Pendekar Tiga Dunia

Pendekar Tiga Dunia
279: Tentang Pendekar Dewa Sejati


Selama tujuh malam berturut-turut, Keheningan malam di Alam Kristal Dewa terganggu oleh dua teriakan keras.


Teriakan karena terkejut dan teriakan karena kesakitan. Hanya saja di malam ke enam terjadi jeritan satu kali yang seharusnya suara jeritan itu tidak lagi terdengar.


Hal itu membuat Gong Li bertanya kepada Xian Mey, apa yang membuatnya menjerit semalam. Xian Mey tidak memberinya jawaban, hanya tertawa yang membuat Gong Li penasaran dan ingin siang segera berganti malam.


Saat malam akhirnya Gong Li mengetahui apa yang menyebabkan Xian Mey menjerit. Awalnya Ia bertekad untuk tidak menjerit seperti yang Xian Mey lakukan.


Hanya saja Ramuan Yang di sita Gong Li dari Tabib Xian Niu terlalu hebat khasiatnya, membuatnya harus gagal dalam tekadnya tersebut.


Ia pun menjerit saat apa yang harus terjadi, terjadilah. Yang Gong Li tahu dari Yao Chan adalah karena ramuan yang Ia sita dari tabib Xian Niu tersebut.


Mulanya Gong Li ingin memarahi Tabib Tua Dunia Moxian itu. Namun saat merasakan kebuasan Yao Chan dan dirinya sendiri, Ia pun memutuskan untuk memesan Ramuan itu dalam jumlah besar untuk mereka bertujuh.


***


“Mengapa Kau datang secepat ini ? Apa kau telah selesai dengan tugas bersama ke tujuh isterimu itu?”


Dewa Naga bertanya kepada Yao Chan, saat Yao Chan memasuki Alam Penempaan Dewa.


Awalnya Yao Chan ingin memberi hormat kepada Dewa Naga. Namun Dewa Naga menahan dengan energinya. Hal itu karena kedudukan mereka saat ini hampir sama.


Saat Yao Chan memasuki Alam Penempaan Dewa, maka secara tidak resmi, Yao Chan telah menjadi Dewa. Karena hanya mereka yang menjadi Dewa lah yang bisa memasuki Alam tersebut.


Yao Chan hanya terdiam mendengar keterangan Dewa Naga. Hal itu masih belum bisa Ia terima, mengingat Ia telah terbiasa menghormati Dewa Naga.


“Kenapa jalanmu seperti itu?” Dewa Naga keheranan melihat cara jalan Yao Chan. ”Apa lututmu mengalami cedera?”


Yao Chan hanya tersenyum tipis mendengar perkataan Dewa Naga yang sepertinya telah menganggap dirinya sebagai teman.


“Gravitasi di alam ini terlalu berat untukku, jadi ya begini jalanku.” Yao Chan berbohong kepada Dewa Naga.


Ia tidak mungkin mengatakan bahwa Ia begitu kelelahan setelah selama satu minggu penuh menjalankan tugasnya sebagai suami dari tujuh perempuan.


Dewa Naga terkekeh mendengar perkataan bohong Yao Chan. Namun Ia memilih diam saja. Lalu Ia mengatakan bahwa gravitasi di Alam ini adalah lima ratus kali lipat dari gravitasi di tiga Dunia lainnya.


Yao Chan terkejut mendengarnya. Walau Ia telah mengerahkan energi sebanyak delapan puluh persen, namun Ia masih kesulitan untuk menguasai dirinya.


Dewa Naga lalu mengeluarkan tiga buah yang bernama Buah Abadi Dewa. Yao Chan lalu memakan satu buah itu, namun Ia terkesiap saat merasakan energi yang terkandung dalam buah itu.


Yao Chan segera duduk bermeditasi untuk menyerap khasiat buah tersebut. Setelah tiga jam, barulah Yao Chan berhasil menyerap seluruh energi dalam buah tersebut.


Yao Chan lalu berdiri mencoba merasakan kekuatan barunya. Setidaknya lima puluh Ribu Kristal qi berhasil Ia bentuk dalam waktu tiga jam tersebut.


“Apakah Kekuatanku telah memasuki Tingkat Pendekar Dewa Sejati?”


Dewa Naga tertawa mendengar pertanyaan Yao Chan.


“Kau belum setengah jalan menuju tingkat itu, setidaknya dalam waktu lima bulan kau baru bisa mencapainya.”


Yao Chan terpana dengan penjelasan dewa Naga. Ia Ingin tak percaya mendengarnya.


Dengan jumlah energi Qi nya yang hampir mencapai Tiga Ratus Ribu Kristal, Ia belum setengah jalan mencapai tingkat Pendekar Dewa Sejati.


“Berapa Kristal Energi yang harus ku miliki agar bisa mencapai tingkatan tersebut?”


“Setidaknya Kau harus memiliki satu juta Kristal Qi di dalam tubuhmu. Selain itu kau harus menguasai beberapa teknik tingkat Dewa.”


“Apakah Dewa tertinggi telah memberimu, Mutiara Dewa?”


Yao Chan menggelengkan kepalanya. Ia lalu menjelaskan bahwa ketujuh isterinya telah menelan Mutiara Dewi yang membuat tubuh mereka menjadi abadi.


Dewa Naga tertawa mendengar hal itu, Yao Chan pun mengerutkan dahinya, menatap heran kepada Dewa Naga.


“Ada Khasiat lainnya dari Mutiara Dewa ataupun Mutiara Dewi. Apakah kau tidak menemukan keganjilan saat berhubungan dengan isterimu?”


Pertanyaan Dewa Naga membuat mata Yao Chan melotot lebar. Ia baru teringat jika ketujuh isterinya, tidak mau berhenti sebelum dirinya terkulai lemas.


“Jadi mereka memiliki tubuh yang tidak pernah merasakan lelah?”


“Benar! Karena Mutiara itu akan selalu mendaur ulang energi mu dalam waktu kurang dari satu jam. Kurasa Ke tujuh Isterimu itu, kini telah berada di puncak Pendekar Dewa.”


Yao Chan terkejut mendengar hal itu, Ia memang merasakan perubahan energi dari ketujuh isterinya tersebut.


Namun Ia tidak melihat tingkat Kultivasi mereka, Ia hanya berpikir jika itu adalah energi Mutiara yang berada di tubuh mereka.


“Jadi Aku akan mencapai Tingkat Pendekar Dewa Sejati setelah menelan Mutiara Dewa?”


“Tidak … Kau akan menjadi Pendekar Dewa Abadi jika menelan mutiara itu saat kau telah mencapai Tingkat Pendekar Dewa Sejati.”


Dewa Naga lalu menjelaskan lebih lanjut. Yao Chan harus mencapai Kekuatan Pendekar Dewa Sejati dengan usahanya sendiri.


Hal itu hanya bisa dilakukan selama Yao Chan Rutin memakan Buah Abadi dan bermeditasi setelahnya.


Setidaknya dibutuhkan seratus Buah Abadi, karena setiap kali memakan buah tersebut, khasiat yang dapat diserap semakin lama semakin menurun.


Dewa Naga juga menjelaskan bahwa Yao Chan harus meminum air Hijau yang digunakan untuk merendam Mustika Tulang Keabadian Dewa.


Dewa Naga memunculkan Sebuah Tulang berwarna Keemasan yang bercahaya menyilaukan mata.


“Masukanlah Tulang ini ke dalam Guci Dewa Air. Lalu setelah tujuh hari, mulailah meminumnya secara rutin selama tiga bulan. Tulang dan ototmu akan menjadi sangat kuat nantinya.”


Yao Chan segera meraih tulang tersebut, Ia merasakan betapa besarnya energi yang terkandung di dalam Mustika Tulang Keabadian Dewa tersebut.


****


Dua minggu pun telah berlalu sejak Yao Chan memasuki Alam Kristal Dewa yang berbeda dimensinya. Satu Bulan dalam Dunia Biasa akan sama dengan satu tahun dalam Alam Kristal Dewa.


Sementara di Dunia Kultiva terjadi kekacauan besar-besaran. Satu minggu setelah Yao Chan berada Di Krista Dewa, Aliansi Aliran Hitam di bawah Pimpinan Lin Shan mulai menyerang Aliansi Aliran Putih yang dipimpin oleh Ketua Zhou Kin.


Kekacauan bermula dari Benua Awan Hitam, hanya saja Aliansi Aliran Hitam gagal menghabisi Aliansi Aliran putih yang bertahan di Klan Naga Bumi.


Klan Naga Bumi telah dibuatkan perisai pelindung oleh Yao Chan. Seluruh Aliansi Aliran Putih pun berkumpul di sana untuk melindungi dirinya.


Lin Shan menjadi geram setelah hampir satu minggu Ia belum berhasil memasuki Klan Naga Bumi karena tidak bisa menghancurkan Perisai Pelindung yang Yao Chan buat.


Lalu Ia pun memutuskan untuk menuju ke Benua Awan Biru untuk menghancurkan Aliansi Aliran Putih yang bermarkas di Paviliun Harta Kultiva.


Setidaknya dalam waktu tiga hari ke depan, mereka akan tiba di Klan Bunga Sedap Malam yang merupakan Markas Utama Aliansi Aliran Hitam di Benua Awan Biru.


*****