Pendekar Tiga Dunia

Pendekar Tiga Dunia
150: Rencana Menyerang Lembah Dewa


Iblis Ren Mo yang merasuki tubuh Huang Lun menjadi gembira saat mendapati adiknya Ren Xian berada dalam tubuh Jiao Xin.


Saat pertama kali menginjakkan kaki di Gerbang Masuk Sekte Golok Iblis, Iblis Ren Mo sudah merasakan adanya aura sang adik. Hanya saja aura yang berasal dari bagian dalam sekte itu, terasa sama olehnya.


Saat memasuki ruangan, ia pun menjadi yakin bahwa aura itu adalah Aura Ren Xian saat dirinya melihat senjata sang adik yang sepanjang satu meter dan lebar dua puluh Centimeter tergeletak diatas meja di samping Jiao Xin. Senjata yang bernama Golok Iblis Penghancur.


"Kakak ... Akhirnya aku menemukanmu."


Suara Ren Xian yang terdengar serak-serak bergetar membuat Wang Chun kebingungan atas perubahan suara Sang Guru.


Ketua Sekte Golok Iblis itu, segera menjauh dari sang Guru saat menyadari bahwa gurunya tersebut telah dirasuki oleh roh Golok Iblis.


"Adik ... Bagaimana bisa kau berada disini? Bagaimana kabar Guru?"


Iblis Ren Mo melemparkan pertanyaannya tanpa menyadari bahwa Iblis Hitam memandanginya dengan kesal.


Awalnya Iblis Hitam ingin memberi pelajaran kepada Jiao Xin, walau ia merasakan adanya aura Iblis lain berada di golok besar di dekat Kakek Tua itu.


Selama di Dunia Moxian, Iblis Hitam belum pernah bertemu dengan Ren Xian, ia hanya mendengar nama sosok iblis tersebut.


Hal itu karena Ia lebih mengenal sosok Guru mereka berdua, yang mendapat julukan Iblis Penghancur yang memiliki kekuatan satu tingkat di bawah Raja Iblis En Mo.


"Kakak ... Guru baik-baik saja. Bahkan Gurulah yang mengirim Aku ke dunia manusia ini untuk mencari mu. Guru dengan bersusah payah berhasil membuka Gerbang Dimensi Antar Dunia dengan kekuatannya sendiri.


"APA !!!!"


Kelima Makhluk dari Dunia Moxian itu, berteriak dengan keras karena rasa terkejut mereka yang terlalu besar.


Membuka Gerbang Dimensi Antar Dunia bukanlah hal mudah di dunia Moxian. Hanya Raja Iblis En Mo dan Ratu Peri saja yang bisa membukanya. Itupun dibantu oleh Kekuatan Pusaka mereka masing-masing.


Raja Iblis En Mo memiliki Pusaka bernama Mustika Hati Iblis, sementara Ratu Peri Moxian memiliki Pusaka bernama Tongkat Batu Langit.


Kedua Senjata Pusaka itu pun tidak bisa di gunakan setiap saat untuk membuka Gerbang Dimensi Antar Dunia. Karena di butuhkan energi yang sangat besar untuk bisa membuat Gerbang Dimensi itu.


"Benarkah itu? ... Bagaimana bisa guru sekuat itu."


Iblis Ren Mo berkata seolah bertanya pada dirinya sendiri.


"Benar Kak ... Guru Mengatakan padaku, bahwa Kekuatannya sekarang lebih dari dua belas ribu Ep, Sedangkan untuk membuat Gerbang Dimensi Antar Dunia hanya membutuhkan Sepuluh Ribu Ep. (1Ep\=2 Kristal qi)


"Apa !! Dua belas Ribu Ep?"


Iblis Hitam tersurut mundur satu langkah. Ia yang memiliki kekuatan lima ribu Ep adalah sosok terkuat nomor dua setelah Raja Iblis En Mo yang memiliki Kekuatan Delapan Ribu Ep.


Mengetahui Guru ke dua Iblis Ren itu memiliki Dua iblis ribu Ep, Kekesalan Iblis Hitam kepada Iblis Ren Xian menghilang saat itu juga.


Walau saat ini ia lebih kuat dari kedua Iblis Kakak beradik itu, namun menjadi musuh mereka berdua bukanlah hal yang bijak.


"Ren Xian ... Benarkah yang kau katakan itu. Bagaimana Guru bisa sekuat itu.?"


"Entahlah Kak ... Aku juga tidak mengetahui bagaimana caranya Guru bisa sekuat itu."


Setelah berkata demikian, Iblis Ren Xian segera menanyakan bagaimana Iblis Ren Mo bisa bersama Iblis Hitam dan Iblis lainnya. Selain itu Iblis Ren Mo juga menanyakan tujuan mereka mendatangi Sekte Golok Iblis.


Iblis Hitam pun menjelaskan maksud kedatangan mereka ke dunia manusia dan juga kedatangan mereka ke Sekte Golok Iblis.


Setelah beberapa waktu berlalu, Iblis Hitam pun selesai menjelaskan tujuannya itu. Iblis Ren Xian menyetujui rencana Iblis Hitam tersebut.


Hal itu karena ia telah terlambat kembali ke Gerbang Dimensi Antar Dunia yang di ciptakan oleh Gurunya. Membuatnya terjebak di dunia manusia dalam waktu yang telah lama.


Sesaat kemudian suasana yang mencekam di ruangan kediaman Jiao Xin kembali ke keadaan semula.


Wang Chun menarik nafas panjang saat mendapati sang Guru terlihat kembali normal. Ia pun kembali duduk di samping Jiao Xin yang tersenyum.tupia melihat ketakutan muridnya itu.


"Bagaimana Kakek Xin, dengan rencana yang telah Kakek dengar langsung dari para Roh Iblis yang bersemayam di senjata Pusaka kita masing-masing?"


Song He bertanya kepada Jiao Xin karena merasa tak perlu lagi menjelaskan apa maksud dan tujuan kedatangan mereka ke Sekte Golok Iblis.


"Aku menyetujuinya, hanya saja aku tidak bisa mengganti senjataku menjadi Pedang. Mengenai Pedang itu, aku sarankan kalian mencari orang lain untuk menggunakannya."


Jiao Xin juga menjelaskan bahwa ia akan bekerjasama dengan Song He, hanya saja jika syaratnya bisa dipenuhi oleh Song He.


Jiao Xin meminta mereka berlima untuk membantunya memusnahkan Sekte Lembah Dewa yang kini telah bangkit kembali. Shin Mu dan Huang Lun adalah dua orang pertama yang menyetujui syarat Jiao Xin,


Dendam atas kematian para muridnya dan saudara seperguruan mereka menjadi sebab keduanya setuju dengan syarat tersebut.


Song He yang juga telah mendengar informasi tentang Lembah Dewa yang membantu Kekaisaran Wu selama ini, menyetujui rencana tersebut dan meminta Jiao Xin memastikan tidak satu pun dari mereka yang tetap hidup.


Jiao Xin segera bersiap-siap dengan menyampaikan beberapa arahan kepada Wang Chun.


Mereka berenam akhirnya berangkat menuju Lembah Dewa siang itu juga. Jiao Xin mengatakan jika mereka melakukan perjalanan dengan melayang di udara, dalam dua jam lagi mereka akan tiba di Lembah Dewa.


***


Yao Chan mengakhiri meditasinya setelah tiga jam berlalu. Saat dirinya mengetahui bahwa Segel Yang mengunci Titik Syaraf Kekuatan ditubuhnya telah terbuka, ia pun ingin segera meningkatkan kekuatannya dengan membentuk Kristal qi sebanyak mungkin.


Ada hal yang berbeda yang dirasakan oleh Yao Chan saat ia menyerap energi dari Air Hijau. Untuk menyerap satu cawan Air Hijau, sebelumnya Yao Chan membutuhkan waktu satu jam dengan bermeditasi.


Namun setelah Segel Titik Syaraf Kekuatan terbuka, satu cawan besar Air Hijau berhasil ia serap dalam waktu kurang dari dua menit saja.


Sehingga dalam tiga jam meditasinya Yao Chan berhasil mengumpulkan setidaknya empat Ribu Kristal qi lagi. Sehingga kini jumlah kristal qi dalam tubuhnya mencapai sepuluh ribu Kristal atau setengah dari jumlah yang dibutuhkan untuk menembus Tingkat Pendekar Langit.


Yao Chan menghentikan meditasinya karena Dirinya merasakan seluruh ototnya telah terpenuhi oleh Kristal qi tersebut, membuat benaknya dipenuhi pertanyaan, bagaimana ia bisa mengumpulkan qi hingga ratusan ribu dimasa lalu.


"Xian Mey .. Kenapa aku merasa seluruh tubuhku telah penuh dengan Kristal qi? Padahal aku baru memiliki sepuluh ribu Kristal saja."


"Sepuluh Ribu Kristal !?... "


Zhu Yin terkejut mendengar hal tersebut, ia yang juga bermeditasi selama tiga jam hanya mampu membentuk beberapa ratus kristal saja.


Itupun dengan bantuan Xian Mey saat proses menyerap Khasiat Air Hijau itu. Sedangkan Yao Chan berhasil membentuk ribuan Kristal qi dengan waktu yang sama.


Xian Mey tersenyum mendengar perkataan Yao Chan. Ia menjelaskan bahwa Walau kualitas tulang Yao Chan telah meningkat menjadi Tulang Naga, namun otot-otot tubuh Yao Chan belum meningkat secepat peningkatan tulangnya.


"Kualitas Otot mu masih belum setara dengan kekuatan tulang mu saat ini. Kau harus meningkatkan kualitas Otot mu hingga pada kualitas yang setara dengan kualitas Tulang Naga."


Yao Chan terdiam mendengar perkataan Xian Mey, ia pun memutuskan menunda usahanya untuk menembus tingkat Pendekar Langit. Saat ini, entah kenapa ia ingin berkunjung ke Lembah Dewa.


"Tuan Shouren, aku ingin ke Lembah Dewa, arah manakah yang harus ku tempuh untuk tiba disana?"


Shouren yang sedari tadi terdiam karena tidak mengetahui bahasa percakapan mereka, akhirnya tersenyum saat Yao Chan bertanya padanya dengan bahasa yang ia mengerti.


"Lembah Dewa berada di sebelah timur Lembah Siluman. dibutuhkan waktu setidaknya lima jam perjalanan berkuda."


Yao Chan memutuskan meninggalkan kuda mereka, karena ia ingin cepat tiba di sana untuk bertemu dengan sang Kakek yang tiba-tiba saja ia rindukan sosoknya. Kerinduan yang tiba-tiba datang bersama sebuah firasat yang membuatnya gelisah.


*****