
Yao Chan tersenyum lalu memandang ke arah Tetua He Jun untuk meminta persetujuan darinya. Yao Chan sebenarnya ingin segera menemui sang Ibunda, namun keselamatan Putera Mahkota menjadi prioritas utamanya.
He Jun mengangguk menyetujui hal tersebut. Baginya yang telah mencapai tahap Pendekar Pertapa Awal, tidak sulit menghadapi dua orang pendekar Raja.
Namun bila harus bersamaan untuk melindungi Putera Mahkota dari serangan tersembunyi, dirinya tidak yakin bisa dengan mudah menghadapi dua Pendekar Raja sekaligus.
"Lalu bagaimana dengan mereka berdua?"
Yao Chan menatap tajam kepada kedua pembunuh bayaran tersebut.
"Biarkan mereka hidup, biarkan Yang Mulia Kaisar menentukan hukuman bagi mereka."
Setelah memberikan katanya tentang nasib dua orang Pembunuh Bayaran itu, Wu Jian segera menaiki kudanya kembali. Namun Wu Mei tidak naik kuda bersamanya.
"Chan Gege.. Kuda yang kau bawa itu, bolehkah aku yang menungganginya?"
Yao Chan menganggukkan kepalanya sebagai tanda ia mengizinkan hal tersebut. Lalu dengan gerakan cepat, ia menotok beberapa bagian tubuh kedua pembunuh bayaran tersebut.
Kini kedua pembunuh bayaran itu dapat menggerakan kembali tubuhnya, namun saat menyadari bahwa tenaga dalam mereka terkunci, wajah keduanya kembali lesu.
Kedua Guru sekaligus pengawal pribadi Wu Jian segera segera membawa kedua pembunuh bayaran itu. Sementara Yao Chan melesat ke udara dengan ketinggian belasan meter.
Rombongan Putera Mahkota Wu Jian segera meninggalkan tempat tersebut. Dengan Yao Chan yang mengawasi jalanan dan atap bangunan di sekitar jalan yang di lalui rombongan sang Putera Mahkota dari udara.
Sementara Penduduk Kota Wu Chang An menjadi Heboh saat menyaksikan seorang manusia mampu melayang di atas rumah mereka. Apalagi sosok yang melayang itu, adalah seorang pemuda yang memiliki ketampanan yang tidak biasa.
Wu Jian tersenyum dalam hatinya, dengan terjadinya kehebohan seperti ini yang dikarenakan adanya pendekar tingkat tinggi yang mengawalnya, tentu di masa depan kelompok pembunuh bayaran akan berpikir dua kali untuk menyerangnya.
Wu Jian telah mempelajari banyak hal, mengingat tugas yang menantinya di masa depan sebagai seorang Kaisar. Strategi perang adalah salah satu hal yang paling ia dalami dan meminta Yao Chan mengawalnya adalah strategi perang pertama yang ia praktikan.
Selama perjalanan, tidak satu pun dari para pendekar yang menurunkan kewaspadaan mereka sehingga suasana menjadi sedikit mencekam bagi rombongan tersebut.
Akhirnya mereka menarik nafas lega saat tiba di Gerbang Istana Wu. Yao Chan pun turun dari udara. Dirinya tersenyum kecut saat melihat prajurit penjaga gerbang mencabut senjata mereka begitu melihatnya melayang mendekati Istana.
Gerbang Istana terbuka, lalu para prajurit memberikan hormat kepada Putera Mahkota Kekaisaran Wu itu.
"Putera Mahkota, anda telah tiba di tempat yang aman. Kami mohon izinnya untuk pamit undur diri."
Yao Chan menyampaikan maksudnya untuk segera menemui sang Ibunda, namun jawaban Wu Jian membuatnya harus menunda hal tersebut beberapa waktu lagi.
"Saudara Chan bisakah aku meminta bantuan mu sekali lagi?"
"Tentu saja, bantuan apakah yang Putera Mahkota inginkan?"
Wu Jian lalu menerangkan tujuannya bahwa dirinya meminta Yao Chan untuk membantunya menjelaskan kepada Kaisar, tentang Kelompok Pisau Perak yang mengincar nyawanya.
Selain itu Informasi yang Yao Chan dapatkan adalah informasi yang berharga bagi pihak pemerintah dan sudah selayaknya mendapatkan imbal balik yang layak.
"Imbal balik yang layak? Jika itu berupa hadiah atau pun bayaran, hamba tidak menginginkan hal tersebut Putera Mahkota. Membantu anda adalah sebuah kewajiban bagi kami rakyat Kekaisaran Wu."
Yao Chan tersenyum kecut, karena alasan sebenarnya bukanlah hal tersebut. Imbal balik layak yang dimaksud oleh Wu Jian pastilah berupa uang. Dan Yao Chan bukanlah seseorang yang kekurangan benda tersebut.
Di dalam Gelang Ruang Dimensinya, Yao Chan memiliki jutaan keping koin emas yang didapatkannya dari Roh Zhu Long saat dulu masih berada di Alam Kultiva Naga.
Wu Jian tersenyum mendengar jawaban Yao Chan yang terdengar naif baginya. Namun jika Wu Jian mengetahui Yao Chan memiliki jutaan keping emas, mungkin dirinya akan muntah darah karena malu telah berpikir demikian.
Mereka pun akhirnya memasuki area istana yang luasnya mencapai seperlima dari total luas kota Wu Chan An. Bangunan-bangunan yang besar dan megah mereka temui sepanjang jalan menuju bangunan dimana singgasana kekaisaran berada. Membuat Yao Chan dan Yu Lian berdecak kagum beberapa kali.
"Siapa yang memerintahkan kalian melarang diriku memasuki ruangan ini!!" Wu Jian membentak prajurit penjaga yang seketika tubuhnya gemetar karena melihat kemarahan Putera Mahkota.
"Ampuni hamba... Putera Mahkota,....Yang Mulia Kaisar sendiri... yang memerintahkan hal ini."
Wu Jian mengerutkan dahinya, sebuah firasat buruk memasuki benaknya, tidak seperti biasanya Yang Mulia Kaisar menerapkan aturan seperti ini. Kecuali ada hal genting yang sedang terjadi.
"Apa sebenarnya yang sedang terjadi, apakah kalian mengetahui sesuatu hal?" Tanya Wu Jian menatap ke enam prajurit penjaga tersebut dengan tajam.
Setelah saling berpandangan satu sama lain, seorang prajurit maju satu langkah, setelah memberikan hormatnya, ia pun memulai penjelasannya.
"Putera Mahkota, Yang Mulia Kaisar sedang mengadakan pertemuan tertutup dengan beberapa petinggi istana setelah mendapat berita bahwa menteri perekonomian negara telah tewas terbunuh di kediamannya semalam. Tuan Menteri tewas dengan dua pisau perak menancap di lehernya."
Wu Jian dan yang Lain tertegun mendengar hal tersebut, amarah terlihat dari wajah Wu Jian. Namun tidak dengan Yao Chan. Dirinya telah mengetahui bahwa salah satu menteri telah terbunuh, namun ia tidak menyampaikan hal tersebut setelah mempertimbangkannya beberapa saat.
Setelah mendengar keterangan tersebut, Wu Jian dan Wu Mei akhirnya memutuskan untuk menerobos masuk, mengingat dirinya memiliki alasan untuk itu. Dan para penjaga pun, tak berani untuk melarangnya melihat kemarahan di wajah sang Putera Mahkota.
Keduanya bergegas memasuki ruangan, kedatangan mereka yang tiba-tiba dengan langkah yang terlihat buru-buru, membuat seluruh orang yang berada di ruangan tersebut menatapnya dengan benak dipenuhi pertanyaan.
Bahkan Kaisar Wu Mao yang hendak Memarahi kedua anaknya tersebut, mengerutkan dahi ketika mendapati wajah cemas Wu Jian yang melangkah dengan cepat ke hadapannya.
"Hormat kepada Yang Mulia Kaisar, Izinkan hamba melaporkan sesuatu yang baru saja terjadi"
Wu Mei dan Wu Jian segera menekuk lututnya ketika tiba di hadapan Kaisar Wu Mao dan memberikan hormatnya.
Para Menteri kekaisaran Wu yang sedang duduk disebelah kanan dan kirinya Wu Jian tertegun mendengar perkataannya.
"Ada apa Jin'er, kenapa kau berani menerobos masuk tanpa seizin ku?"
Kaisar Wu Mao tetap menegur Wu Jian dan Wu Mei sekalipun mereka adalah anak-anak yang sangat disayanginya.
Wu Jian kemudian menjelaskan apa yang baru saja dialaminya saat mencari dan menjemput Wu Mei. Penjelasan Wu Jian membuat semua yang hadir di ruangan terdiam tanpa tahu harus menyikapi hal tersebut.
Tentu saja Wu Jian tidak membuka identitas Yao Chan yang sebenarnya, dirinya hanya melirik sekilas ke arah Perdana Menteri Lin Bao dan Panglima Lin Yung yang terheran melihat sikapnya.
Semua penjelasan Wu Jian, terlalu mengejutkan bagi mereka, apalagi tentang seorang Pemuda belasan tahun yang mampu melayang di udara. Belum lagi mereka baru mengetahui kelompok pembunuh bayaran, sudah mulai berani menyentuh pihak istana.
"Jian'er benarkah yang kau katakan itu?" Suara Kaisar Wu Mao terdengar bergetar, satu sisi karena marah, sedang di sisi lain dirinya tak bisa membayangkan jika harus kehilangan Wu Jian, Anak yang sangat dia sayangi.
"Hamba tidak berani berdusta Yang Mulia" Wu Jian menjawab dengan tegas.
"Bawa kemari pemuda yang menolongmu itu!"
"Baik Yang Mulia."
Wu Jian kemudian segera menjemput Yao Chan dan lainnya yang masih berada di luar ruangan.
Yao Chan, Yu Lian dan Zhu Yin berjalan beriringan di belakang Wu Jian. Keduanya mengikuti Wu Jian yang menekuk lututnya, lalu segera memberikan salam hormat kepada sang Kaisar.
Perdana Menteri Lin Bao dan Panglima Lin Yun terkesiap saat menatap wajah Yao Chan, Entah kenapa mereka merasa tidak asing dengan wajah sang pemuda yang baru saja mereka temui hari ini.
...*****...
...Jangan Lupa Like dan Votenya ya...
...🙏🙏🙏...