Pendekar Tiga Dunia

Pendekar Tiga Dunia
107: Mendatangi Markas Rubah Hitam


Panglima Iblis Ren Mo dan Iblis Merah mengerutkan dahinya melihat yang terjadi dengan Iblis Hitam.


"Iblis Hitam apa yang terjadi dengan mu?"


Iblis Hitam terus meraung seraya memegangi kepalanya, ia tidak menghiraukan pertanyaan Panglima Iblis Ren Mo. Beberapa saat kemudian ia terlihat terengah-engah. Namun tidak lagi memegangi kepalanya seperti tadi.


"Baiklah-baiklah akan ku turuti kemauan mu, berhentilah memberontak! aku belum selesai dengan tubuhmu ini!"


Iblis Hitam terlihat seperti sedang berbicara sendiri. Namun sebenarnya ia sedang berbincang dengan Song He dalam pikirannya.


"Pergilah kalian berdua sebelum aku berubah pikiran. Orang yang memiliki tubuh ini tidak menginginkan kalian mati, cepat pergi!"


Iblis Hitam berteriak dengan amarah yang ia tahan. Dirinya begitu kesal terhadap Song He yang mencoba mengambil alih tubuhnya itu.


Entah apa sebabnya, Iblis Hitam merasa kesulitan menahan Song He yang saat itu berusaha mengambil alih kembali kesadaran atas tubuhnya itu.


Menyadari bahwa kekuatan mereka berdua tidak mampu menghadapi ketiga Iblis dihadapannya, Xun Chang dan Gui Han pun memutuskan untuk pergi sesuai dengan keinginan Song He.


Keduanya melesat dan melayang ke arah barat, menuju Kekaisaran Wu. Gui Han menyadari kedamaian kedua kekaisaran akan berubah menjadi kekacauan yang ia sendiri tak sanggup untuk membayangkannya.


Kedatangan tiga bangsa Iblis yang ia lihat dengan matanya sendiri itu, menjadi sebuah tanda bahwa kekacauan telah dimulai.


Sementara itu Iblis Hitam yang merasuki tubuh Song He terlihat sudah mulai tenang. terlihat sesekali ia menggerutu. Hal itu membuat Iblis Merah dan Iblis Ren Mo penasaran dengan apa sebenarnya yang terjadi.


"Iblis Hitam apa yang terjadi kepadamu? Kenapa kau membiarkan mereka pergi?"


Iblis Merah tak dapat lagi menahan penasarannya.


"Pemilik tubuh ini memiliki harga diri yang sangat tinggi, ambisi kejahatan di hatinya terlalu besar. Dengan begitu aku tak bisa mengendalikan tubuh ini sepenuhnya seperti yang kalian lakukan pada tubuh mereka."


Iblis merah dan Iblis Ren Mo terdiam heran mendengar penjelasan tersebut. Merasa tak ada penjelasan lain yang lebih logis, keduanya pun menganggukkan kepalanya.


"Sekarang kita lebih baik mencari Iblis Kuning, aku merasa ia telah memiliki wadah yang cocok dengannya."


Iblis Merah dan Iblis Ren Mo menyetujui rencana tersebut. Ketiganya pun segera mengembalikan kesadaran ketiga tubuh manusia tersebut kepada pemiliknya.


***


Yao Chan bersama Yu Lian dan Zhu Yin menginap semalam di kota Nanjing. Walikota Hung Lie berterimakasih kepada Yao Chan karena telah membebaskan dirinya dari Rubah Hitam.


Walikota Hung Lie menjamu mereka berdua, hatinya merasa tenang karena Yao Chan berencana membasmi kelompok tersebut sampai ke akar-akarnya.


Pagi hari kemudian Yao Chan bersama Zhu Yin dan Yu Lian melanjutkan perjalanannya menuju pegunungan Huashan. Mereka bertiga menggebrak kudanya dengan kecepatan penuh.


Saat menjelang tengah hari, ketiganya telah sampai di tempat yang mereka tuju. Mereka menjadi waspada ketika merasakan beberapa pergerakan tersembunyi disekitar mereka.


Ketiganya tiba pada sebuah lembah dimana terlihat sebuah pemukiman yang lokasinya cukup tersembunyi. Saat hendak memasuki lembah tersebut. Belasan orang bermunculan dari dua sisi jalan ke pemukiman itu.


"Berhenti! siapa kalian? dan apa tujuan kalian?"


Salah seorang diantaranya maju dan menghadang mereka bertiga.


Yao Chan tertawa kecil melihat raut wajah mereka yang menghadang dirinya itu. Mereka terkejut mendengar seorang pemuda berani berkata demikian kepada ketua mereka.


"Lancang! akan kusobek mulut mu!?"


Mereka baru menyadari beberapa saat maksud ucapan Yao Chan yang ternyata ingin membunuh ketua mereka. Kemarahan terlihat jelas di wajah mereka.


Lelaki yang baru berbicara itu, segera melesat kearah Yao Chan. Ia melepaskan tendangan kearah kepala Yao Chan. Dengan mudah Yao Chan menangkis tendangan itu, bahkan dengan cepat Yao Chan memberikan tendangan balasan yang sangat cepat.


Tubuh lelaki tersebut terhempas belasan meter dengan beberapa tulangnya yang patah. Rekan-rekan mereka terlihat terkejut melihat kemampuan yang Yao Chan tunjukan.


Mereka segera bergerak bersamaan mengeroyok Yao Chan yang kini telah berdiri diatas kudanya setelah menendang lelaki yang menyerangnya tadi.


Melihat Yao Chan akan diserang oleh banyak orang, Zhu Yin dan Yu Lian pun tak ingin tinggal diam. Mereka bergerak menghadang setelah mengeluarkan cambuk dan pedang masing-masing.


Pertempuran kecil pun terjadi di jalan masuk ke pemukiman kelompok Rubah Hitam itu. Sesaat kemudian puluhan orang berdatangan ke arena pertempuran tersebut.


Melihat gerakan yang ditunjukan oleh mereka yang baru saja datang, Yao Chan menyadari bahwa mereka adalah para pembunuh yang merupakan anggota utama kelompok Rubah Hitam.


Sementara itu Zhu Yin dan Yu Lian telah berhasil membunuh belasan orang yang pertama kali mereka temui.


Menyadari puluhan orang berdatangan dan memiliki kemampuan jauh lebih tinggi dari yang telah mereka bunuh, Zhu Yin dan Yu Lian pun segera mengerahkan tujuh puluh persen tenaga dalam ke tubuh mereka.


Aura Pendekar Suci yang keluar dari tubuh kedua gadis cantik itu, membuat para anggota Rubah Hitam yang menghadang menelan ludahnya.


Tidak menduga hari ini mereka melihat dua orang gadis berusia belasan tahun telah memiliki kemampuan yang begitu tinggi. Kemampuan yang seharusnya dicapai oleh mereka yang telah puluhan tahun berlatih.


Mereka memandangi mayat rekan-rekan mereka yang tergeletak yang sebagian diantaranya terlihat hangus akibat terkena cambukan.


"Siapa kalian!? Mengapa kalian mengacau di tempat kami?"


Sebuah Suara dari udara terdengar menggelegar. Suara yang mengandung tenaga dalam tinggi itu berasal dari sosok sepuh yang terlihat sedang melayang dan menatap marah kepada mereka bertiga.


Yao Chan yang telah menghisap ingatan Tao Yan, mengenali Kakek sepuh yang berada dua puluh meter dari tanah itu sebagai Feng Hui, ketua kelompok pembunuh Rubah Hitam.


Yao Chan segera melompat ke udara dan berhenti sepuluh meter dihadapan Feng Hui. Mata Feng Hui melebar saat mendapati Yao Chan mampu melayang dengan baik di hadapannya.


Akhirnya Feng Hui pun menyadari bahwa Yao Chan adalah sosok pemuda yang telah menggagalkan dan membunuh enam anggota terkuatnya di kota Wu Chang An beberapa waktu lalu.


"Akhirnya kau muncul juga Kakek bau tanah Feng Hui ... hehehehe."


Feng Hui terkejut mendengar perkataan pemuda belasan tahun dihadapannya. Ia pun memahami bahwa Yao Chan telah memaksa salah satu dari anak buahnya, untuk membocorkan rahasia kelompok mereka.


"Siapa kau anak muda? darimana kau mengetahui namaku? Berani sekali kau mengacau di markas Rubah Hitam!"


Yao Chan tersenyum mendengar pertanyaan Feng Hui, ia pun menjelaskan dengan singkat sebab dan tujuannya mendatangi Markas Rubah Hitam.


Jawaban Yao Chan membuat Feng Hui naik pitam. Ia menggeram marah dan mengerahkan sejumlah besar tenaga dalam ke seluruh tubuhnya.


*****