Pendekar Tiga Dunia

Pendekar Tiga Dunia
096: Situasi Kota Wu Chang An


Xie Jin termenung setelah mendengar cerita tentang semua hal yang dialami oleh Lin Hua dan Yao Zhi semenjak ia meninggalkan mereka berdua tanpa pamit belasan tahun yang lalu.


Seandainya ia bisa memutar waktu, Xie Jie ingin kembali di masa-masa mereka bersama di dasar jurang itu. Sehingga Lin Hua tidak akan mengalami kesedihan seperti yang di laluinya sepuluh tahun terakhir.


"Hua'er relakan kepergian Zhi'er, kau jangan terus bersedih seperti ini. Jaga kesehatan tubuhmu, apalagi kini dirimu tak.lagi memiliki tenaga dalam."


Lin Hua menyandarkan kepalanya ke bahu Xie Jie. Zhu Yin yang melihat hal tersebut, menahan haru di dalam hatinya. Kedekatan Lin Hua Dan Xie Jie, membuatnya teringat masa-masa saat ia bersama ibundanya.


"Guru aku...aku belum bisa melupakan semua kenangan bersamanya...Aku.."


"Hua'er.. jika itu kenangan yang berarti maka jangan lupakan, sebab jika manusia mati, mereka hanya bisa hidup dalam ingatan orang lain."


Lin Hua terdiam mendengar perkataan Xie Jia, sebuah senyum menghiasi bibirnya. Permasalahan hatinya dapat terselesaikan oleh beberapa kata bijak dari sang Guru.


" Hua'er.. dimana cucu tengilku Chan'er,"


Xie Jie tiba-tiba teringat Yao Chan, dalam ingatannya masih terbayang kelucuan Yao Chan yang dengan ke tengilannya sering membuat mereka tertawa.


"Nenek Saudara Chan sedang ke istana bersama Kakek Gu..Paman Lin Yung dan Paman Yu Ma."


Zhu Yin tercekat nafasnya, saat ia hendak menyebutkan nama Guo Jin, Lin Hua segera.memberi kode agar tidak menyebutkan nama Guo Jin.


Zhu Yin yang memang gadis cerdas itu dengan cepat memahami bahwa ada sesuatu diantara dua tokoh dunia persilatan itu.


Pada masa mudanya, Xie Jia dikenal sebagai pendekar wanita yang berjuluk Pedang Bunga Ungu. Kemampuannya saat itu satu tingkat berada diatas Guo Jin.


Sesaat kemudian terdengar keramaian dari ruang depan, Xie Jia bersama yang lainnya, segera menuju ke ruang tamu.


Mata Xie Jia melotot menatap sosok berjanggut putih yang juga melotot melihatnya.


"Jia'er..."


Xie Jia tersenyum tipis untuk menutupi kegugupannya. Telah sejak lama mereka berdua tidak bertemu. Dan pertemuan tidak terduga ini membuat kedua pendekar tua itu kelihatan canggung.


"Yung Gege, ini nenek Xie Jia Guruku dan juga orang yang dulu menyelematkan aku dan Zhi'er belasan tahun lalu."


Yu Ma yang mengetahui siapa Xie Jia segera memberikan hormat, begitu juga dengan Lin Yung. Ia memberi hormat sekaligus mengucapkan terimakasih atas pertolongannya kepada Lin Hua.


"Putera mahkota Wu Jia anda.."


Suara Lin Hua tertahan saat mengenali seseorang yang berpakaian prajurit di belakang Yu Ma dan Lin Yung.


Lin Yung segera mendekati adiknya itu lalu menjelaskan secara perlahan situasi yang sedang terjadi di Ibukota. Penjelasan Lin Yung membuat suasana berubah menjadi sedikit tegang.


Lin Yung juga menjelaskan bahwa saat ini Yao Chan sedang menjemput Tuan Puteri Wu Mei bersama Yu Lian. Mereka berdua akan menginap di rumah ini demi untuk menjamin keamanannya.


"Segenting itukah situasi kota Wu Chan An?"


Lin Hua bertanya kepada kakaknya. Saat Lin Yung hendak menjawab pertanyaan Lin Hua, Xie Jia terlebih dahulu berbicara.


"Sebenarnya tujuan ku kemari selain ingin menemui Hua'er, aku juga ingin menyampaikan sesuatu yang tak sengaja aku dengar saat berada di penginapan."


Semua orang terdiam dengan benak dipenuhi pertanyaan setelah Xie Jia menyelesaikan ceritanya. Siapa Pria Muda yang ternyata menjadi dalang atas pembunuhan Kaisar Wu itu.


Sedangkan Guo Jin lebih terfokus kepada dua kakek yang menjadi pengawal pria muda itu. Mengingat keberhasilannya dalam membunuh Kaisar dan Perdana Menteri, Guo Jin menduga setidaknya kedua pengawal itu memiliki kemampuan Pendekar Suci.


Sedangkan Yu Ma dan Lin Yung sedang berpikir hal yang sama, apakah situasi yang terjadi di ibukota saat ini adalah bagian dari rencana pria muda itu? Jika keduanya berkaitan tentu ini akan menjadi hal yang berbahaya bagi Kekaisaran Wu.


"Apakah pria tersebut berusia sekitar tiga puluh tahun dan memiliki tubuh lebih tinggi dariku."


Suara Wu Jian sang calon Kaisar Wu, membangunkan mereka yang sedang asik dengan pertanyaan di dalam benak mereka masing-masing.


"Benar aku pernah melihatnya dua kali, pria muda itu berusia sekitar tiga puluhan tahun. Ia memiliki tinggi yang diatas rata-rata orang kita, bahkan kedua pengawalnya juga memiliki tinggi yang hampir sama dengannya."


Penjelasan Xie Jia tidak terlihat berarti bagi mereka selain Wu Jian yang terlihat begitu terkejut.


*Song He, putera mahkota Kekaisaran Song."


Semua mata kini melihat ke arah Wu Jian yang suaranya terdengar bergetar saat mengatakan hal itu.


Wu Jian bukannya tidak menyadari tatapan penasaran dari mereka, hanya saja saat ini ia sedang menimbang apakah perlu mengatakan sesuatu yang merupakan rahasia yang hanya diketahui oleh ia dan Mendiang Ayahnya.


Setelah berpikir bahwa hanya mereka yang menjadi pilar kekuatan Kekaisaran Wu saat ini, Wu Jian akhirnya menjelaskan rahasianya tersebut.


Setahun yang lalu Wu Jian ikut bersama Kaisar Wu Mao menghadiri pernikahan Puteri Kaisar Song Yu yang menjadi Kaisar Song kedua belas. Saat itulah Wu Jian mengenal Song He yang merupakan putera Mahkota Kekaisaran Song.


Dalam perjamuan makan malam, terjadi ketegangan karena Song He mengutarakan maksudnya kepada Kaisar Wu Mao untuk meminang Puteri Wu Mei untuk menjadi selirnya.


Ucapan Song He tersebut sangatlah menghina harga diri Kaisar Wu Mao yang saat itu juga meninggalkan jamuan makan malam ketika menemukan Kaisar Song Yu tidak menegur puteranya.


Bahkan Kaisar Wu Mao meninggalkan istana Song tanpa berpamitan lagi karena merasa dipermalukan. Hal ini membuat Kaisar Song Yu tersinggung. Lalu mengirimkan surat agar Kaisaran Wu meminta maaf atas sikapnya tersebut.


Permasalahan ini hanya di ketahui oleh Kaisar Wu Mao, Wu Jian sendiri dan mendiang Perdana Menteri Lin Bao.


"Jika benar Pria Muda itu Song He dan situasi yang terjadi di Ibukota saat ini adalah perbuatannya, maka situasi saat penobatan Putera Mahkota nanti, akan menjadi sangat berbahaya."


Lin Yung mengeluarkan pendapatnya setelah Putera Mahkota Wu Jian selesai bercerita.


"Apakah kita harus menunda penobatan ini?"


Yu Ma bertanya entah kepada siapa. Situasi yang mereka hadapi saat ini, benar-benar membuat mereka khawatir terjadi kekacauan besar yang menimbulkan banyak korban jiwa.


"Ma'er menurutku sebaiknya Penobatan Putera Mahkota menjadi Kaisar tetap harus kita laksanakan. Aku telah memikirkan sebuah rencana, dan kita perlu mendiskusikannya bersama dengan Chan"er dan Lian'er."


Guo Jin menjawab pertanyaan Yu Ma dengan sebuah senyum. Senyum yang dia paksakan demi Kehormatan Kekaisaran Wu.


Mereka pun menunggu Yao Chan dan Yu Lian untuk mendiskusikan hal tersebut. keduanya datang beberapa saat kemudian.


...*****...


Ratu di Singgasana Hatiku sedang sakit, jadi mohon maaf terlambat Updatenya 🙏🙏🙏