Pendekar Tiga Dunia

Pendekar Tiga Dunia
193: Pertempuran di Benteng Xiangjin


Yu Lian mengerahkan energi qi nya sebanyak seribu kristal ke dalam Cambuk Naga Api saat dirinya telah berada dua ratus meter dari Benteng Xiangjin.


Hawa udara perlahan memanas seiring tali Cambuk Naga Api yang menyala dengan api berwarna kebiruan. Hawa panas itu terasa sangat kuat hingga ke benteng Xiangjin. Hal itu membuat cemas semua yang berada di dalam. benteng.


"Yang memiliki qi cepat membuat perisai untuk melindungi yang lain dari energi panas!"


Dewa Obat Fu Mao segera berteriak keras memperingatkan yang lain. Guo Jin, Xin Jia, Yu Ma dan Gui Han segera menyebar, mereka pun membuat perisai energi qi yang sangat besar untuk melindungi semua orang yang berada di dalam benteng.


Kaisar Wu Jian terpana melihat dan merasakan sendiri kekuatan sosok permaisurinya tersebut. Seingatnya Yu Lian tidak sekuat itu saat terakhir kali ia melihatnya.


Walau telah dibuat perisai dari energi qi namun udara tetap terasa panas saat Yu Lian mengangkat cambuknya yang telah memanjang menjadi sepuluh meter itu.


Siluman Singa yang telah berjarak lima puluh meter dari Yu Lian menjadi gentar dan berhenti merasakan aura Dewa Merembes keluar dari Cambuk itu.


Ia pun segera berbalik rarah untuk menjauhi Yu Lian saat nyalinya benar-benar menciut. Namun Sosok Yu Lian tiba-tiba saja telah bergerak cepat menghadangnya.


Siluman bertubuh besar itu terkejut saat mendapati sosok gadis itu telah berada dihadapannya dan langsung mengayunkan cambuk yang membuat udara terasa sangat panas sekali.


WHUUUSSS CTAAAARR


Dengan sangat cepat Siluman singa melompat dan menghindari cambukan Yu Lian. Ia berhasil menghindari lecutan cambuk itu yang membuat tanah tempat ia berdiri tadi, kini berlubang besar dan mengepulkan asap.


Siluman Singa terus melompat menjauhi Yu Lian yang terus mengejarnya dan berusaha agar cambuknya berhasil mengenai tubuh Siluman Singa itu.


Saat ke lima kalinya Yu Lian melecutkan cambuknya, ia berhasil mengenai kaki Siluman Singa bertubuh raksasa itu.


Kaki siluman tersebut hancur dan berbau gosong, membuat Siluman Singa itu tidak bisa menghindari Cambukan Yu Lian berikutnya.


JDARRRRR


Cambuk Naga Api menghantam Tubuh Siluman Singa itu membuatnya menjadi hancur berkeping-keping dan seprihan dagingnya yang berbau gosong itu segera memenuhi udara.


Saat Yu Lian baru saja menormalkan kembali Ukuran panjang Cambuk Naga Api, tiba-tiba saja sesosok lelaki Tua telah berada di depannya dan telah memegang Cambuk Naga Api tersebut.


Yu Lian tersentak kaget, ia tidak melihat bagaimana Cambuk Naga Api itu telah diambil dari tangannya.


Tubuhnya gemetar saat menyadari Sosok tersebut adalah Sosok yang menjadi bahan pembicaraan mereka semalam, Sosok Guru Hong Qi, yang bernama Luo San.


"Cambuk Pusaka Langit. Pantas saja kekuatannya sangat luar biasa. Hei Bocah Cambuk ini hebat sekali dan aku menginginkannya. Jadi biarlah Cambuk ini sebagai penukar nyawamu, Bagaimana? hahahaha."


Perkataan Luo San membuat tubuh Yu Lian gemetar antara marah dan gentar. Ia pun bertekad untuk merebut kembali Cambuk tersebut. Namun sesuatu terjadi dengan Kakek itu.


Tubuh Luo San berkeringat dingin saat menyadari Cambuk tersebut sudah tidak berada ditangannya lagi. Suara seorang pemuda terdengar di balik tubuh Yu Lian yang segera saja berbalik dan terkejut mendapati Kakak Tirinya itu telah memegang Cambuk Naga Api miliknya.


"Lian'er, Ambilah Cambuk mu dan kembalilah ke Benteng, biar aku yang mengurus Kakek peot itu."


Selepas berkata demikian, Yao Chan mengulurkan cambuk tersebut ke arah Yu Lian yang segera meraih dan memasukan Cambuk Naga Api ke Dalam gelang Ruang Dimensinya.


Yao Chan menatap tajam ke arah Kakek bertubuh besar dan tinggi itu, ia tersenyum tipis saat melihat Kakek berusia dua ratus tahun itu, tengah memandangnya dengan tatapan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.


Luo San yang dipenuhi dengan dendam dan rasa amarah karena kematian Liang Hu itu menjadi gentar saat dirinya tidak bisa mengukur kekuatan pemuda yang telah membunuh muridnya itu.


Namun saat teringat bahwa seorang Kultivator dapat memiliki sebuah teknik tinggi untuk menyembunyikan aura kekuatannya, membuat nyalinya Luo San yang semula menciut kini terlihat menjadi garang kembali.


"Bocah, jika aku tidak tidak salah, kau telah membunuh murid ku Liang Hu, benar bukan?"


Yao Chan tersenyum tipis walau berkata demikian, sebenarnya kakek itu sedang berusaha mencari celah untuk menyerangnya secara tiba-tiba.


Terbersit sebuah ide di kepala Yao Chan untuk memancing kemarahan Kakek itu, agar mengerahkan kekuatan sesungguhnya yang dimilikinya.


"Kakek, jika aku tidak salah, aku telah membunuh murid mu Liang Hu, benar bukan?"


Luo San terdiam.sejenak sebelum menyadari pemuda itu sedang meledeknya menggunakan kata-kata yang ia ucapkan sebelumnya.


Kurang dari sedetik kemudian, ia telah melesat hendak menampar mulut Yao Chan dengan gerakan terdekat yang ia miliki.


Namun matanya melotot lebar saat menyadari tangganya hanya menampar ruang hampa, ia terkejut saat mendapati Yao Chan telah berada dibelakang tubuhnya.


Luo San pun berbalik dan ia hanya melihat wajah Yao Chan yang tersenyum tipis, hanya berjarak dua jengkal saja dari wajahnya.


CTAASS


ARRRGGGGHHH


Luo San akan melayangkan pukulan kearah dada Yao Chan, namun ia kalah cepat dari tangan Yao Chan. Sebuah Sentilan kuat di bagian pangkal pahanya, membuat ia meraung keras dan membekap bagian itu.


"Busyet ... Besar juga. Apa itu efek lain dari penempaan Tulang dan Otot ya? Pantas saja punya Yin'er sekarang telah sama dengan Li'er. Ah akan ku minta Li'er untuk menempa tulang dan Otot Mi'er, biar tidak terjadi kecemburuan sosial diantara mereka setelah ku nikahi nanti."


Yao Chan terseny tipis saat menyadari bahwa ia telah berpikir begitu di waktu dan tempat yang salah.


Yao Chan memandang ke arah Lho San yang masih terlihat terengah-engah, karena apa yang ia lakukan.


Beberapa saat kemudian, wajah Luo San terlihat sangat kelam menandakan bahwa ia sangat murka kepada Yao Chan.


Luo San segera mengerahkan Kekuatan penuh dirinya, Energi qi yang berjumlah dua puluh lima ribu Kristal, ia alirkan ke seluruh tulang dan otot tubuhnya.


Udara berfluktuasi hebat hingga mencapai radius satu kilometer lebih. Mereka yang berada di benteng Xiangjin, harus menahan fluktuasi itu dengan tenaga dalam mereka.


Sementara Kaisar Wu Jian nyaris saja terlempar jatuh dari benteng jika saja Yu Lian tidak segera memeluknya.


Mereka menjadi begitu khawatir terhadap Yao Chan, apalagi sesaat kemudian Aura energi Iblis Hitam menerpa mereka dan terasa sama kuat dengan Energi milik Luo San. Dan mereka pun kini melihat tiga orang melayang di udara dimana Yao Chan berada ditengah-tengahnya.


*****