Pendekar Tiga Dunia

Pendekar Tiga Dunia
047: Tombak Iblis Merah


Huang Lun kembali terkejut saat menyadari bahwa dirinya baik-baik saja setelah terjatuh dari ketinggian ratusan meter. Sebelumnya Huang Lun merasakan isi dadanya terasa hancur, namun kini sakit itu tak terasa lagi.


Saat sinar merah kehitaman yang membelit tubuhnya perlahan memudar, Huang Lun merasakan tubuhnya terasa segar seolah baru terbangun dari tidur lelap.


Luka di lengan kirinya yang putus, juga sudah mengering dan tidak menyisakan rasa sakit sama sekali.


Tatapan mata Huang lun berbinar saat melihat senjata beraura kematian yang pekat di hadapannya. Setelah meyakinkan diri sejenak, perlahan Huang Lun melangkahkan kakinya yang sedikit gemetar.


Perasaan Huang Lun tak menentu, satu sisi ada keinginan memiliki senjata tersebut, sisi yang lain dirinya merasa takut dengan aura yang dikeluarkan oleh senjata berbentuk tombak tersebut.


Akhirnya tangan Huang Lun segera meraih ujung tombak saat dirinya telah berada dua jengkal dari tempat tombak tersebut menancap.


Sesaat kemudian terjadi hal yang diluar dugaannya, tombak tersebut seketika bersinar merah kehitaman saat kulit tangannya menyentuh batang tombak. Lalu cahaya tersebut perlahan merambat kearah tangan kanan Huang Lun.


Huang Lun menjadi panik, ia berusaha melepaskan genggaman tangannya pada batang tombak, namun usahanya sia-sia. Tangannya seolah-olah menyatu dengan tombak tersebut.


Saat cahaya tersebut telah menyelimuti seluruh tubuhnya, Huang Lun menjerit kesakitan. Sesuatu seperti merasuk kedalam tubuhnya, sesaat kemudian Huang Lun merasakan pandangannya menjadi gelap.


Saat kebingungan dengan apa yang terjadi dengan dirinya, Huang Lun merasa bahunya di tepuk oleh seseorang dari belakang. Ia sangat terkejut saat membalikan badannya. Tubuhnya tersurut kebelakang hingga beberapa langkah.


Sesosok makhluk dengan tinggi lebih dari dua meter dengan sekujur tubuh berwarna merah kehitaman, telah berada di belakangnya.


"Siapa kau..!? ini dimana!?"Tanya Huang Lun menjadi waspada.


"Huahahhahaha. Manusia bodoh dan lemah berani membentak ku ggrrrr" Suara berat dan serak mahkluk bertubuh merah tersebut terdengar geram dengan Huang Lun yang bertanya dengan suara membentaknya.


"Aku adalah Roh Iblis Merah yang menghuni tombak yang kau pegang itu. Aku memilih mu untuk menjadi sekutu ku dan menggunakan kekuatan yang ku miliki. Bersama-sama kita kuasai dunia ini hahahaha"


"Huang Lun tertegun, mendengar ucapan Mahkluk besar dihadapannya, ia tak menyangka bahwa dirinya akan mendapatkan Pusaka Iblis yang diperebutkan oleh banyak pendekar.


Hanya saja pusaka yang dia temui adalah tombak sepanjang 2 meter. Sedangkan saat ini dirinya hanya memiliki satu lengan saja.


"Tapi..tapi aku hanya punya satu tangan, bagaimana bisa aku menggunakan tombak? Pikir Huang Lun.


"Jangan khawatir.. akan ku buat tanganmu utuh kembali. Asal kau bersedia menjadi sekutuku, bagaimana? apakah kau bersedia?" tanya makhluk bersuara berat dan serak itu sambil menatap tajam kearah Huang Lun.


Huang Lun menelan ludah, hatinya terasa gentar dengan tatapan mata makhluk dihadapannya.


"Baiklah..bagaimana caranya?"


"Kau lukai ujung jarimu dan teteskan darahmu kedalam mulutku sebanyak tiga tetes. Dengan begitu kita telah menyatu, dan kau bisa menggunakan kekuatanku sesuai dengan kemampuan tubuh yang kau miliki."


Huang Lun mengangguk lalu menggigit ujung jarinya hingga berdarah. Huang Lun terkejut karena tiba-tiba makhluk bertubuh merah itu, telah berlutut dihadapannya seraya membuka mulutnya yang giginya runcing seperti taring.


Setelah tiga tetes darah masuk kedalam tubuhnya, tubuh Roh Iblis Merah tiba-tiba memendarkan cahaya hingga lalu perlahan2 sirna menjadi sebuah cahaya kecil sebesar ibu jari.


Cahaya kecil yang berwarna merah tersebut melesat kearah kening Huang Lun dan sesaat kemudian menghilang.


Tubuh Huang Lun bergetar hebat, Huang Lun merasakan sesuatu akan keluar dari lengan kirinya yang buntung. sesaat kemudian disertai teriakan kesakitan, tangan kiri Huang Lun tiba-tiba muncul dari bagian yang telah buntung.


Mata Huang Lun berbinar melihat tangan kirinya kembali utuh seperti sediakala. Tidak hanya itu saja, tubuh Huang Lun tiba-tiba membesar beberapa detik, sesaat kemudian kembali ke ukuran semula.


"Aku telah menyatukan kekuatan ku dengan tubuhmu, sayang sekali tubuhmu sangat lemah, hanya dua puluh persen kekuatanku yang mampu diserap oleh tubuhmu."


Huang Lun menoleh ke kanan dan ke kiri mencari dimana Roh Iblis Merah berada.


"Bodoh!... aku berada dalam tubuhmu, mulai saat ini kita berbicara melalui pikiranmu." Roh Iblis Merah berbicara dengan kesal karena kebodohan Huang Lun.


"Kita mulai latihan mu sekarang juga, kau harus menguasai teknik-teknik tombak yang kumiliki."


"Baiklah..." jawab Huang Lun sambil mengikuti gerakan dalam ingatan yang diberikan oleh Roh Iblis Merah didalam pikirannya.


**


Guo Jin memerintahkan tiga dari ke lima tetuanya untuk menghubungi para anggota dan petinggi Sekte Lembah Dewa yang lain. Tujuannya untuk memberitahu bahwa sudah waktunya untuk mereka kembali membangun Sekte Lembah Dewa.


Setelah ketiga tetuanya berangkat ke tiga arah berbeda, Guo Jin, Tetua Ma Hua, dan Yao Chan membahas tentang kemungkinan datangnya Shin Mu dan Sekte Lembah Iblis Neraka ke kota Xinan.


"Ketua..apakah kita mampu menghadapi mereka dengan kekuatan kita saat ini?" Tetua Ma Hua menyuarakan kekhawatirannya.


"Mungkin kekuatan kita tidak cukup jika mengandalkan jumlah, tetapi bila kita berhasil menaklukan Shin Mu dan Shin Lung, kita bisa mengakhiri pertarungan secepatnya." Jawab Guo Jin antusias.


"Kakek... bagaimana dengan jumlah prajurit kota ini, apakah mereka mampu bertahan dari gempuran anggota Lembah Iblis Neraka?"


"Itulah yang sedang kakek pikirkan, saat kita menghadapi para petinggi mereka, para penduduk tidak yang melindungi, kecuali kita mencegat mereka sebelum memasuki kota" jawab Guo Jin sambil mengelus janggutnya.


Dahi Tetua Ma Hua mengerut, sepuluh orang akan menghadapi ribuan orang, apakah itu bukan yang gila?. Tetua Ma Hua memandang Guo Jin dengan tatapan yang dipenuhi pertanyaan di benaknya.


Terdengar suara pintu di ketuk saat mereka semua terdiam dalam pikirannya masing-masing.


Beberapa saat kemudian, masuklah Tetua yang mendapat tugas untuk mengawasi situasi gerbang kota Xinan. Wajahnya menunjukan keceriaan yang menjadi pertanyaan di benak Guo Jin.


"Lapor Ketua.. Jendral Ma Yun dari Ibukota Kekaisaran datang mengunjungi kota Xinan beserta beberapa pengawalnya."


Wajah Tetua Ma Hua berubah ceria, dalam situasi seperti ini, kedatangan beberapa orang dengan kekuatan setingkat Jendral Ma Yun adalah bantuan yang sangat berarti.


Jendral Ma Yun yang tak lain adalah Tetua Yu Ma, kini telah mencapai tingkat Pendekar Suci tahap Awal. Namun hal ini belum diketahui oleh Guo Jin sehingga dirinya mempertanyakan keceriaan yang di tunjukan oleh tetuanya tersebut.


"Kenapa kalian begitu senang dengan kedatangan jendral tersebut?, apakah dia membawa pasukan yang banyak" Guo Jin melontarkan pertanyaan yang membuat Tetua Ma Hua akhirnya memilih untuk menjelaskan siapa sebenarnya Jendral Ma Yun.


**


Lima hari Jelang Pilkada, sudah ga sempet Nulis lagi.