Pendekar Tiga Dunia

Pendekar Tiga Dunia
103: Dendam Song He


"Wu Jian Tunggu pembalasanku, akan ku ratakan istana buruk mu itu!"


Song He berteriak keras saat dirinya mendengar berita tentang kematian Dua Iblis Gunung Changyan. Kematian mereka berdua membawa duka mendalam di hatinya.


Dua Iblis Gunung Chang An sudah seperti Kakek bagi Song He. Kedua kakek itu telah mengawal dirinya semenjak ia masih berumur dua belas tahun.


Mereka berdua juga yang mengajarinya ilmu beladiri hingga ia mencapai tingkat Pendekar Raja tahap Akhir.


"Putera Mahkota, anda jangan terlarut dalam.kesedihan ini, Anda harus bersyukur bahwa anda bisa selamat dari hukuman pancung mereka."


Song He terdiam sejenak, lalu memandang sosok seorang Kakek berusia sembilan puluh tahun dengan rambut yang baru sebagian memutih. Dipunggungnya terlihat sebuah tombak pendek berukuran tak lebih dari satu setengah meter.


Kakek yang bernama Xun Chang itu adalah orang yang telah menyelamatkan dirinya saat terkurung dalam sebuah ruangan dengan tubuh tertotok.


Xun Chang mendapat perintah dari Kaisar Song Yu untuk melindungi Song He dari jarak jauh. Dengan kemampuannya yang telah mencapai tingkat Pendekar Suci tahap Akhir, membuat Xun Chang dengan mudah mengikuti Song He.


Juga dengan kemampuan menyamar yang handal, Xun Chang selalu bisa berada dekat dengan Song He tanpa disadari oleh Putera Mahkota Kekaisaran Song tersebut.


Xun Chang hampir saja terlibat dengan pertarungan jika ia tidak mengingat tugas utamanya. Saat ia melihat sepasang Kakek Nenek melumpuhkan Song He, hampir saja ia menyerang mereka berdua.


Dengan cerdik, Song He berhasil menyelinap dan menyamar menjadi seorang prajurit. Dan dengan mudahnya ia berkeliling mencari di mana Song He disekap.


Beruntung ia berhasil menemukan Song He dan membawanya pergi sebelum pertarungan itu berakhir. Jika tidak, bisa dipastikan Song He dipindahkan ke tahanan istana oleh sepasang Kakek Nenek itu dan menerima hukuman mati atas perbuatannya.


Ia pun membawa Song He dengan cepat keluar dari kota Wu Chang An. Dengan kemampuannya melayang di udara, Xun Chang berhasil membawa Song He keluar dari wilayah Kekaisaran Wu saat malam telah tiba.


"Kakek ... Angkatlah aku jadi muridmu, ajari aku teknik-teknik beladiri mu, karena aku ingin menjadi lebih kuat lagi."


Song He segera beranjak dari kursinya untuk melakukan seremonial pengangkatan seorang Murid dan Guru. Namun Xun Chang segera menahannya.


"Putera Mahkota ... Anda jangan bersikap seperti itu. Ilmu Tombak ku tidak cocok untuk dasar keahlian yang telah engkau miliki sekarang."


Xun Chang kemudian menjelaskan bahwa jika ingin mempelajari teknik beladirinya, Song He harus memulai dari awal lagi, dan itu akan membutuhkan waktu yang lama.


Song He terdiam mendengarnya, Ia ingin secepatnya membalas dendam dan meluapkan rasa rakit hatinya kepada Wu Jian sekaligus menguasai kekaisaran Wu.


"Putera Mahkota, anda adalah kaisar Song di masa depan, Tidak seharunya anda bersikap emosional seperti ini. Kegagalan anda yang baru saja terjadi adalah sebuah bukti bahwa anda lebih mengedepankan emosi. Dan Sebagi Calon Kaisar tidak seharusnya anda gegabah seperti kemarin."


Song He kembali terdiam mendengar perkataan Xun Chang, dalam hatinya ia membenarkan perkataannya itu.


"Putera Mahkota aku akan mengajak Anda menemui saudara seperguruanku, Ia mungkin bisa memberimu beberapa petunjuk, agar kemampuan mu meningkat."


Pada akhirnya Xun Chang memutuskan untuk membawa Song He menemui saudara seperguruannya yang memiliki keahlian dalam menggunakam senjata Trisula.


"Semoga saja Gui Han sedang berada di tempat tinggalnya. Sehingga perjalanan kita tidak akan sia-sia."


"Gui Han Pendekar Trisula Emas!?"


"Benar, dia memang berjuluk Pendekar Trisula Emas, pendekar Trisula nomor satu di kekaisaran Song."


Xun Chang dan Song He yang berencana kembali ke istana Song, mengalihkan arah perjalanan mereka. Keduanya menempuh jalan yang berlawanan arah dengan jalan menuju ke istana Song.


"Dimana tempat tinggal Pendekar Trisula Emas sebenarnya?"


Song He mengerutkan dahinya saat sudah dua desa mereka lewati, namun Xun Chang masih terus menggebrak kudanya untuk berlari lebih kencang lagi.


Saat keduanya mulai memasuki sebuah lembah yang dipenuhi dengan pepohonan besar, Xun Chang memberi isyarat untuk menghentikan kudanya.


Xun Chang meraih Tombak Pusaka di punggungnya. Song He keheranan melihat hal itu, ia tidak merasakan adanya seseorang atau hewan yang akan menyerangnya.


"Kakek Ada apa, kenapa Kakek ... ?"


Song He tak bisa melanjutkan kata-katanya, saat ia menyadari sosok seumuran dengan Xun Chang tiba-tiba muncul dari udara. Sekolah muncul dari ruang hampa karena kecepatannya yang tinggi.


"Ah rupanya kau adik Chang.. aku pikir kau orang luar yang masih mencoba mengambil senjata itu."


"Kakak Han, kau sungguh mengejutkan aku, kemampuan mu semakin meningkat."


Mendapati sosok tua itu ternyata adalah Gui Han yang terkenal sebagai Pendekar Trisula Emas, mata Song He berbinar mengetahui kekuatan yang ditunjukan tokoh yang termasuk dalam lima jagoan terkuat kekaisaran Song itu.


"Adik, lama juga kita tidak bertemu ya, kekuatanmu pun meningkat pesat, hampir menyamai kekuatan ku."


Gui Han terkekeh lalu keduanya berpelukan, sudah sejak lama mereka tidak bertemu. Kehangatan persaudaraan keduanya terlihat jelas oleh Song He. Membuatnya yakin akan mendapat kemajuan dalam ilmu beladirinya.


Gui Han membawa adik seperguruannya itu ke tempat dimana ia tinggal selama ini. Sebuah rumah berusia ratusan tahun terbuat dari bahan kayu yang sangat kuat. Rumah yang dulu menjadi tempat tinggal guru mereka berdua.


Sambil meminum arak, mereka pun berbincang-bincang sekedar melepas rindu. Xun Chang pun mengalihkan pembicaraan saat ia teringat sang kakak seperguruan nya itu hendak menyerangnya karena dianggap orang luar yang hendak mengambil senjata.


"Kakak kudengar tadi kau menyebutku orang luar yang hendak mengambil senjata, senjata apakah itu dan mengapa mereka mencoba mengambilnya?"


Gui Han menghela nafas panjang, ia pun menceritakan bahwa beberapa bulan lalu, seorang penebang kayu menemukan sebuah trisula yang memancarkan Aura Kematian yang pekat.


Trisula itu tertancap pada sebuah batu besar. Namun penebang kayu itu tidak bisa mengambilnya. Ia pun menceritakan hal itu, maka keberadaan senjata itu menyebar di wilayah di sekitar lembah.


Gui Han pun mencoba mengambil Trisula itu, namun ia tak mampu mencabutnya walau sudah mengerahkan seluruh kekuatan yang ia miliki. Meyakini ada Roh dalam senjata itu, maka suatu malam ia bermeditasi di depan trisula tersebut.


Roh yang menyebut sirinya Iblis Hitam itu mengatakan bahwa hanya orang yang ia pilih saja yang bisa mencabut trisula tersebut.


Mendapati senjata tersebut memiliki roh jahat, Gui Han pun menjaga senjata itu agar tidak ada orang yang mengambilnya. Ia tidak ingin manusia menjadi korban dari kekuatan Trisula Pusaka tersebut.


...*****...


...Like dan Vote adalah VITAMIN bagi Author agar selalu sehat jiwa dan jarinya sehingga terus bersemangat dalam menata kata😁....


...Jangan Lupa Like dan Votenya ya....


...Terimakasih...