Pendekar Tiga Dunia

Pendekar Tiga Dunia
092: Obat Kuat Yao Chan


Yao Chan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, tak tahu harus bagaimana menyikapi situasi di depannya.


"Anak muda mengapa kau diam saja? Apakah kau sedang menipuku?"


"Kakek Obat Kuat macam apa yang kau maksud? kalau untuk meningkatkan kekuatan tubuh aku memiliki banyak Kek."


Yao Chan akhirnya menyadari bahwa telah terjadi kesalahpahaman tentang obat kuat yang dia maksud dengan obat Kuat yang dimaksud oleh Dewa Racun Barat.


Wajah Racun Barat berubah menjadi merah lalu menepuk jidatnya, ia baru menyadari Yao Chan hanyalah bocah belasan tahun yang tentu saja belum mengenal wanita.


Hal ini menjelaskan kesalahan pahaman diantara mereka berdua. Namun mata tua Dewa Racun Barat melebar saat Yao Chan mengeluarkan tiga buah ape berwarna keemasan dari ruang hampa. Setidaknya itulah yang terlihat oleh Dewa Racun Barat.


"Kakek ini tiga Buah Apel Dewa, mempunyai khasiat untuk meningkatkan kekuatan tubuh serta mampu meningkatkan tenaga dalam."


Yao Chan tersenyum sambil mengulurkan tangannya ke arah Dewa Racun Barat yang terlihat heran.


"Anak muda apa maksudmu memberiku buah langka tersebut?"


Dewa Racun Barat berusaha menahan diri melihat buah Apel Dewa yang merupakan sumber daya sangat langka itu. Ia tentu tahu kompensasi yang harus ia berikan tidaklah sedikit, untuk itulah ia menanyakan maksud Yao Chan yang sebenarnya.


"Kakek aku akan memberikan tiga buah Apel ini kepada Kakek, dengan satu syarat, izinkan aku melakukan sesuatu hal kepada orang yang tadi kau bawa."


Wajah Dewa Racun Barat mengerut, tak percaya bahwa kompensasinya akan semudah itu. Namun ia curiga dan penasaran apa yang akan Yao Chan lakukan dengan Tao Yan.


"Anak muda apa yang akan kau lakukan dengan si Tao Yan itu? Aku tak akan membiarkannya mati di tanganmu, dia harus mati di tangan cucuku, Qing Mi."


Kini Yao Chan yang terheran-heran mendengarnya.


"Ku pikir kakek akan menyelamatkannya, ternyata begitu. Aku hanya ingin melakukan sesuatu pada ingatannya Kek, aku ingin mengetahui di mana Markas Rubah Hitam berada."


"Baiklah jika begitu, lakukanlah semaumu. tapi berikan dulu buah dewa itu padaku."


Dewa Racun Barat mengulurkan tangannya, Yao Chan berpikir sejenak lalu memberikan ke tiga buah itu kepada Dewa Racun Barat.


Yao Chan segera melesat turun, ditotoknya beberapa bagian tubuh Tao Yan yang sedang tak sadarkan diri itu. Lalu ia menyalurkan tenaga dalam untuk membuat Tao Yan tersadar dari pingsannya.


Tao Yan tersadar beberapa detik kemudian, hal pertama yang dilihatnya adalah senyuman seorang pemuda yang tak ia kenali.


Tao Yan ingin menggerakan tubuhnya, namun saat itu juga dirinya tersadar bahwa tubuhnya telah tertotok. Kekhawatiran melanda dirinya saat itu juga, apalagi tiba-tiba pemuda itu mencengkram lehernya.


Yao Chan yang mencengkram leher Tao Yan, sebelumnya telah mengalirkan sejumlah besar tenaga dalamnya ke mata,


Dewa Racun Barat mengamati apa yang Yao Chan lakukan dengan sedikit keheranan saat Yao Chan mendekatkan wajahnya menatap Tao Yan berlama-lama.


"Ah sayang sekali pemuda setampan itu ternyata menyukai sesama jenisnya. Seandainya ia pemuda normal, mungkin Qing Mi bersedia aku jodohkan dengannya. Ah benar-benar sangat disayangkan sekali."


Dewa Racun Barat mengguman sendiri, Mengingat ketampanan wajah Yao Chan yang serasi dengan kecantikan cucunya, Qing Mi. Ia pun memalingkan wajahnya tak ingin melihat keromantisan terlarang dihadapannya itu.


Seandainya Yao Chan mengetahui Dewa Racun Barat berpikir demikian, mungkin Yao Chan akan memakinya berulangkali.


Lima menit kemudian Yao Chan, telah selesai melihat semua ingatan Tao Yan. Seandainya ia tidak berjanji tadi mungkin saat ini kepala Tao Yan telah berpindah tempat dari lehernya.


Yao Chan mengerutkan dahinya saat menoleh ke arah Dewa Racun Barat yang sedang memalingkan wajah dari mereka. Beberapa saat kemudian Yao Chan menggeram jengkel saat menemukan sebuah kemungkinan yang menyebabkan Dewa Racun Barat bersikap demikian.


"Kakek kenapa kau memalingkan wajah seperti itu?" Tanya Yao Chan menyeledik saat ia telah melesat ke udara di hadapan Dewa Racun Barat.


"Apa kau sudah selesai bermesraan dengannya? Cepat sekali mmmph"


Dewa Racun Barat tertawa tertahan.


"Dasar tua bangka pesing otak mesum, aku tidak serendah itu, aku lelaki normal."


Mendapati dugaannya benar, Yao Chan mengumpat habis-habisan kepada Dewa Racun Barat yang sedang terkekeh geli.


Setelah berhasil menekan rasa geli dihatinya, Dewa Racun Barat menatap Yao Chan terutama pada bagian pinggang ke bawah.


Hal itu membuat wajah Yao Chan semakin terlihat kesal.


"Sepertinya kau benar-benar lelaki normal, baguslah kalau begitu, Mi'er mungkin akan senang mendengar aku memiliki kenalan pemuda setampan dirimu."


Kekesalan di wajah Yao Chan perlahan menghilang berganti keheranan mendengar ucapan Dewa Racun Barat.


"Anak muda sepertinya sudah saatnya kita berpisah. Jika kau sedang di daerah barat, Ku harap kau mampir di lembah Nang Xin. Di sanalah aku dan cucuku tinggal."


"Baiklah Kek, aku akan mengingatnya dan singgah di lembah Nang Xin."


Dewa Racun Barat melesat ke bawah kemudian kembali di hadapan Yao Chan sambil memanggul tubuh Tao Yan yang telah tertotok tak bisa bergerak.


"Kalau boleh aku tahu siapa namamu anak muda tampan?"


"Namaku Yao Chan Kek"


"Baiklah Chan'er aku permisi dulu. Jangan lupa untuk mengunjungi lembah Nang Xin. Selamat tinggal."


Dewa Racun Barat melambaikan tangan seraya melayang pelan ke arah barat.


"Kakek hati-hati jangan menabrak burung ya."


Yao Chan berteriak dengan mengerahkan tenaga dalamnya sehingga suaranya terdengar jelas oleh Dewa Racun Barat yang tersenyum sembari memaki Yao Chan dengan suara pelan.


"Dasar bocah sontoloyo"


Yao Chan menghela nafas panjang sambil menatap ke arah Utara dan senyuman tipis terlihat di bibirnya.


"Sebentar lagi aku akan menjadi lebih kuat."


Yao Chan menatap mentari pagi di ufuk timur yang perlahan memancarkan sinar hangatnya.


Yao Chan melesat dengan perlahan kembali ke kota Wu Chan An yang berada empat kilometer di depannya.


Saat kurang dari satu kilometer lagi, Yao Chan dapat melihat rombongan para pedagang yang bergerak meninggalkan Kita Wu Chan An.


Namun mendadak Yao Chan merasakan firasat buruk di hatinya. Ia pun mempercepat laju terbangnya yang sedang menuju ke kediaman sang Kakek.


Yao Chan terkesiap mendengar suara tangis seorang perempuan yang dikenalinya adalah suara sang Ibu.


"Apa yang terjadi? mengapa Ibu menangis?


Benak Yao Chan dipenuhi pertanyaan seraya melesat dengan cepat ke dalam bangunan megah itu.


Tubuh Yao Chan menggigil menahan amarahnya. Rasa sesal menyelimuti dirinya karena membiarkan Dewa Racun Barat pergi membawa Tao Yan.


"Dewa Racun Barat sialan Kau!!"


...*****...


Chapter ini khusus untuk anda Pembaca Setia Pendekar Tiga Dunia.


Spesial Thanks For Semut Merah Admin Grup Auraga.


Rasa terimakasih mendalam kepada pembaca setia yang telah memberikan Vote kepada Pendekar Tiga Dunia sehingga bisa masuk Ranking vote di tiga ratus besar.


Terimakasih mendalam Author kepada :



Abu Hillal Al Nur


Afgan


Banda M Sayid


Lukman Duha


Erwin 13


Mohammad Zidan


Moonlight


Ampun Bang Jago


Raji


Boby Chandera


Alzar Amier


Silviana Astuti


Melanius Baru


Huang Alben


Lukman


Hasan Basri


Ade Erlangga


Dzikra DNS


Ismaeni


Dewi Tyasari


Tengku Amir


Taufikur Rahman


Feri Dinsos


Andrey Pratama


Rizzhorr


Roy Kim


Dasep Saputra


Rian Telanay


Apeng Brink


Himan


Mei Cute


Master_X_21


Kisworo Ok


Lucky Anggoro


Semut Hitam


Ulfa Caem



Mohon maaf kalau ada kesalahan atas Penulisan nama.


Semoga terhibur dengan Novel Pendekar Tiga Dunia.


Terimakasih.