Pendekar Tiga Dunia

Pendekar Tiga Dunia
270: Mendatangi Makam


DEEESS!!


AAARGGGHH!!


Chu Lei, Si Angin Kilat harus terhempas karena kecerobohannya sendiri.


Ia tertipu oleh gerakan Yao Chan yang berhasil melesatkan Tinju Naga dengan tangan kiri tepat mengenai perutnya.


Melihat Chu Lei terpental belasan meter, Yao Chan segera mengibaskan tangan kanannya.


Kubah perisai untuk mengurung seluruh Anggota Klan tersebut, segera terbentuk sesaat kemudian.


Chu Lei yang baru saja mengusap darah yang keluar dan meminum sebuah pil penyembuh, merasa geram melihat apa yang Yao Chan lakukan.


“Yuan Long … Aku akan mengadu nyawa denganmu!” Chu Lei berteriak marah.


Ia segera mengalirkan seluruh energi yang Ia miliki, berniat meledakkan diri untuk membunuh Yao Chan yang dikenalinya sebagai Yuan Long Itu.


Udara seketika bergulung-gulung, membentuk pusaran angin yang berpusat pada tubuh Chu Lei.


Mulanya pusaran angin itu hanya berada di sekitar tubuh Chu Lei. Namun seiring energinya yang meningkat, pusaran angin itu semakin membesar dan meluas.


Udara di sekitar Yao Chan yang berjarak lima belas meter, mulai terlihat bergulung mendekatinya.


Yao Chan menjadi waspada saat merasakan pancaran energi Chu Lei semakin membesar melewati batas levelnya yang berada di Level Sembilan Pendekar Dewa.


“Apa yang akan dia lakukan? Dengan energi sebesar itu, Ia bisa membunuh semua Anggota Klannya.”


Yao Chan berkata dalam benaknya, firasat buruk pun segera menghampirinya. Ia lalu membuat perisai pelindung diri, untuk menjaga kemungkinan terburuk.


“Hahahaha … Yuan Long … Hari ini kau akan mati di tanganku. Hahahaha.”


Sementara wajah seluruh anggota Klan menjadi pucat, merasakan angin bertiup sangat kencang di sekitar mereka.


Atap-atap bangunan klan mereka mulai terlepas dan sebagian telah berterbangan. Mereka pun menjadi panik merasakan tiupan angin semakin kencang.


Yao Chan menghilang dari tempatnya berdiri saat menyadari apa yang akan Chu Lei lakukan.


Sesaat kemudian Ia telah berada tepat di belakang Chu Lei yang membuat Tetua Agung itu terkejut setengah hidup.


“Maaf, Aku harus menikahi lima orang gadis lagi, matilah sendiri jangan mengajakku.”


PRAAK


Yao Chan langsung menghantam kepala Zhu Lei hingga membuat kepalanya retak. Tubuh Tetua Agung Klan Kipas Dewa Angin itu, menderu turun dengan sangat cepat.


Tepat saat Tubuh Chu Lei akan menyentuh tanah, nyawanya melayang meninggalkan raga yang terlihat masih gagah itu.


BLAAAAMMM


Seiring nyawanya yang melayang, Energi tubuh Chu Lei pun meledak sangat keras. Ledakan yang menghancurkan bangunan Klan yang Ia lindungi, rata dengan tanah.


Ribuan orang Anggota Klan itu, harus rela tewas di tangan Tetua Agung yang mereka hormati selama ini.


Ledakan itu, juga menghancurkan kubah perisai yang Yao Chan buat sebelumnya.


Sementara Yao Chan sendiri terhempas belasan meter dari tempatnya semula, walau Ia mencoba untuk bertahan.


“Sebesar itukah energi hidup seorang Pendekar Dewa Level Sembilan? Besar sekali energinya.”


Yao Chan baru mengetahui hal tersebut, beberapa menit kemudian. Saat asap mulai terbawa deru angin yang kencang.


Pada ketinggian puluhan meter di udara, Yao Chan bisa melihat bagaimana kondisi bangunan Klan Aliran Hitam itu.


Yao Chan menghela nafas panjang, Ia masih berada di udara di atas reruntuhan bangunan Klan Kipas Dewa Angin yang kini telah musnah itu.


Sesaat kemudian tubuh Yao Chan menghilang dari pandangan. Melesat pergi ke sebuah tempat yang sudah sangat ingin Ia kunjungi.


Ia sengaja membiarkan Tetua yang tadi membentaknya, untuk tetap hidup agar menyebarkan berita, bahwa Yuan Long lah yang telah memusnahkan Klannya itu.


Tetua itu selamat dari ledakan setelah Ia melesat untuk melarikan diri, saat melihat Chu Lei terlempar oleh Tinju Naga Yao chan.


Saat terjadi ledakan itu, Ia telah berada cukup jauh dari tempat jatuhnya Chu Lei.


Ia berhasil menyelamatkan diri, walau mengalami luka yang tidak ringan akibat ledakan energi Tetua Agung itu.


***


Yao Chan memandang papan nisan yang bertuliskan nama Ayah dan Ibunya.


Ia pun teringat bagaimana kedua orang tuanya harus tewas karena tipu muslihat teman-teman mereka di kekaisaran Yun.


Ia pun memusnahkan Ibukota kekaisaran itu hingga membuatnya terkenal sebagai Yuan Long Si Tangan Seribu Naga yang keji.


Karena kematian kedua orang tuanya jugalah, Yao Chan gagal menjadi Dewa Penjaga karena lebih mengutamakan dendamnya.


Dikehidupan keduanya ini, Yao Chan tak ingin berlaku yang sama. Ia tak akan membunuh orang secara sembarangan seperti di kehidupan pertamanya dahulu.


Setelah hampir satu jam mengunjungi makam kedua orang tuanya. Yao Chan pun kembali menghilang untuk mengunjungi Klan Tapak Api Neraka.


***


Klan Tapak Api Neraka adalah salah satu Klan Terkuat di Benua Merah.


Klan yang memiliki hampir lima ribu anggota itu, menguasai hampir separuh wilayah di Benua Awan Merah.


Ketua Klan yang bernama Huang Fei adalah kakak kandung dari Huang Jun yang merupakan satu dari tiga Murid Iblis Sejati.


Huang Fei sendiri memiliki julukan sebagai Raja Tapak Api. Yang juga merupakan nama tekniknya yang bersumber dari kekuatan elemen api.


Selain Huang Jun yang menjadi tetua Klan, terdapat satu orang tetua lain yang bernama Wang Rui.


Sosok tetua ini memiliki kekuatan tidak jauh dari Ketua Klan Huang Fei, Keduanya telah mencapai level Enam Pendekar Dewa.


Namun kedua petinggi klan, sangat ditakuti di Benua Awan merah saat bertarung bersama. Keduanya mempunyai sebuah jurus gabungan yang sangat hebat.


Bahkan Chu Lei pun pernah dikalahkan oleh jurus gabungan keduanya yang bernama Tapak Api Menghukum Bumi.


Tak ada satu klan pun yang berani menjadi lawan klan tersebut. Klan Aliran putih pun, lebih memilih berdamai jika bermasalah dengan mereka.


Dengan begitu mereka menjadi Klan yang sangat disegani dan juga ditakuti. Bahkan sekedar untuk berkunjung, Klan lain akan berpikir dua kali.


Namun tidak dengan hari ini, saat Yao Chan muncul di udara klan mereka dan berteriak memanggil Huang Fei untuk keluar dari kamarnya.


“Siapa yang mencari mati dengan berkata lancang seperti itu?!”


Huang Fei yang sedang membahas rencana Klan untuk berpartisipasi dalam Aliansi Aliran Hitam itu, meradang marah sesaat setelah mendengar teriakan Yao Chan.


“Sepertinya ada yang kelewat percaya diri berani mendatangi klan kita dengan cara tak sopan itu!”


Wang Rui menjawab seraya berdiri mengikuti Huang Fei yang terlihat sangat marah dengan perbuatan Yao Chan.


Keduanya mengabaikan pandangan dua orang Tetua yang hendak melaporkan hal tersebut.


Lalu keduanya melayang ke udara dimana Yao Chan berdiri melayang dengan kedua tangan bersedekap di dadanya.


“Siapa kau! Kurang ajar sekali datang dan berbicara dengan cara seperti ini!”


Wang Rui segera membentak Yao Chan, sementara Huang Fei yang seratus tahun lebih tua dari Wang Rui, sedang menatap sosok pemuda itu seraya mengingat-ingat dimana Ia pernah melihatnya.


Penampilan Yao Chan memang masih seperti saat dirinya menghadapi Chu Lei.


“Apakah namaku sangat penting untuk kalian ketahui, sedang kalian sebentar lagi akan kukirim ke neraka?”


“APA!! Kurang ajar sekali bicaramu!”


Wang Rui terpancing emosinya oleh perkataan Yao Chan yang sengaja berlaku kurang ajar kepada mereka.


Wang Rui akan bergerak, namun suara Huang Fei membuatnya terkesiap.


“Apakah kau menakuti kami dengan menyamar sebagai hantunya Yuan Long?”


******



Referensi Karya dari Adik kita yang berusaha mandiri. masih SMA sudah pandai menulis. berharap dapat membiayai kuliahnya kelak dari hasil menulis.


Mari kita dukung karyanya. tersebut. walau ada beberapa kekurangan di chapter-chapter awal. Namun telah berhasil membuat hampir dua ratus Chapter. Likenya jangan lupa ya..


Terimakasih 🙏🙏😍