Pendekar Tiga Dunia

Pendekar Tiga Dunia
042: Pertarungan di Kota Xinan 2


Tetua Ma Hua terkejut saat mendapat laporan bahwa Yao Chan dan Yu Lian terlibat pertarungan dengan Enam Hantu Lembah Neraka.


"Lian'er apakah kau baik-baik saja?"


Pertanyaan itu mengisi benak Tetua Ma Hua selama perjalanannya ke tempat dimana Yao Chan dan Yu Lian berada.


Tetua Ma Hua menggunakan Ilmu peringan tubuh dengan kekuatan penuhnya. Dirinya melompati atap demi atap rumah penduduk agar sesegera mungkin sampai di rumah makan Lao Qin.


Terlihat banyak orang berkerumun saat Tetua Ma Hua tiba di atap rumah makan Lao Qin. Mereka sedang terpana menyaksikan seorang pemuda tampan sedang berdiri dengan tangan gemetar di depan jasad salah satu lawannya.


Sementara Hati Zhan Yu bergetar memandang jasad Cheng Kun yang berlumuran darah. Tak disangka adik seperguruannya tewas dengan mudah di tangan seorang pemuda yang terlihat berusia dua puluhan tahun.


Selain Yu Lian tak ada yang mengetahui apa yang menyebabkan tubuh Yao Chan diam mematung.


Ini pertama kalinya Yao Chan membunuh manusia. Perasaan bersalah merengkuh hatinya yang kini sedang mempertanyakan kebenaran dari tindakannya ini.


Yao Chan tidak tidak ingin memunafikan dirinya, diakuinya ada kepuasan di sisi hatinya yang lain karena berhasil membunuh Cheng Kun dan membalaskan dendam atas kematian Ayahnya.


Namun Yao Chan juga menyadari hal lain, kepuasan yang ada di dalam hatinya karena berhasil membalaskan dendam, tidaklah bisa mengubah kenyataan bahwa Ayahnya telah tewas.


Yao Chan pun menyadari bahwa apa yang dilakukannya ini, akan mendatangkan masalah di masa depan nanti. Sehingga timbul pertanyaan akan kebenaran dari tindakannya ini.


Shin Mu yang merupakan guru Cheng Kun pasti akan mencari dirinya untuk membalas dendam atas kematian salah satu muridnya.


Melihat Yao Chan diam mematung, Zhan Yu memberi isyarat untuk segera melarikan diri. Tak perlu menjadi pintar untuk memahami situasi yang ada.


Jika mereka berenam tidak bisa melukai Yao Chan, membunuhnya adalah hal yang mustahil dilakukan dengan jumlah mereka yang kini hanya tinggal lima orang saja.


Zhan Yu dan Empat Hantu Lembah Neraka lainnya, segera melesat ke atas atap rumah penduduk.


Namun tidak mereka duga, saat kaki mereka baru saja menginjak atap, dua buah bayangan melesat dari sebelah kanan mereka dengan serangan yang mematikan.


Di waktu yang nyaris bersamaan, sesosok bayangan lain menyerang dari sebelah kiri mereka, yang tak lain adalah Tetua Ma Hua.


Sementara satu bayangan lain dari kanan adalah Zhu Yin yang telah mencabut pedangnya dan menyerang dua orang perempuan Anggota Enam Hantu Lembah Neraka.


"Pengecut! sialan...!" Maki Zhan Yu sambil menangkis pedang yang mengarah ke lehernya.


"TRANG"


Benturan kedua senjata tersebut membuat tubuh Zhan Yu terpental hingga memaksa dirinya bersalto untuk mendarat di tanah, di tempat dimana dirinya tadi berada.


Wajah Zhan Yu yang semula geram berubah menjadi pucat saat mengetahui siapa yang baru saja menyerangnya.


Tampak melayang di udara, seorang Kakek berjubah putih yang memegang sebuah pedang dengan gagang berukir Kepala Rajawali.


Kakek berjubah itu dikenali Zhan Yu sebagai Guo Jin Ketua Sekte Lembah Dewa yang diketahuinya telah tewas di Jurang Dewa, sepuluh tahun lalu.


Mendapati kenyataan Guo Jin masih hidup dan kini memiliki kemampuan setidaknya pendekar Suci Awal, membuat Zhan Yu menelan harapannya untuk bisa keluar hidup-hidup dari kota ini.


Aarrggghhh


Perhatian Zhan Yu Dan semua orang teralihkan saat mendengar jeritan seorang wanita. Pandangan mereka menemukan sesuatu yang mengerikan.


"Ka ..kak..a..ku..."


Kata-katanya terputus bersamaan dengan nyawanya melayang. Tatapan Zhan Yu berubah kelam, tak ada yang mengetahui bahwa jauh didasar hatinya tersimpan rasa cinta kepada adik seperguruannya tersebut.


Kematian adik ke enamnya, membuat Zhan Yu gelap mata lalu mengerahkan seluruh kekuatannya. Aura pembunuh yang pekat terpancar dari tubuhnya.


Matanya menatap tajam kearah Zhu Yin yang sedang bertarung dengan adik seperguruannya yang lain. Lalu melompat kearah Zhu Yin dengan kemarahan yang meluap.


"Mau kemana kau? Akulah lawan mu" Guo Jin menghadang langkah Zhan Yu. Melihat Guo Jin menghadangnya Zhan Yu yang sudah sangat marah langsung menyerang dengan jurus terkuatnya.


Serangan Zhan Yu yang dipenuhi kemarahan, sedikit mengejutkan Guo Jin. Hanya saja pengalaman puluhan tahun, membuat Guo Jin berhasil menemukan banyak celah.


Pedang Rajawali ditangannya berhasil melukai lengan Zhan Yu setelah lima puluhan jurus mereka bertarung. Hal itu membuat serangan Zhan Yu semakin gencar hingga melupakan pertahanannya.


Melihat pertahanan Zhan Yu yang terbuka, Guo Jin tidak menyia-nyiakannya. Satu tebasan kuat berhasil mengoyak dada Zhan Yu cukup dalam, memaksa Zhan Yu segera melompat mundur.


Namun Guo Jin tidak membiarkannya. Ia terus menyerang dengan gencar, membuat Zhan Yu mati-matian bertahan. Beberapa luka kembali didapatinya.


Teriakan kesakitan dari salah satu adik seperguruannya yang melawan Tetua Ma Hua membuat Zhan Yu teralihkan pandangannya. Terlihat oleh Zhan Yu lengan Adik pertamanya putus, terkena tebasan Pedang Tetua Ma Hua.


Konsentrasi Zhan Yu yang terpecah, tidak di sia-siakan oleh Guo Jin. Tusukan Pedang Rajawali ditangan Guo Jin terlambat untuk hindari Zhan Yu.


Zhan Yu meraung keras saat merasakan sakit yang luar biasa di bagian dadanya. Pandangannya menjadi gelap, dan tubuhnya pun roboh saat Guo Jin menarik pedang Rajawali dari tubuhnya.


"Kakak pertama..!"


"Kakak... aarrggghhh"


Suara perempuan yang menjerit memangil Zhan Yu berganti teriakan kesakitan, hal itu karena Pedang Gadis Suci milik Zhu Yin menembus dari perut hingga ke punggungnya.


Setelah mencabut pedangnya Zhu Yin memberikan tebasan untuk memberi kematian yang cepat dengan menebas leher perempuan berdandan menor itu.


Tetua Ma Hua melihat celah pada lawannya, dengan cepat dimanfaatkan dengan memberikan tebasan yang memotong leher lawannya hingga hampir putus.


Lelaki itu Roboh dengan mata melotot dan leher yang hampir putus, hanya satu helaan nafas yang bisa dia lakukan dan itu terakhir kalinya ia menghirup udara.


Satu lawan Tetua Ma Hua yang tersisa, menjadi ciut nyalinya, tubuhnya gemetar memandang jasad saudara-saudaranya yang tergeletak berlumuran darah.


"Mohon ampuni nyawaku, aku akan bertobat dan tidak akan berbuat kejahatan lagi." Lelaki yang tangan kirinya telah putus tersebut, segera berlutut dan melemparkan senjatanya.


Dengan kondisinya saat ini, menang adalah hal yang mustahil. Bahkan sekedar untuk melarikan diri pun bukan hal yang mudah untuk dia lakukan.


Atas kesadaran itulah, lelaki itu memutuskan untuk menyerah dengan harapan para pendekar aliran putih mengampuni selembar nyawanya.


"Kau pikir aku akan percaya begitu saja? Tentu saja aku tidak mempercayai kata-kata mu itu" Tetua Ma Hua mengangkat pedangnya untuk menebas leher lelaki yang sudah terlihat pasrah dengan situasinya.


Pedang di tangan Tetua Ma Hua bergerak cepat menebas kearah leher lelaki itu. Saat sejengkal lagi pedang itu mengenai leher, sebuah bayangan berkelebat dan menahan laju pedang Tetua Ma Hua.


*****


LIKE yang anda berikan setelah membaca Chapter ini menjadi VITAMIN bagi Author. Dan Author berterimakasih untuk hal itu.