Pendekar Tiga Dunia

Pendekar Tiga Dunia
110: Air Terjun Airnya Hijau


"Sudah kukatakan jangan mencoba melarikan diri dariku. Pemilik tubuh ini memintaku untuk menghabisi mu. Karena kau pernah berusaha membunuh kakeknya."


Suara serak-serak basah Roh Naga Emas lebih terdengar menakutkan di telinga Feng Hui. Wajah Feng Hui tiba-tiba memucat saat menyadari energinya terhisap habis oleh makhluk yang merasuki pemuda itu.


Saat Feng Hui nyaris kehilangan kesadarannya karena energinya terkuras habis, saat itulah kesadaran Yao Chan kembali.seperti semula.


"Kakek bau tanah, tataplah wajah tampan ku ini baik-baik sebelum ku kirim kau menemui kedua anak buah mu itu."


Yao Chan yang sejak awal berencana menghisap ingatan Feng Hui telah mengalirkan tenaga dalam ke arah kedua matanya.


Dari ingatan Tao Yan, Yao Chan memang mengetahui bahwa di lembah pegunungan Huashan ini terdapat air terjun yang arusnya terbalik. namun lokasi tepatnya hanya Feng Hui yang mengetahuinya.


Feng Hui pun menatap Yao Chan dengan kesal dan marah. Mata Feng Hui melotot saat melihat kedua bola mata Yao Chan bercahaya yang semakin lama semakin terang. Hingga beberapa saat kemudian membuat pandangannya menjadi gelap.


Yao Chan tersenyum lebar saat telah selesai mendapatkan ingatan Feng Hui. Berbeda dengan Feng Hui yang kini wajahnya terlihat lesu. Ia berusaha menjaga rahasia keberadaan Air Terjun tersebut, namun jurus yang Yao Chan gunakan, benar-benar membuatnya tak berdaya.


"Anak muda kau telah mendapatkan apa yang kau inginkan, tenaga dalam ku pun telah kau musnahkan, biarkan aku pergi dari sini."


Feng Hui berkata dengan setengah menghiba kepada Yao Chan. Namun tatapan dingin Pemuda dihadapannya, membuatnya merasa tak memiliki harapan lagi.


Dengan cepat Yao Chan melemparkan tubuh Feng Hui ke atas, ia mengeluarkan pedang pelangi dengan cepat dan menebaskan ke arah tubuh Feng Hui.


Siang itu salah satu dedengkot aliran hitam dunia persilatan Wu, kembali terbunuh ditangan Yao Chan.


Yao Chan melesat kembali ke tempat kudanya berada. Ia menemukan Yu Lian dan Zhu Yin tengah duduk santai diatas kuda mereka.


Di sekelilingnya terlihat puluhan mayat yang sebagian besar hangus terbakar. Aroma anyir darah dan bau gosong menyambut hidung Yao Chan saat mendarat di kudanya.


"Chan Gege, kau baik-baik saja bukan?"


Yu Lian sempat khawatir saat tanah yang mereka pijak bergetar hebat, ia mengetahui hal itu adalah karena efek dari munculnya Roh Naga Emas di dalam Zirah Sisik Naga milik kakaknya.


"Aku baik-baik saja Lian'er, Apakah kalian mengalami luka?"


"Kami baik-baik saja, memang sedikit merepotkan menghadapi tiga pendekar Pertapa tahap akhir yang mempunyai teknik membunuh yang hebat."


Zhu Yin menjawab pertanyaan Yao Chan yang terlihat mengkhawatirkan mereka.


"Apakah kau berhasil menemukan tempat beradanya Air Terjun aneh itu?"


Zhu Yin yang penasaran kembali bersuara menanyakan tempat tujuan mereka mendatangi pegunungan Huashan ini.


"Aku sudah mengetahuinya, kita berkuda satu kilometer lagi kearah barat. Setelah itu perjalanan hanya bisa di tempuh dengan jalan kaki atau melayang di udara."


Yao Chan menjelaskan arah tujuan mereka selanjutnya seraya menggebrak kudanya ke arah Utara. Zhu Yin dan Yu Lian pun segera mengikuti Yao Chan.


Setelah berkuda kurang dari satu kilometer, mereka di hadapankan pada sebuah jurang yang dalam.


"Saudari Yin kami berdua akan membawamu melayang kesana, karena sangat sulit mencapainya jika harus berjalan kaki."


Zhu Yin mengangguk mendengar ucapan Yao Chan. Setelah menambatkan kudanya masing-masing, Yao Chan dan Yu Lian masing-masing memegang tangan Zhu Yin, lalu membawanya melesat ke udara.


Zhu Yin tersenyum tipis mendapati dirinya menjadi beban bagi kedua rekannya. Walau sudah menginjak ranah Pendekar Suci, namun karena tenaga dalamnya kurang dari lima ribu simpul, Zhu Yin belum bisa menggunakan teknik melayang.


Ketiganya akhirnya menemukan sebuah celah di bebatuan sempit yang merupakan jalan masuk menuju ke tempat dimana air terjun berada.


Yao Chan memberi arahan berdasarkan ingatan Feng Hui yang sudah puluhan kali memasuki tempat ini.


Mereka segera menemukan sebuah air terjun yang airnya berwarna hijau dengan aliran airnya yang terbalik. Ketiga nelayan turun secara perlahan menyadari tekanan udara yang aneh di ruangan itu.


"Chan Gege kenapa benda disini semuanya melayang? bagaimana bisa air tidak mengalir kebawah tapi justru ke atas?"


Yao Chan terlihat kebingungan dengan pertanyaan adiknya tersebut. Yao Chan melirik Zhu Yin berharap bisa mendapatkan jawaban dari gadis cerdas tersebut.


Zhu Yin pun memiliki pertanyaan yang sama yang belum ia temukan jawabannya. Dahinya terlihat mengerut, ia pun mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan yang beratapkan batu tersebut.


Satu-satunya alasan yang bisa ia dapati adalah adanya pusaka yang menyebabkan gravurasi udara di ruangan tersebut berarah terbalik.


"Mungkin semua ini terjadi karena keberadaan Guci Dewa Air di balik air terjun itu"


Zhu Yin akhirnya mengeluarkan pendapatnya. Membuat Yao Chan mengerutkan dahinya. Seandainya memang seperti itu, maka memasukan benda tersebut kedalam Gelang Ruang Dimensi dapat merobohkan bebatuan yang berada diatas mereka.


"Kita harus pastikan dulu Guci Dewa Air berada di balik air terjun tersebut."


Yao Chan akhirnya memutuskan untuk menerobos masuk ke balik air terjun yang airnya berwarna hijau itu.


Ia pun melompat dan melesat kearah air terjun itu, namun alangkah terkejutnya Yao Chan saat merasakan dirinya seperti membentur tembok keras, membuat tubuhnya terpelanting ke tempat semula ia berdiri, Yao Chan mengelus hidungnya yang terasa kebas.


"Sepertinya ada tirai gaib yang melindungi keberadaan pusaka tersebut dan biasanya hanya bisa dibuka dengan membaca mantera tertentu."


Perkataan Zhu Yin membuat Yao Chan menepuk jidatnya sendiri. Ia baru teringat bahwa ada bait-bait mantera yang harus ia nyanyikan untuk membuka tirai gaib pelindung pusaka tersebut.


Yao Chan kemudian terdiam beberapa saat, ia terlihat tidak percaya diri untuk melantunkan syair itu, mengingat ia tidak pernah belajar tentang seni suara selama berada di Alam Kultiva Naga. Berbeda dengan sang adik, Yu Lian yang sering berdendang saat berada disana.


Air adalah energi, energi ada di air


Berlakulah seperti air


Yanng selalu bisa menyesuaikan diri


Dimana pun ia berada


Tuntun lah hatimu seperti air


Selalu mengalir pada kerendahan


Bukan menggapai puncak kesombongan


Air adalah energi, energi ada di air.


Hong wil ahong dijaba lehong


Yu Lian dan Zhu Yin terpaksa menutup telinga mereka saat mendengar Yao Chan bernyanyi sumbang. Mereka tersenyum kecut mengetahui Pria setampan Yao Chan memiliki suara yang sangat jelek sekali saat ia bernyanyi.


Sesaat setelah Yao Chan menyelesaikan syair mantera tersebut, mereka bertiga dihadapkan pada pemandangan ganjil yang belum pernah mereka temui sebelumnya.


******