
Yao Chan tiba di kediaman kakeknya saat pagi menjelang siang. Dahinya mengerut saat melihat begitu banyak prajurit berjaga di halaman rumah dengan sebuah kereta yang terlihat sangat mewah.
"siapa kau? tunjukan identitas mu!"
Seorang prajurit yang sepertinya adalah pimpinan para prajurit pengawal itu, menghentikan Yao Chan dengan suara yang keras. Hal itu dilakukannya karena melihat Jubah yang Yao Chan kenakan berlumuran darah di banyak bagiannya.
"Aku Yao Chan, cucu Perdana Menteri Lin Bao." Jawab Yao Chan seraya menunjukan Lencana Identitas dari Sekte Lembah Dewa yang bertuliskan namanya.
Pimpinan para prajurit pengawal itu, segera memeriksa lencana Yao Chan. Matanya menatap tajam seolah tak percaya bahwa pemuda dihadapannya itu adalah cucu seorang perdana menteri terlepas wajahnya yang terlihat tampan.
"Benarkah kau.."
"Chan'er apa yang terjadi denganmu!?"
Kepala prajurit itu tertegun ketika melihat seorang perempuan yang ia ketahui adalah Putri Perdana Menteri yang telah sembuh dari sakitnya itu, berjalan dengan terburu-buru menghampiri pemuda yang sedang ia pegang lencana Identitasnya.
"Ibu.. tenanglah, aku tidak apa-apa, ini bukan darah ku."
"Chan'er jangan buat ibu khawatir seperti ini lagi nak, ibu tak ingin kehilangan kamu."
Lin Hua memegang tangan Yao Chan dengan suara sedikit terisak. Yao Chan terdiam, ia merasa bersalah meninggalkan ibunya tanpa pamit terlebih dahulu, namun seperti inilah kehidupan seorang pendekar.
" Iya Ibu.. Siapakah yang bertamu ke rumah Kakek Bu?"
"Putera Mahkota Wu Jian dan Tuan Puteri Wu Mei. Ia mencari mu setelah kembali dari alun-alun kota menyaksikan hukuman Pancung yang dilaksanakan tadi pagi."
Yu Lian berkata setelah melepaskan pelukannya dari Yao Chan.
"Kau harus segera membersihkan dirimu dan mengganti pakaianmu. Oh ya ada hubungan apa kau dengan Tuan Puteri?"
Lin Hua menatap Yao Chan tajam, mencoba mengintimidasi puteranya. Namun ia merasa gagal mendengar jawaban Yao Chan berikutnya.
"Tuan Puteri? ah sepertinya ia menyukaiku bu. Caranya memandangku membuatku.."
Yao Chan diam, ia sengaja begitu untuk memancing rasa penasaran sang ibu."
"Membuat mu bagaimana? cepat katakan.!"
Lin Hua merasa penasaran dengan kalimat Yao Chan yang terputus itu.
"Membuatku..membuatku ingin segera ah ibu pokoknya itulah Ibu.. aku mau membersihkan diri dulu ya Bu."
Yao Chan segera mengambil lencana Identitasnya lalu bergegas masuk ke dalam rumah meninggalkan Lin Hua yang terlihat jengkel karena tak berhasil mengetahui perasaan Yao Chan terhadap Tuan Puteri. Ia pun menyusul Yao Chan memasuki rumah besar itu.
"Bibi Hua, apakah Chan Gege sudah pulang?"
Suara manja Yu Lian, menyambut Lin Hua saat tiba di ruangan besar di mana Yu Lian, Zhu Yin, Putera Mahkota Wu Jian dan Puteri Wu Mei sedang asik berbincang, terutama Putera Mahkota dan Yu Lian.
"Kakak seperguruan mu itu sedang membersihkan diri." Jawab Lin Hua.
Jawaban Lin Hua membuat wajah Wu Mei seketika ceria dan terlihat antusias. Lin Hua tersenyum melihat perubahan itu, namun ada kekhawatiran tersendiri di hatinya melihat sikap Yao Chan yang sepertinya tak ingin memikirkan perasaan cinta.
Beberapa waktu kemudian Yao Chan tiba di ruangan dengan jubah baru dan wajah yang terlihat lebih segar dari sebelumnya.
Semua orang mengalihkan pandangannya kepada Puteri Wu Mei yang membuatnya tertegun melihat pandangan mereka yang tertuju padanya dengan tersenyum tipis.
Setelah dirinya berhasil mengingat telah memanggil "Gege" kepada Yao Chan, raut wajah tuan Puteri itu berubah merah menahan malu.
"Saudara Chan kemarilah.. kami ingin mendengar kisahmu tentang Pisau Perak itu"
Suara Putera Mahkota Wu Jian menyelamatkan adiknya dari tatapan menggoda semua orang yang berada di ruangan itu.
Yao Chan pun berpindah tempat duduknya berada diantara Wu Mei dan Wu Jian. Zhu Yin yang melihat hal itu, menyadari ada rasa perih di hatinya. Namun ia menyadari sesuatu hal sehingga dengan mudah bisa menetralisir perasaan perih itu.
Yao Chan pun menceritakan tentang apa yang baru saja ia lakukan. Mata semua orang terkejut mendengar Yao Chan telah membunuh ratusan orang hari ini. Hanya Zhu Yin dan Yu Lian yang terlihat santai.
Mereka pun saling bertukar kata dalam pembicaraan yang seru tentang banyak hal hingga hari menjelang sore. Saat Wu Jian hendak berpamitan, Yu Ma dan Lin Yung datang memasuki ruangan.
Saat itulah Raut wajah Yao Chan berubah menjadi serius. Ia mengajak Putera Mahkota Wu Jian, pamannya Lin Yung dan Yu Ma untuk berbicara di ruangan lainnya.
Tanda tanya besar terlihat di wajah Lin Hua dan yang lainnya melihat keseriusan di wajah Yao Chan.
**
Siang pun berganti malam, gemerlap bintang menghiasi langit kota Wu Chang An. Geliat kehidupan ibukota Kekaisaran Wu itu pun di mulai kembali.
Orang-orang hilir mudik bergantian memenuhi jalanan di mana para pedagang ramai menjajakan barang.
Sementara para pelancong keluar dari ruangan mereka menginap untuk sekedar berjalan-jalan menikmati suasana keramaian Ibukota. Atau menikmati jajanan yang di jual di sepanjang jalan.
Malam pun perlahan namun pasti, beranjak menuju kesunyiannya. Menghantarkan mimpi indah kepada setiap orang yang telah terlelap di peraduannya.
Namun hal itu tidak berlaku bagi enam orang yang mengenakan cadar hitam untuk menyembunyikan wajah mereka.
Dari enam orang, dua diantaranya membawa busur dan puluhan anak panah di dalam wadah yang tersimpan di punggung mereka.
"Bai Xun.. sebaiknya kita berpencar dari sini. Jangan lupa dengan rencana yang kita susun sore tadi."
"Baiklah Yan..Jangan sampai kita gagal kali ini, hati-hatilah. Jika bertemu dengan pemuda yang dikabarkan itu, segeralah nyalakan kembang api."
Jawab Bai Xun kepada Tao Yan, orang terkuat ke dua di kelompok Pembunuh Rubah Hitam. Keduanya telah tiba di Kota Wu Chang An saat hari telah senja.
Mereka pun berhasil menemui empat orang pembunuh lainnya yang memang telah menanti kedatangan mereka berdua.
Seperti apa yang telah mereka rencanakan semula, Tao Yan akan bersama dua orang pembunuh di tingkat Pendekar Pertapa Tahap Akhir bergerak menuju Istana untuk membunuh Putera Mahkota.
Sedangkan Bai Xun akan menuju ke rumah Perdana Menteri Lin Bao bersama Dua orang Pendekar Pertapa Tahap Akhir lainnya. Salah satu di antaranya membawa busur.
Ke enam orang tersebut segera bergerak melompat ke atas atap bangunan di mana mereka menginap. Lalu bergerak dengan ilmu peringan tubuh tingkat tinggi ke dua arah yang berbeda.
Dalam belasan helaan nafas, Tao Yan dan kedua temannya telah tiba di tembok pagar istana. Tao Yan segera mencabut Pedang Pusaka dari punggungnya di ikuti oleh satu orang lainnya.
Sementara satu orang yang membawa busur segera mengambil dua buah anak panah dan meletakan di busurnya.
*****