Pendekar Tiga Dunia

Pendekar Tiga Dunia
058: Mutiara Jiwa Api


Yu Lian Jatuh terduduk di tanah, nafasnya terengah-engah dan rasa sakit melanda seluruh tubuhnya. Yu Lian merasakan kesadarannya semakin menipis, hal terakhir yang dilihatnya sebelum tak sadarkan diri adalah wajah tampan Yao Chan yang terlihat sangat khawatir, melesat cepat menghampirinya.


Yao Chan tiba di tempat Yu Lian, tepat sesaat sebelum Yu Lian jatuh tak sadarkan diri. Yao Chan segera menangkap bahu Yu Lian, lalu membopong gadis cantik tersebut dan membawanya melayang ke depan Gerbang Kota Xinan.


Sementara itu seluruh anggota sekte Lembah Iblis Neraka, sudah berada di kejauhan dengan jarak ratusan meter dari gerbang selatan kota Xinan.


Sementara mereka yang terluka dan tak bisa melarikan diri hanya bisa pasrah menerima kematiannya. Hidup mereka berakhir ditangan para prajurit dan Anggota Sekte Lembah Dewa.


"Lian'er... !"


Tetua Yu Ma dan Tetua Ma Hua hampir bersamaan memanggil Yu Lian. Wajah keduanya terlihat sangat khawatir. Lalu menghampiri Yao Chan yang sedang membopong Yu Lian yang wajahnya mulai memucat.


"Chan'er...Apa yang sebenarnya terjadi dengan Lian'er ?" Yu Ma langsung bertanya kepada Yao Chan yang telah menurunkan dan membuat posisi Yu Lian dalam posisi bermeditasi.


"Paman nanti aku akan menjelaskannya, saat ini aku harus segera menyalurkan energi murni ke tubuh Yu Lian agar sirkulasi energinya kembali normal." jawab Yao Chan.


Yao Chan meletakan tangannya di punggung Yu Lian, lalu mengalirkan hawa murni secara perlahan kedalam tubuhnya. Hawa murni yang dialirkan Yao Chan tersebut berasal dari Mutiara Jiwa Naga yang menyatu di pusar Yao Chan.


Hawa murni itu memiliki khasiat menyembuhkan luka dalam dan memperbaiki struktur sel dan organ dalam yang mengalami kerusakan ringan.


Hanya dalam waktu kurang dari lima menit, Wajah Yu Lian kembali terlihat cerah dan perlahan-lahan Yu Lian pun membuka matanya.


"Lian'er.. syukurlah kau sudah sadar nak." Yu Ma menggegam kedua tangan putrinya sambil tersenyum bahagia.


Yao Chan berhenti mengalirkan hawa murni ke tubuh Yu Lian saat mengetahui Yu Lian telah tersadar dari pingsannya.


"Lian'er... mengapa kau gegabah sekali? bukankah kau mengetahui bahwa tubuhmu belum cukup kuat untuk menggunakan Cambuk Naga Api terlalu lama?"


Yao Chan menegur Yu Lian, hal ini membuat Yu Lian terdiam dan merasakan hatinya menjadi nyeri. Tanpa disadarinya, air mengalir dari matanya yang bening itu.


Yu Ma tertegun saat melihat Yu Lian menangis karena beberapa kata dari Yao Chan. Saat itulah Yu Ma meyakini bahwa putrinya, memiliki perasaan cinta yang mendalam kepada Yao Chan.


"Chan'er apa sebenarnya yang terjadi dengan Lian'er tadi?"


"Baiklah paman aku akan menceritakan beberapa hal tentang Cambuk Naga Api." Jawab Yao Chan lalu menghela nafas panjang. Yao Chan menyuruh Yu Lian untuk bermeditasi menstabilkan energi murninya.


Kemudian Yao Chan menjelaskan bahwa Cambuk Naga Api adalah Senjata yang digunakan oleh Naga Api saat dirinya masih hidup sebelum terbunuh oleh Raja Iblis di dunia Moxian, dunia tempat tinggal bangsa Iblis dan bangsa Peri,


Kedua bangsa tersebut memiliki kekuatan yang tinggi dan di luar nalar manusia. Walau menempati alam dunia yang sama, namun perilaku kedua bangsa tersebut saling bertolak belakang sehingga menyebabkan pertikaian yang panjang.


Bangsa Iblis yang dipimpin oleh Raja Iblis En Mo berniat menguasai Dunia Moxian dan membunuh semua peri yang ada di dunia tersebut.


Rencana tersebut, tentu saja di ketahui oleh Dewa Naga yang kemudian mengirim Naga Api untuk mendamaikan pertikaian tersebut. Dewa Naga membekali Naga Api dengan sebuah cambuk yang mampu berubah ukuran dan mengeluarkan Api.


Raja Iblis En Mo berhasil membunuh Naga Api dengan muslihat yang licik. Kematian naga Api membuat Dewa Naga Murka, lalu akhirnya menjelma menjadi Shen Long dan muncul di Dunia Moxian.


Dewa Naga merebut kembali Cambuk Api setelah sebelumnya menyegel Raja Iblis En Mo kedalam sebuah Bola Emas. Dewa Naga memerintahkan bangsa Peri untuk menjaga Bola Emas tersebut dari para Iblis yang ingin membebaskan Rajanya.


Sedangkan Mutiara Jiwa Api melesat ke dunia lain, yaitu dunia manusia. Hal itu terjadi saat Naga Api terbunuh oleh Raja Iblis En Mo.


"Paman, saat ini kami berdua mendapat misi dari Dewa Naga untuk menemukan Pusaka Iblis dan beberapa pusaka Dewa lainnya yang berada di alam manusia dan salah satunya adalah Mutiara Jiwa Api. Hal ini bertujuan untuk membuat Yu Lian bisa menggunakan kekuatan penuh Cambuk Naga Api. Karena saat ini Lian'er baru mampu menggunakan kekuatan Cambuk tersebut sebesar dua puluh persen saja."


Yao Chan mengakhiri penjelasannya tentang Cambuk Naga Api kepada Tetua Yu Ma dan Tetua Ma Hua.


Keduanya membuka mulut lebar saat menngetahui bahwa serangan Yu Lian yang begitu dahsyat tadi, baru dua puluh persen dari kekuatan Cambuk Naga Api yang sesungguhnya.


"Chan'er apakah kau mengetahui di mana keberadaan Mutiara Jiwa Api tersebut." Tanya Yu Ma penasaran.


Sebagai seorang Ayah, tentu dirinya berharap bahwa sang putri dapat segera menemukan mutiara tersebut. Agar hal seperti saat ini, tidak terulang kembali di masa depan. Yang bisa jadi membahayakan jiwa Yu Lian.


"Sejauh ini kami belum mengetahui dengan pasti Paman. Dewa Naga hanya memberitahu tandanya saja. Tempat dimana beradanya Mutiara Jiwa Api adalah sebuah tempat yang sangat gersang, tidak ada tanaman yang mampu hidup di sekitarnya dalam radius belasan kilometer karena hawa panas Mutiara Jiwa Api itu." Jawab Yao Chan dengan suara yang menyiratkan kesedihan.


Yao Chan kemudian menjelaskan bahwa orang yang berjodoh dengan Cambuk Naga Api tidak akan merasakan rasa panas jika berdekatan dengan Mutiara tersebut.


Tetapi bagi yang tidak berjodoh tubuhnya akan merasakan hawa panas yang luar biasa bahkan bisa saja hangus terbakar.


Yu Ma dan Tetua Ma Hua terdiam mendengar penjelasan Yao Chan. Sepengetahuan mereka belum pernah mendengar tentang tempat seperti yang disebutkan oleh Yao Chan.


Guo Jin, Zhu Yin dan Tetua Feng Hu datang saat Yao Chan baru saja menyelesaikan kata-katanya.


"Chan'er bagaimana kondisi Lian'er?" Guo Jin menanyakan hal tersebut karena melihat Yu Lian sedang bermeditasi tak jauh dari mereka bertiga.


"Dia baik-baik saja Kek, saat ini dia tengah menstabilkan energinya yang sedang kacau."


**


Saat matahari berada tepat diatas kepala, seluruh Anggota Sekte Lembah Dewa dan para prajurit kota Xinan selesai membereskan mayat-mayat rekan mereka yang gugur dalam pertempuran.


Aroma darah yang amis berbaur dengan aroma daging yang hangus terbakar sedikit menghambat proses itu. Jasad Anggota Sekte Lembah Iblis Neraka, dibuang di jurang yang jaraknya ratusan meter dari Kota Xinan.


Sementara puluhan jasad para prajurit yang tewas dan belasan jasad anggota sekte Lembah Dewa dimakamkan secara layak tak jauh dari benteng Kota.


...*****...