
Setelah kepergian Yao Chan, Guo Jin dan Dan Xin Jia segera melesat dengan cepat membantu para prajurit yang sedang bertarung dengan jumlah dan kekuatan yang tak seimbang itu.
Kurang dari semenit, Pedang Rajawali ditangan Guo Jin telah berlumuran darah dari lawannya. setidaknya lima puluh orang berhasil ia bunuh.
Guo Jin memerintahkan para prajurit untuk bertarung dibelakangnya. Pengalaman mendapat serangan seperti ini membuat Guo Jin dapat menguasai situasi dengan baik.
"Kakek itu adalah Guru besar dari Sekte Lembah Dewa, kita akan selamat, Ayo jangan menyerah kita bantu Guru Besar!"
Seorang perwira yang mengenali Guo Jin sekaligus pimpinan prajurit penjaga Kota mengobarkan semangat para prajuritnya.
Teriakannya terlihat berhasil membangkitkan semangat tempur para prajurit yang kemudian bergerak dibelakang Guo Jin, walau luka mereka masih mengalirkan darah.
Sementara Xin Jia menebarkan ketakutan yang luar biasa pada lawannya. Kekesalannya pada Yao Chan sebelumnya, ia lampiaskan dengan membantai setiap lawan yang ia temui tanpa ampun.
Tongkat pusaka ditangannya telah membuat remuk kepala dan dada hampir seratus orang lawan dengan sangat cepat.
Selain itu, bantuan tak terduga datang dari puluhan pendekar yang disewa oleh para saudagar atau bangsawan di kota tersebut.
Semula para pendekar bayaran itu merasa sangat jerih melihat jumlah dan kemampuan lawan yang menyerang kota Shandong itu.
Namun saat melihat kemampuan seorang nenek yang begitu tinggi, membuat semangat tarung mereka berkobar kembali. Apalagi Nenek tersebut membunuh lawannya tanpa ragu sama sekali.
Mereka pun segera berada di belakang sang Nenek, mengikuti dan membantunya membunuh para pendekar yang terluka akibat serangan darinya.
Dalam waktu sebentar saja, setidaknya telah lebih dari tiga puluh orang yang berada di belakang Xin Jia.
Kelompok penyerang mudah di kenali oleh mereka karena memiliki sebuah kesamaan yaitu berupa kain merah yang diikat di lengan kiri mereka.
Kelompok Nenek Xin Jia berhasil.membunuh setidaknya tiga hingga empat ratus lawan yang menyerang kota Shandong itu.
Namun mereka masih kalah jauh dengan kelompok yang mengikuti Guo Jin yang mengamuk dengan pedang Rajawali ditangannya.
Setidaknya seribu orang telah Guo Jin habisi atau pun dibuatnya terluka parah. Sehingga para prajurit yang mengikutinya dapat dengan mudah membunuhnya.
Saat para penyerang kurang dari separuhnya, sebuah suara bentakan yang dilapisi tenaga dalam tingkat tinggi terdengar membentak Guo Jin.
"Kakek Tua Bangka Akulah lawan mu!"
Dua orang terlihat melayang di udara membuat semua prajurit dibelakang Guo Jin menjadi terpana melihat hal itu. Rasa jerih pun merasuki hati mereka.
Guo Jin segera melesat ke udara dan melayang tiga meter dihadapan dua orang yang baru saja datang itu.
Apa yang dilakukan Guo Jin, membuat para prajurit kembali mendapatkan keberaniannya yang sempat pergi tanpa pamit dari hati mereka.
"Jin Gege ... Biarkan aku membantumu."
Xin Jia datang dan berdiri melayang di samping Guo Jin, membuat kedua orang yang merupakan Ketua Sekte itu merasa sedikit terkejut.
Mereka tidak bisa mengukur kekuatan Guo Jin dan seorang Nenek yang baru saja datang dengan cara yang sama dengan kedatangan mereka berdua tadi.
Xin Jia mengangguk dan kembali melesat ke arah para prajurit yang sebagian sudah tergeletak dengan luka. parah bahkan tewas menghadapi lawan yang sepertinya adalah para tetua Sekte.
Guo Jin memasukan Pedang Rajawali dan mengambil Tombak Golok Naga Bumi dari Gelang Ruang Dimensinya yang membuat kedua orang Tetua Sekte dihadapannya tersurut dua meter kebelakang.
Mereka terkejut melihat apa yang dilakukan oleh Guo Jin, namun rasa terkejut mereka berubah menjadi gentar sesaat kemudian ketika Aura yang mengerikan keluar dari tubuh Kakek Tua itu.
Seperti apa yang diminta oleh Guo Jin, Roh Naga Bumi yang berada dalam senjata pusaka Tombak Golok Naga Bumi segera maju menyerang kedua orang dihadapannya.
Keduanya begitu terkejut saat mendapati sosok tua itu melesat dengan sangat cepat ke arah mereka berdua dan menebaskan Tombak Golok sepanjang dua meter itu.
Walau keduanya berhasil menghindari tebasan itu, namun jubah mereka menjadi robek karena golok diujung tombak nyaris mengenai tubuh mereka. Keduanya lalu membuat jarak yang cukup jauh dengan sosok Guo Jin.
Salah satu dari dua orang Ketua Sekte itu segera mengeluarkan pedang yang tersarung di pinggangnya. Sementara rekannya segera mengerahkan tenaga dalam jumlah besar ke arah kedua tapak tangannya yang seketika mengelam Hitam bagaikan sebuah besi.
Keduanya bergerak menyerang bersamaan dengan Naga Bumi yang kembali menerjang mereka berdua. Pertukaran jurus segera saja terjadi, namun hanya berlangsung kurang dari tiga puluh jurus saja.
Walau dikeroyok dua orang Pendekar Suci namun mereka berdua masih berada di tahap awal. Lawan yang mudah bagi Roh Naga Bumi yang kekuatannya melebihi Pendekar Suci Tahap Akhir itu.
Gerakan tusukan dan tebasan Tombak Golok itu begitu cepat dan kuat. Ketua Sekte yang membawa Pedang itu terkejut tidak setengah mati, bahkan ia benar-benar mati saat pedang pusakanya patah ketika menahan Tebasan Golok yang mengarah ke kepalanya.
Sosok Ketua Sekte yang mengandalkan Jurus Tapak Besinya, bergidik ngeri saat melihat kepala rekannya terbelah hingga ke tubuh bagian bawahnya.
Mayat itu jatuh ke tanah dengan tubuh yang terbelah menjadi dua bagian. Sebuah kematian yang mengerikan untuk dilihat mata seorang pendekar pun.
Sosok Ketua Sekte itu segera melesat pergi melihat rekannya tewas dengan cara yang sangat mengenaskan. Namun Roh Naga Bumi tidak membiarkan begitu saja.
Ia segera melemparkan Tombak Goloknya ke arah Sosok Ketua Sekte yang memiliki jurus Tapak Besi itu.
Ketua sekte itu berhasil menghindari lemparan Tombak Golok itu tepat saat akan mengenai punggungnya. Namun ia terkesiap saat menyadari Golok itu berbalik dan melesat lagi kearahnya dengan cepat.
Ketua Sekte itu segera mengerahkan tenaga dalam dengan jumlah besar ke arah telapak tangannya. Saat ujung tombak golok itu sejengkal lagi mengenai dirinya, ia berkelit dengan cepat dan menghantam badan golok dengan maksud untuk menghancurkannya.
Namun tidak ia duga, serangannya yang dapat menghancurkan dinding besi itu, hanya membuat golok itu oleng sedikit saja dan sesaat kemudian batang tombak justru menghantam pinggangnya, hingga ia kehilangan keseimbangan.
Saat itulah Roh Naga Bumi dalam tubuh Guo Jin tiba dihadapannya dan langsung meraih batang tombak itu dan menebaskan dengan kuat Golok Tombak itu ke arah perut, membuat tubuh lawannya itu terpotong menjadi dua bagian.
Roh Naga Bumi memandang mayat yang terpotong itu hingga jatuh di tanah. Sesaat kemudian ia melesat ke arah pertarungan yang sedang berlangsung tak jauh darinya.
Xin Jia tersenyum senang saat melihat sosok Guo Jin datang membantunya. Hal ini menunjukan bahwa kedua lawan mereka yang terkuat, telah berhasil dikalahkan oleh suaminya itu.
Kedatangan Guo Jin mengubah arus pertarungan menjadi berubah. Para Tetua Sekte yang rata-rata berada pada tingkat pendekar Pertapa Awal sempat membuat Nenek Xin Jia kerepotan karena jumlah mereka mencapai belasan orang.
Tiga puluh menit kemudian suasana Kota Shandong terasa sunyi, tak ada suara teriakan ataupun dentingan senjata yang beradu lagi.
Hanya anyir darah yang memenuhi udara di depan gerbang kota itu, berbaur dengan asap dari beberapa bangunan yang telah sempat di bakar oleh para perusuh yang kini semuanya telah tewas itu.
*****