Pendekar Tiga Dunia

Pendekar Tiga Dunia
144: Siluman Penguasa Danau


Zzzztttarrrrrrrr


Peri Hitam terlempar ke udara akibat pancaran listrik bertegangan tinggi yang dikeluarkan oleh sosok Siluman yang bertubuh seratus kali lipat dari ukuran normalnya itu.


"Peri Hitam, apa yang terjadi denganmu?!"


Iblis Hitam segera melesat menangkap tubuh Peri Hitam yang ternyata sudah tidak sadarkan diri. Terlihat tubuhnya memucat akibat serangan Siluman Penguasa Danau itu


Kemarahan seketika memenuhi benak Iblis Hitam setelah memeriksa kondisi tubuh Matriak Bunga Hitam yang baru saja dirasuki oleh kekasihnya.


Ketiga Iblis lainnya segera bersiaga dengan mengerahkan kekuatan masing-masing sementara itu siluman singa yang kini berujud sebesar kucing menggeram merasakan adanya ancaman dari dalam danau.


"Danau ini ternyata di jaga oleh seekor siluman yang sangat kuat. Serangannya memiliki elemen listrik. Pantas saja Aura Iblis Hijau melemah."


Iblis Hitam terlihat membopong tubuh Matriak Bunga Hitam setelah ia selesai menyalurkan hawa tenaga dalam ke tubuh Ketua Sekte Bunga Hitam tersebut.


Ketiga Iblis lain terkejut mendengar hal te sebut. Listrik adalah hal yang paling membahayakan bagi Bangsa Iblis dan Bangsa Peri.


Menemukan mereka menghadapi lawan yang memiliki kekuatan Listrik, rasa gentar pun menyusup dalam hati mereka.


"Apa yang harus kita lakukan untuk mengalahkannya?"


Iblis Merah yang merasa kebingungan menyuarakan pertanyaan dalam benaknya. Namun pertanyaannya itu tidak mendapatkan jawaban karena ketiga rekannya pun sedang berpikir hal yang sama dengannya.


Setelah beberapa saat keempat Roh Bangsa Iblis dari Dunia Moxian itu terdiam mendengar Iblis Hitam menghela nafas panjang. Terlihat Ia sedang menatap tubuh Matriak Bunga Hitam dengan sedih.


"Tak ada yang bisa kita lakukan, Kekuatan siluman ini sangat berbahaya bagi roh kita maupun roh Bangsa Peri. Kita pun tidak mengetahui berwujud seperti apakah siluman itu."


Iblis Hitam kemudian melanjutkan penjelasannya. Bahwa Roh Peri Hitam saat ini sedang terluka parah dan masih belum sadarkan diri. Demikian juga dengan Matriak Bunga Hitam.


Iblis Hitam pun mengajak mereka untuk mencari tempat agar mereka semua bisa beristirahat dan mengobati tubuh Matriak Bunga Hitam terlebih dahulu.


Ketiga Iblis lainnya yang merasa sudah gentar sedari tadi segera mengiyakan ajakan Iblis Hitam tersebut.


Mereka pun melayang menjauhi Danau tersebut menuju suatu tempat yang sebelumnya mereka lihat adalah tempat yang tepat untuk mereka mengobati Peri Hitam.


Setelah melayang dua kilometer dari danau tersebut, mereka pun tiba di tepi hutan dimana terlihat sebuah dataran yang cukup luas dengan pepohonan yang tidak begitu banyak.


Setelah menapak tanah dataran tersebut, Iblis Hitam segera menurunkan Tubuh Matriak Bunga Hitam dan membuatnya dalam posisi duduk bermeditasi.


Ia pun kembali menyalurkan tenaga dalamnya melalui punggung untuk mengobati tubuh Matriak Bunga Hitam terlebih dahulu.


Selang beberapa saat kemudian, Matriak Bunga Hitam tersadar dari pingsannya membuat Iblis Hitam pun berhenti menyalurkan tenaga ke tubuhnya.


"Manusia perempuan, bagaimana kondisimu sekarang?"


"Tubuhku masih terasa kebas, Siluman Belut sialan, ia menyerang tanpa permisi terlebih dahulu."


Matriak Bunga Hitam mengumpat keras, sementara keempat Iblis itu, kini tercerahkan mendengar perempuan itu menyebutkan siluman yang menyerangnya.


"Rupanya Siluman Belut Listrik yang menguasai Danau tersebut."


Siluman Singa yang sedari tadi hanya diam saja, akhirnya mengeluarkan suara yang membuat keempat Iblis itu memandangnya dengan kesal.


"Kenapa kau tidak bilang dari tadi!"


Iblis Kuning pun menjitak kepala Siluman Singa yang membuat siluman itu menggeram marah lalu memaki-maki Iblis Kuning.


"Dasar cebol, seenaknya saja kau menjitak kepala ku, apa kau ingin ku hajar!"


"Apa katamu? Cebol? Kau salah sangka siluman bermuka jelek. Justru tubuhku yang paling tinggi semampai diantara kami bertiga."


Iblis Kuning mendengus kesal mendengar perkataan siluman Singa. Ia pun membalas penghinaan itu. Namun jawaban Siluman singa membuatnya meradang marah.


Siluman Singa tertawa puas setelah berhasil membuat wajah Iblis Kuning menjadi kelam karena menahan marah.


"Sudahlah kalian berdua, kita sedang menghadapi masalah kalian malah ribut saja."


Iblis Hitam memandang tajam secara bergantian kepada Iblis Kuning dan Siluman Singa. Pandangannya membuat kedua makhluk itu terdiam seketika.


"Siluman Singa bukankah kau Raja Hutan, kau seharunya bisa mengalahkan Siluman Belut Listrik itu bukan?"


Iblis kuning yang masih marah kepada Siluman Singa mendapatkan ide untuk membalas penghinaan Siluman tersebut.


Wajah Iblis Hitam sedikit berubah cerah saat mendengar perkataan Iblis Kuning. Ia pun mamandang Siluman Singa untuk memastikan hal tersebut.


Wajah Siluman Singa terlihat bimbang, Dalam hatinya ia memaki Iblis Kuning yang membuatnya harus menghadapi Siluman Belut Listrik itu.


"Bagaimana Siluman Singa? benarkan apa yang dikatakan Iblis Kuning itu?"


Pertanyaan Iblis Hitam membuat Siluman Singa tak memiliki alasan untuk menolaknya. Dengan enggan, ia pun menganggukan kepalanya.


"Tapi Peri itu harus mengembalikan ukuran tubuhku terlebih dahulu, jika tidak aku akan kesulitan mengalahkannya, bahkan bisa terjadi hal sebaliknya"


Iblis Hitam menghela nafas panjang, untuk mengembalikan tubuh Siluman Singa terpaksa mereka harus menunggu Peri Hitam tersadar dari pingsannya.


**


"Jadi Begitu begitu rupanya, selain untuk membuka Segel dan membebaskan Raja Iblis En Mo, Mustika Hati Iblis juga bisa membuka Dimensi antara Dunia Moxian dengan Dua Dunia lainnya."


Yao Chan berkata sambil mengelus dagunya yang tidak berjanggut itu. Ia pun menyadari bahaya besar akan terjadi jika Raja Iblis En Mo berhasil dibebaskan oleh Iblis Hitam dan teman-temannya.


"Jadi kita harus secepatnya memburu mereka untuk merebut Mustika itu, agar mereka tidak bisa kembali ke Dunia Moxian. Begitu bukan?"


Zhu Yin mengutarakan usul mengenai langkah yang akan mereka lakukan berikutnya. Xian Mey tersenyum lebar mendengarnya.


"Kita tidak harus terburu-buru, karena untuk membuat Gerbang Dimensi antar dunia dibutuhkan energi yang sangat besar. Sementara jumlah Energi Mustika Hati Iblis saat ini, sepengetahuanku l masih setengah dari jumlah total Energi yang dibutuhkan."


Xian Mey pun menjelaskan lebih lanjut bahwa mereka akan mengisi energi mustika tersebut terlebih dahulu sebelum bisa digunakan untuk membuat Gerbang Dimensi antar dunia.


Hanya saja Xian Mey tidak mengetahui dari mana dan bagaimana cara yang akan dilakukan oleh Iblis Hitam untuk memenuhi energi Mustika Hati Iblis itu.


Yao Chan menghela nafas panjang, ia tidak menduga tugasnya ternyata tak semudah seperti yang ia bayangkan sebelumnya. Kepalanya semakin sakit jika memikirkan tentang jatidirinya di masa lalu, di kehidupan sebelum kehidupan kedua ini.


"Berapakah jumlah Energi Mustika Hati Iblis itu sekarang?"


Zhu Yin kembali menyuarakan pertanyaan yang memenuhi benaknya kepada Xian Mey. Peri Legendaris Dunia Moxian itu tersenyum senang mendengar pertanyaan dari Zhu Yin.


"Kau memang gadis cerdas yang haus akan pengetahuan. Aku tidak mengerti satuan untuk yang energi yang kalian gunakan, dalam satuan yang kami gunakan, mustika itu saat ini hanya memiliki energi lima ribu Ep saja.


Yao Chan dan Zhu Yin mengerutkan dahinya mendengar satuan untuk mengukur tingkat kekuatan energi dari bangsa Peri.


"Wajah kalian sepertinya terlihat penasaran, bagaimana kalau kau tunjukan kekuatan qi mu itu, sehingga aku bisa mengukur dengan pasti perbandingan energi dunia manusia dengan dunia Iblis."


Xian Mey Meminta Yao Chan menunjukan kekuatan energi qi yang ia miliki. Yao Cham yang penasaran tentang sebesar apa kekuatannya jika menggunakan satuan energi dari bangsa peri itu.


Yao Chan mengalirkan energinya qi sebanyak Seribu Kristal. Xian Mey tersenyum tipis saat berhasil mengukur energi qi Yao Chan dengan menggunakan satuan Energi dari bangsa Peri.


"Energi yang baru kau tunjukan itu, hanya sebesar lima ratus Ep atau hanya satu persen dari kekuatan yang kau tunjukan di kehidupan pertama mu."


"APA! satu persen!?"


*******