Pendekar Tiga Dunia

Pendekar Tiga Dunia
083: Trik Lepas dari Kematian


"Selamat pagi Jendral Ma"


Lin Yung menyambut kedatangan Yu Ma bersama Yu Lian dengan antusias. Dirinya merasa terselamatkan dengan kedatangan Panglima Perang Kekaisaran Wu tersebut.


Pasalnya Lin Hua belasan kali menanyakan kedatangan pria tersebut dan seringkali memarahi sang kakak. Entah karena mengkhawatirkan Yao Chan atau memang ingin segera bertemu dengan pria tersebut. Yang pasti salah satu diantaranya adalah benar atau bahkan mungkin keduanya benar.


"Selamat Pagi Menteri Yung, ada gerangan apa sepagi ini meminta ku datang?"


Yu Ma pun membalas salam dan penghormatan Menteri Pertahanan Kekaisaran Wu itu.


"Sebenarnya bukan aku yang memintanya, tetapi Hua'er yang begitu mengkhawatirkan kepergian Chan'er."


Yu Ma sempat bergetar hatinya mengetahui Lin Hua begitu ingin bertemu dengan dirinya. Namun disaat bersamaan, kekhawatiran menyelimuti dirinya ketika mendengar


"Kenapa dengan Chan Gege Paman?"


Tanya Yu Lian penasaran.


Yu Ma mengerutkan dahinya, melihat ada kekhawatiran di wajah Lin Yung.


Lin Yung menghela nafas panjang, lalu menjelaskan tentang peristiwa yang terjadi semalam. Hingga kepergian Yao Chan yang mengelabui dirinya.


"Apa!!... Perdana Menteri Lin menjadi target pembunuhan Kelompok Pisau Perak? Mereka benar-benar sudah keterlaluan!"


Yu Ma terlihat terkejut dan geram mendengar penjelasan Lin Yung. Di sisi lain ia juga merasakan kekhawatiran mengetahui kepergian Yao Chan ke Markas Pisau Perak.


"Saudara Ma... "


Suara lembut seorang perempuan terdengar memanggil nama Yu Ma dari balik punggungnya.


Yu Ma membalikan tubuhnya dan menemukan Lin Hua yang jauh berbeda dari yang biasa dirinya lihat selama ini. Waktu seolah kembali ke masa sepuluh tahun silam. Saat Yu Ma melihat kecemasan yang sama di mata Lin Hua, tatkala ia datang untuk mengabarkan kematian suaminya, Yao Zhi.


Hanya saja kecemasan yang sekarang Yu Ma lihat berbeda penyebabnya. Kecemasan itu tentu karena kepergian Yao Chan. Yu Lian segera menghampiri Lin Hua dan berdiri di sampingnya.


"Saudari Hua ada apa?"


Yu Ma membalas sapaan Lin Hua dan menatap lembut pada perempuan cantik yang masih terlihat lemah karena kondisi tubuhnya yang masih terlalu kurus.


"Saudara Ma .. aku mohon bantuan mu, tolong segera susul Chan'er. Ia.. ia.."


"Saudari Hua, tenanglah.. Chan'er bukan pemuda yang lemah, apakah kau belum mengetahui jika Chan'er jauh lebih kuat dariku bahkan lebih kuat dari guru sekalipun?"


Lin Hua tertegun mendengar perkataan Yu Ma. Dirinya mengetahui Yao Chan memiliki kemampuan yang tinggi, namun dia tak mengetahui bahwa puteranya jauh lebih kuat dari guru Yu Ma dan guru suaminya, Guo Jin.


"Begitukah? tapi tetap saja ia belum berpengalaman. Aku tidak bisa berhenti mengkhawatirkannya. Aku mohon pada mu untuk menyusul Chan'er."


Lin Hua merapatkan kedua tangan di dada sebagai suatu tanda permohonan.


"Saudari Hua..tenanglah Chan'er bukan pemuda biasa. Ia memiliki kecerdasan mu dan Kebaikan Saudara Zhi, ia.."


"Juga memiliki kejahilan seperti ibunya.."


Suara Lin Yung memotong kalimat Yu Ma yang membuatnya mendapat tatapan membunuh dari Lin Hua.


Semua orang tertawa mendengarnya termasuk Zhu Yin yang berada di belakang Lin Hua.


Akhirnya Yu Ma memutuskan akan menyusul Yao Chan bersama Lin Yung. Namun mereka sempat kebingungan kemana mereka menyusulnya.


"Paman.. jika memang Saudara Chan menuju ke arah Utara, apakah ada sebuah hutan atau lembah di wilayah itu. Biasanya kelompok Pembunuh seperti itu menempati sebuah tempat yang rahasia dan tersembunyi."


Zhu Yin memberikan pendapatnya melihat kebingungan tersebut. Yu Ma dan Lin Yung saling menatap. Akhirnya keduanya tersenyum.


Setelah memerintahkan Yu Lian untuk tinggal dan menemani Lin Hua, Yu Ma dan Lin Yung segera menaiki kuda mereka dan memacunya dengan cepat kearah hutan tersebut.


Sebenarnya mereka berdua menyadari, bahwa tenaga mereka tidak dibutuhkan oleh Yao Chan. Mengingat kemampuan mereka yang berada di bawah Yao Chan, terutama Lin Yung.


Hanya saja mereka berdua tak ingin membuat seorang ibu dilanda kecemasan terhadap anaknya. Kekhawatiran seorang ibu adalah wujud kasih sayang yang mendalam kepada puteranya. Jadi jangan pernah menyalahkan ibumu karena memiliki rasa khawatir padamu. Karena saat itu adalah saat dimana rasa kasih terbesarnya padamu tercurahkan dari hatinya.


**


Raja Pisau Perak menggeram mendapati kenyataan di hadapannya. Seratus lebih anak buahnya, kini hanya hanya lima orang yang tersisa itupun dengan luka di beberapa bagian tubuhnya.


Yao Chan tersenyum tipis melihat kelima Pembunuh Elit itu melompat menjauhinya. Namun Yao Chan sudah bertekad untuk tidak berbelas kasih lagi kepada orang-orang seperti mereka.


Dengan menggunakan teknik Langkah Dewa Angin, Yao Chan kembali terlihat menghilang dari pandangan lawan-lawannya. Teknik ini sebenarnya sangat efektif dalam membunuh lawan yang berjumlah banyak.


Sayangnya Yao Chan belum bisa menggunakannya secara terus menerus, karena dibutuhkan tenaga dalam yang cukup besar.


Yao Chan seolah muncul dari ruang hampa, saat dirinya tiba-tiba telah berada di belakang tiga orang lawannya.


*Awas dia bela...kang mu."


Salah seorang rekannya berusaha mengingatkan, namun perkataannya terputus saat menyaksikan ketiga rekannya tumbang dengan kepala menggelinding terpisah dari tubuhnya.


Dua orang yang tersisa terpaku dengan tubuh gemetar bahkan salah satu diantaranya mengalirkan air dari bagian bawah tubuhnya. Jarak mereka berdua hanya dua meter dari ketiga teman mereka yang telah tewas itu.


Raja Pisau Perak sendiri tercekat dan menelan ludahnya melihat kekejaman yang lebih kejam dari pembunuh bayaran sekalipun.


"Ampuni Kami Bang Jago, jangan bunuh kami, kami akan bertobat dan menjadi orang yang baik."


Merasa tidak mampu lagi melawan Yao Chan, kedua Pembunuh Elit tersebut membuang kedua senjatanya. Lalu berlutut memohon ampunan kepada Yao Chan yang mungkin saja kini menjadi Jagoan nomor satu di Kekaisaran Wu.


Yao Chan tersenyum tipis, dalam ingatan yang ia dapat dari seorang anggota Pisau Perak kemarin, ia mengetahui yang mereka berdua lakukan saat ini adalah sebuah trik untuk terlepas dari kematian.


"Aku bukan Bang Jago, aku adalah Yao Chan, kalian telah memohon pada orang yang salah."


Selesai berkata demikian Yao Chan melompat dengan cepat kearah kedua Pembunuh Elit yang kini terlihat pasrah menerima kematian mereka.


Yao Chan menebaskan Pedang Dewa Perang dengan kuat kearah leher kedua Pembunuh Bayaran itu.


Tanpa jeritan sedikitpun, kedua pembunuh bayaran Kelas Elit itu berangkat ke Akhirat dengan kepala yang terpisah dari tubuhnya. Kematian keduanya menjadi tanda bahwa Pembunuh Elit dari Kelompok Pisau Perak telah hancur dan musnah.


Yao Chan lalu berbalik ke arah Raja Pisau Perak, saat itulah Ketua kelompok pembunuh bayaran nomor dua di Kekaisaran Wu itu melesat dengan cepat keluar dari pintu ruangan untuk melarikan diri.


Yao Chan tersenyum tipis melihatnya. Dalam hati ia pun mengumpat;


"Dasar Raja Kacangan"


*****


Hari ini Author Resmi menjadi Penulis Kontrak di Noveltoon dengan Karya Pendekar Tiga Dunia. Keberhasilan ini, bukan karena Author semata. Anda "Para Pembaca Setia Pendekar Tiga Dunia" memberi kontribusi terbesar atas keberhasilan ini.


Sebagai Wujud Terimakasih dan Penghargaan Author Kepada Anda Semua, hari ini Author memberi Bonus Satu Chapter. Tentu ini tidak sebanding dengan kontribusi anda semua. Namun hanya inilah yang Author bisa lakukan saat ini untuk membalas kebaikan Anda.


Tetap ikuti Pendekar Tiga Dunia, kritik dan saran yang membangun masih sangat author perlukan.


Terimakasih atas semuanya. Semoga terhibur dengan karya ini.


🙏🙏🙏🙏🙏