
"Saudara Gui Han, sudah lama kita tidak bertemu, kekuatan mu kini telah meningkat pesat. Selamat untuk mu."
Dewa Obat Fu Mao mengenali sosok yang baru saja tiba dengan cara melesat dari kerumunan orang di bawah mereka dan lalu melayang dua meter di hadapannya.
Ia tak menyangka bahwa bukan hanya dirinya saja yang mengamati acara Penobatan Kaisar itu secara diam-diam dengan membaur bersama rakyat biasa.
"Hahahaha ... Kakek Dewa Obat, kekuatanmu pun meningkat jauh lebih tinggi dari dua puluh tahun lalu saat terakhir kita bertemu."
Gui Han sengaja membaur dengan rakyat biasa karena ingin memata-matai rencana Song He. Sejak ia mendengar tentang kematian Kaisar Song Yu setelah kembalinya Song He ke istana.
Ia merasa ada sebuah rencana yang sedang dijalankan oleh Song He, Ia pun memutuskan untuk menyelediki hal tersebut.
Tak dinyana dirinya akan bertemu dengan sosok legendaris Dewa Obat yang juga bersahabat dengan gurunya itu.
"Jangan meledek ku dengan memanggil Kakek, Kau pun telah tua dan pantas menyandang gelar Kakek saudara Han hehehehe."
Song He merasa geram diabaikan begitu saja, saat melihat dua orang tua dihadapan mereka berbincang-bincang seolah dirinya tidak ada di dekat mereka.
"Iblis Kuning cepat habisi kedua Kakek itu, aku kami akan mengambil senjata terlebih dahulu."
Song He berteriak kepada Iblis kuning membuat sosok Iblis Kuning yang merasuki Mo Duan mendengus kesal.
"Aku akan menghajar mereka bukan karena perintahmu manusia, Aku hanya patuh pada permintaan sosok yang kurasuki ini."
Song He tersedak ludahnya mendengar perkataan Iblis Kuning. Sementara Dewa Obat terkesiap mendengarnya.
"Mereka akan mengambil senjata pusaka Kakek Dewa Obat, sebaiknya kita segera pergi dari sini. Kekuatan mereka meningkat pesat saat para Iblis Penghuni senjata itu merasuki tubuh mereka. Kita kalah dalam jumlah dan kekuatan."
Gui Han segera mengingatkan Dewa Obat yang masih terdiam mencerna apa yang sedang terjadi dihadapannya.
Hal itu dikatakan oleh Gui Han saat melihat Song He, Matriak Bunga Hitam dan Jiao Xin melesat ke arah bangunan istana, meninggalkan mereka bertiga.
"Jangan kalian pikir bisa datang dan pergi semau kalian saja!"
Iblis Kuning segera melesat menyerang Dewa Obat yang terkejut melihat kecepatan Kakek Cebol itu menjadi demikian cepatnya.
Serangan dengan menebaskan Cakram Kuning itu, berhasil dihindari oleh Dewa Obat, tepat saat satu jengkal lagi Cakram itu menebas lehernya.
Namun sebuah tendangan yang dilepaskan Iblis Kuning berhasil mengenai pinggang Dewa Obat yang membuat tubuhnya terpental beberapa meter.
Saat Iblis Kuning hendak menyerang kembali, Gui Han melepaskan seberkas energi dari Trisulanya yang merupakan Pusaka Bumi, dari arah samping tubuh Kakek Cebol
Iblis Kuning mendengus Kesal melihat serangan itu. Ia pun mengubah posisi Cakramnya seolah menjadi perisai untuk menghadang serangan energi Trisula Gui Han.
BLAAAAM
Suara benturan terdengar keras saat energi itu menghantam Cakram Kuning, membuat tubuh cebol Mo Duan yang dirasuki Iblis Kuning terpental belasan meter.
Gui Han tidak menyia-nyiakannya kesempatan ini, ia segera mengajak Dewa Obat untuk segera melesat meninggalkan tempat itu.
Dewa Obat tidak menolak ajakan Gui Han karena ia telah melihat sendiri peningkatan kekuatan dari sosok manusia yang telah mementalkan tubuhnya cukup jauh hanya dengan sebuah tendangan saja.
Iblis Kuning mendengus kesal setelah berhasil mendapatkan keseimbangan dirinya kembali dan melihat kedua lawannya telah berada seratus meter darinya.
Ia ingin mengejar mereka berdua, namun Aura Iblis Hitam tiba-tiba terasa olehnya dari sebuah bangunan terbesar yang berjarak tiga ratus meter darinya.
Keduanya kini telah berjarak satu kilometer dari mereka menuju ke arah Barat, Ke arah Kekaisaran Wu.
Hal itu membuat Iblis Hitam mendengus kesal kepada Iblis Kuning yang diam saja tidak mengejar keduanya, saat mereka masih dekat.
Iblis Kuning hanya diam saja mendengar perkataan Iblis Hitam. Semua ia lakukan karena kesal terhadap perkataan Song He sebelumnya.
Hari telah beranjak sore saat Song He membubarkan kerumunan rakyat di Alun-alun istana Kekaisaran Song. Ia pun panjang lebar memberikan pidato nya tanpa ada satu pun yang berani bersuara.
**
Suasana resepsi pernikahan Kaisar Wu Jian dan Yu Lian dipenuhi dengan gelak tawa keluarga besar mereka.
Yao Fu terlihat tengah asik berbincang dengan Puteri Wu Mei. Keakraban keduanya sedang menjadi bahan pembicaraan antara Lin Hua dan Ibu Suri yang berada di meja lain.
Ibu Suri menanyakan beberapa hal terkait dengan Yao Fu yang merupakan Keponakan bagi Lin Hua.
Lin Hua pun menjawab sebatas hal yang ia ketahui, karena mereka jarang bertemu dan terakhir bertemu lebih dari sepuluh tahun yang lalu.
Lin Hua sendiri terkejut saat mereka bertiga kembali dari Istana Kekaisaran Wu tadi malam. Ia tak menduga jika Yao Fu adalah Murid dari Sosok terkenal dalam Dunia Persilatan tiga kekaisaran.
Terlihat sekali kekaguman Ibu Suri Kekaisaran Wu itu pada sikap lembut dan dewasa yang di tunjukan oleh Yao Fu, tentu saja selain kemampuannya dalam hal pengobatan.
Suasana menjadi hening saat dua orang Perwira Kerajaan datang tergopoh-gopoh memasuki ruangan dan melapor kepada Kaisar Wu Jian bahwa ada dua orang Kakek yang meminta izin untuk bertemu dengannya malam ini.
Kaisar Wu Jian pun menyuruh para perwira itu untuk mengajak kedua tamu mereka masuk kedalam ruang resepsi.
Semua menanti dengan rasa penasaran saat kedua perwira tersebut menjemput mereka. Dan rasa penasaran mereka terjawab, saat dua orang kakek yang ternyata adalah Dewa Obat dan Gui Han memasuki ruang resepsi.
"Guru ... Sejak kapan engkau telah tiba di Kekaisaran Wu?"
Orang yang pertama bereaksi adalah Yao Fu yang segera berdiri dan memberikan hormat kepada Gurunya.
Semua orang yang mengetahui jati diri Yao Fu terkesiap mendengar Yao Fu berkata demikian, Kaisar Wu Jian dan Yao Chan segera berdiri untuk menyambut kedatangan keduanya.
Guo Jin dan Yu Ma pun berlaku demikian, saat mengetahui sosok yang bersama Gui Han adalah sosok Dewa Obat.
"Selamat Datang Kakek Dewa Obat, maaf tidak memberi sambutan yang layak kepada anda berdua."
Kaisar Wu Jian segera menyambutnya dengan Kata-kata mohon maaf dan sikap yang begitu menghormatinya, Hal itu membuat Dewa Obat mengerutkan dahinya menduga apa yang telah terjadi.
Setelah mempersilakan mereka berdua untuk untuk duduk dan menyantap hidangan yang tersedia. Mereka pun mulai berbincang-bincang.
Dewa Obat tersenyum saat mengetahui bahwa Yao Fu berhasil menyelamatkan Ibu Suri yang berada dalam keadaan koma dan kini menjadi Tabib Utama Istana Kekaisaran Wu.
"Fu'er ... Guru sangat bangga kepada mu. Kau memutuskan mengabdi pada orang yang tepat. Seorang Kaisar Muda yang bijaksana dan dipenuhi aura kebaikan. Tidak Seperti Kaisar Negeri dimana Aku dilahirkan."
Perkataan Dewa Obat membuat orang-orang yang satu meja dengannya mengerut. Terlihat kebanggaan Dewa Obat terhadap Yao Fu dan Kaisar Wu Jian.
Namun kata-kata terakhirnya menyiratkan kesedihan yang mendalam di hatinya.
*****