Pendekar Tiga Dunia

Pendekar Tiga Dunia
084: Jangan Pernah Bertanya


Yao Chan segera melesat mengejar Raja Pisau Perak. Walau ilmu peringan tubuh Raja Pisau Perak tertinggi di kelompoknya, namun bukan lawan sepadan bagi Teknik Langkah Dewa Angin yang Yao Chan gunakan saat mereka berdua beradu cepat.


Dalam dua kali helaan nafas, Yao Chan berhasil menyusul Raja Pisau Perak tepat saat ia berada di tepi hutan bagian selatan dari Markas utama mereka.


"Mau kemana kau tua bangka keriput?"


Raja Pisau Perak berhenti ketika Yao Chan tiba-tiba melompat menghadang jalannya. sambil menghunuskan pedang yang masih bernoda sedikit darah. Merasa tak bisa lari lagi, Raja Pisau Perak mencoba bernegosiasi dengan Yao Chan.


"Anak muda, biarkan aku pergi, kelompok yang ku dirikan dengan susah payah selama bertahun-tahun, telah kau hancurkan. Kakek mu pun sekarang sudah aman. Jadi biarkanlah aku pergi."


Raja Pisau Perak mencoba mengambil hati Yao Chan. Dirinya meyakini bahwa kekejaman yang Yao Chan tunjukan, semata karena ingin melindungi nyawa kakeknya.


"Membiarkan dirimu pergi? Percayalah aku pun ingin begitu. Sayangnya puluhan anak buah mu tidak berada di markas. Sepertinya mereka sedang menjalankan misi membunuh bukan?"


Yao Chan menyeringai melihat Raut Wajah Raja Pisau Perak yang tertegun.


"Benar mereka sedang dalam misi untuk membunuh, tapi itu bukan misi membunuh orang-orang yang berada di Istana. Jadi kurasa kita bisa berdamai bukan?"


Raja Pisau Perak masih berusaha untuk bernegosiasi. Tidak ada lagi nada suara angkuh dan arogan yang ia perlihatkan seperti sebelumnya.


"Tua bangka keriput, sekalipun itu bukan keluarga istana, namun aku tak bisa membiarkan kelompok mu terus membunuhi orang tak bersalah dengan kejam."


Yao Chan berniat hendak menyerang Raja Pisau Perak, namun lelaki tersebut sepertinya masih ingin bicara. Ia pun menunda sesaat keinginannya untuk segera melumpuhkan kakek tersebut.


"Tunggu dulu anak muda, aku akan memberikan kompensasi apapun yang kau minta, mohon biarkan aku tetap hidup. Bisakah kau mengampuni aku dan membiarkan aku pergi?"


Raja Pisau Perak masih berusaha membujuk Yao Chan. Dalam hatinya, ia sebenarnya tidak berharap banyak, namun tak ada salahnya mencoba. Jikalau Yao Chan memaksanya untuk bertarung, ia pun telah siap untuk pertarungan hidup mati dengannya.


"Tua Bangka keriput, sudahilah kata-katamu dan jangan pernah lagi bertanya pertanyaan yang tak ingin kau dengar jawabannya."


Setelah berkata demikian, Yao Chan melesat menebaskan pedangnya. Jurus Murka Jiwa Pedang ia gunakan untuk melumpuhkan Raja Pisau Perak.


Kecepatan serangan Yao Chan tidak berkurang dari sebelumnya, Raja Pisau Perak merasa jerih ketika menangkis tebasan pedang Yao Chan yang tiba-tiba saja berubah dan membuat tangannya bergetar.


Saat pertarungan memasuki belasan jurus, Raja Pisau Perak menjerit keras. Dirinya terlambat menyadari serangan tipuan Yao Chan yang berubah begitu cepat.


Lengan kanannya yang memegang Pusaka Pisau Perak tertebas pedang Yao Chan. Dan hal yang paling buruk terjadi padanya. Yao Chan memukul perutnya dengan kuat dan menghancurkan tenaga dalamnya.


Raja Pisau Perak jatuh terduduk tak jauh dari potongan lengannya yang masih memegang pisau. Wajahnya kini benar-benar memucat menemukan dirinya sudah tak memiliki tenaga dalam lagi.


Disekanya darah di sudut bibir sambil menatap Yao Chan dengan pandangan hampa saat melihat pemuda itu menyeringai dan melangkah kearahnya.


"Anak muda ... kenapa kau tidak membunuhku sekalian, jangan kau hina aku dengan cara seperti ini. Aku rela mati di tanganmu."


"Siapa yang ingin membunuhmu Raja Tua Keriput, tataplah mataku baik-baik apakah aku memiliki tatapan membunuh?"


Yao Chan tersenyum sambil mengerahkan tenaga dalam kearah matanya, saat ia telah sampai di hadapan Raja Pisau Perak yang tengah terduduk lemas.


Raja Pisau Perak seperti kerbau yang dicocok hidungnya, matanya pun menatap Yao Chan lekat-lekat. Saat itulah ia melotot melihat mata pemuda di hadapannya yang memancarkan sinar yang menyilaukan matanya.


Raja Pisau Perak tak dapat lagi mempertahankan kesadarannya. Pandangannya menjadi gelap untuk beberapa saat.


Hal seperti terus menerus terjadi silih berganti. Raja Pisau Perak tertegun saat menyadari bahwa semua yang dia lihat barusan adalah hal-hal yang pernah ia lalui selama hidupnya.


Raut wajah Yao Chan berubah sesaat setelah selesai melihat ingatan Raja Pisau Perak itu. Kekhawatiran menyelimuti dirinya akan keselamatan sang Kakek.


Suara derap kaki kuda terdengar di kejauhan saat Yao Chan baru saja memasukan Pisau Perak milik Raja Pisau Perak ke dalam Gelang Ruang dimensinya.


Yao Chan pun melesat ke udara setinggi seratus meter setelah menotok Raja Pembunuh itu agar tidak bisa bergerak.


Kekhawatiran Yao Chan pun semakin besar saat mengetahui siapa penunggang kedua kuda itu.


**


Di sebuah pegunungan di dekat perbatasan antara Kekaisaran Wu dan Kekaisaran Ming, di lereng selatan gunung tersebut, terdapat sebuah pemukiman yang tersembunyi. Pemukiman tersebut jarang sekali di kunjungi oleh orang luar.


Siapapun yang berani memasuki area di sekitar lereng gunung bagian selatan itu, dipastikan tidak akan pernah kembali dalam keadaan hidup.


Warga desa di sekitar kaki Pegunungan, menyebut wilayah itu sebagai Lereng Kematian. Tak satu orang pun warga dari dua desa yang berada di sekitar pegunungan itu, berani menginjakkan kaki mereka di wilayah Lereng Kematian sejak dua puluh tahun lalu.


Kabar yang beredar sejak dua puluh tahun lalu itu mengatakan bahwa pemukiman di Lereng Kematian itu di huni oleh para pendekar yang memiliki kemampuan sangat tinggi.


Hanya sedikit orang yang mengetahui jika Lereng Kematian adalah tempat dimana markas organisasi pembunuh terkuat di Kekaisaran Wu berada yaitu Kelompok Rubah Hitam.


Kelompok Rubah Hitam dikabarkan memiliki Anggota tidak lebih dari seratus orang. Namun mereka memiliki kemampuan tinggi dan keahlian yang sulit dicari tandingannya dalam menggunakan berbagai senjata.


Pagi itu bagian telik sandi Rubah Hitam datang dengan terburu-buru menuju sebuah bangunan terbesar di area pemukiman mereka. Bangunan di mana Pemimpin mereka berada.


"Lapor Ketua, ada Informasi dari mata-mata kita, bahwa Kelompok Pisau Perak berhasil membunuh salah seorang Menteri Kekaisaran Wu"


Raut Wajah pria seram yang dipanggil Ketua seketika berubah menjadi lebih seram lagi. Matanya menatap tajam kearah anak buahnya dengan tatapan menyelidik.


"Benarkah informasi yang kau berikan itu?"


"Benar Ketua, namun mereka gagal membunuh Putera Mahkota dan Perdana Menteri Lin Bao. Semua itu karena seorang pemuda asing yang memiliki kemampuan tinggi, bahkan ia bisa melayang di udara seperti Ketua."


Pria seram yang dipanggil Ketua itu, terlihat sangat terkejut. Wajahnya menyiratkan rasa tidak percaya ketika mendengar seorang pemuda bisa melayang di udara.


Dirinya saja butuh waktu puluhan tahun untuk mencapai tahap Pendekar Suci, bagaimana bisa seorang pemuda memiliki kemampuan setinggi itu di usia belianya.


"Panggil Tao Yan dan Bai Xun kemari, cepat!"


Pria teluk sandi itu mengangguk dan segera keluar menuju bangunan di mana mereka berdua berada.


"Sesulit itukah misi kali ini hingga dua Pendekar Suci Harus turun tangan?"


Pikir telik sandi itu sambil mengetuk pintu sebuah bangunan yang cukup besar.


...*****...