
"Saudara Chan, jika boleh aku tahu, apa tujuan mu datang ke Kota Wu Chang An ini?" Wu Mei bertanya kepada Yao Chan dengan senyum menghiasi bibir merahnya.
Yu Lian memandang Wu Mei dengan tatapan heran. Bukan pada senyum manisnya, tetapi heran terhadap rasa ingin tahu Puteri Kaisar tersebut.
"Kenapa tuan Puteri begitu ingin tahu apa tujuan kami disini? Apakah itu begitu penting untuknya?"
Yu Lian ingin bertanya demikian, namun Yao Chan yang menyadari perubahan raut wajah Yu Lian segera menjelaskan perihal tujuannya tersebut.
Penjelasan singkat Yao Chan membuat Wu Mei terlihat antusias walau sebelumnya sempat terkejut saat mengetahui identitas yang Yao Chan miliki.
"Jadi Saudara Chan adalah Cucu Perdana Menteri Lin Bao.. " Wu Mei terdengar mengguman. Entah apa yang ada dalam benaknya, namun senyuman di sudut bibirnya membuat hati Zhu Yin menjadi dongkol.
Sebagai seorang gadis yang telah memiliki pengalaman bergaul cukup luas, Zhu Yin mengetahui apa yang sedang dipikirkan oleh Wu Mei.
Puteri Kaisar tersebut jelas merencanakan sesuatu kepada Yao Chan, namun bukan sesuatu yang jahat, tetapi lebih kepada bagaimana bisa menjadi lebih dekat lagi dengan Yao Chan.
"Strategi yang hebat untuk meraih hati pria yang disukainya." Zhu Yin berkata dalam hati seraya berdecak kagum kepada Wu Mei.
Hal itu dilakukannya saat mendengar bahwa Puteri Kaisar Wu itu bermaksud ikut bersama mereka untuk menemui Ibu Yao Chan, Lin Hua yang merupakan Puteri Kandung Lin Bao, Perdana Menteri Kekaisaran Wu.
Zhu Yin tersenyum geli melihat Yao Chan kebingungan untuk menolak permintaan Wu Mei. Beruntunglah sebuah suara menolongnya dari kesulitan tersebut.
"Mei'er!.. kau masih berani pergi dengan diam-diam lagi?" Seorang pemuda teramat tampan yang mengenakan jubah sutera berwarna biru, terlihat sedang menatap tajam kearah Wu Mei.
Suara Pemuda yang berada di atas kuda itu berhasil mengejutkan Wu Mei, wajahnya sempat memucat, namun kembali ceria saat menemukan sang Kakak sedang menatapnya dengan kesal.
Sementara di belakang sang kakak terlihat dua orang lelaki yang berusia sekitar lima puluh tahun yang dikenalinya sebagai guru beladiri sekaligus pengawal kakaknya yang merupakan putera Mahkota Kekaisaran Wu.
"Hormat kepada Pangeran Mahkota" He Jun segera memberikan hormatnya seraya membungkuk saat mengetahui Wu Jian sang Putera Mahkota Kekaisaran Wu berada di depannya. Hal serupa dilakukan oleh semua orang termasuk Yao Chan.
"Kolonel He Jun, anda sudah tiba rupanya, bukankah Anda sedang menemani Jendral Yu Ma? Di mana beliau?"
Serentetan pertanyaan dilontarkan oleh Wu Jian, Putera Mahkota berusia dua puluh tahun itu mengedarkan pandangannya, namun dirinya tidak menemukan keberadaan Jendral Yu Ma yang dikaguminya.
Pandangan Putera Mahkota Kekaisaran Wu itu berhenti pada seraut wajah yang tiba-tiba saja membuat jantungnya berdegup kencang, Sebuah debaran indah menggoncang ruang hatinya tanpa bisa ia redam.
Kecantikan tingkat surgawi dihadapannya ini, sungguh mempesonakan dirinya hingga sosok yang dilihatnya pun menjadi salah tingkah, karena juga terpana akan ketampanan wajah Putera Mahkota Kekaisaran Wu itu.
Dua orang yang saling menatap itu menjadi perhatian mereka yang berada disekitarnya sambil tersenyum-senyum.
Wu Mei terlihat begitu senang melihat sang kakak akhirnya bisa terpana kepada seorang gadis. Selama ini belum pernah sekalipun dirinya melihat sang kakak bersikap seperti yang ditunjukannya saat ini.
Sementara Zhu Yin tak mampu lagi untuk menahan tawanya dan menutup mulutnya dengan telapak tangan.
Yu Lian akhirnya tersadar setelah mendengar suara tertawa Zhu Yin, seketika wajahnya berubah memerah saat menyadari semua orang melihat kearahnya dan Wu Jian.
Yu Lian merasa begitu malu dengan apa yang baru saja terjadi, tetapi tidak dengan Wu Jian. Putera Mahkota tersebut segera melompat turun dari kudanya, lalu menghampiri Yu Lian yang mulai terlihat gugup.
"Nama ku eh nama Hamba Yu Lian..."
Yu Lian tergagap, entah mimpi apa dirinya semalam hingga seorang Putera Mahkota datang menyapa, ingin mengetahui namanya. Wajahnya langsung tertunduk menahan rasa malu yang indah itu.
"Jangan sungkan kepada ku... anggap aja aku ini temanmu, apakah kau bersedia berteman dengan ku?" Lanjut Wu Jian yang tak memperdulikan tatapan orang-orang disekitarnya yang memandang takjub padanya.
Seorang Putera Mahkota adalah calon Kaisar dimasa depan. Bisa berteman dengannya adalah sebuah keberuntungan. Namun tidak semua orang mendapatkan keberuntungan itu dengan mudah. Dan Yu Lian mendapatkan hal itu dengan sangat mudahnya.
Yu Lian tak tahu harus berbuat apa, dirinya hanya mampu menganggukkan kepala.
"Jian Gege.. Aku mau ikut saudara Chan menemui ibunya, bolehkan?" Wu Mei menyuarakan keinginannya saat suasana menjadi hening.
"Wu Jian membalikan badannya menghadap adik perempuannya dengan tatapan heran. Lalu melirik seorang pemuda yang tak kalah tampan dari dirinya.
"Siapa dia, dan mengapa kau ingin menemui ibunya?"
"Dia Yao Chan, cucu Perdana Menteri Lin Bao." Wu Mei menjelaskan dengan antusias. Dirinya mengetahui bahwa kakaknya tidak akan memberinya izin jika dirinya tidak mengenal baik keluarga tersebut.
"Cucu Perdana Menteri Lin? Benarkah kau cucu Perdana Menteri Lin?" Wu Jian menatap Yao Chan dengan pandangan menyeledik. Dirinya mengenali kedua cucu Perdana Menteri Lin Dan Yao Chan bukan salah satunya.
"Benar Putera Mahkota, hamba Yao Chan, Ayah Hamba bernama Yao Zhi dan ibu Hamba Bernama Lin Hua yang adalah Puteri Kakek Lin Bao. Tapi hamba baru mengetahui beberapa waktu lalu, Jika Kakek Lin adalah Perdana Menteri di Kekaisaran Wu yang Agung."
Yao Chan menjelaskan secara detail tentang identitasnya agar tidak ada lagi kecurigaan Wu Jian kepadanya. Dan benar saja, hal itu membuat Wu Jian tersenyum kepadanya.
"Mei'er aku sebenarnya ingin mengizinkan dirimu, namun Ayahanda Kaisar memintaku untuk membawa mu pulang ke istana secepatnya. Jadi Kau harus ikut pulang bersama kami."
"Gege.. aku.."
"Sudah tidak usah membantah lagi, atau kau ingin kita semua dimarahi oleh Ayahanda Kaisar.!?" Wu Jian memotong kalimat Wu Mei agar tidak lagi ada perdebatan.
"Benar Tuan Puteri, sebaiknya anda segera kembali ke istana, hamba akan pergi dan mengawal tuan Puteri." He Jun akhirnya menengahi perdebatan putera dan Puteri Kaisar itu.
Wu Mei terlihat sangat kecewa, namun untuk membantah lebih lanjut sang kakak, dirinya tidak memiliki keberanian. Hingga Akhirnya ia pun mengangguk lemah dan menelan sendiri kekecewaannya.
Wu Jian segera kembali menaiki kudanya, lalu Wu Mei ikut melompat menunggangi kuda salah satu pengawal pribadi sang Kakak. Sementara para dayang bersiap menyusul di belakangnya.
"Awas serangan !!!"
Zhu Yin dan Yu Lian berteriak seraya melompat bersamaan lalu menepis empat pisau yang melesat ke arah Putera Mahkota dan Tuan Puteri Wu Mei.
...*****...
...Jangan Lupa Like dan Vote-nya...
...🙏🙏🙏...