Pendekar Tiga Dunia

Pendekar Tiga Dunia
269: Chu Lei


Yao Chan tersentak kaget, saat menyadari dari belakangnya telah datang seorang Kakek berjubah Biru Tua.


Ia pun menatap tajam Kakek itu, dari ingatan pada kehidupan pertamanya , Ia mengetahui siapa nama Kakek tersebut.


Ia adalah Chu Lei berjuluk Si Kilat Angin yang juga adalah Kakak kandung dari Chu Lung. Secara kemampuan, Chu Lei memiliki kekuatan lebih tinggi dari adiknya Chu Lung.


Namun Ia menolak menjadi ketua Klan Kipas Dewa Angin, karena Ia tidak mau terbebani dengan segala urusan administrasi Klan atau yang lainnya.


Ia lebih banyak menghabiskan waktunya untuk berkultivasi demi menjadi jagoan nomor satu di Benua Awan Merah.


Salah satu kehebatan Chu Lei adalah kecepatan dalam bergeraknya. Ia dijuluki Si Angin Kilat karena kecepatan geraknya yang luar biasa cepat bagaikan kilat.


Selain itu, tingkat Kultivasinya tidak bisa dilihat oleh siapapun karena Ia menggunakan sebuah Metode rahasia untuk menyembunyikannya.


“Aah … Kakek Chu Lei Si Angin Kilat rupanya. Maaf Saya telah lancang mendatangi Klan Anda ini dengan cara yang tak sopan.”


Perkataan Yao Chan itu sedikit mengejutkan Tetua Chu Lei. Ia merasa tak mengenali Yao Chan, namun pemuda itu telah mengenali dirinya.


Ia pun tersenyum karena merasa namanya telah begitu tenar, sehingga seseorang yang terlihat masih berusia belasan tahun itu, bisa mengenali dirinya.


“Siap Kau Anak Muda, Apa tujuan mu mendatangi Klan Kami dengan cara yang tak sopan ini.”


Chu Lei kembali bertanya dengan nada suara yang jauh lebih lembut. Ia memang mudah tersanjung oleh kata-kata pujian, itulah mengapa Yao Chan menyanjungnya.


“Namaku Yao Chan Kek. Tujuanku kemari yang pertama adalah untuk bersilaturahmi, yang kedua adalah untuk membasmi Klan Kipas Dewa Angin ini.”


“APA!! Lancang sekali mulutmu!”


Awalnya Tetua Chu Lei tersenyum mendengar kata-kata Yao Chan yang lembut dengan sikap yang menghormati dirinya itu.


Namun saat mendengar akhir kalimat Yao Chan, seketika membentak Yao Chan dengan keras dan merasa sangat marah.


PLAAK


Ia pun melesat secepat kilat dan menampar Yao Chan dengan sangat keras. Namun Ia terkejut saat mendapati hanya telapak tangan yang Ia tampar.


Pertemuan kedua telapak tangan itu, membuat Tubuh Tetua Chu Lei terpental sejauh lima meter.


Ia pun menatap Yao Chan dengan kemarahan yang meluap dan juga rasa heran yang mendalam.


“Kau adalah orang kelima yang bisa melihat gerakanku dengan benar. Siapa Kau sebenarnya?”


“Apakah Yuan Long adalah salah satu dari lima orang tersebut?”


Chu Lei terkesiap saat mendengar nama Yuan Long. Siapa yang tak mengetahui nama sosok yang sangat keji itu.


Ia bahkan pernah bertarung dengan Yuan Long dan membuatnya terluka parah ratusan tahun lalu.


Beruntung sekali datang seorang tokoh dari aliran putih yang menyerang Yuan Long, membuatnya bisa melarikan diri darinya.


“Apakah kau lupa padaku?” Yao bertanya seraya melepaskan Ikatan di rambut panjangnya.


Setelah menggelengkan kepala sebanyak dua kali, setengah wajah Yao Chan kini tertutup oleh rambutnya.


Wajah Chu Lei seketika memucat, Ia kini menyadari siapa sosok pemuda yang berada di hadapannya itu.


Sementara Yao Chan tersenyum tipis, Ia terpaksa mengurai rambutnya seperti kebiasaan di kehidupan pertamanya dulu.


Ia berniat menggunakan nama Yuan Long untuk membasmi seluruh Klan Aliran Hitam yang ada di Benua Merah ini. Benua tempatnya berasal.


“Tidak mungkin! … Bukannya Kau sudah mati di Dunia Moxian oleh Dewa Naga. Jangan coba-coba menipuku!”


Chu Lei yang sempat bergetar, akhirnya kembali terlihat garang setelah teringat jika Yuan Long telah tewas puluhan tahun yang lalu di Dunia Moxian.


Yao Chan terkekeh melihat kegarangan yang Tetua Chu Lei tunjukan.


Dari Kedua tangan Yao Chan muncul Dua Kepala Ular Naga yang sangat besar berwarna kuning keemasan.


Wajah Tetua Chu Lei seketika menjadi pucat dan tubuhnya menjadi bergetar. Ia masih bisa mengingat bagaimana Ia dikalahkan oleh jurus tersebut.


“Hormat pada Tetua Agung … Siapa pemuda ini, mengapa ia begitu lancang mend …”


“Diam dan ajak seluruh Anggota untuk meninggalkan Klan … Dia … Dia Yuan Long Si Tangan Seribu Naga!”


Seorang tetua lain yang terlihat berusia tujuh puluh tahun, datang dan memberi salam hormat kepada Tetua Chu Lei.


Namun pertanyaannya yang belum selesai itu, mendapat jawaban yang mengejutkan dirinya.


“Cepat Pergi dari sini, Aku akan menahannya dan cari Ketua Klan dan tetua Ye Mao di Benua Awan biru … Cepat!”


Tetua Chu Lei kembali membentak Tetua yang baru saja datang. Saat Ia hendak menjawab, perkataan Yao Chan berikutnya membuat mereka terkesiap.


“Jika kalian ingin bertemu dengannya tak perlu susah payah mencarinya ke Benua Awan Biru, Aku dengan senang hati mengantarkan kalian ke neraka untuk menemaninya.”


“Apa maksudmu Yuan Long!! ….”


Tetua Chu Lei yang belum percaya jika adiknya itu telah tewas di tangan Yao Chan, segera bertanya dengan rasa marah yang tiba-tiba merasuki dirinya.


Yao Chan yang telah menarik kembali jurus Seribu Tangan Naga, segera mengeluarkan Kipas Dewa Angin dari Gelang Ruang Dimensinya.


“Menurut kalian, apakah aku bisa memiliki Kipas ini tanpa membunuh pemiliknya?”


Pertanyaan Yao Chan tidak mendapat jawaban kata, melainkan sebuah serangan yang sangat cepat dari Tetua Chu Lei.


Melihat Kipas Dewa angin berada di tangan Yao Chan, cukuplah bukti bahwa adiknya memang telah tewas.


Chu Lei Pun mengerahkan seluruh energi yang dimilikinya. Aura Pendekar Dewa Level sembilan memenuhi udara sesaat sebelum Tubuhnya menghilang menyerang Yao Chan.


DUAAGH


Yao Chan yang telah siap akan serangan itu, menahan tinju keras dari Chu Lei dan kepalan Tinju tangan kirinya.


Suara benturan keras terdengar dan terlihat tubuh keduanya sama–sama terpental sejauh lima meter.


Yao Chan segera memasukan Kipas Dewa Angin dan bersiap dengan Jurus Tinju Naga, saat melihat Chu Lei kembali melesat secepat kilat ke arahnya.


DUAGH DEEESSH


Benturan dua kekuatan sangat tinggi itu, membuat udara berfluktuasi hebat. Tetua yang baru saja datang, harus terpental tubuhnya sejauh puluhan meter.


Mulutnya terbuka lebar saat melihat pertarungan kedua orang yang sangat cepat dalam bertukar serangan itu.


Sementara terlihat keriuhan di bawah mereka, tepatnya di Alun-alun Klan Kipas Dewa Angin.


Beberapa bangunan telah retak bahkan tak sedikit yang mulai roboh, akibat tekanan energi dari dua orang yang sedang bertarung dengan hebat itu.


Tetua itu segera melesat turun untuk menenangkan anggota lainnya yang terlihat akan melesat ke udara.


Ia terlihat ragu untuk memerintahkan Anggota Klan agar meninggalkan Markas mereka itu.


Ia merasa yakin bahwa Tetua Chu Lei akan berhasil mengalahkan pemuda itu. Namun keyakinannya harus sirna sesaat kemudian.


*****


Jangan Lupa likenya Ya. Terimakasih 🙏🙏🙏


Ternyata Jadi Penulis selain harus bisa menulis, juga harus punya Hati Baja Telinga Besi Mata Logam saat membaca Komentar yang menyakitkan.


😁😁😁 Trik Murahan 🤭🤭🤭