Pendekar Tiga Dunia

Pendekar Tiga Dunia
296: Kepergian Dewa Tertinggi


Dewa Naga dan Dewa Tertinggi hanya tersenyum melihat kelakuan Yao Chan dengan jurus aneh yang Ia ciptakan sendiri itu.


Dewa Naga yang hendak menanyakan sesuatu, menjadi terkejut saat tiba-tiba saja, mata Dewa Tertinggi bersinar terang dengan cahaya putih yang menyilaukan.


Beberapa saat kemudian, mata Dewa Tertinggi kembali seperti sediakala. Hanya saja wajahnya terlihat menyiratkan sebuah kekhawatiran.


“Dewa Naga bersiaplah untuk segera menggantikan kedudukan menjadi Dewa Tertinggi. Aku harus segera ke alam semesta salah satu saudaraku. Terjadi situasi berbahaya di sana.”


Dewa Tertinggi pun meminta Dewa Naga untuk kembali ke istana miliknya dan menunggunya di sana.


Sesaat kemudian Tubuh Keduanya menghilang dan telah berada di tempat yang berbeda.


Dewa Naga telah berada di tempat Dewa Tertinggi selama menjalankan tugasnya. Sementara Dewa tertinggi, telah berada di Depan Istana Kecil Yao Chan.


Ia pun segera memancarkan Aura Dewanya yang segera saja memenuhi udara di seluruh Alam Kristal Dewa.


Yao Chan yang saat itu sedang berada di bawah tubuh Gong Li yang tanpa sehelai benangpun, menjadi terkejut merasakan keberadaan Aura Dewa Tertinggi.


Namun Ia tidak bisa melepaskan dirinya dari pelukan Gong Li yang tiba-tiba saja menjerit tertahan dengan tubuh mengejang kuat.


Sudah ketiga kalinya hal tersebut terjadi, sejak dari dua jam yang lalu.


Beberapa saat kemudian Yao Chan segera melepaskan pelukan isteri pertamanya itu, dan segera meraih Jubahnya.


Ia segera menemui Dewa tertinggi setelah mengikat sedemikian rupa pusakanya yang masih sekeras besi itu agar tidak terlihat saat mengenakan Jubahnya.


Dengan menahan sakit, Ia segera menemui Dewa Tertinggi dan segera bersujud pada sosok setinggi sepuluh meter itu.


Tanpa berkata apapun, Dewa Tertinggi segera membawa Yao Chan ke Istananya yang berada di atas Awan Ajaib dimana Dewa Naga telah menunggu disana.


“Ketahuilah oleh Kalian berdua, hari ini Aku akan meninggalkan Alam Semesta Ini, Energi Kristal Dewa Akan segera menghilang karena Kristal itu Akan kembali ke tubuhku.”


Yao Chan terkejut mendengar hal tersebut, namun penjelasan Dewa tertinggi yang selanjutnya membuatnya terdiam.


Bahwa akan terjadi perang dahsyat di alam semesta lain antara saudaranya dengan Iblis Sejati Elemen Api.


Saudaranya telah meminta dirinya untuk datang membantu karena Iblis Sejati Elemen Angin datang membantu Iblis Sejati Elemen Api.


Hal itu akan sangat berbahaya bagi kedua saudaranya yang sedikit lebih lemah dari dirinya.


Untuk itu Dewa Tertinggi segera mengambil kembali Tombak Pemusnah Roh Dari Yao Chan.


Setelah tombak berada di tangannya, Dewa Tertinggi pun mengatakan bahwa setelah membantu saudaranya itu, Ia akan kembali ke tempat dirinya berasal.


Dengan terjadinya hal tersebut, maka Akan terjadi perubahan besar di Dunia Moxian, tempat dimana Kristal Dewa Berada.


Tubuh seluruh makhluk hidup di dunia Moxian akan berubah menjadi sekecil telapak tangan Yao Chan. Namun kekuatan mereka tidak akan berkurang.


Hanya saja untuk Xian Mey dan kedua adiknya, tidak akan mengalami perubahan dalam wujud mereka.


Hal itu karena keberadaan Mutiara Dewi Surgawi di dalam tubuh mereka bertiga, Sehingga wujud mereka akan tetap seperti ukuran tubuh manusia Bumi.


Dewa Tertinggi juga mengingatkan bahwa Yao Chan harus melatih ke tujuh puteranya itu hingga ke tingkat Pendekar Dewa Sejati Level Sepuluh.


Hanya pada tingkat itulah mereka nantinya akan dapat menggunakan kekuatan penuh dari ketujuh pusaka Inti Elemen yang merupakan pusaka terkuat dari Dewa.


Yao Chan dan Dewa Naga juga diberitahu agar mereka berdua berhati-hati dengan Tiga Senjata yang dimiliki oleh ketiga Iblis Sejati.


Hal itu karena ketiga senjata tersebut dapat melukai mereka berdua bahkan bisa membunuhnya jika tidak segera di obati oleh salah satu dari tujuh Pusaka Inti Elemen.


Kekuatan Ketiga Senjata tersebut setara dengan Kekuatan Tombak Pemusnah Roh dan Dua Senjata lain yang dimiliki oleh Kedua Saudaranya di Alam Semesta lain.


Setelah menjelaskan panjang lebar Dewa Tertinggi mempersilakan mereka untuk bertanya sebelum Ia pergi dari Alam Semesta ini.


“Dewa Tertinggi, Izinkan saya bertanya, apakah Dewa Tidak akan menemui kami berdua setelah kepergian ke Alam Semesta Lainnya?”


Dewa Naga segera bertanya, pertanyaan yang selama beberapa waktu terakhir mengisi benaknya.


“Jika saja ada hal yang sangat penting, bisa saja menghubungi aku melalui telepati. Namun untuk menemui Kalian berdua, waktu ku sudah habis dan tidak bisa melakukannya lagi. Kecuali setelah seratus tahun ke depan.”


Setelah berkata demikian, dari kedua telapak tangan dewa tertinggi melesat sebuah cahaya seputih salju yang segera menerpa dahi keduanya.


“Aku telah memberikan pengetahuan kepada kalian agar dapat berkomunikasi denganku melalui telepati.”


“Dewa Naga terimalah Tongkat Sakti Penghukum Jiwa ini. Cara menggunakannya sudah ada dalam pengetahuan tadi.”


Sesaat kemudian dari tangan Dewa Tertinggi melesat sebuah tongkat berwarna Putih seputih Giok.


Dewa Naga pun segera berterimakasih dan memberi hormatnya kepada Dewa Tertinggi


“Yao Chan terimalah Mutiara Dewa Abadi ini, dengan ini Aku mengangkatmu sebagai Dewa Penjaga Tiga Dunia.”


Dari tangan Dewa Tertinggi kembali melesat sebuah mutiara yang memancarkan energi sangat lembut dan menyejukkan.


Hanya saja Ia harus merasakan sakit luar biasa pada Pusakanya yang masih terikat dengan posisi yang tak seharusnya itu.


“Jika sudah tidak ada pertanyaan, Aku akan segera pergi dari sini.”


“Dewa Tertinggi … Bolehkah kami mengetahui nama Dewa sesungguhnya?”


Yao Chan sangat penasaran dengan Nama Dewa Tertinggi dan memberanikan dirinya untuk bertanya.


Dia telah mendengar tentang Dewa Tertinggi yang dengan hanya menggerakan kedua jarinya dapat membuat riwayat kehidupan Tiga Dunia ini bisa berhenti seketika.


Dewa Tertinggi hanya tersenyum, perlahan-lahan tubuhnya menghilang dan sesaat kemudian terdengar suaranya yang menggema.


Yao Chan hanya termenung setelah mendengar perkataan Dewa Tertinggi yang sosoknya barus saja menghilang dari pandangan matanya.


Ia pun segera berpamitan kepada Dewa Naga, karena sudah tidak dapat menahan rasa sakit pada pusakanya yang terikat semakin kuat.


Seiring dengan kepergian Dewa Tertinggi, Terdengar gemuruh yang sangat hebat dari Pohon Xian Fun Da Shi.


Raja Peri Xian Bun dan Ratu Peri Xian Xing sangat terkejut saat merasakan sakit luar biasa pada tubuhnya. Mereka menjerit sangat keras saat tubuhnya perlahan-lahan menjadi kecil.


Jeritan yang sama terdengar di seluruh Dunia Moxian. Semuanya mengalami hal yang sama.


Sesaat setelah kesadaran mereka akan menghilang sakit itu pun berhenti. Mereka pun menyadari jika tinggi mereka kini hanya sejengkal saja.


Jeritan memenuhi udara bukan hanya terjadi di dunia Moxian saja. Di Alam Kristal Dewa jeritan pun terdengar selama tujuh hari tujuh malam. Hanya saja jeritan di alam ini berbeda dalam hal rasa.


Satu Minggu kemudian di Alam Kultiva Naga, terjadi sukacita luar biasa saat Yao Chan kembali memasuki alam tersebut.


Kebahagiaan terpancar di seluruh wajah orang-orang yang mendengar tentang kekalahan Yuan Long, hal yang juga menunjukan Kekaisaran Liu telah kembali dipeluk oleh kedamaian.


Yu Lian yang tengah hamil muda terlihat begitu ceria saat bersama ketujuh keponakan mereka, menyambut kedatangan Yao Chan


Lin Hua pun memeluk satu persatu ke tujuh menantunya dengan rasa bahagia yang mendalam, walau keheranan melihat mata mereka yang mengantung tebal, seolah telah lama tidak tidur.


“Chan’er Kuharap engkau tidak lekas membawa cucu-cucu ibu kembali ke Alam Kristal Dewa. Ibu masih ingin bersama mereka semua.”


Yao Chan menggaruk kepalanya, rambutnya kini merasa gatal setelah tujuh hari belum sempat mandi.


“Ibu itu terserah pada mereka bertujuh. Apakah mereka setuju atau ….”


“Kami Setuju dengan Ibu!” Ketujuh isteri Yao Chan menjawab dengan cepat. Hal yang membuat Yao Chan terdiam.


Yao Chan pun mengalihkan pandangannya ke arah Yao Xian Li yang berada di pundak Nenek Xie Jia sedang bermain perang-perangan dengan Kakaknya Yao Shen yang duduk di pundak kakek gurunya, Guo Jin.


Saat Yao Chan hendak berkata sesuatu, suara dari Dewa Naga melalui telepatinya terdengar dan membuatnya termenung.


“Ibu aku pergi dulu, Dewa Naga baru saja memintaku untuk menemuinya, sepertinya ada sesuatu yang penting.”


Tubuh Yao Chan menghilang sebelum Lin Hua menanggapi perkatannya.


Yao Chan pun melakukan jurus pindah Tempat dalam sekejapnya.


Dalam perjalanannya itu, suara Dewa Tertinggi pun terngiang kembali sesaat sebelum pergi meninggalkan dirinya dan Dewa Naga.


“Jagalah selalu nama Auraga di dalam ingatanmu. Ia bisa saja menghentikan semua kisah kehidupan di Tiga Dunia ini, sebelum saatnya berakhir. Hanya dengan menggerakan satu jari telunjuknya dan menyalakan tombol End pada Pusaka di tangannya.”


*****


Setelah dengan pertimbangan berulangkali, Author memutuskan untuk mengakhiri Novel Pendekar Tiga Dunia di chapter ini.


Mohon maaf sedalam-dalamnya teruntuk pendukung Setia PTD jika Author tidak mampu memenuhi keinginan Anda saat ini. Yakinlah bahwa Author mengapresiasi keinginan Anda tersebut dengan akan menyusun Sesion ke duanya: 7 Pendekar Semesta.


Namun semua itu membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Terburu-buru hanya akan meminimalkan hasil yang ingin dicapai.


Sementara Author ingin memberikan yang terbaik untuk Anda.


Rasa terimakasih yang mendalam Author ucapkan dari hati yang terdalam atas semua dukungan dan apresiasi yang telah anda berikan.


Semoga sukses selalu menyertai gerak hidup Anda di bidang apapun yang anda tekuni.


Selamat bertemu kembali dengan Author Di Legenda Zhu San.


See You


With love


😍😍😍😍😍


🙏🙏🙏🙏🙏