
Setelah membuat remuk leher Ketua Sekte Tombak Api, Yao Chan dan Qing Mi segera melesat ke gerbang Utara kota Xinan.
Mereka melihat situasi sudah berada dalam kendali Ayahnya dan Zhu Yin yang dibantu oleh belasan orang yang mengenakan jubah Lembah Dewa.
Sekte Lembah Dewa memang menempatkan setidaknya dua puluh orang anggotanya untuk membantu memperkuat keamanan kota Xinan.
Mereka dipimpin oleh seorang Pendekar Raja dan semua yang berjaga adalah mereka para anggota yang memiliki kemampuan setidaknya di tingkat Pendekar Bergelar.
Yao Chan tersenyum tipis saat melihat Zhu Yin terlihat mengamuk dengan brutal menghabisi lawan-lawan yang mengepung dirinya dari berbagai arah.
Melihat itu, timbul kecemburuan di hati Qing Mi yang membuatnya segera melesat dengan cepat ke arah kerumunan orang-orang yang menyerang Zhu Yin.
Rasa cemburunya atas senyuman Yao Chan yang terlihat senang melihat Zhu Yin mengamuk dengan brutal membuat Qing Mi mengamuk lebih brutal lagi dari Zhu Yin.
Setiap lawan yang ia bunuh, mati dalam kondisi yang mengenaskan. Jika tubuhnya tidak terpotong menjadi dua bagian, pasti kepalanya yang terbelah hingga membuat gaun Qing Mi berlumuran darah dalam waktu sebentar saja.
Yu Ma yang sedang bertarung dengan Ketua Sekte Pedang Darah yang dibantu tiga orang tetuanya itu, terkesiap melihat kekejaman calon menantunya.
Walau menghadapi empat orang sekaligus, Yu Ma mampu bertarung imbang bahkan sebentar kemudian berhasil mengungguli lawannya.
Dengan mengalirkan lebih besar tenaga dalamnya, serangan Pedang Matahari ditangannya berhasil menebas putus leher salah seorang tetua Sekte Pedang Darah.
Menghadapi lawan yang kini tinggal tiga orang, Yu Ma terlihat lebih mendominasi pertarungan. Bahkan beberapa saat kemudian ia berhasil mengirim dua tetua lainnya menyebrang ke akhirat.
Ketua Sekte Pedang Darah itu melesat mundur saat menyadari suasana pertarungan telah terdengar sunyi. ia sedikit meringis menahan perih di lengannya yang sempat tergores pedang lawan.
Tubuhnya bergetar saat mendapati seluruh anggota sekte yang ia bawa, semuanya telah tewas.
Bahkan mereka banyak yang mati dengan cara mengenaskan terutama yang tadi bertarung melawan dua orang gadis.
Ia pun hanya bisa menelan ludah saat melihat di udara seorang pemuda terlihat sedang mengamati dirinya dengan tatapan dingin.
"Ayah biarkan aku melihat ingatannya, untuk mendapat informasi yang lebih banyak lagi."
Selepas berkata demikian Tubuh Yao Chan Tiba-tiba saja telah lenyap dari pandangan mereka dan muncul tepat dihadapan Ketua Sekte Pedang Darah.
Ketua Sekte tersebut terkejut bukan kepalang, namun rasa terkejutnya berubah menjadi rasa ngeri yang hebat saat menyadari bahwa tangan kanannya telah putus dan hilang bersama pedang pusakanya.
Sesaat kemudian rasa sakit terasa dilehernya yang tanpa ia ketahui telah berada dalam cengkraman Yao Chan yang membuat matanya melotot lebar.
Saat itulah Yao Chan yang telah mengalirkan energi qi nya, menggunakan jurus mata Menghisap Ingatan pada Ketua Sekte tersebut.
Wajah Yao Chan kini terlihat menyeramkan sesaat setelah selesai menghisap ingatan Ketua Sekte Pedang Darah yang tubuhnya terlihat lemas itu.
Begitu banyak kejahatan dan kekejian yang dilakukan oleh Ketua Sekte Pedang Darah itu membuat Yao Chan menjadi sangat marah dan geram.
Ia melemparkan tubuh yang telah lemas itu ke udara seolah melempar sebuah batu kecil. Tubuh Ketua Sekte Pedang Darah itu, hancur menjadi serpihan kecil saat Yao Chan menjentikan jarinya.
Semua orang terkesiap melihat kekejaman yang Yao Chan tunjukan itu, bahkan Yu Ma sedikit bergetar hatinya melihat apa yang baru saja dilakukan oleh anaknya itu.
"Chan'er Informasi apa yang kau peroleh, dan kenapa kau membunuhnya dengan cara yang sangat kejam?"
Yu Ma bertanya saat ia telah berada dua meter dari tempat Yao Chan yang berdiri. Ia masih merasa sedikit terkejut dengan kemarahan Putera sahabat karibnya itu.
Sepengetahuannya, Yao Zhi tidaklah sekejam seperti Yao Chan bahkan sahabatnya itu jauh lebih lembut dari Lin Hua sekalipun.
"Ayah ... Lelaki ini binatang berbadan manusia, ia melakukan kekejian yang menurutku hanya kematian seperti tadi yang pantas untuknya."
Jawaban Yao Chan terdengar masih menyisakan Kemarahan besar dalam dirinya, Yu Ma pun tidak melanjutkan pertanyaan mengenai kekejian yang dilakukan oleh Sosok yang menjadi lawannya tadi.
Setelah menghela nafas panjang, Yao Chan pun menjelaskan secara singkat tentang rencana Song He yang ingin membuat kekacauan di tujuh kota yang berada di bagian timur Kekaisaran Wu.
Masing-masing kota akan di bumi hanguskan oleh dua sekte sekaligus. Jumlah orang dalam setiap kelompok yang menuju kota itu, setidaknya dua hingga tiga ribu orang pendekar.
Wajah Yu Ma memucat saat Yao Chan selesai menjelaskan informasi yang ia peroleh dengan jurus mata menghisap ingatannya itu.
"Jika begitu kita harus secepatnya mendatangi kota-kota itu, tapi jumlah kita terbatas, bagaimana ini?"
Yu Ma terlihat gelisah, ia berjalan mondar-mandir dan terlihat begitu cemas. Zhu Yin dan Qing Mi yang melihat hal itu, segera mendekat dengan hati yang penasaran.
Setelah mendengar penjelasan singkat dari Yao Chan kedua gadis itu pun terlihat gelisah, keduanya memandang langit dengan dahi mengerut seolah memikirkan sesuatu yang berat.
"Aku akan menjemput yang lainnya, kita butuh setidaknya sebelas orang ditingkat pendekar Suci, karena kedua belas orang tersebut memiliki kemampuan di tingkat Pendekar Suci, bahkan dua diantaranya memiliki kekuatan yang setara dengan Kakek Dewa Obat."
Perkataan Yao Chan membuat kegelisahan di wajah ketiga orang itu menghilang seketika, wajah ketiganya kini terlihat antusias mendengar solusi yang disampaikan oleh Yao Chan.
Yao Chan berkata bahwa ia akan menjemput Kakek Qing Mi terlebih dahulu. Qing Mi terlihat senang mendengar hal itu, karena dirinya sebenarnya sedang merindukan sang Kakek yang mengasuhnya sejak ia kecil.
Yao Chan pun terlihat sedang bersiap-siap dengan jurus Berpindah Dalam Sekejapnya. Mata ketiga orang itu melotot saat melihat Yao Chan tiba-tiba menghilang begitu saja.
Sebelum menuju kota Xinan, Yao Chan telah menghisap ingatan seorang perwira yang telah mengunjungi seluruh kota yang ada di Kekaisaran Wu.
Hal itu dilakukan oleh Yao Chan agar ia bisa pergi ke kota-kota tersebut dalam sekejap saja. Dan apa yang dilakukan oleh Yao Chan itu, ternyata sangat membantu dalam situasi yang sulit ini.
Saat ketiganya sedang mengira-ngira berapa lama Yao Chan akan kembali, ketiganya dikejutkan oleh suara dari belakang mereka, Kakek yang tak lain adalah Dewa Racun Barat itu terlihat sedang memarahi Yao Chan.
"Ingat!! kau berhutang satu guci arak terbaik padaku, jika kau tidak menggantinya aku akan membuat perhitungan dengan mu!"
Qing Mi dan lainnya tentu saja heran melihat sikap Kakeknya itu yang terlihat sangat marah kepada Yao Chan.
Yao Chan kemudian membisikan sesuatu kepada Dewa Racun Barat yang membuat mata Kakek itu berbinar. Kemarahannya seketika sirna dari wajahnya.
Saat Dewa Racun barat hendak berbicara kepada Yao Chan, pemuda itu telah menghilang untuk menjemput Guo Jin dan Xin Jia yang ia ketahui telah kembali ke Sekte Lembah Dewa kemarin pagi.
Dewa Racun Barat walau terlihat kesal namun tetap menahannya. Hal itu karena ia merasa gembira mendengar perkataan Yao Chan, yang akan memberinya Ramuan obat Kuat.
Hanya Yao Chan yang mengetahui bahwa Dewa Racun Barat memiliki tiga orang istri di tiga tempat yang berada disekitar Lembah Nangxin.
Itulah sebabnya ia merasa gembira ketika Yao Chan berjanji akan memberinya Ramuan obat kuat dari Dewa Obat yang sesungguhnya yang berada di Alam Dewa.
Entah bagaimana kemarahan Dewa Obat nanti saat mengetahui bahwa ramuan itu berasal dari Dewa Obat Fu Mao, guru dari Kakak misan Yao Chan.
Sementara itu Yao Chan yang menuju Lembah Dewa memutuskan untuk menemui Guo Jin dan Nenek Xin Jia.
Berdasar ingatannya di waktu pagi seperti ini, kedua Kakek suami isteri tersebut sedang berada di belakang kediamannya sambil meminum teh.
Mata Yao Chan melebar saat muncul secara tiba-tiba dihadapan Guo Jin dan Xin Jia. Kedua tokoh tua dunia persilatan itu terlihat sedang duduk bermesraan.
Xin Jia terlihat sedang menyandarkan kepalanya di bahu Guo Jin. Keduanya duduk di lantai kayu dengan kedua kaki berada di pijakan tangga.
Guo Jin yang sangat terkejut dengan kemunculan Yao Chan yang secara tiba-tiba, sontak berdiri.
Tanpa ia sadari kepala Xin Jia yang sedang berada di bahunya jatuh ke lantai dengan suara yang cukup keras membuat isterinya itu meringis kesakitan seraya memegangi kepalanya.
"Dasar Bocah Sontoloyo!"
****
Jangan lupa Vote Mingguannya ya🙏🙏🙏