
Saat Jiao Xin dan dan lainnya tiba, mereka menemukan Hong Qi juga baru tiba di tempat itu dengan wajah yang terlihat bingung.
Hong Qi segera melesat menghampiri mereka bertiga dan langsung menanyakan mengapa Gurunya dan Song He bertarung.
"Itu semua karena kesalahan Kaisar Song He, ia merasa marah karena rencana untuk membuat kekacauan Kekaisaran Wu gagal dan hanya kau satu-satunya yang masih hidup, mengetahui kau akan datang bersama gurumu, ia malah meremehkan guru mu dengan suara lantang. hingga tiba-tiba saja gurumu datang dan seperti inilah yang terjadi."
Matriak Bunga Hitam menjelaskan dengan panjang lebar kepada Hong Qi yang wajahnya kini terlihat kecewa sekaligus khawatir akan keselamatan Song He.
Mereka pun mengamati pertarungan ke duanya dari jarak seratus meter.lebih, karena tak ingin terkena imbas dari pertarungan dahsyat yang seringkali tidak bisa mereka ikuti karena kecepatannya yang begitu tinggi.
"Saudara Hong, adakah gurumu mengatakan berada di tingkat apa kemampuannya saat ini?"
Jiao Xin bertanya kepada Hong Qi sambil matanya tetap melihat kearah pertarungan itu. Jawaban Hong Qi membuat Jiao Xin memalingkan wajah ke arahnya dengan raut wajah yang terkejut, demikian juga dengan Matriak Bunga Hitam Dan Mo Duan.
"Pendekar Langit Tahap Akhir!? Itu artinya gurumu adalah orang paling kuat di dunia ini karena telah mencapai puncak tertinggi ilmu beladiri."
Jiao Xin berkata dengan suara yang dipenuhi kekaguman atas jawaban Hong Qi. Namun gelengan kepala Hong Qi membuat ketiga orang itu keheranan dengan benak yang dipenuhi pertanyaan.
"Menurut Guru, masih ada dua tingkatan lagi di atas pendekar Langit yang ia ketahui saat dirinya berada di Dunia Kultiva, Pendekar Roh dan Pendekar Dewa."
"Dunia Kultiva!? Pendekar Dewa!?"
Ketiganya bersuara secara bersamaan karena kembali dikejutkan informasi dari Hong Qi. Mereka menatap Hong Qi dan memastikan bahwa perkataan Kakek itu adalah benar.
BLAAAAM
Saat ingin bertanya apa itu Dunia Kultiva dan bagaimana cara agar bisa kesana, suara ledakan yang sangat keras terdengar dari arena pertarungan.
Daratan di sekitar arena itu berguncang seolah dilanda gempa bumi dahsyat. Udara pun berfluktuasi hebat dan menerpa tubuh mereka hingga terhempas belasan meter kebelakang.
Keempat pendekar tingkat tinggi itu terlihat takjub setelah dapat menguasai keseimbangan tubuh mereka yang melayang di udara melihat apa yang terjadi.
Mereka menatap ke arena pertarungan dimana terlihat dua buah bola energi berdiameter kurang lebih dua meter dengan cahaya yang berbeda, sedang beradu di udara.
Kedua bola energi berbeda cahaya itu terlihat saling dorong mendorong untuk dapat mendorong kearah tubuh lawan yang masing-masing berjarak sepuluh meter dari kedua bola energi yang sedang beradu itu.
Bola Energi Hitam kemerahan terlihat mulai terdorong mundur ke arah tubuh Song He yang dirasuki oleh Iblis Hitam.
Luo San mulai tersenyum saat menyadari wajah Iblis Hitam terlihat kepayahan menahan laju bola energi bercahaya biru kehitaman miliknya.
Namun senyum Luo San menghilang saat menyadari bola energi biru kehitaman terdorong ke arah dirinya akibat dari tekanan kekuatan Iblis Hitam yang kini terlihat senang melihat hal itu.
Wajah Luo San terlihat kesal, ia pun mengerahkan lebih besar tenaga qi nya untuk mendorong balik bola energi hitam kemerahan itu sehingga kini berada di tengah-tengah mereka lagi.
Diiringi teriakan yang kuat, Iblis Hitam mengerahkan seluruh kekuatannya untuk mendorong bola energinya agar menghantam Luo San.
Namun Luo San yang telah mengantisipasi hal itu, segera mengerahkan seluruh kekuatannya sehingga sesuatu yang tak terduga terjadi.
BLAAAAR
Dua bola energi itu meledak sangat kuat, membuat tanah berguncang tiga kali lebih besar dari sebelumnya.
Fluktuasi udara pun tiga kali lebih kuat dari sebelumnya membuat keempat orang yang menyaksikan pertarungan tersebut, terlempar puluhan meter bagaikan daun kering tertiup angin.
"Guru !?"
Saat menatap ke tanah, ia pun melihat sang Guru baru saja bangkit dan segera duduk bermeditasi untuk menyembuhkan luka dalamnya.
Pada jarak seratus meter dari hadapannya, sosok Song He pun terlihat baru saja bangkit dan segera melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan oleh Luo San.
Jiao Xin, Matriak Bunga Hitam dan Mo Duan yang telah berhasil menguasai diri kembali, bermaksud untuk menghampiri Sosok Song He.
Namun Suara Hong Qi membuat mereka menghentikan niatan tersebut. Mereka pun menatap Hong Qi untuk mendapat jawaban atas larangannya itu.
Hong Qi akhirnya menjelaskan apa yang sedang mereka lihat bukanlah meditasi biasa, keduanya sedang berkultivasi untuk menyembuhkan diri dan menyerap energi alam di sekitar mereka untuk memulihkan kembali energi qi nya.
Sesaat setelah Hong Qi mengajak mereka menjauh dari tempatnya saat ini, udara bergerak kearah dua orang yang sedang berkultivasi itu.
Tiba-tiba saja mereka seolah berada di ruang pengap tanpa udara yang membuat dada mereka menjadi sesak. Beruntungnya Hing Qi sudah memperingatkan hak itu, sehingga mereka segera menjauh menyusul Hong Qi yang sudah sepuluh meter di depan mereka.
**
AAARRGGGGH
Entah itu teriakan yang ke berapa ratus kali dilakukan oleh Yao Chan dalam waktu tiga hari ini.
Saat ini Yao Chan sedang terlihat berendam di dalam sebuah Bak besar dengan air yang berwarna Hijau dari Guci Dewa Air.
Ia berendam dengan tubuh tanpa sehelai benang pun, yang dikatakan oleh Roh Gadis Suci bernama Gong Li itu, merupakan aturan yang wajib dilalsanakan dalam proses yang akan Yao Chan lakukan.
Setelah menelan Kristal Putih pemberian Dewa Naga, Yao Chan segera memasuki bak mandi yang dikeluarkan dari Gelang Ruang Dimensi milik Zhu Yin.
Setelah mengisi bak tersebut dengan Air Hijau dari Guci Dewa Air, Yao Chan segera memasuki bak tersebut untuk melakukan sebuah proses yang menurut Gong Li bernama Penempaan Tulang dan Otot.
Tujuan dari proses ini adalah untuk memperkuat tulang dan otot tubuh Yao Chan agar dapat menampung lebih banyak energi qi menjadi jauh lebih besar dari sebelumnya.
Hanya saja proses ini sangat menyakitkan, seseorang harus tetap tersadar saat proses ini dilakukan. Atau ia akan mengalami kelumpuhan bahkan tewas jika sampai tak sadarkan diri saat proses ini berlangsung.
Jika saja Yao Chan tidak memiliki Mutiara Jiwa Naga, mungkin sudah sejak dari awal ia jatuh pingsan karena rasa sakit yang luar biasa pada tubuhnya.
Teriakan Yao Chan tersebut terjadi saat tulang-tulangnya dihancurkan untuk kemudian di bentuk kembali menjadi lebih kuat dari sebelumnya.
Demikian juga saat otot-otot tubuhnya dihancurkan dan di bentuk kembali, rasa sakit yang luar biasa ia dera silih berganti dengan rasa nyaman karena bagian yang selesai di bentuk itu, dirasakan olehnya menjadi jauh lebih kuat dari sebelumnya.
Saat di suatu bagian tubuhnya sedang di hancurkan ototnya, wajah Yao Chan terlihat khawatir, bukan karena sakitnya yang membuat ia begitu, tapi rasa takut jika bagian itu tidak bisa diperbaiki lagi.
Gong Li yang selalu mengawasi proses penempaan tulang dan otot itu, menjadi heran dengan raut wajah pemuda yang terlihat berbeda dari biasanya.
Dalam dua hari terakhir, ia belum pernah melihat wajah pemuda itu terlihat khawatir seperti saat ini, namun ia tidak bertanya kepada Yao Chan mengapa ia bersikap demikian karena Yao Chan harus tetap berkonsentrasi dengan memejamkan matanya.
Beberapa saat kemudian Wajah Gong Li terlihat semakin keheranan ketika melihat Yao Chan tersenyum, hal yang tidak pernah ia lihat selama dua hari terakhir ini.
Karena rasa penasarannya Ia pun melayang mendekati Bak Mandi tersebut, namun ia terkesiap, matanya melotot dengan mulut terbuka lebar.
Wajahnya pun seketika memerah saat ia berbalik seraya mengumpat pelan kepada Yao Chan dengan rasa kesal setelah mengetahui apa yang membuat pemuda tampan itu tersenyum bangga.
"Dasar pemuda gila! ... Aaaah sial, mata suciku hari ini ternoda olehnya."
*****