Pendekar Tiga Dunia

Pendekar Tiga Dunia
283: Membalikan Situasi


Serigala Angin dan Serigala Petir segera mengubah wujud mereka dari setinggi satu meter menjadi setinggi tiga puluh meter.


Hal tersebut, tentu saja membuat pasukan Aliansi Klan Aliran Hitam bergidik ngeri. Apalagi Aura kedua Hewan Buas tersebut berada di level lima Pendekar Dewa.


Serigala Angin segera melesat menerjang pasukan Aliansi Aliran Hitam dengan sangat cepat. Dalam sekejap puluhan orang menjadi sarapan paginya.


Sementara Serigala Petir segera melepaskan petirnya ke tempat berbeda sejauh seratus meter dari Serigala Angin.


Petir yang sangat besar itu segera saja menghantam ratusan orang yang tewas seketika dengan tubuh yang hangus.


Aroma daging terbakar hangus pun segera memenuhi udara sesaat kemudian. Serigala Petir melesat dan menyantap tubuh gosong yang berjatuhan itu secara cepat.


Jerit kematian dan ketakutan berbaur menjadi satu saat kedua Hewan Buas raksasa itu mulai menyerang.


Pasukan Aliansi Klan Aliran Hitam, menjadi tercerai berai berusaha meninggalkan tempat tersebut.


“Ketua Zhao Segera bunuh Serigala itu!” Lin Shan berteriak memberi arahan dalam situasi yang semakin kacau itu.


Zhao Wu pun segera melesat setelah mengaliri Golok Pusakanya dengan Energi. Percikan Petir segera keluar dari bilah golok besarnya.


Gong Li dengan kecepatan yang jauh lebih tinggi, menghadang Zhao Wu dan segera menebaskan Pedang Gadis Suci.


Zhao Wu yang terkejut segera menangkis tebasan ke arah lehernya itu dengan Golok Pusakanya.


TRAAANG


Golok di tangan Zhao Wu terlepas dari genggaman tangannya, saat beradu senjata dengan Gong Li.


Hal itu membuatnya terpana dan harus kehilangan nyawa saat tebasan cepat dari Gong Li memenggal kepalanya tanpa sempat Ia hindari.


Gong Li segera menyambar Golok Petir lalu menyimpannya ke dalam Gelang Ruang Dimensinya.


Semua mata membelalak melihat kekuatan yang ditunjukan oleh Gong Li. Tubuh Jing Mui seketika bergetar karena merasa jerih dengan kekejaman Gong Li.


“Habisi mereka Semua Mey’er!”


Gong Li berteriak kepada Xian Mey yang segera melesat ke arah Jing Mui. Namun Lin Shan menghadangnya dengan Golok Iblis Petir yang telah Ia aliri energi itu.


TRAAAKKK


Golok Iblis Petir segera beradu dengan Tongkat Sakti Giok Merah yang telah di aliri energi oleh Xian Mey. Jelas sekali perbedaan kekuatan diantara keduanya.


Golok di tangan Lin Shan segera terpental bersama dengan tubuhnya, beberapa dari tempatnya semula.


“Apa?! Ia mampu bergerak secepat ini dengan tubuh sebesar itu?”


Lin Shan berkata demikian dalam benaknya saat melihat Xian Mey kembali melesat cepat kearahnya.


Keduanya pun bertarung dengan sengit untuk beberapa saat, namun perbedaan kekuatan yang cukup besar membuat Lin Shan terdesak dengan cepat.


Ia ingin meminta bantuan Gao Shen namun Ia mendapati rekannya itu, tengah terdesak hebat oleh Gong Xhun.


Sementara Jing Mui harus berjibaku menghadapi kemarahan Ratu Es Abadi yang terlihat sangat kesal kepadanya.


Pedang Es Abadi di tangan Nenek Ji Xia itu kini mengeluarkan hawa dingin yang sangat kuat. Mereka yang bertarung di dekatnya, segera menjauhi keduanya.


Pedang Hitam di tangan Jing Mui terus berkelebat menahan serangan Pedang Es Abadi yang selalu mengincar titik yang mematikan di tubuhnya.


“Nenek Peot kau benar-benar ingin mati rupanya!” Jing Mui berteriak marah karena terus didesak mundur oleh serangan Ratu Es Abadi.


Ia pun segera mengeluarkan jurus terhebat yang Ia miliki, Pedang Hitam Membakar Jiwa. Jurus yang setengah terlarang untuk digunakan.


Hal itu karena dapat membahayakan dirinya sendiri jika Ia tidak berhati-hati dalam menggunakannya. Sesaat kemudian Pertarungan keduanya menjadi seimbang untuk sesaat.


Aura Dingin kembali menekan tubuh Jing Mui, bahkan Api Hitam yang berkobar dari bilah pedangnya, menjadi redup saat kedua pedang berbenturan.


Wajah Jing Mui berubah pucat saat menyadari senyum di bibir Ratu Es Abadi. Tiba-tiba saja serangan pedang Ratu Es tersebut berubah menjadi sangat cepat.


Pipi Jing Mui tergores saat Ia terlambat menepis dan menghindari serangan tusukan ke lehernya.


Hal itu membuatnya marah dan seketika membalas menyerang dengan memba** buta. Namun gerakan Jing Mui terhenti saat merasakan hawa dingin merasuki perutnya.


“Kau …!!!”


Hanya kata itu yang terucap dari mulut Jing Mui saat Ia menyadari perutnya telah tertembus oleh pedang di tangan Ratu Es Abadi.


Tubuh Jing Mui seketika membeku. Dari bola matanya yang melotot lebar, terlihat Ia tidak percaya dirinya mati semudah itu.


“Mui’er!!!”


Lin Shan berteriak keras saat melihat tubuh Jing Mui yang membeku, meluncur deras jatuh ke tanah.


Karena perhatiannya terpecah, Lin Shan harus rela jika punggungnya terkena pukulan keras dari tongkat Giok Sakti di tangan Xian Mey.


Tubuhnya meluncur jatuh setelah Ia memuntahkan darah segar dari mulutnya. Punggungnya terasa sesak karena hantaman tongkat di tangan Xian Mey/


“Mey’er cepat habisi dia sebelum Iblis Sejati datang menolongnya!!”


Gong Li yang sedang melihat pertarungan kakaknya, berteriak kepada Xian Mey setelah menoleh mendengar jeritan Lin Shan tadi.


Setelah mendengar teriakan itu, Xian Mey pun segera melesat dengan kecepatan penuhnya.


Lin Shan yang belum menguasai keadaan tubuhnya, terkejut bukan kepalang saat Ia melihat Tubuh Besar Xian Mey bergerak melewati dirinya dengan sangat cepat.


Ia pun segera bersalto semampu yang Ia bisa untuk meredam laju jatuh tubuhnya. Namun Hal itu sudah terlambat Ia lakukan.


PRAAAK


Tongkat Sakti Giok Merah di tangan Xian Mey menghantam kepalanya dengan telak hingga membuat seluruh isi kepalanya terburai jatuh bersama tubuhnya.


Xian Mey menghela nafas panjang saat melihat Tubuh Lin Shan jatuh tak jauh dari tubuh Jing Mui.


Ia pun melesat dan berdiri melayang di samping Gong Li yang masih mengamati situasi pertarungan di sekitar mereka.


“Li Jiejie … Mengapa Kau tak membantu Serigala Angin dan Serigala Petir?”


Xian Mey bertanya saat melihat Serigala Angin dan Serigala Petir beraliran kesana kemari di udara.


“Mereka sedang bersenang-senang. Jika mau, mereka mampu menghabisi ribuan orang tadi dalam sekejap saja.”


Xian Mey menganggukkan kepalanya setelah Ia melihat bahwa, tidak satupun dari pasukan musuh yang berhasil melarikan diri dari tempat tersebut.


Jumlah mereka pun telah berkurang banyak dari sebelumnya. Setidaknya seribu orang lagi yang kini tersisa menunggu kematian mereka di mulut kedua serigala tersebut.


“Li Jiejie dimanakah Chan Gege dan Dewa Naga sekarang berada? Apakah mereka belum memulai pertarungannya?”


Xian Mey bertanya seraya memandang ke udara di atas mereka.


“Entahlah, Aku juga tidak mera …”


Ucapan Gong Li terputus dan Ia sontak melihat ke arah udara dimana Aura Energi yang sangat besar tiba-tiba terasa olehnya.


Xian Mey yang merasakan juga aura Energi tersebut segera melebarkan matanya.


*****