Pendekar Tiga Dunia

Pendekar Tiga Dunia
087: Rubah Hitam Bergerak II


Bai Xun yang bertugas menghabisi Perdana Menteri Lin Bao, tiba di kediaman sang menteri saat malam telah melewati puncaknya.


Mendapati penjagaan yang terlihat tidak begitu ketat, membuat Bai Xun merasa tugas ini terlalu mudah. Sampai ia menyadari sebuah Aura mengintimidasi dirinya dari udara di atas kepalanya.


Saat ia mengalihkan pandangannya ke sumber Aura itu berasal, ia tertegun menyadari informasi yang diberikan oleh Ketua Feng Hui ternyata benar adanya.


"Jadi kalian adalah anggota Rubah Hitam yang disebut-sebut sebagai Kelompok Pembunuh nomor satu di kekaisaran Wu itu?"


Yao Chan menyapa kelompok pembunuh Rubah Hitam seraya melayang lebih rendah lagi. Saat berjarak lima meter Yao Chan mengeluarkan Pedang Dewa Perang ketika menyadari salah satu diantara tiga pembunuh itu, memiliki kemampuan beladiri di tingkat Pendekar Suci Tahap Awal.


Bai Xun Mengeluarkan senjata pusakanya yang berupa Trisula berwarna keemasan. Aura mencekam terasa kuat saat ia mengerahkan tenaga dalam ke Pusaka itu.


"Kalian berdua cari dan bunuh menteri tua itu, pemuda ini biar aku yang mengurusnya."


Bai Xun memberi perintah kepada kedua rekannya yang terlihat ragu untuk bergerak. Setelah mendengar perintah dari Bai Xun, keduanya melompat turun.


"Anak muda siapa kau sebenarnya, kenapa kau mencampuri urusan kami!?"


Bai Xun mencoba berbicara kepada Yao Chan, selain untuk mengulur waktu, ia pun mencoba menjajagi kemampuan Yao Chan yang sebenarnya.


"Paman Jelek Dahi Lebar, jika Kakek mu akan dibunuh oleh seseorang apakah kau akan diam saja? Tentu jawabannya tidak? Demikian juga dengan aku."


Yao Chan menyeringai dan mengalirkan ribuan simpul tenaga dalam ke seluruh tubuhnya. Ia tak ingin bermain-main lagi. Jurus Murka Dewa Pedang akan ia gunakan untuk melawan pembunuh itu.


Bai Xun mulanya ingin membentak marah karena dipanggil Paman jelek berdahi lebar. Namun saat menyadari kekuatan yang Yao Chan tunjukan, ia menelan kemarahannya.


Dahinya mengerut, saat menemukan Yao Chan ternyata seorang Pendekar Suci Tahap Akhir. Walau rasa gentar sesaat hadir di hatinya, namun karena pengalaman bertarungnya yang banyak sebagai pembunuh, ia masih percaya diri menghadapi pemuda yang lebih tinggi kemampuannya.


"Baiklah jika demikian, aku akan membuat mu menemani kakek mu itu" Selepas berkata demikian, Bai Xun segera menebaskan Trisulanya, selarik sinar keemasan menderu kearah Yao Chan.


Menghadapi serangan kuat itu Yao Chan tak ingin gegabah. Ia pun menebaskan Pedang Dewa Perang ke udara dihadapannya.


WUUUTS. WUUUTS


BLAAAAR


Dua Energi tenaga dalam berbenturan di udara malam yang dingin itu. Yao Chan berdecak melihat kekuatan yang ditunjukan oleh Trisula Pusaka itu.


"Senjata mu boleh juga Paman Jelek Dahi Lebar!"


Yao Chan melesat dengan cepat ke arah Bai Xun, yang terkejut dengan kecepatan yang Yao Chan tunjukan. Hampir saja dia terlambat menggerakan Trisulanya untuk menangkis pedang yang mengarah cepat ke lehernya itu.


Pertukaran serangan pun terjadi diantara keduanya. Gerakan jurus Murka Jiwa Pedang yang sangat cepat dan selalu mengarah ke titik vital membuat Bai Xun terkejut. Belum pernah dalam karir membunuhnya, ia menghadapi jurus yang sekuat Yao Chan gunakan saat ini.


Setelah pertukaran serangan berlangsung Dua puluh jurus, Bai Xun memulai terlihat terdesak, tangannya selalu bergetar saat Trisula pusakanya beradu dengan pedang Yao Chan.


"Pedangmu hebat juga anak muda, bisa bertahan dari Trisula Pusaka ku ini."


Bai Xun berbicara saat berhasil melompat menjauhi Yao Chan.


"Paman jelek dahi lebar, apakah kau tahu pedang apa yang ku gunakan dan siapa pemilik sebelumnya?"


Yao Chan menjawab, seraya berpikir keras saat menemukan jurus Trisula yang Bai Xun gunakan mampu mengimbangi Jurus Murka Jiwa Pedang.


Bai Xun tertawa meremehkan pedang yang berada di tangan Yao Chan untuk menutupi kebingungannya karena ia belum menemukan cara menghadapi Jurus yang Yao Chan gunakan.


"Aku setuju pada bagian kekuatannya setara dengan kekuatan Pusaka Langit, namun tidak dengan bagian yang lain. Pedang ini adalah Pedang Dewa Perang yang diberikan kepadaku untuk membasmi penjahat keji seperti mu Paman. Hehehe"


Yao Chan terkekeh geli, walau suasana gelap, namun karena Aura Emas Trisula Pusaka itu, ia bisa melihat wajah Bai Xun yang terperanjat setelah mendengar perkataannya.


Mengetahui pedang di tangan pemuda yang menjadi lawannya berasal dari seorang Dewa, nyali Bai Xun terusik. Keberaniannya untuk beradu senjata lagi dengan Yao Chan perlahan menjadi ciut.


Saat hendak menanggapi perkataan Yao Chan, jeritan keras terdengar dari arah bawah, Bai Xun mengerutkan dahinya, ia mengenali suara itu sebagai suara rekannya yang membawa busur.


Saat ia sedang menduga-duga apa yang terjadi, salah satu rekannya yang membawa golok besar, datang dari arah bawah dengan berteriak ketakutan.


"Ketua Bai Xun tolong aku, ada monster betina!!"


Sang rekan berkata sesaat setelah menginjakan kakinya di atas atap, terlihat oleh Bai Xun, lengan kanan rekannya telah hilang putus. Sesosok lain datang menyusul di belakangnya. Sosok seorang gadis muda yang memegang sebuah pedang beraura putih.


"Apa katamu tadi, monster betina? Memangnya ada Monster secantik aku ini heh?"


Zhu Yin terkekeh melihat lawannya melarikan diri sesaat setelah lengannya putus tertebas Pedang Hati Suci miliknya.


Kini ke dua pembunuh dari Kelompok Rubah Hitam itu, berada dalam posisi terjepit. Di belakang mereka ada Zhu Yin dan di sisi yang berlawanan ada Yao Chan. Keduanya sedang bersiap menyerang dengan pedang ditangan.


Bai Xun menghela nafas panjang mendapati situasinya tidak menguntungkan dirinya sama sekali. Trisula Pusaka Bai Xun, berkelebat menusuk punggung bagian kiri rekannya hingga menembus jantungnya.


"Ketua .. Bai .. kenapa..kau.."


Rekan Bai Xun itu pun meregang nyawanya tanpa sempat ia mendapat jawaban atas apa yang Bai Xun Lakukan padanya. Tak pernah terpikir olehnya, hidupnya akan berakhir di tangan rekannya sendiri.


"Kau baik sekali Paman Jelek Dahi Lebar, membuat temanku itu tak perlu bersusah payah lagi membunuhnya."


Yao Chan tentu saja mengetahui alasan Bai Xun melakukan hal itu, membunuh rekannya sendiri agar tidak membocorkan rahasia mereka bila ia tertangkap nanti.


Namun mungkin nanti Bai Xun akan muntah darah jika mengetahui rahasia kelompok mereka, justru akan terbongkar dari dirinya sendiri.


Yao Chan berniat melumpuhkan Bai Xun dan menghisap ingatannya. Hal itu dilakukannya untuk mendapatkan informasi tentang markas mereka.


"Baik? apa maksudmu berkata seperti itu "


Bai Xun heran dengan pertanyaan Yao Chan, ia mengerutkan dahinya memandang Yao Chan. Sepertinya ada yang salah dengan cara berpikir pemuda dihadapannya itu.


"Jangan terkejut dulu Paman Jelek berdahi Lebar, masih ada kejutan lain untuk mu nanti."


Yao Chan bergerak sangat cepat dengan langkah Dewa Angin, membuat Bai Xun memucat wajahnya saat menyadari Yao Chan telah berada di belakangnya.


...*****...


...Like dan Vote adalah VITAMIN bagi Author agar selalu sehat jiwa dan jarinya sehingga terus bersemangat dalam menata kata😁....


...Jangan Lupa Like dan Votenya ya....


...Terimakasih...