Pendekar Tiga Dunia

Pendekar Tiga Dunia
062: Perjalanan Ke Ibukota


Sehari setelah pertempuran di Gerbang Selatan Kota Xinan, Guo Jin memutuskan untuk kembali ke Lembah Dewa bersama seluruh anggotanya yang ada di kota Xinan. Tujuannya adalah mempersiapkan segala sesuatunya untuk kebangkitan kembali sekte mereka.


Kelompok berjumlah hampir lima ratus orang pendekar itu, berangkat meninggalkan Kota Xinan di bawah pimpinan Guo Jin. Kepergian mereka di pagi hari, diiringi tatapan beberapa pasang mata. Mereka adalah Tetua Yu Ma, Yao Chan, Yu Lian dan Zhu Yin serta lima orang tetua lain yang menyamar menjadi prajurit kekaisaran.


Mereka akan menuju Ibukota kekaisaran untuk menemui ibu Yao Chan, Lin Hua dan sekaligus untuk mengobatinya dengan teknik yang dimiliki Yao Chan dan Zhu Yin.


"Ayah...kapan kita akan berangkat ke Ibukota? Aku sudah ingin bertemu dengan Bibi Hua." Suara Yu Lian memecah keheningan diantara mereka.


Walau Lin Hua tidak tinggal dalam waktu yang lama di Lembah Dewa, namun Lin Hua dan Yu Lian mempunya kedekatan bathin layaknya seorang ibu dan anak. Hal itu terjadi semenjak Yao Chan memasuki Alam Kultiva Naga sepuluh tahun lalu.


Dalam beberapa bulan kedekatan mereka, Yu Lian merasa dirinya masih memiliki seorang Ibu, hal ini karena Lin Hua memberikan kasih sayangnya dengan tulus seolah Yu Lian adalah putrinya sendiri.


Yu Ma tersenyum tipis sebelum menjawab pertanyaan putrinya. "Baiklah, bagaimana kalau Kita berangkat sekarang juga Chan'er?"


"Iya Paman, Aku pun sudah tak sabar ingin menemui Ibu." Jawab Yao Chan Lirih. Dadanya terasa sesak mengingat kondisi sang Ibu saat ini.


Mereka kemudian berpamitan kepada Walikota Fu Zianhe dan menaiki kuda yang terbaik yang disiapkan oleh Walikota.


Yao Chan dan Zhu Lian merasa canggung ketika harus menumpang kuda. Keduanya belum bisa menunggang kuda, karena tidak pernah berlatih menungganginya selama berada di Alam Kultiva Naga.


Yao Chan akhirnya menumpang pada salah satu tetua yang memiliki kuda paling besar, sedangkan Yu Lian menunggang kuda bersama Zhu Yin yang sedari tadi menahan tawanya karena melihat ketidakmampuan Yu Lian dan Yao Chan dalam menunggang kuda.


Rombongan berjumlah sembilan orang itu menuju kearah Hutan Merah yang sebelumnya tidak ada yang berani melewatinya karena keberadaan siluman Serigala Merah.


Dengan menempuh jalan yang melewati hutan tersebut, perjalanan mereka akan menjadi lebih cepat beberapa hari jika dibandingkan dengan menempuh jalur yang biasa dilalui oleh para pedagang.


Setelah setengah hari perjalanan mereka dengan berkuda, akhirnya mereka berhasil keluar dari Hutan Merah tanpa mengalami hambatan yang berarti.


Yu Ma mengarahkan rombongan kecil tersebut kearah matahari terbenam. Jika Yu Ma tidak salah mengingat, dalam satu jam lagi mereka akan menemui sebuah desa yang cukup ramai, untuk mereka beristirahat dan makan terlebih dahulu di sebuah kedai yang pernah ia singgahi.


Selang satu jam kemudian, rombongan Yu Ma akhirnya tiba di desa tersebut. Mereka memasuki desa melalu sebuah gerbang sederhana yang dijaga oleh belasan prajurit Kekaisaran Wu.


Para prajurit yang menjaga gerbang menghentikan mereka, tanpa mengetahui bahwa salah satu Jendral terkuat Kekaisaran Wu sedang berada di hadapan mereka. Yu Ma dan Tetua lainnya sengaja menyimpan zirah serta seragam mereka dan menggantinya dengan jubah biasa.


Para penjaga gerbang menjadi waspada terhadap rombongan tersebut, karena sebelumnya mereka muncul dari jalan yang jarang sekali di lalui oleh orang biasa. Mereka pun meyakini bahwa kelompok dihadapannya saat ini adalah orang-orang dari dunia persilatan.


"Mohon tunjukan identitas kalian" perintah seorang prajurit penjaga.


Yu Ma yang berada paling depan, mengerutkan dahinya saat selesai menghitung jumlah prajurit yang hanya berjumlah sebelas orang saja.


"Kenapa hanya sebelas prajurit yang berjaga, bukannya seharusnya dua puluh orang untuk desa sebesar ini?" Tanya Yu Ma sambil mengambil lencana yang menunjukan namanya sebagai Jendral Ma Yun.


Prajurit penjaga yang berada di tempat tersebut, saling berpandangan sebelum akhirnya salah satu dari mereka membentak Yu Ma.


Yu Ma tersenyum sambil menyerahkan Lencana pengenalnya, sementara Yu Lian mulai terlihat emosi melihat ayahnya dibentak sedemikian oleh prajurit yang menjadi bawahannya.


Prajurit yang menerima Lencana Yu Ma tubuhnya menjadi bergetar hebat setelah mengenali Yu Ma sebagi Jendral Ma Yun. Sesaat kemudian dia menekuk lututnya, sembari berkata cukup keras sehingga terdengar jelas oleh yang lainnya.


"Hormat Kepada Jendral Besar Ma Yun, selamat datang di desa Luan!"


Rekan-rekan prajurit tersebut, terkesiap saat mendengar perkataan itu. Seketika mereka berbaris rapi dan menekuk lututnya seraya mengucapkan kalimat yang sama dengan rekannya.


Sementara prajurit yang membentak Yu Ma tadi, tubuhnya kini menggigil hebat. Tak pernah terlintas di pikirannya sekalipun, ia akan membentak seorang Jendral Besar yang sangat disegani dan dihormati oleh seluruh prajurit Kekaisaran Wu.


"Berdirilah kalian semua, dimana prajurit yang lain, bukannya jumlah kalian setidaknya ada lima puluh orang?" Tanya Yu Ma sambil menatap tajam para prajurit yang kini tertunduk semua.


Salah satu prajurit kemudian melangkah maju lalu mulai memberi penjelasan tentang sebagian rekan mereka yang lain.


"Jendral Besar.. Semalam desa ini di datangi perampok yang berjumlah puluhan, namun kami berhasil menggagalkan niat mereka. saat ini Komandan memimpin sebagian pasukan untuk memburu para perampok yang melarikan diri."


Yu Ma menganggukkan kepalanya, penjelasan tersebut memang masuk akal, dan Yu Ma pun memahaminya.


"Kami akan makan di kedai dan beristirahat sejenak disana, laporkan pada ku jika komandan kalian telah datang." Perintah Yu Ma segera memacu kudanya tanpa menunggu jawaban prajurit penjaga.


Yao Chan dan yang lainnya segera mengikuti jejak Yu Ma diiringi tatapan para prajurit yg terlihat menarik nafas lega. Mereka tak menduga sama sekali jika Sang Jendral mendatangi desa yang cukup jauh dari Ibukota kekaisaran.


Tidak satupun dari mereka yang benar-benar pernah melihat Jendral Ma Yun secara jelas seperti yang baru saja terjadi, apalagi dalam jubah biasa dan bukan seragam militer.


Beberapa saat kemudian, rombongan Yu Ma sampai di kedai dimana setahun yang lalu Yu Ma pernah singgah dan makan disana.


"Selamat datang Tu..Ooh.. Jendral Besar Ma Yun...!?" seorang Pria tua yang sebelumnya sudah mengenali Yu Ma, sedikit terkejut saat menyadari sosok dihadapannya adalah Jendral Ma Yun yang hampir saja tak ia kenali karena tidak mengenakan seragam militernya.


"hahahaha tuan Lang Pao bagaimana kabar anda? sepertinya kedai anda bertambah ramai?" Yu Ma membalas sapaan Lao Pao yang ternyata adalah pemilik kedai.


Lang Pao pun tersenyum senang, saat menyadari bahwa sosok dihadapannya adalah Jendral Besar Ma Yun.


"Terimakasih Jendral.. berkat bantuan anda dulu, kini kedai ku menjadi aman dan pengunjungnya semakin ramai. Tuan Jendral, izinkan kami menjamu tuan dan rekan-rekan Tuan ke ruangan untuk tamu khusus." Lao Pao kemudian membawa rombongan Yu Ma kedalam sebuah ruangan yang lebih luas dengan meja besar didalamnya.


Lang Pao pun segera memerintahkan pelayan menghidangkan sajian dengan menu terbaik yang mereka miliki beserta Arak terbaiknya.


Yu Ma dan lain segera menyantap hidangan yang telah tersaji, Lang Pao terlihat puas saat tamu khususnya ini menyantap hidangan dengan lahapnya.


Lang Pao pun meninggalkan mereka dan kembali ke bagian depan Kedai. Dahinya mengerut saat menatap seorang prajurit dengan wajah panik berlari masuk ke dalam kedainya.


...*****...