
Komandan dan para prajurit jaga, terdiam saat Yu Lian menunjukan Lencana pemberian Kaisar Wu Jian tentang identitas dirinya.
Para prajurit tersebut sudah mendapat berita bahwa Kaisar mereka telah memiliki calon permaisuri.
Namun tidak dalam dugaan mereka sekalipun, gadis yang belia yang memiliki kecantikan surgawi dihadapan mereka kini adalah sang calon permaisuri tersebut.
"Inilah alasanku menamparmu tadi, kau telah berani mengatasnamakan Kaisar atas pungutan liar ini."
Tubuh para prajurit itu pun gemetar mendapati kenyataan yang tidak terduga sama sekali oleh mereka.
"Sekarang antarkan kami menemui Walikota Hung Lie itu, kenapa ia begitu berani melakukan semua ini!."
Yao Chan memerintahkan salah seorang dari para prajurit menjadi penunjuk jalan menuju ke kediaman Walikota Nanjing.
Mereka bertiga mendapati kejanggalan ketika tiba di kediaman Walikota Hung Lie. Dua orang pria bersenjata dan berwajah seram terlihat menjaga gerbang masuk kediaman tersebut.
Prajurit tersebut segera menyampaikan kepada dua orang penjaga itu tentang tujuan Yao Chan mendatangi kediaman Walikota Hung Lie. Ia tidak menyebutkan identitas Yao Chan saat salah seorang bertanya tentang hal itu. Ia pun segera membalikan diri kearah Yao Chan.
"Tuan muda inilah kediaman Walikota Hung Lie, hamba mohon izin untuk undur diri."
Prajurit tersebut segera meminta izin dari Yao Chan dengan wajah ketakutan. Melihat hal itu Yao Chan mengerutkan dahinya. Ia meyakini ada sesuatu yang salah sedang terjadi
"Siapa kalian dan apa tujuan kalian mendatangi kediaman ini!?"
Salah seorang penjaga bertanya dengan suara keras kepada Yao Chan. Mendengar hal itu Yu Lian menjadi tersulut emosinya.
"Kalian siapa? Mengapa kalian yang menjaga kediaman Walikota? Kemana para prajurit kekaisaran?"
Kedua penjaga itu melebarkan matanya saat mendengar bentakan dari Yu Lian. Mereka seolah tak percaya jika seorang gadis cantik yang masih belia, berani bersikap demikian kepada mereka.
Belasan orang tampak keluar dari balik gerbang setelah mendengar suara keributan itu. Seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun yang sepertinya adalah pimpinan mereka, segera menanyakan kepada kedua orang yang menjaga gerbang masuk tersebut.
"Anak muda aku mewakili Walikota Hung Lie yang meminta ku untuk menanyakan apa keperluan mu ingin menemuinya?"
Pria itu berkata demikian setelah mendapat penjelasan dari kedua anak buahnya itu. Walau Ia terlihat gusar melihat keangkuhan Yao Chan yang masih berada diatas kuda saat berbicara dengan mereka, namun ia terlihat berusaha menahan amarahnya tersebut.
"Aku hanya ingin menanyakan kenapa Walikota menaikan biaya masuk kota Nanjing menjadi sepuluh kali lipat dari sebelumnya?"
Wajah pria itu berubah menjadi merah menahan amarah.
"Anak muda itu bukan urusanmu, pergilah dan jangan memasuki kota Nanjing jika kau tak bisa membayar biayanya itu!"
Bentakan dari pria itu hanya ditanggapi oleh Yao Chan dengan senyuman tipis seraya turun perlahan dari kudanya.
Yu Lian dan Zhu Yin terlihat geram mendengarnya. Apalagi Yu Lian yang merasa sudah lapar dan ingin segera mencari kedai untuk mengisi perutnya.
"Jadi siapa kalian sebenarnya? mengapa kalian menghalangiku untuk menemui Walikota?"
Yao Chan menatap dingin kearah pria yang memilik kemampuan tertinggi diantara mereka. Namun kemampuannya yang berada di tingkat pendekar Raja itu, bukan hambatan bagi Yao Chan.
"Anak muda jangan memaksa ... hek."
Pria itu tak bisa meneruskan kalimatnya karena lehernya telah berada di cengkeram tangan Yao Chan. Ia tidak melihat gerakan Yao Chan yang sangat cepat itu.
"Tataplah mataku baik-baik!"
Pria itu terbelalak saat melihat mata Yao Chan mulai bersinar lalu pandangannya menjadi sangat silau saat sinar mata pemuda dihadapannya itu menjadi sangat terang. Lalu ia pun merasakan pandangannya menjadi gelap.
Yao Chan tersenyum tipis sambil melemparkan pria tersebut kearah anak buahnya. Ia telah mengetahui siapa dalang di balik semua ini.
"Sepertinya aku memang harus menumpas habis mereka agar tidak berbuat keonaran lagi."
Setelah berpikir demikian, Yao Chan segera mengeluarkan Pedang Pelangi warisan Ayahnya. Belasan orang yang berada dihadapannya tak tinggal diam. Mereka pun mencabut senjatanya masing-masing.
"Chan Gege, cepatlah aku sudah lapar!"
Yao Chan tersenyum tipis mendengar teriakan Yu Lian. Ia pun melesat kearah mereka dengan langkah Dewa Angin.
Pria yang menjadi pimpinan kelompok itu kembali terkejut dengan gerakan yang Yao Chan tunjukan, namun keterkejutannya tak berlangsung lama, karena sesat kemudian pandangannya menjadi gelap untuk selamanya.
Belasan orang lain sangat terkejut melihat pemimpin mereka tewas dengan kepala yang terpisah dari tubuhnya. Wajah mereka memucat saat menyadari Yao Chan telah melesat kearah mereka dengan kecepatan yang tidak biasa.
Jerit ketakutan dan kematian silih berganti menggema di halaman depan Kediaman Walikota. Beberapa orang mencoba melarikan diri, namun Yao Chan tidak membiarkannya begitu saja.
Dalam waktu kurang dari dua menit, belasan orang itu telah tewas semua dengan leher yang nyaris putus, beberapa diantaranya bahkan tewas dengan kepala terpisah dari tubuhnya.
"Keluarlah ... jangan takut padaku karena kau tidak bersalah Walikota Hung Lie."
Yao Chan berkata dengan setengah berteriak kearah pintu kediaman Walikota yang sedikit terbuka itu. Ia mengetahui beberapa pasang mata, melihat aksinya membantai belasan orang yang merupakan anak buah dari kelompok Rubah Hitam tersebut.
***
Xun Chang dan Gui Han terkejut mendengar perkataan Iblis Hitam yang secara tersirat akan membunuh mereka berdua. Xun Chang sedikit banyaknya merasa bersalah atas situasi yang dihadapi oleh ia dan kakak seperguruannya itu.
"Kakak maafkan aku yang terlambat menyadari kebenaran kata-kata mu dulu. Pergilah ... aku akan menahan mereka, selamatkan dirimu."
Gui Han tersenyum tipis mendengar perkataan adik seperguruannya itu.
"Tidak adik Chang, kau pergilah terlebih dahulu, aku akan menahan mereka. pergilah ke kaisaran Wu dan carilah pemuda yang telah menyegel salah satu diantara mereka. Beritahu situasi ini kepadanya. Kau telah melihat pemuda itu, sedangkan aku belum. akan mudah bagimu mencarinya."
"Tidak kakak, izinkan aku menebus semua kesalahan ku. Engkau pergilah dan carilah pemuda yang bernama Yao Chan itu. Aku mohon pergilah dan biarkan aku menebus kesalahanku selama ini."
Gui Han menghela nafas panjang, ia sangat mengenali adik seperguruannya yang keras kepala itu. Ia menyayangi sang adik seperguruannya seolah Xun Chan adalah adiknya sendiri.
Mendapati sang adik tidak bisa ia bujuk lagi, Gui Han pun akhirnya memutuskan untuk mengalah.
"Jika memang sudah bulat keputusanmu, maka aku akan pergi seperti keinginanmu dan akan kucari pemuda itu untuk membantuku membalas dendam atas kematian mu nanti."
Suara Gui Han terdengar bergetar, dengan terpaksa ia menuruti keinginan sang adik yang ingin bertarung dengan mereka semua untuk membuat celah agar dirinya bisa pergi.
"Kalian pikir bisa lolos begitu saja dari tanganku? Dasar manusia-manusia bodoh."
Iblis Hitam kembali menyeringai, ia bersiap hendak menyerang Xun Chang dan Gui Han, Namun sesuatu terjadi pada dirinya, membuatnya meraung memegang kepalanya.
*****
Mohon Like Dan Vote nya bagi Chapter yang belum di Like. Karena Like dan Vote adalah VITAMIN bagi Author. Terimakasih.🙏🙏🙏