Pendekar Tiga Dunia

Pendekar Tiga Dunia
101: Dilema Kaisar Muda


"Guru, Kemana lagi kita akan mencari keberadaan Pusaka Iblis yang lainnya?"


Huang Lun bertanya kepada gurunya, Shin Mu saat mereka baru saja keluar dari sebuah desa untuk mencari informasi tentang keberadaan Pusaka Iblis.


Belasan desa telah mereka masuki, puluhan lembah telah mereka kunjungi, namun belum ada petunjuk yang mereka dapatkan tentang keberadaan tiga Pusaka Iblis itu.


"Lun'er, bagaimana jika meminta bantuan Iblis Tombak Merah, siapa tahu dengan kekuatan yang mereka miliki, bisa mendeteksi keberadaan pusaka lainnya. Sehingga kita bisa dengan mudah menemukannya."


Shin Mu mengemukakan idenya, Huang Lun tersenyum tipis mendengarnya.


"Guru, Iblis tombak Merah akan bereaksi jika merasakan aura Pusaka Iblis lainnya saat pusaka tersebut telah digunakan oleh manusia."


Shin Mu terdiam mendengar jawaban Huang Lun. Sebenarnya dirinya sudah beberapa kali mencoba berkomunikasi dengan Panglima Iblis Ren Mo untuk menanyakan hal tersebut. Namun sejauh ini tidak ada jawaban darinya.


"Guru, sudah setengah bulan kita menjalankan perintah mereka, namun tak satu pun usaha kita mendapatkan hasil. Bagaimana kalo kita mencari kota dan bersenang-senang terlebih dahulu."


Huang Lun yang sudah merasa jenuh dalam pencarian itu, akhirnya menyampaikan keluhannya. Shin Mu pun setuju dengan usul muridnya tersebut.


Hanya saja saat mereka hendak berbelok arah dimana sebuah kota kecil berada. Shin Mu merasakan hawa panas mengalir dari pusarnya lalu menjalar ke bagian kepala dengan rasa sakit yang membuat pandangannya menjadi gelap.


"Dasar manusia-manusia lemah, baru sebegitu saja sudah menyerah!"


Suara sang guru yang berubah serak mengejutkan Huang Lun. Ia pun melompat menjauh saat menyadari Gurunya tengah dirasuki Panglima Iblis Ren Mo.


"Maafkan kami Panglima Iblis, kami tidak menyerah, hanya saja kami lelah. Butuh sedikit bersenang-senang."


"Hahahaha...Dasar manusia-manusia budak nafsu, sekarang belum saatnya bagi kalian untuk bersenang-senang"


Panglima Iblis Ren Mo terbahak-bahak mendengar ucapan Huang Lun. Karena ia berada dalam pikiran Shin Mu, ia pun mengetahui makna tersirat dibalik kata "bersenang-senang".


"Manusia bodoh, pergilah kalian ke arah Timur, samar-samar aku merasakan aura Iblis Hitam dan Iblis Kuning berada di sana."


Panglima Iblis Ren Mo juga menjelaskan bahwa beberapa waktu lalu ia sempat merasakan aura Iblis Hijau, namun sebuah formasi sihir segera menghilangkan keberadaaan aura tersebut.


"Panglima, apakah Iblis Kuning dan Iblis Hitam senjata mereka telah berada ditangan manusia?"


"Cakram Iblis kuning telah berada di tangan seorang manusia, tetapi Trisula Iblis Hitam masih belum memiliki tuan. Ia adalah Iblis terkuat diantara mereka berlima. Ia tidak memilih sembarang orang untuk menjadi tuannya."


Huang Lun tercenung untuk beberapa waktu, lalu menanyakan tentang lokasi dimana keduanya berada.


"Aura mereka terasa lemah, sepertinya lebih dari seribu kilometer dari sini ke arah timur. Pergilah kalian kesana. Jika sudah dekat nanti akan ku beritahu lagi."


Sesaat setelah berkata demikian, Panglima Iblis Ren Mo mengembalikan kesadaran Shin Mu yang juga mendengarkan pembicaraan Panglima Iblis tersebut dengan Huang Lun


"Guru, seribu kilometer lagi kearah timur, bukankah itu sudah berada di wilayah kekaisaran Song?"


"Benar, dua Pusaka itu memang berada di sana. Sepertinya kita akan bertemu dengan pendekar Song yang terkenal dengan kemampuan dan jurus-jurus mereka yang hebat."


***


Suasana di istana Kekaisaran Wu sedang dalam kegembiraan. Walau kemarin terjadi pertempuran pada saat Penobatan Kaisar, namun berhasil memenangkan serangan dari ribuan pendekar kekaisaran Song adalah sebuah keajaiban.


Song He, Putera Mahkota Kekaisaran Song yang sebelumnya berhasil ditawan oleh Guo Jin dan Xie Jia, menghilang saat hendak dipindahkan ke tahanan utama istana.


Menurut Guo Jin sepertinya ada seorang pendekar tingkat tinggi lainnya yang melindungi Putera Mahkota Song He. Namun ia tidak menampakan diri dalam pertempuran saat itu.


Hal itu diketahui oleh Guo Jin saat bertarung dengan lawannya yang termasuk dua puluh besar pendekar terkuat kekaisaran Song itu. Lawan Guo Jin sempat mengatakan bahwa ada seseorang yang akan menyelamatkan Putera Mahkota saat ia dan Guo Jin sedang bertarung.


Pendekar ini termasuk lima jagoan terkuat di Kekaisaran Song. Saat itu ia hanya bertugas menjaga keselamatan Putera Mahkota Song He atas perintah Kaisar Song Yu.


Informasi Guo Jin ini membuka pandangan baru tentang hubungan Kekaisaran Song dan Kekaisaran Wu yang mungkin sudah tidak bisa dipertahankan untuk tetap baik.


Mengingat hal itu Kaisar Wu Jian, memutuskan untuk mulai mempererat hubungan dengan Sekte-sekte aliran putih yang berada di kekaisaran Wu. Bahkan jika memungkinkan dengan sekte aliran putih yang berada di kekaisaran Ming.


Kegembiraan pun menggelayuti perasaan dua orang pria. Yu Ma menyampaikan kepada Lin Yung untuk meminang Lin Hua. Perasaan Yu Ma yang tumbuh selama Lin Hua kehilangan ingatannya, membuat Lin Hua tersentuh.


Lin Hua menyadari bahwa ia harus terus melanjutkan hidupnya, dengan membiarkan Yao Zhi tetap hidup dalam ingatannya. Yu Ma pun bisa menerima hal itu karena ia pun melakukan hal yang sama terhadap mendiang istrinya.


Yao Chan dan Yu Lian yang mendengar hal ini menjadi gembira, terutama Yao Chan yang merasa tenang karena sang Ibu telah ada yang menjaga saat dirinya harus berpetualang nanti demi menjalankan tugas dari Dewa Naga.


Kebahagian lain berasal dari Guo Jin dan Xie Jia,.keduanya memutuskan untuk hidup bersama dan membesarkan kembali sekte Lembah Dewa.


Hanya satu pria yang sedang dilanda kegalauan tingkat Dewa, Wu Jian sang Kaisar Wu yang baru ini sedang dilanda asmara yang tak bisa ia ungkapkan.


Sebagai seorang Kaisar ia harus segera memiliki seorang permaisuri untuk mendampinginya. Ibu Suri sudah beberapa kali menanyakan kepadanya, siapa seseorang yang akan dipilih olehnya sebagai Permaisuri Kekaisaran Wu.


Wu Jian tidak bisa memusnahkan kekagumannya kepada Yu Lian, apalagi saat Yu Lian beraksi dalam pertempuran di Alun-alun istana beberapa hari lalu. Kekuatan yang Yu Lian tunjukan, benar-benar memesonakan dirinya.


Namun hingga saat ini, belum ada keberanian dalam dirinya untuk mengutarakan niatan meminang Yu Lian. Mengingat Ayah Yu Lian, Yu Ma adalah seorang Panglima Perang Kekaisaran Wu.


Dilema ini hanya ia pendam saja, suatu malam, Wu Mei menemuinya saat ia sedang mengurung diri dalam ruangannya.


'Jian Gege...ku perhatikan akhir-akhir ini kau sering melamun, apakah kau bersedih karena kepergian Ayahanda Kaisar?"


Wu Jian sedikit terkejut mendengar suara Wu Mei yang bergetar. Ada kesedihan mendalam dari suara sang adik. Wu Jian pun menggenggam tangan Yu Lian untuk menguatkan sang Adik yang begitu kehilangan Ayahanda mereka.


Tak adalagi tempat Wu Mei bermanja-manja seperti dulu. Wu Jian memahami hal itu, ia hanya berharap bahwa dirinya bisa menjadi sosok ayak bagi Wu Mei.


"Relakan ayahanda pergi, mei'er. Aku sedang mengalami dilema karena permintaan Ibu Suri agar aku segera mengambil permaisuri."


Tak ada lagi tempat Wu Jian berkeluh kesah tentang perasaannya selain kepada Wu Mei yang kini tersenyum mendengar keluhan hati sang kakak.


*****