
Yu Ma malam itu tidak menginap di kediamannya, ia bersama Yu Lian akan berada di istana menjalankan rencana yang mereka berempat bicarakan saat di rumah perdana Menteri Lin Bao.
Yao Chan menjelaskan bahwa Kelompok Rubah Hitam kemungkinan akan segera bergerak mengingat Kelompok Pisau Perak telah berhasil membunuh salah satu target dari tiga target mereka.
Untuk itulah Yao Chan berbagi tugas untuk bersiaga dengan menjaga keduanya. Yu Ma dan Yu Lian akan berjaga di Istana, sedangkan Yao Chan di kediaman Kakeknya bersama Zhu Yin dan Lin Yung.
Yao Chan mengatakan, akan lebih efektif jika mereka bisa mengantisipasi dengan menahan pembunuh saat masih berada di luar ruangan.
Yao Chan mengatakan bahwa dirinya malam itu berdiri di sebuah atap tertinggi dari sebuah bangunan di dekat Kediaman sang Kakek. Itulah mengapa dirinya bisa membantai para pembunuh dari Pisau Perak di atas atap rumah sang Kakek.
Yu Ma dan yang lainnya setuju dengan rencana tersebut, terutama Putera Mahkota Wu Jian. Walau ia harus dilindungi oleh seorang gadis yang ia sukai, namun ia tak merasa terhina, karena memang Yu Lian bukan gadis biasa.
Selain itu, ia pun bisa lebih dekat dan memiliki kesempatan bersama sang gadis yang entah sejak kapan dipuja oleh hatinya itu.
Saat Yu Ma dan Yu Lian tiba di Istana, Kaisar Wu Mao menyambutnya dengan heran dan sedikit cemas. Namun saat ia melihat Yu Lian bersama Ayahnya itu, ia memaklumi bahwa hal yang akan dibicarakan bukanlah masalah pekerjaan.
Kaisar Wu Mao terdiam pucat saat mengetahui maksud kedatangan Yu Ma dan Yu Lian, namun setelah mendengar penjelasan Yu Ma lebih lanjut, wajahnya sedikit memerah sedikit memerah. Tidak seputih kapas seperti sebelumnya.
Kaisar Wu Mao malam itu tidak bisa memejamkan mata. Walau ia sangat ingin mengistirahatkan tubuh dan matanya, namun kekhawatiran terhadap sang Putera Mahkota jauh lebih kuat dari rasa lelahnya.
Permaisuri Ling Yi, beberapa kali mengajaknya untuk istirahat, namun selalu tertolak. Ibu Wu Jian dan Wu Mei itu bahkan menjanjikan servis terhebatnya kepada sang Penguasa Wu itu untuk beristirahat. Namun Sang Kaisar tetap tak bergeming.
Sebagai antisipasi berubahnya target pembunuhan, Yu Ma meminta tiga orang tetua Sekte Lembah Dewa yang juga menjadi Pasukan Bayangan Malam, berjaga di sekitar Kediaman Sang Kaisar selama beberapa hari ke depan.
Hal yang sama terjadi dengan Wu Jian. Ia minta dua orang guru sekaligus pengawalnya itu untuk menemaninya di dalam ruangan. Dirinya tidak bisa berhenti untuk tidak khawatir terhadap Yu Lian.
Entah mengapa dalam benaknya saat ini hanya keselamatan Yu Lian yang lebih ia prioritaskan. Ingin rasanya ia mengetuk ruangan dimana Yu Lian sedang bermeditasi di dalamnya. Ruangan Yu Lian berada di tepat di depan ruangannya ini.
Sementara Yu Ma yang tengah berada di atas atap sebuah bangunan mengerutkan dahinya, pada jarak sekitar seratus meter ia melihat tiga buah bayangan bergerak cepat kearahnya.
Ia pun segera melemparkan sebuah batu sebesar kepalan tangan ke arah sebuah pintu yang terlihat dari atap rumah yang ia pijak. Pintu itu adalah tempat di mana dua pasukan Bayangan Malam bersiaga.
Dua orang yang juga merupakan Tetua Sekte Lembah Dewa itu, segera melesat ke depan ruangan di mana Putera Mahkota berada. Yu Lian yang sedang bermeditasi segera menghentikan kegiatannya, saat mendengar dua Tetua memanggil dirinya.
Yu Lian lalu keluar dan menemui kedua tetua tersebut.
"Paman apakah Ayah telah memberi tanda peringatan?" Yu Lian bertanya dengan suara yang dia pelankan.
Salah seorang akan menjawab, namun belum satu kata pun terucap, terlihat tiga sosok pria bercadar tiba di sisi atap bangunan di depan mereka.
Melihat hal itu, Yu Lian akan segera melompat ke udara namun sebuah suara menghentikan gerakannya.
"Lian'er tetap di samping Putera Mahkota, Biar Ayah yang mengurus mereka."
Yu Ma yang sebelumnya menyembunyikan keberadaan dirinya, segera muncul karena Yu Lian terlihatbakan bergerak di luar rencana mereka semula.
Mendapati sang Ayah telah berada di sampingnya, Yu Lian berniat kembali, saat itulah dua buah anak panah melesat cepat kearahnya.
Yu Lian mengumpat keras, satu detik saja dirinya terlambat menghindar, mungkin nyawanya tidak bisa diselamatkan. Karena selain ukuran anak panah itu jauh lebih besar dan panjang, kecepatannya pun tiga kali lipat dari kecepatan normal.
Yu Lian tersulut emosinya, ia pun mengeluarkan Cambuk Naga Api yang membuat Yu Ma terkesiap seketika itu juga.
"Lian'er..hentikan!!"
Ia telah melihat kehebatan cambuk di tangan puterinya tersebut, dan jika Yu Lian menggunakan kekuatan cambuknya seperti saat di Kota Xinan, bisa di pastikan Istana akan hancur rata oleh cambuk itu.
Yu Lian kembali memasukan Cambuk Naga Api ke dalam Gelang Ruang Dimensinya. Ia Pun kembali melesat ke arah di mana dua tetua sekaligus anggota Pasukan Bayangan Malam itu bersiaga di depan ruang Putera Mahkota.
"Hohohoho jadi ia puteri Pendekar Pedang Matahari Yu Ma."
Tao Yan yang sebelumnya pernah bertarung dengan Yu Ma, tertawa melihat keterkejutan di wajah Jendral Besar Kekaisaran Wu itu.
Yu Ma menyipitkan matanya, seseorang dari Rubah Hitam yang mengenalnya pastilah Tao Yan, Si Pedang Bayangan.
"Tao Yan.. berani sekali kau berbuat onar di Istana kekaisaran Wu."
Yu Ma mengeluarkan Pedang Matahari dari sarungnya. Sementara Tao Yan melakukan hal yang sama.
"Untuk Jutaan keping emas, tentu saja dengan senang hati aku berkunjung ke istana. Lama tidak bertemu Pendekar Ma, sepertinya kemampuanmu meningkat jauh."
Tao Yan tersenyum tipis menyadari Kemampuan Yu Ma sedikit berada di atasnya.
"Kalian urus Putera Mahkota, lakukan dengan cepat." Tao Yan memberi perintah kepada kedua orang temannya itu.
"Baik ketua Yan..."
Seseorang yang memanah Yu Lian tadi, kembali memasang dua anak panah di busurnya. Ia merasa penasaran, bagaimana bisa seorang gadis lolos dari serangan panahnya. Sebagai Pemanah terhebat di kelompoknya, ia benar-benar merasa terhina.
Kedua orang tersebut segera melesat turun, Tao Yan sedikit terganggu karena Yao Ma terlihat santai walau Putera Mahkota sedang terancam nyawanya.
Tao Yan akhirnya menemukan jawabannya, ketika melihat dua orang menghadang langkah kedua rekannya. Suara pertarungan keduanya terdengar membuat para prajurit segera bersiaga di tempat itu.
Tao Yan menghela nafas panjang, menyadari misinya kali ini berpotensi gagal karena keberadaan Yu Ma dan tetua Sekte Lembah Dewa lainnya.
"Mereka sudah mulai bermain, apakah kita akan diam saja dan menontonnya?"
Tao Yan mengerahkan tujuh puluh persen tenaga ke seluruh tubuhnya, Pedang Bayangan pun memancarkan aura yang mencekam.
Yu Ma tersenyum tipis, ia tidak menjawab pertanyaan Tao Yan dengan kata-kata, melainkan melepaskan sebuah serangan energi pedang ke arah Tao Yan.
...*****...
...Like dan Vote adalah VITAMIN bagi Author agar selalu sehat jiwa dan jarinya sehingga terus bersemangat dalam menata kata😁....
...Jangan Lupa Like dan Votenya ya....
...Terimakasih...