matanya saat melihat kulit tubuh Yao Chan berubah menjadi bersisik dengan warna keemasan. Menyadari pemuda yang menjadi lawannya memiliki Pusaka Pelindung tingkat Dewa, nyali Raja Singa Gurun pun mulai menciut.


Saat Yao Chan mengeluarkan sebuah pedang, Nyali Raja Singa Gurun itu benar benar menciut. Dalam sudut pandangnya, ia melihat pemuda itu mengeluarkan pedang dari ruang hampa.


*****