Pendekar Tiga Dunia

Pendekar Tiga Dunia
261: Dewi Es Suci


Gadis cantik tersebut segera melangkah lebih ke depan dan lalu mulai berpidato, mengucapkan terimakasih dan sambutan atas nama Ketua Paviliun Harta Kultiva.


Lalu disampaikan pula tentang peraturan-peraturan lelang yang akan segera dimulai beberapa saat lagi.


Dalam pidatonya tersebut, gadis cantik yang bertugas menjadi pemandu dalam lelang kali ini, menyampaikan bahwa pada Lelang ke Lima nanti, adalah sebuah benda yang sangat langka dan dahulu hanya dipercaya sebagai mitos saja.


Para Kultivator terlihat tertarik dan mulai terlihat ramai mempertanyakan, sumber daya apakah yang dimaksud tersebut.


“Baiklah mari kita mulai dengan melelang barang yang pertama. Barang ini adalah Ginseng Biru berusia dua ribu tahun. Siapapun yang terluka parah, selama masih memiliki nafas, akan sembuh jika mengkonsumsi Ginseng Biru dua berumur dua ribu tahun ini. Harga dimulai dari Lima Ratus Ribu Batu Roh.”


“Lima Ratus Lima Ribu!”


“Lima Ratus Sepuluh ribu!”


“Lima Ratus Dua Puluh Ribu!”


Suasana Pelelangan itu semakin riuh dengan suara para kultivator yang berminat atas Ginseng Biru yang memiliki khasiat penyembuh yang luar biasa itu.


Tawar menawar harga terus terjadi dan suara mereka yang menawar pun semakin tinggi hingga mendekati satu juta batu roh.


Ketua Zhou Kin tersenyum saat mendengar Ginseng tersebut telah di tawar satu juta Batu Roh Oleh Penghuni kamar khusus nomor empat.


Ia pun melihat catatan daftar pengisi Ruang khusus tersebut. Ia menemukan nama yang membuatnya mengerutkan dahinya.


Sementara Yao Chan tersenyum atas penawaran yang dilakukan oleh penghuni ruang khusus nomor empat itu.


“Satu Juta Seratus!”


Tidak ada satupun kultivator yang di duduk di bagian bawah bersuara untuk menawar sejak harga Ginseng tersebut telah mencapai Satu Juta Batu Roh.


Mendengar ada yang berani menawar lebih dari harga tersebut, mereka pun mengedarkan pandangan ke arah ruang khusus nomor satu dimana Yao Chan berada.


“Chan Gege? … ” Gong Li terkesiap saat mendengar Yao Chan berkata demikian. Ia pun berusaha mengingatkan suaminya tersebut.


“Satu Juta Seratus Lima Puluh!”


Kamar Nomor Empat kembali menyuarakan tawaran, Yao Chan terus menaikan harga tawaran tersebut dan berhenti saat Ruang Nomor Empat tersebut menawar satu Juta Lima Ratus Ribu Batu Roh.


Yao Chan tersenyum senang, sementara Gong Li bernafas lega setelah suaminya kalah dalam pelelangan tersebut.


“Ini … ?”


Ketua Zhou Kin tersenyum saat menyadari apa yang dilakukan oleh Yao Chan.


Hanya saja Ia merasakan firasat buruk saat mendengar suara sosok yang berhasil menang dan mendapatkan Ginseng Biru berusia dua ribu tahun tersebut.


“Ye Mao … Semoga dia tidak berbuat curang dan licik seperti tahun lalu.”


Ketua Zhou Kin menghela nafas panjang, Ia pun segera memperhatikan kembali ke arah podium.


Pemandu Lelang telah mengumumkan bahwa barang berikutnya adalah sebuah sumberdaya berupa baju Zirah Sisik Duyung.


Zirah ini akan membuat penggunanya kebal terhadap segala macam senjata di tingkat pusaka apapun kecuali Pusaka Dewa.


Selain itu Zirah ini dapat dialiri energi qi yang dan dapat berfungsi sebagai perisai dari serangan energi qi.


Harga Baju Zirah tersebut mulai ditawarkan pada harga Tujuh Ratus Lima Puluh Ribu Batu Roh.


Suara kembali ramai saat terjadi perang harga. Terlihat antusias yang tinggi dari para kultivator terhadap Zirah Sisik Duyung itu.


Sehingga dalam waktu sebentar saja, harga zirah sisik itu telah mencapai Satu Juta Lima Ratus Ribu Batu Roh.


Suara dari ruangan khusus nomor empat, kembali membuat para kultivator terdiam karena menawar baju zirah tersebut sebesar Dua Juta Batu Roh.


“Dua juta Lima Ratus!”


Suara dari ruangan khusus nomor dua terdengar keras, membuat sosok yang di kenali oleh Ketua Zhou Kin sebagai Ye Mao itu, mendengus kesal.


“Tiga Juta! Jika ada yang lebih tinggi lagi silakan memiliki zirah tersebut.”


Ia pun menaikan tawarannya yang membuat suara-suara dalam ruang lelang tersebut terhenti dan menjadi hening.


Ia pun menyatakan jika Ruang Khusus Nomor Empat yang berhak menjadi pemenang atas Baju Zirah Sisik Duyung tersebut.


Kegelisahan Ketua Zhou Kin semakin menjadi-jadi. Hal itu membuat Yao Chan mengerutkan dahinya saat melihat raut wajah pria itu.


“Ketua … Mengapa Anda terlihat gelisah, bukankah seharusnya anda merasa senang?”


Pertanyaan Yao Chan menyadarkan Gong Xhun yang menjadi heran setelah melihat wajah Ketua Zhou Kin.


“Tuan Chan … Aku mendapat firasat buruk, sepertinya yang berada di Ruang Khusus Nomor Empat itu adalah Ye Mao.”


“Ye Mao … Pantas saja Aku seperti pernah mendengar suaranya. Ternyata dia yang berada dalam ruangan itu.”


Raut wajah Gong Xhun terlihat kesal, dulu mungkin Ia akan berpikir dua kali untuk berurusan dengan sosok tersebut.


Namun setelah kemampuannya kini berada di level enam Pendekar Dewa, Ia tak lagi gentar terhadap Ye Mao karena memiliki kekuatan di tingkat yang sama.


Suasana kembali riuh dengan tawar menawar harga, saat lelang ketiga yang menawarkan sumber daya berupa senjata dimulai.


Senjata tersebut adalah Sebuah Tombak Sihir Pembeku yang mampu membekukan benda apapun yang terkena kilatan energi yang keluar dari mata tombak itu.


Kebutuhan akan pusaka memang tidak ada habisnya dalam dunia Persilatan. Sehingga acara lelang Tombak Sihir Pembeku itu menjadi lebih riuh walau harga telah berada di tiga Juta Batu Roh.


“Empat Juta … Mohon saudara-saudari mengalah dan memberi muka padaku, karena senjata ini sangat cocok untuk cucuku ini!”


Suara seorang Nenek yang terlihat sangat Anggun itu, membuat suasana menjadi hening, saat mereka mengenali siapa sebenarnya sosok nenek tersebut.


“Ratu Es Abadi!”


Suara beberapa Kultivator terdengar mengucapkan kata yang sama dengan nada yang sama, suara yang bergetar karena menelan ludah mereka.


Tidak ada yang berani untuk tidak memberi muka kepada Ratu Es Abadi yang terkenal dengan kekuatannya yang tinggi itu.


Semua Kultivator yang tadi berebut menawar harga, terdiam dan kembali duduk di tempat mereka.


“Hahaha … Ratu Es Abadi, sudah lama Kau tidak keluar dari kandangmu, sekalinya keluar, kau meminta muka pada acara yang pelelangan … Sungguh lucu sekali. Apakah Kau telah kehilangan muka? Sehingga meminta muka disini. Hahaha …”


Suara keras yang menggema karena di aliri energi qi itu, berasal dari Ruang Khusus Nomor Empat.


Mendengar suara yang merendahkan dirinya, membuat Nenek yang berjuluk Ratu Es Abadi itu pun menjadi marah.


“Kurang ajar! … Keluarlah jika Kau ingin meminta mati!”


Aura dingin segera terpancar dari tubuhnya bersama dengan keluarnya asap putih kebiruan dari kedua telapak tangan Ratu Es Abadi.


“Nenek … Sudahlah ..”


Suara sangat merdu dari seorang gadis yang berada di samping nenek itu, membuat mata semua orang beralih padanya.


Sudah lama mereka mendengar tentang cucu Ratu Es Abadi yang berjuluk Dewi Es Suci itu.


Kecantikannya yang dikabarkan sebagai kecantikan nomor satu di Dunia Kultiva itu, membuat mereka penasaran akan wajah gadis yang kini telah berdiri seraya membuka Topi kerudung yang menutupi wajahnya.


“Cantik sekali … “


“Sempurna … Aku rela mati demi dirinya … “


“Aahh Aku ingin kembali Muda lagi …”


“Aahh tiba-tiba aku ingin ke kamar mandi ..”


Suara-suara kembali terdengar memuji kecantikan surgawi yang kini berada di hadapan mereka. Suara dari ruangan nomor dua kembali terdengar dan membuat suara-suara itu terdiam seketika.


“Hahaha … Ratu Es Abadi … Melihat cucumu yang sangat cantik itu, aku akan membeli Tombak Sihir Pembeku dan ku hadiahkan kepadanya jika kau mengizinkan aku untuk menikahinya. Bagaimana? Hahaha …”


“Kakek Tua bau tanah, apa kau tidak malu dengan terong mu yang telah keriput itu? Hahaha …”


Suar Yao Chan yang jelas menghina sosok di dalam Ruang Khusus Nomor Empat itu, seketika membuat suasana menjadi tegang.


*****