Pendekar Tiga Dunia

Pendekar Tiga Dunia
170: Berita tak terduga


Malam itu adalah malam yang membahagiakan bagi sepasang suami isteri Yu Ma dan Lin Hua. Karena esok hari mereka akan resmi menjadi mertua dari seorang Kaisar.


Gelak tawa memenuhi ruang dimana jamuan santap malam itu diadakan. Gelak tawa bukan hanya karena hal lucu saat menggoda Yu Lian saja, tetapi seringkali kepada Yao Chan.


Xin Jia adalah orang yang paling sering meledek Yao Chan. Nenek berumur seratus tahun itu, terlihat senang sekali ketika mendapati Yao Chan tak berkutik saat ia meledeknya.


"Yin"er dan kau Mi'er, ingat baik baik pesan Nenek ya... Jika kalian telah menikahi dia nanti, jangan sampai lengah sedikitpun. Jangan biarkan ia pergi lebih dari semenit. Bisa jadi ia tiba-tiba sudah muncul di rumah janda kembang dan merayunya. Nanti kalian juga yang akan repot membagi hari."


Wajah Zhu Yin dan Qing Mi yang semula serius mendengar nasehat Nenek Xin Jia, berubah menjadi merah dengan bibir yang mengurai senyum geli.


Gelak tawa kembali meriuh saat semua orang yang hadir di jamuan santap malam itu mendengar perkataan Xin Jia yang ternyata sedang meledek Yao Chan walau ia terlihat berbicara kepada kedua gadis cantik itu.


"Kalian tadi sudah lengah sekali bukan? Kalian telah ditipu mentah-mentah olehnya dengan disuruh memejamkan mata sedang dia melotot lebar melihat yang bening-bening."


Suara tawa kembali terdengar saat Nenek Xin Jia terus berkata-kata kepada Zhu Yin dan Qing Mi yang kini menatap Yao Chan dengan rasa cemburu.


Yao Chan pun hanya bisa terdiam mendengar hal itu, ia pun terlihat kesal, ia lalu memandang Guo Jin yang masih terkekeh mendengar perkataan isterinya itu.


Yao Chan tersenyum saat terlintas sebuah ide dibenaknya untuk mengerjai Kakek dan nenek itu.


Namun belum sempat ia memulai idenya itu, tiba-tiba seorang prajurit datang ke ruang jamuan santap malam untuk melaporkan sesuatu kepada Yu Ma.


Wajah Yu Ma seketika terlihat berubah, ia pun menatap Yao Chan dan mengatakan padanya ada seorang lelaki setengah baya yang ingin berjumpa dengannya di Ruang Tamu.


Yao Chan mengerutkan dahinya, ia tidak ada janji bertemu dengan seseorang, namun ia tetap melangkah mengikuti prajurit yang mengantarnya untuk menemui tamu tersebut.


"Paman Fan! ... Bagaimana kabarmu? baik-baik saja bukan?"


"Chan'er ... Akhirnya aku bisa menemukanmu, Kabarku baik-baik saja."


Yao Chan segera menengenali Pria tersebut yang tak lain adalah pamannya, Yao Fan, ia pun dipeluk oleh Kakak kandung Ayahnya tersebut.


Setelah melepas rindu, sesaat kemudian Yao Chan baru menyadari keberadaan seorang pemuda tampan yang terlihat beberapa tahun lebih tua darinya.


Pemuda itu terlihat sedang tersenyum hangat kepadanya. Saat Yao Chan hendak bertanya, Yao Fan telah bersuara terlebih dahulu untuk mengenalkannya.


"Chan'er ini adalah Kakak misan mu, Yao Fu. Ia baru saja kembali dari berkelana mengikuti gurunya."


"Adik Chan, akhirnya aku bisa bertemu denganmu, Ayah telah menceritakan tentang dirimu yang sungguh hebat saat membantai para perampok Laba-laba Merah."


Yao Fu pun memeluk Yao Chan dengan erat, rasa hangat seketika menyelimuti hatinya, Ia pun membalas dengan erat pelukan kakak misannya itu.


"Fu'er !!? ... Benarkah itu dirimu nak?"


Suara seorang perempuan yang bergetar terdengar dari belakang mereka.


"Bibi Hua!... Keponakanmu Yao Fu memberi hormat kepada Bibi, semoga Bibi selalu sehat


Yao Fu segera berlutut di hadapan Lin Hua saat ibu Yao Chan itu telah tiba di dekat mereka. Rasa haru menyelimuti ruang tamu saat Lin Hua menarik bahu Yao Fu.


"Fu'er .. Kau sudah menjadi pria dewasa yang tampan. Apakah kau sudah menikah nak?"


Yao Fu terlihat jengah mendengar pertanyaan Lin Hua. Ia pun teringat pertanyaan yang sama yang di ucapkan oleh ibunya saat ia baru tiba dirumah beberapa waktu lalu.


Sesaat setelah saling bertegur sapa dan menanyakan kabar masing-masing, Lin Hua pun mengajak Yao Fan dan Yao Fu untuk menuju ke ruang Jamuan santap malam.


Langkah mereka terhenti saat tiba-tiba seorang prajurit datang melapor kepada Lin Hua dan meminta bertemu dengan Jendral Yu Ma untuk menyampaikan berita dari Kaisar Wu Jian.


Lin Hua segera masuk ke dalam untuk memanggil suaminya, beberapa saat kemudian Lin Hua terlihat bersama Yu Ma yang datang dengan wajah yang terlihat tegang.


Setelah menyapa Yao Fan dan Yao Fu, Yu Ma segera bertanya kepada prajurit yang membawa berita itu.


Prajurit tersebut lalu menjelaskan berita dari Kaisar Wu Jian yang memintanya untuk datang ke istana secepat mungkin karena telah terjadi sesuatu pada Ibu Suri.


Yu Ma tersentak mendengar hal itu, ia pun meminta prajurit tersebut untuk menjelaskan lebih banyak tentang apa yang sebenarnya telah terjadi.


Prajurit itu kemudian mengatakan bahwa pengetahuannya tentang hal itu sangat terbatas. Yang ia tahu adalah Ibu Suri mendadak jatuh tak sadarkan diri setelah selesai menyantap hidangan makan malam.


Prajurit tersebut tidak.mengetahui lagi selain hal tersebut.


"Ma Gege .... sebaiknya engkau segera ke sana, kalau bisa Chan'er kau ajak juga. Siapa tau ia bisa membantu."


Yu Ma menganggukan kepalanya mendengar perkataan Lin Hua ia pun mengajak Yao Chan untuk ikut bersamanya ke istana.


"Maaf Tetua Yu Ma, bisakah engkau mengajak Fu'er? Ia memiliki sedikit pengetahuan tentang pengobatan, siapa tahu ia bisa membantu mu disana."


Yao Fan bersuara saat Yu Ma hendak bergegas ke Istana bersama Yao Chan. Mendengar permintaan Yao Fan, ia pun mengajak pemuda tampan itu untuk ikut bersamanya ke Istana.


"Ayah bagaimana jika kita kesana dengan jurus yang kumiliki. Agar kita lebih cepat tiba di sana."


Yu Ma terdiam beberapa waktu, ia baru teringat tentang jurus berpindah dalam sekejap yang dimiliki oleh Yao Chan.


Yao Chan segera bersiap dengan kedua tangannya menggenggam pergelangan tangan Ayah dan Kakak misannya itu.


Beberapa detik kemudian tubuh ketiga orang tersebut lenyap dari pandangan mata Lin Hua dan Yao Fan, kepergian mereka meninggalkan desiran angin yang cukup kuat di dalam ruang tamu tersebut.


Mata Yao Fan melotot lebar melihat hal tersebut. Demikian juga dengan Lin Hua. Walau ia telah mengetahui tentang jurus tersebut, namun melihatnya secara langsung tetap saja ia terkejut.


Hal yang sama terjadi di Kediaman Kaisar Wu Jian, para penjaga berteriak keras karena rasa terkejut mereka.


Hal itu terjadi ketika tiba-tiba Jendral Yu Ma muncul dari ruang hampa bersama dua orang pemuda yang tampan.


Yu Ma segera membuka matanya dan ia terkejut saat mendapati mereka telah berada di halaman depan kediaman Kaisar Wu Jian.


Beberapa saat kemudian terlihat Kaisar Wu Jian keluar dari kediamannya karena ingin menyambut kedatangan Calon Ayah mertuanya itu.


Di belakangnya terlihat Wu Mei yang juga mengikuti kakaknya itu, dengan wajah yang terlihat murung.


Sementara Yao Fu, mematung dengan jantung berdebar keras saat melihat sosok Wu Mei yang dalam pandangan matanya bagai bidadari yang turun dari langit.


******