
Feng Hui yang sudah sangat kesal segera melesat dengan kekuatan penuhnya mempersempit jarak dengan Yao Chan.
Ia menebaskan Pedang Halilintarnya dengan cepat saat jaraknya hanya terpaut dua meter dari Yao Chan.
JDAAAR
Suara petir menggelegar menghantam tubuh Yao Chan dengan sangat kuat. Feng Hui tersenyum melihat serangannya tepat mengenai pundak Yao Chan.
"Apaaaa!!"
Senyum Feng Hui menghilang beberapa saat kemudian. Matanya melotot lebar seolah tak mempercayai apa yang dilihat oleh matanya.
"Bagaimana bisa!??"
Feng Hui terpana saat menyadari serangan terkuat yang ia miliki tidak memberikan luka sedikitpun terhadap Yao Chan.
Ia pun akhirnya menyadari kulit tubuh Yao Chan yang telah berubah seperti sisik ular adalah hal yang mungkin menjadi penyebab serangan terkuatnya itu gagal merobohkan Yao Chan.
"Kenapa wajahmu seperti itu kakek bau tanah? Apakah wajahku terlalu tampan hingga kau terpesona seperti itu hahahaha."
Feng Hui ingin memaki Yao Chan yang jelas-jelas meledeknya. Namun ia menyadari bahwa hal itu percuma saja ia lakukan.
Feng Hui melirik ke bawah dimana pertarungan disana hanya menyisakan tiga orang anak buahnya yang terkuat. Mereka sedang terdesak menghadapi dua orang gadis belia.
"Anak muda, kau sungguh hebat, serangan terkuat ku tidak berpengaruh sama sekali padamu. Ku akui kau lawan terkuat yang pernah ku hadapi."
Yao Chan tersenyum tipis mendengar perkataan Feng Hui yang terdengar sudah putus asa.
"Kakek bau tanah, sepertinya kau sudah putus asa menyerang ku atau itu siasat mu saja untuk kabur dariku?"
Feng Hui menelan ludahnya, dalam hati ia memaki Yao Chan dengan segala sumpah serapah terburuk yang ia ingat.
Melihat anak buahnya telah terbunuh dan hanya menyisakan tiga orang saja, Feng Hui merasa bahwa Kelompok Rubah Hitam yang ia dirikan tiga puluh tahun lalu itu, akan binasa hari ini.
Feng Hui segera memasukan Pedang Halilintar ke sarungnya yang tergantung di pinggang kiri. Ia pun lalu mengalirkan seluruh tenaga dalamnya yang tersisa ke kedua telapak tangan.
Beberapa waktu lalu Feng Hui menemukan suatu energi yang berbeda dalam tubuhnya sesaat setelah meminum air hijau dari air terjun yang terbalik aliran airnya itu.
Ia menemukan sebuah energi berbentuk kristal didalam tubuhnya. Ia pun menemukan bahwa energi itu jauh lebih murni dan lebih kuat dari tenaga dalam.
Setelah beberapa hari belajar menggunakan energi tersebut, ia pun berhasil menciptakan jurus tangan kosong dengan menggunakan kristal energi tersebut.
Dalam beberapa kali berlatih ia berhasil menghancurkan sebuah bukit dengan menghantamkan energi yang ia bentuk seperti cakram dikedua tangannya.
Energi kristal didalam tubuhnya hanya berjumlah lima buah saja, namun Feng Hui yakin ia dapat mengalahkan Yao Chan dengan menggunakan kristal energi tersebut.
"Bocah ingusan, jangan senang dulu, aku masih mempunyai teknik lain untuk mengirim mu ke alam baka."
Selesai berkata demikian, Feng Hui segera mengalirkan energi dari dua buah kristal energi yang berada di dalam tubuhnya.
Dua buah cakram energi yang berukuran dua meter itu berputar dengan cepat di kedua telapak tangan Feng Hui. Lalu ia melemparkan dua buah cakram energi itu ke Yao Chan.
Yao Chan tersenyum dengan serangan itu, ia membiarkan serangan kedua cakram itu mengenai tubuhnya.
BLAAAAR
Mata Feng Hui melebar saat melihat Yao Chan hanya terpental tiga puluh meter saja. Walau ia melihat darah menetes dari bibir pemuda itu, namun luka itu tidak begitu parah mendera tubuhnya.
"Sekuat itukah pusaka pelindung yang ia miliki? bagaimana caraku mengalahkannya?"
Feng Hui terlihat kebingungan mendapati Yao Chan masih berdiri tegak, mengingat dalam latihannya ia mampu menghancurkan sebuah bukit dengan serangan sekuat tadi.
"Bocah bodoh apa kau tidak bisa membedakan tenaga dalam dengan qi? Untung saja masih tersisa sedikit qi di dalam Zirah ini, jika tidak tubuhmu sudah meledak dan hancur berkeping-keping!"
Sebuah suara terdengar di dalam kepala Yao Chan. Suara yang ia kenali sebagai Roh Naga Emas yang menghuni Zirah Sisik naga di dalam tubuhnya.
Yao Chan menggaruk kepalanya, ia belum pernah merasakan energi qi, bagaimana ia bisa membedakannya. Dasar Roh Dewa sontoloyo. pikir Yao Chan.
"Bocah kurang ajar, jangan kau kira aku tidak bisa melihat apa yang kau pikirkan. Jangan melawan saat aku akan mengambil alih tubuhmu, biarkan aku yang melawannya."
Suara Roh Naga Emas menghilang bersamaan dengan kesadaran Yao Chan yang perlahan-lahan memudar. Sesaat kemudian Yao Chan merasakan pandangannya menjadi gelap.
Daratan dalam radius satu kilometer bergetar saat Roh Naga Emas selesai merasuki tubuh Yao Chan. Aura berwarna kuning keemasan, kini memancar dari tubuhnya.
Feng Hui menelan ludahnya, tubuhnya ikut bergetar merasakan luapan energi yang sama dengan energi kristal di dalam tubuhnya.
Hatinya pun menjadi ciut saat menyadari tiba-tiba Yao Chan telah berada dua meter dihadapannya. Saat itulah ia bisa melihat bola mata Yao Chan telah berubah. Warna putih di mata Pemuda itu kini telah sepenuhnya menjadi kuning keemasan. Demikian juga dengan warna hitamnya.
Feng Hui tak mampu berlama-lama menatap bola mata Yao Chan yang kini terlihat seperti mata seekor ular. Dirinya pun memikirkan cara untuk melarikan diri dari pemuda yang sepertinya telah kerasukan roh.
"Kau manusia berbahaya, jangan berpikir bisa melarikan diri dari ku!"
Feng Hui tersedak ludahnya sendiri mendengar suara pemuda tersebut berubah menjadi serak-serak basah.
Hal lain yang membuatnya terkejut adalah apanya yang ia pikirkan ternyata diketahui oleh sosok didepannya itu.
Feng Hui segera mengalirkan dua buah kristal energi dan membentuknya menjadi cakram yang berputar seperti sebelumnya. Namun ia juga mengalirkan satu kristal energi yang tersisa kearah kaki kanannya.
Feng Hui melesat mundur hingga sepuluh meter, ia segera melemparkan kedua cakram energi dikedua telapak tangannya kearah Yao Chan. Setelah itu ia membalikan badannya dan melesat dengan sangat cepat untuk melarikan diri.
BLAAAAR
Suara menggelegar kembali terdengar, Feng Hui tak ingin melihat serangannya itu membuahkan hasil atau tidak. Yang ingin dia lakukan adalah pergi sejauh ya dari tempat itu secepatnya.
Dalam dua detik Feng Hui telah berpindah tempat sejauh seratus meter dari tempatnya semula, ia tetap melesat terbang sambil menoleh kebelakang untuk melihat apakah Yao Chan mengejarnya atau tidak.
BUUUK
Feng Hui terkejut setengah hidup saat merasakan sakit di kepalanya karena menabrak sesuatu yang keras seperti besi.
Matanya terbelalak lebar saat menemukan Yao Chan telah berdiri didepannya.
"Bagaimana bi ... hek"
Suara Feng Hui terputus saat lehernya telah di cengkram oleh Yao Chan.
*****