Pendekar Tiga Dunia

Pendekar Tiga Dunia
128: Yao Chan Vs Pedang Tengkorak


Wajah Pedang Tengkorak memerah mendengar pertanyaan Yao Chan, ia sudah mendengarkan dengan sungguh-sungguh pertanyaan Yao Chan, namun ternyata pemuda itu hanya ingin meledek dirinya saja.


Sekalipun diselimuti kemarahan yang besar, namun Pedang Tengkorak tak ingin berlaku gegabah. Terutama ketika mendapati serangannya hanya mengenai tempat kosong. Ia pun mencoba mengukur kemampuan Yao Chan, namun tak bisa memastikan.sejauhmana kekuatannya.


Sementara mata Dewa Racun Barat melebar melihat Yao Chan dengan mudahnya menghindari serangan cepat dari Pedang Tengkorak. Ia sendiri tak akan mampu bergerak secepat yang Yao Chan lakukan.


Ia mencoba mengukur kemampuan Yao Chan, namun tetap saja ia tak bisa memastikan kemampuan pemuda yang pernah bertarung dengannya itu.


Walau telah menyerap khasiat Apel Dewa pemberian Yao Chan, namun Dewa Racun Barat merasa kemampuannya masih di bawah kemampuan Yao Chan. Hal ini semakin membuatnya kagum pada pemuda belasan tahun itu.


"Anak muda kau benar-benar memaksaku untuk melakukan sesuatu yang tak ingin ku lakukan. Jadi jangan salahkan aku berlaku kejam padamu."


Pedang Tengkorak segera mencabut pedang di punggungnya, Pedang yang ujung gagangnya tersemat sebuah tengkorak manusia berukuran sekepal tangan. Tengkorak yang konon kabarnya memiliki kemampuan di luar nalar manusia.


"Bocah Sontoloyo, berhati-hati lah dengan pedangnya, pedang itu memiliki kemampuan sihir yang hebat. Jangan sampai kau lengah."


Dewa Racun Barat mengingatkan Yao Chan yang masih terlihat santai. Hal yang membuat Dewa Racun Barat semakin penasaran sejauh mana kekuatan yang Yao Chan miliki.


"Iya Kek, pedangnya memiliki bentuk dan aura yang mengerikan."


Yao Chan pun memahami kegelisahan Dewa Racun Barat, disisi lain Yao Chan penasaran dengan keistimewaan pedang tersebut.


"Anak Muda, kulihat kau tidak membawa senjata ap .."


Kata-kata Pedang Tengkorak terhenti ketika melihat Yao Chan mengeluarkan sebuah pedang dari ruang hampa. Demikian juga dengan rekannya yang berjuluk Raja Tinju Petir. Keduanya terlihat semakin penasaran dengan sosok pemuda belasan tahun itu.


Melihat Yao Chan sudah memegang pedang, Pedang Tengkorak pun bersiap-siap dengan salah satu dari tiga jurus terkuatnya. Diawali dengan sebuah teriakan, tubuhnya melesat dengan cepat menerjang Yao Chan.


Pedang tengkorak menebaskan pedangnya dengan cepat kearah leher Yao Chan yang segera menangkisnya dengan Pedang Dewa Perang. Tubuh Yao Chan terpental akibat benturan tersebut. Ia hanya mengerahkan beberapa ratus simpul tenaga dalam untuk menangkis serangan itu.


Menyadari lawannya menggunakan kekuatan besar Yao Chan segera mengalirkan Dua ribu simpul tenaga dalam ke dalam pedangnya, membuat gravitasi udara tiba-tiba berubah menjadi tiga kali lebih berat dari sebelumnya.


Pedang Tengkorak yang hendak menyerang Yao Chan lagi, terkesiap saat merasakan tubuhnya semakin berat, posisi melayangnya menjadi tidak stabil, membuat ia segera mengerahkan lima puluh persen tenaga dalam ke tubuhnya.


Yao Chan tersenyum tipis melihat hal itu, ia pun segera menyerang dengan jurus Jiwa Murka Pedang. Pertukaran serangan pun terjadi diantara keduanya.


Dewa Racun Barat tersenyum tipis melihat Yao Chan yang sepertinya sedang menikmati pertarungannya. Sementara Raja Tinju Petir terlihat takjub melihat pertarungan kedua orang beda generasi itu.


"Apa kau hanya akan menjadi penonton saja, bagaimana kalau aku yang melayanimu bermain beberapa jurus."


Dewa Racun Barat akhirnya memutuskan untuk bertarung dengan kakek berjuluk Raja Tinju Petir itu.


"Baiklah walau aku sebenarnya ingin menyaksikan pertarungan mereka, tapi kalau kau ingin merasakan dibelai oleh petir ku, mari kita bermain-main beberapa jurus."


Raja Tinju Petir menerima tantangan Dewa Racun Barat ia pun segera bersiap dengan mengerahkan tiga puluh persen tenaganya.


Keduanya bergerak hampir bersamaan, suara benturan dua telapak tangan terdengar beberapa kali. Dewa Racun Barat sesekali melepaskan serangan tapak beracun-nya , namun Raja Tinju Petir dengan mudah menghindari serangan tersebut.


Keduanya pun mulai terlibat pertarungan yang seru, pertukaran serangan silih berganti hingga mencapai puluhan jurus, keduanya sama-sama berhenti ketika mendengar teriakan dari Pedang Tengkorak.


Pedang Tengkorak terpental sepuluh meter akibat sebuah tendangan Yao Chan yang mendarat di dadanya. Seteguk darah keluar dari mulutnya membuat wajahnya menjadi kelam karena amarahnya.


Sudah sejak lama tidak ada orang yang mampu membuatnya berdarah, dan kini ia mengeluarkan darah akibat tendangan seorang pemuda yang berumur belasan tahun.


"Anak muda, kau benar-benar memaksaku rupanya. Ku turuti keinginanmu itu."


Selepas berkata demikian, Tubuh Pedang Tengkorak bergetar hebat, dari gagang pedangnya yang berupa tengkorak, mengeluarkan asap merah kehitaman. Aura mencekam pun seketika memenuhi udara senja yang sebentar lagi menjadi malam.


Yao Chan mengerutkan dahinya melihat Asap keluar dari mulut gagang tengkorak itu. Asap itu pun membesar dan tiba-tiba saja berubah menjadi sosok yang menyerupai Pedang Tengkorak.


Hanya saja mata sosok tersebut berwarna merah dan memancarkan aura kematian yang yang kuat dan segera saja memenuhi Udara. Selain itu, sosok tersebut memiliki sayap seperti capung dengan ukuran besar di punggungnya.


"Gawat ... ia mengeluarkan jurus itu lagi, Bocah Sontoloyo, pergilah menjauh biar aku yang ... heek"


Tubuh Dewa Racun Barat terpental belasan meter akibat terkena pukulan Raja Tinju Petir. Dewa Racun Barat memuntahkan darah segar dari mulutnya.


"Kurang Ajar kau, akan ku balas kau!"


Dewa Racun Barat berteriak kesal, ia sedikit lengah karena mengkhawatirkan Yao Chan.


"hahahaha salahmu sendiri itulah akibatnya jika berani mengalihkan perhatian dari serangan ku."


Raja Tinju Petir tertawa terbahak-bahak melihat Dewa Racun Barat terlihat kesal setelah memuntahkan seteguk darah segar akibat terkena tinjunya yang mengandung energi petir.


Ia pun merasa di atas angin melihat hal itu hingga sedetik kemudian tawanya menghilang merasakan Aura energi Dewa Racun Barat berubah sepuluh kali lipat lebih kuat dari sebelumnya.


"Kakek Bau Pesing, jangan khawatirkan diriku, percayalah, aku pasti menang melawan kakek bau tanah ini." ?


Yao Chan berteriak keras agar Dewa Racun Barat bisa fokus menghadapi lawannya. Sementara itu Pedang Tengkorak menggeram keras dipanggil dengan sebutan Kakek Bau tanah.


Ia pun segera berbicara dengan bahasa yang tak dimengerti oleh Yao Chan, hanya saja setelah selesai dengan kata-katanya, sosok bersayap dengan mata berwarna merah itu menyeringai, lalu dalam sekejap mata ia telah berada tepat setengah meter di depan Yao Chan dan menampar mulut pemuda itu yang membuatnya terpelanting hingga puluhan meter.


Yao Chan terkejut setengah hidup melihat kecepatan dan kekuatan mahkluk bersayap itu. Pipinya terasa kebas akibat tamparan tersebut dan bibir bawahnya pun terasa perih.


"Hati-hati dengannya, ia adalah Peri Hitam dari dunia Moxian, ia hanya menyerupai sosok laki-laki yang menjadi budak nafsunya. Kekuatannya lumayan tinggi terutama sihirnya yang barusan kau lihat itu."


Roh Naga Emas yang tersadar dari meditasi segera memperingatkan Yao Chan, yang belum mengetahui sejauh mana kekuatan makhluk bersayap di depannya itu.


*****