
Yu Lian menyipitkan matanya saat menemukan dua serangan terakhirnya hanya mampu menewaskan belasan orang saja. Serangannya mampu dihindari dengan mudah oleh para pendekar yang kini telah menjaga jarak satu sama lainnya.
Yu Lian menjadi geram. Ia pun mengangkat tangannya ke udara dan memutar Cambuk Naga Api dengan cepat. Tali cambuk perlahan berkurang panjangnya menjadi dua puluhan meter saja.
Para pendekar yang hendak menyerang Podium terdiam saat melihat gadis yang menyerang mereka kini hanya memutar-mutar cambuk yang diselimuti api itu
Beberapa saat kemudian diatas putaran tali cambuk api itu terbentuk sebuah Cakram Api yang berputar dengan cepat. Bukan hanya satu melainkan ada tiga buah cakram dengan diameter tidak kurang dari sepuluh meter.
Yu Lian menggerakan tangannya ke depan sebanyak tiga kali dan kebawah tiga kali. Seketika itu juga tiga cakram api yang besar itu, bergerak dengan sangat cepat kearah mereka.
Para pendekar lawan pun bersiap dengan serangan cakram itu. Mereka berhamburan meloncat untuk menghindari cakram api Namun satu cakram api yang lain memburu ke arah kemana mereka meloncat, serangan cakram kedua berhasil membunuh mereka yang terlambat menghindar yang kedua kalinya.
Tubuh mereka terpotong dua dengan daging yang hangus terbakar. Mereka yang berhasil menghindar dari cakram kedua, masih harus berjibaku untuk menghindari serangan cakram yang ketiga.
Cakram api raksasa ketiga menyerang mereka yang sedang melompat menghindar dari cakram api raksasa kedua. Hanya beberapa orang yang lolos dari serangan cakram ketiga sehingga jumlah korban berjatuhan pun semakin banyak.
Cakram api raksasa Yu Lian terus memburu mereka yang mencoba menyerang ke Podium. Mereka yang berhasil mencapai Podium harus berhadapan dengan barisan pelindung Kaisar yang dipimpin oleh Yu Ma.
Pertarungan semakin memuncak, jerit kematian bergema silih berganti. Yu Lian yang masih melayang di udara terus mengendalikan cakram api raksasanya untuk membantai para pendekar yang terus mencoba menembus pertahanan di podium.
Mereka begitu bersemangat walau nyawa menjadi taruhannya, hal itu karena mereka dijanjikan hadiah besar, bagi siapa yang berhasil membunuh Kaisar Wu yang baru saja dinobatkan.
Jumlah para penyerang kini hanya tersisa separuhnya saja. Cakram api raksasa Yu Lian, menjadi penyebab terbesar tewasnya para penyerang itu. Mungkin sepuluh dua puluh menit lagi mereka semua dapat akan terbantai oleh Cakram api raksasa itu.
***
Lu Yan terlihat marah melihat pendekar yang ia bawa kini hanya separuhnya saja uang masih bertahan. Ingin ia segera menghentikan pembantaian itu, namun Yao Chan tentu saja tak akan melepaskannya.
Lu Yan bergerak dengan sangat cepat menyerang Yao Chan. Ia harus segera mengalahkan pemuda ini secepatnya untuk menghentikan pembantaian yang dilakukan oleh Yu Lian.
Yao Chan tak menghindari serangan Lu Yan dan membiarkan pukulan tersebut mengenai tubuhnya. Pukulan Lu Yan yang sangat kuat itu menghantam tubuh Yao Chan dengan telak.
Mata Lu Yan terbelalak, senyumnya menghilang ketika ia menyadari Yao Chan tak bergeming dari tempatnya semula. Jurus Tapak Penghancur Gunung Level Lima yang berdaya rusak tinggi itu, tak mampu merobohkan Yao Chan.
Dengan sangat cepat Yao Chan menggenggam tangan Lu Yan saat ia hendak bergerak mundur. Lu Yan berontak, namun cengkraman Yao Chan seolah bersatu dengan tangannya.
Hawa dingin yang begitu kuat mulai merasuki tubuh Lu Yan. Perlahan-lahan kulit Lu Yan yang seperti arang membara itu kembali kebentuk semula.
Lu Yan menjadi panik, ketika melihat tangannya mulai membeku dan terus naik kearah lengannya menuju bahu kanannya. Lu Yan terus berontak berusaha melepaskan tangan kanannya. Tangan kirinya yang masih terbebas, ia gunakan untuk memukul kepala Yao Chan.
Berharap Yao Chan melepaskan tangan kananya, justru tangan kiri Lu Yan kini berada dalam cengkraman tangan kanan Yao Chan. Dan mulai dibekukan oleh Yao Chan dengan jurus Naga Esnya.
Merasa tak ada kesempatan lagi. Lu Yan pun menendang dada Yao Chan dengan kedua kakinya. Ia menjejakkan kakinya dengan kuat hingga mendorong tubuhnya kebelakang.
Tubuh Lu Yan terpelanting kebelakang dengan kedua tangan yang putus. Lu Yan menjerit keras kemudian membalikan badannya berusaha kabur.
Namun Yao Chan tidak membiarkannya begitu saja. Yao Chan melayang dengan cepat mengejar Lu Yan, sebuah serangan tapak ia lepaskan dengan kuat ke punggung Lu Yan.
Lu Yan memekik keras, kakek berjuluk Iblis Gunung Changyan itu, melayang jatuh dengan jantung membeku akibat pukulan berhawa dingin dari Yao Chan.
"Kakak!!!"
Satu dari dua Iblis Gunung Cangyan yang sedang bertarung dengan Guo Jin, menjerit memanggil sang kakak yang tergeletak dalam keadaan tak bernyawa dan kedua tangannya telah putus.
Karena konsentrasinya terpecah saat ia bertarung dengan Yao Chan, sebuah tebasan cepat Pedang Rajawali Guo Jin tak bisa ia hindari dengan sempurna. Lehernya tergores cukup dalam.
"Pengecut! curang!, beginikah kelakuan pendekar-pendekar kekaisaran Wu?"
Iblis Gunung Changyan itu memaki Guo Jin dengan kata-kata pedas. Guo Jin hanya tersenyum, ia membalas ucapan itu dengan sebuah tusukan pedang. Pertarungan kembali berlangsung diantara kedua tokoh tua dunia persilatan beda kekaisaran itu.
Namun karena telah mengalami luka dilehernya, Iblis Gunung Changyan itu, terdesak bahkan tubuhnya terluka cukup parah. Merasa tak memiliki kesempatan menang, ia pun melakukan tindakan yang tak diduga oleh Guo Jin.
Serangan tusukan Guo Jin sengaja tak hindari oleh Iblis Gunung Changyan tersebut, Pedang Guo Jin menembus dada hingga ke punggungnya. Namun Guo Jin tersedak, saat menyadari perutnya pun tertusuk pedang lawannya.
Iblis Gunung Changyan jatuh dengan pedang Guo Jin masih menancap ditubuhnya. Sementara Guo Jin masih berdiri tegak dan mencabut pedang lawannya tersebut dari perutnya. Tak lama kemudian tubuh Guo Jin pun perlahan-lahan kehilangan keseimbangannya.
"Kakek!"
Yao Chan yang melihat hal itu, segera melesat dengan sangat cepat untuk menangkap tubuh Guo Jin yang perlahan mulai menggelap penglihatannya. Guo Jin tersenyum tipis saat Yao Chan tiba dan meraih tubuhnya, senyum bahagia yang membuat dadanya menghangat sebelum akhirnya pandangannya menjadi gelap.
Pertempuran di Alun-alun itu seketika berhenti saat tubuh Iblis Gunung Changyan jatuh di tengah-tengah mereka dalam keadaan tidak bernyawa dengan sebuah pedang menancap di dadanya.
Menyadari hal tersebut para pendekar yang semula merasa antusias, kini menjadi gentar saat sosok yang mereka andalkan, keduanya telah tergeletak tak bernyawa.
"Mundur! selamatkan diri kalian masing-masing."
Sebuah teriakan keras membuat suasana menjadi gaduh. Sesaat kemudian mereka berlarian dan melompat untuk keluar menjauhi Alun-alun.
Mereka berharap bisa menyelamatkan dirinya melihat orang terkuat diantara mereka telah dikalahkan.
Hampir seribu orang berlarian meninggalkan Alun-alun Istana yang kini dipenuhi ribuan mayat yang sebagian besar terpotong tubuhnya, bau amis darah dan aroma daging terbakar memenuhi udara.
Setelah satupun tak terlihat lagi para pendekar yang menyerang, Xie Jie terdiam mematung, hatinya bergejolak hebat saat melihat Guo Jin terkulai lemas di pangkuan Yao Chan.
Yao Chan yang saat itu sedang mengerahkan tenaga dalam mutiara jiwa naga telah berhasil menutup luka Guo Jin dan menghentikan pendarahannya. Nyawa Guo Jin pun terselamatkan dan ia pun telah disadarkan oleh Yao Chan dengan tenaga dalam yang berasal dari Mutiara Jiwa Naga.
Yao Chan membisikan sesuatu kepada Guo Jin, saat melihat nenek Xie Jia yang berjalan dengan lemas mendatangi mereka.
"Kakek.. kenapa kau mati secepat ini"
Yao Chan pura-pura menangis, saat Xie Jie duduk bersimpuh di samping Guo Jin.
"Jin Gege.. kenapa.. kenapa kau pergi setelah aku memaafkan semuanya.. kenapa kau pergi.. hiks.. saat aku hiks...ingin bersama mu hiks hiks."
Xie Jia tak kuasa menahan kesedihannya, dihadapan Yu Ma, Lin Yung dan Yu Lian yang telah tiba untuk melihat keadaan Guo Jin. Saat itu Xie Jia bisa melihat bagaimana Guo Jin membunuh lawannya, dan Xie Jia tersedak saat sebuah ujung pedang menembus pinggang belakang Guo Jin.
"Benarkah ucapanmu itu Jia'er? Aku pun ingin begitu bersamamu hingga akhir hayat kita."
Suara Guo Jin bak petir di siang bolong di telinga Xie Jie yang kini wajah keriputnya terlihat memerah. Melihat hal itu Yao Chan yang sudah menahan geli sedari tadi seketika tertawa terbahak-bahak.
"Bocah tengil kurang ajar.. kau mengerjai nenek lagi!!!"
Yao Chan tertawa sambil meringis manahan nyeri saat telinganya diputar oleh Xie Jia dengan keras.
Suara tawa terdengar membahana di udara seolah mencoba mengusir aroma anyir darah dan bau daging terbakar dari mayat-mayat yang tergeletak memenuhi Alun-alun Istana.
******
End of Arc.1 (Pendekar Pilihan Dewa)